Hidup Setia Melayani, Paham BerkatNya dan Bukan Berkat

suaratapian.com-Hidup ini adalah kesempatan dan pilihan. Maka kesempatan dan pilihan itu bagaimana menjalani seturut rencanaNya. Paling itulah yang bisa meresume seluruh perbincangan dengan Ronald Simanjuntak SH MH. Pria kelahiran Desa Adian Padang, Kecamatan Sipahutar, Kabupaten Tapanuli Utara, 26 Oktober 1960. Anak kedua dari sembilan bersaudara. Delapan laki-laki dan satu perempuan. Anak dari Guru Malon Simanjuntak dan Erika boru Sianipar. Ayahnya seorang kepala sekolah, selalu mendidik mereka berpengharapan dan selalu berjuang.

“Saya masih ingat nasihat ayah, harus saling menopang di antara kakak-adik. Jika anak pertama sudah  selesai kuliah dan mendapat pekerjaan, membantu adik-adiknya, demikian selanjutnya,” kisahnya. Tenyata, dengan cara itulah kakak-beradik sembilan bersaudara ini bisa menempuh sarjana. “Gaji orangtua tak cukup. Tetapi kami bisa semua sarjana karena beliau mendidik untuk saling peduli, saling membantu.”

Masih kanak-kanak, Ronald anak cerdas dan agresif. Sejak sekolah dasar dirinya selalu mendapat rangking kelas. Tetapi, itu tadi, karena agresif, menjelang remaja di SMP sampai SMA, ada perubahan dalam dirinya. Dia sering bolos sekolah. SMA saja lima kali pindah sekolah. Orangtuanya tak mau pendidikannya gagal, maka untuk mengatasinya, Ronald dipindah-pindahkan sekolah. Ada nasihat yang tak pernah lekang di benaknya pesan ayahnya, bahwa membimbing anak-anak seperti mengikuti aliran sungai. Asal terus diikuti, maka satu saat dia akan sampai kepada tujuannya. Demikianlah ayahnya membimbing. “Beliau selalu sabar untuk mengarahkan saya termasuk mesti pindah-pindah sekolah,” terangnya.

Demikianlah kegigihan dan kesabaran memberi hasil terbaik. Setelah pindah-pindah sekolah, akhirnya dia menamatkan sekolah dari SMA Kampus FKIP Nommensen, Pematang Siantar. Di sekolah ini dia mengalami perubahan. Dirinya mulai tersadarkan, memahami tak ada yang dapat merubah dirinya, kalau bukan dari dirinya sendiri yang merubahnya. “Tak ada seseorang pintar jika bukan dirinya yang mengusahakannya pintar.” Selulus sekolah menengah atas, dia melanjutkan kuliah ke Bandung.

Disana dia mendapat beasiswa dari DIKTI. Kuliah di Sekolah Tinggi Hukum Bandung, dan menjadi mahasiswa teladan. Padahal, sembari kuliah dia juga bekerja, mencari tambahan dana, karena kiriman orangtuanya tak cukup. Jadilah Ronald sampai tiga tahun menjadi office boy. Ritmenya, pagi kerja dan siang hari kuliah. Dia dipercayakan membersihkan ruangan praktek dokter. “Kerjanya mulai pukul enam pagi, hingga pukul 12 siang. Siangnya kuliah sampai sore.” Di sela-sela waktu yang ada, jika tak bekerja dan kuliah, dia menyempatkan diri membaca ke perpustakaan.

Mengapa ke perpustakaan? “Saya tak mampu membeli buku. Saya bukan saja anggota perpustakaan di kampus, tetapi anggota perpustakaan di berbagai tempat. Anggota perpustakaan milik Pemda, British Council Library Bandung, dan termasuk rajin ke toko buku Gramedia di Jalan Merdeka, Bandung. Tentu, semangat belajar itu diasah melihat kenyataan hidup.” Dia manambahkan, “Saya melihat hidup di kampung itu sangat memprihatinkan. Saya tak mau hidup di kampung, maka harus berusaha maksimal untuk bisa survive di kota.”

Kegigihan dan usaha yang maksimal tersebut dipetiknya. Dia lulus dengan lumayan cepat dengan nilai memuaskan, lalu pindah ke Jakarta melamar kerja. Di sana diterima di perusahaan asing. Salary-nya di atas gaji standar, dan mendapat fasilitas. Luarbiasanya, baru tiga bulan bekerja di perusahaan tersebut, bosnya memberikan fasilitas, mobil. Bukan hanya itu, dirinya kerap mendapat penugasan perusahaan untuk mengikuti training ke luar negeri.  Sayang, di perusahaan asing itu dia hanya bekerja tiga tahun, sebelum kemudian membuka usaha dengan rekan-rekannya. Kariernya terakhir sebagai General Manager pada PT Yulisem Jaya Raya (1987-1990). Saat itu dirinya sudah menikah dengan gadis pujaannya yang dulu satu sekolah di Pematang Siantar dan kuliah di Bandung.

Lalu, mengapa keluar dari perusahaan? Dia ingin gaji lebih besar lagi. Saat itu teman-temannya mengajak buka usaha. Saat itu belum matang benar membuat keputusan, tetapi apa hendak dikata, perusahaan itu ditinggalkannya karena tertantang mendapatkan pendapatan lebih. Kami bersepakat mendirikan perusahaan dengan modal patungan. Tak berapa lama usaha itu bangkrut. Bersamaan waktu itu, dia ikut bisnis valuta asing. Usaha itu pun juga kolaps. Disinilah pengalaman gagal pertama dialaminya. Mobilnya disita. Tabungannya terkuras.

Namun hidup harus dijalankan terus. Tak boleh meratapi apalagi menyesali apa yang sudah terjadi. Baginya, biarlah kesalahan itu memberi pemaknaan baru, bahwa dari kegagalan ada pengetahuan baru. Dia memetik hikmat, bahwa hidup harus ditata dengan baik. Waktu harus diisi dengan sebaiknya. Itulah hidup, karena terlalu asik mengejar uang, lupa untuk pelayanan.

Di kemudian hari sebagai orang yang makin matang dari segi pengalaman dan kematangan usia, Ronald menemukan bahwa hidup perlu keseimbangan. Bekerja dan melayani. Hidup yang kita hidupi harus juga melayani. Tak seluruh hari-hari disibukkan untuk mengejar fulus. Bahwa, rezeki yang diterima tak semua diteguk sendiri. “Saya melupakan hal-hal sifatnya melayani. Saya tenggelam dalam hiruk-pikuk dunia. Hidup dalam dunia yang tak baik.”

Sebenarnya  saat masih aktif bekerja dia sudah aktif untuk menangani beberapa perkara hukum. Walau waktu itu belum mendapat kartu izin menjadi pengacara. Tahun 1993, dia menetapkan diri menjadi pengacara, namun baru di tahun 1994, dia dilantik menjadi advokat oleh Menteri Kehakiman berdasarkan rekomendasi Ketua Mahkamah Agung.

Begitu ditabalkan menjadi pengacara, Ronald membuka kantor sendiri dengan nama Ronald & Associate di Jalan Veteran nomor 2, Jakarta Pusat. Dari Jalan Veteran pindah sewa kantor di Tomang Raya No. 25, Jakarta Barat, dengan dibantu dua pengacara. Dari sana membeli ruko untuk kantor di bilangan Jatinegara. Kemudian hari membeli kantor lagi di MT Haryono Square, dan sampai sekarang dia berkantor.

Di perjalanannya sebagai pengacara di kemudian hari kuliah lagi untuk mendapatkan Master Hukum dari Universitas Pelita Harapan. Sejak menjadi pengacara dirinya aktif mengikuti berbagai Pendidikan Instruktur Penyuluhan Hukum. Aktif juga di organisasi pengacara. Pernah menjadi Pengurus DPC IKADIN Jakarta Barat, DEPINAS SOKSI bagian Hukum dan Hak Asasi Manusia dan DPP IKADIN bagian Hubungan Luar Negeri. Sekarang pun di PERADI yang terfaksi di ketiga organ, dirinya tetap diminta sebagai penyuluh untuk calon-calon pengacara muda.

Selain itu, dia juga aktif di organisasi bisnis. Pernah Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Perdagangan Bursa Komoditi (1989-1992). Dan pernah Managing Director PT Mita Yasa Investama (1991-2003). Aktif advokat sembari Managing Director PT Karimun Aromatics yang bergerak di bidang Perkebunan Kelapa Sawit dan Pabrik CPO dari tahun 2007 hingga sekarang. “Saya merasakan dalam bisnis bahwa latar belakang saya di bidang hukum itu sangat mendukung,” ujarnya.

Demi cinta single parent, Ronald gigih bertahan dalam prinsip oleh nilai-nilai yang ditanamkan orangtua dan dorongan atas cinta sejatinya. Ronald menikah dengan Rosmaida boru Girsang setelah berteman hampir sembilan tahun, menikah tahun 1988. “Saya sebantaran dengan istri. Namun usia kami berbeda. Saya lebih tua. Sebab, itu tadi, saya lima kali pindah-pindah sekolah di SMA,” kisahnya.

Dari pernikahan tersebut Tuhan karuniakan tiga anak. Anak pertama, Paul. Lahir tahun 1989. Lulus S1 dari UGM. Lalu mendapat gelar S2 dari dua universitas ternama; Universitas Indonesia dan Universitas Leiden, Belanda. Anak kedua, seorang perempuan. Lahir tahun 1991. Namanya Hana Chovicha boru Simanjuntak. Lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia. Sekarang hendak menempuh pendidikan spesialis sembari asisten dosen, dan bekerja di klinik kecantikan di bilangan Kepala Gading, Jakarta Utara. Anak ketiga perempuan lahir tahun 2004. Namanya Kerenhapuch boru Simanjuntak. Saat ini menempuh SMP di sekolah internasional SMP Brighton Cibubur, Jakarta Timur.

“Istri saya itu adalah seorang yang sangat sederhana. Tak banyak menuntut dan sangat percaya dengan suami. Isu apa pun tentang saya di luaran sana dia tak percaya. Selalu percaya suaminya, dan demikian saya kepadanya,” kisahnya. “Kami mengelola keluarga dengan komitmen, saling percaya. Sepanjang kami membina mahligai keluarga tak pernah bertengkar,” ujarnya.

Di tahun 2007 istrinya yang sangat dikasihinya dimuliakan Tuhan. Mereka baru tahu penyakit istrinya, kanker hati. Penyakit itu baru diketahui tiga bulan sebelum meninggal. Almarhumah istrinya pun sama sekali tak pernah mengeluhkan, tak merasakan apa-apa tentang penyakitnya. Sebagai suami dirinya tak larut dengan kesedihan, dia tetap usahakan pengobatan terbaik. Dirinya berusaha membawa ke rumah sakit terbaik, bahkan sampai berbulan dirawat di Penang, Malaysia.

Sempat lima kali menjalani kemoterapy. Dia terus setia mendampingi istrinya. Namun rencana Tuhan berbeda, istrinya meninggal setelah empat bulan berjuang dalam pengobatan. “Saat itu perjuangan dan pergumulan hidup sangat berat. Anak saya yang pertama, Paul waktu itu masih baru lulus SMA dan hendak masuk ke UGM. Putri saya kedua, baru SMP, dan Karen si bontot masih usia bayi.”

Namun, dia memilih tak menikah. Sepeninggalan istrinya, dia menutuskan single parent, mengasuh ketiga anaknya dengan sendirian, tanpa pasangan. Sebab dia merasakan getaran dari batin istrinya saat-saat sebelum dijemput ajal. Selama dalam perawatan di Penang full satu bulan dialah yang menjaganya, sebagai suami-istri, dia merasakan bahwa istrinya sangat berharap dirinya bisa menuntaskan tanggung-jawab membesarkan dan menyekolahkan anak-anak seorang diri. Dari interaksi batin itu dia memahami kemauan istrinya. Tentu istrinya tak pernah mengatakan, melarangnya menikah jika dirinya sudah meninggal. Namun dari naluriah interaksi itu dia merasakan ada pesan tersirat.

“Bahwa wujud cinta dengan istri harus saya buktikan. Saya menutuskan tak menikah melihat putri saya yang masih bayi, Karen. Usianya masih dua setengah tahun. Saya bayangkan, kalau saya menikah, bagaimana nasib anak-anak, terutama Karen, saya kira pasti terganggu psikologisnya. Saya tak mau batinnya terluka,” jelasnya memberi alasan tak menikah. Walau dari dalil dalam Alkitab bahwa yang diceraikan oleh kematian diperkenankan menikah kembali. Hanya, Alkitab tegas, tak bisa menikah lagi orang yang cerai hidup. Tetapi dia memutuskan tak menikah walau ada peluang menikah. Bahkan, dirinya sempat dibujuk keluarga untuk menikah lagi, alasan mereka tak baik laki-lagi seorang diri. Apa jawabnya?

“Saya jawab. Iya, ada benarnya. Saya merasakan sebagai duda hidup di rumah kaca. Selalu dimata-matai dan diperhatikan. Baju lusuh disebutlah kasihan karena tak ada yang merawat. Kalau berdandan parlente dikatakan genit atau ganjen. Serba salah. Maka jawaban saya untuk saran menikah, tak baik laki-laki seorang diri, bahwa saya bukan lagi sendiri. Saya dihadirkan tiga orang anak untuk sahabat saya,” ujarnya. Tentu, banyak faktor yang membuatnya tak menikah. “Tentu, sebagai laki-laki normal saya bukan munafik. Masih membutuhkan hal-hal kebutuhan biologis. Tetapi, semuanya saya perhitungkan matang. Apalagi untuk menemukan karakter seperti almarhumah jelas tak mungkin. Dan mencari yang sepadan baik dari pikiran dan sikap, apalagi sangat mencintai anak-anak sudah jelas sangat susah,” terangnya lagi.

Memang, Alkitab menyebut, lebih baik hidup sendiri, tetapi jika engkau tak mampu bertarak hendaklah menikah. Konsekwensi logis dia pilih tak menikah tentu juga mesti mau merima berbagai kerepontan mengurus rumah tangga, dan menghindari godaan. Dia menggambil peran istri sekaligus ayah. “Di awal-awal ditinggal istri, saya masih harus tidur dengan putri saya yang paling kecil beberapa tahun. Tiap malam sebelum istirahat saya harus siapkan di kamar susu bayi termasuk termos. Saya harus bangun dua kali tiap malam untuk membuat susu. Belum lagi terbangun mengganti pampers.”

Tak mau putri bungsunya ini terlantar. Di hari-hari jadwal untuk imunisasi bayi, dia sendiri yang pergi ke rumah sakit. “Saya tak mau dia telantar. Kurang mendapat kasih sayang. Kurang asupan vitamin.” Ada hal yang selalu dipikirkan bahwa batinnya dengan batin anaknya harus terkoneksi. “Ada satu hal yang saya sadari bahwa hubungan saya dengan anak-anak saya. Psikologis saya harus bisa masuk ke psikologis mereka.”

Oleh karena perhatiannya lebih pada Karen, satu waktu anaknya protes kepadanya menyebut, bahwa sebagai bapak dirinya kurang adil. Sebab, ketika anak pertama dan anak kedua di masa kanak-kanak, sering dimarahi kalau salah, sementara Karen, walau salah tak pernah dimarahi. Apa jawabannya? “Saya katakan kepada kedua anak saya. Bapa punya cara sendiri mendidik adik kalian. Saya mamanya dan saya papanya. Sedangkan kalian, dulu, masih ada mama. Kalau papa marah kalian masih dibela mama,” ujarnya menjelaskan.

Tentu, dia juga punya cara mendidik anak perempuan dibanding dengan Paul, anak laki-laki satu-satunya. Paul saat SMP, pernah dilibasnya karena bolos sekolah. Dirotannya hingga merah. Waktu itu istrinya masih hidup. Dia suruh istrinya masuk ke kamar. “Kau masuk ke kamar. Paul saya ajar dulu. Nanti kalau kau lihat, kau melarangnya. Begitu istri masuk ke kamar saya tanya Paul, dijawab iya, saya rotan untuk mengingatkannya agar tak mengulanginya.” Sementara kepada kedua anak gadisnya dia tak pernah pukul. Kalau marah tentu pernah jika mereka melakukan kesalahan.

Kepada anaknya, terutama Paul selalu berpesan untuk tetap tabah, jangan cengeng dan tak boleh sombong. “Anak laki-laki tak boleh menangis. Tak boleh mudah menyerah, mesti berjuang. Tak boleh mudah putus asa,” kalimat itu kerap didengung-dengungkannya. Sekarang,  dirinya merasakan manfaatnya. Paul dan Hana sudah bekerja, mandiri dan dewasa dalam bersikap. Paul bisa menolongnya di bisnis dan advokat. Hana bisa membantu menjaga kesehatannya sebagai seorang dokter. Jika melihat hasilnya di taraf ini dia bisa katakan, “Untung saya memilih tak menikah. Apa jadinya seandainya saya menikah, tak mungkin dekat dengan anak-anak.”

Sedia melayani

Melayani memurnikan hidup, demikianlah satu ungkapan untuk melalukan hidup dari godaan-godaan yang menjerat. Sebagai pengacara dan pebisnis, Ronald kerap berjumpa dengan banyak orang. Baik klien atau rekan bisnis. Tetapi, yang sifatnya entertain dan bertemu klien perempuan empat mata dia selalu hindari. Caranya bagaimana? Dia senantiasa mengikutkan anaknya, Paul. Tetapi sekarang ditemani berenya, keponakannya yang juga asistenya, sebab Paul sekarang sudah mandiri, membuka kantor pengacara bersama teman-temannya.

Cara untuk jangan terjerumus dalam rupa-rupa yang tak baik, Ronald telaten tiap pagi bersaat teduh. Diakuinya di masa mudahnya bukan manusia yang bersih sekali, tetapi sekarang, dia menjaga sekali hidup suci untuk berkenan dihadapanNya. Apalagi dirinya tiruan bagi anak-anak. “Saya tahu kelemahan saya. Kita jangan lupa Tuhan kerap izinkan kita dicobai melalui kelemahan kita. Kitalah yang harus berkomitmen menjauhi kelemahan. Sebab disinilah kita kerap diuji oleh komitmen. Kita harus tahu itu agar tak terjatuh dengan rupa-rupa kesalahan,” jelasnya.

Artinya, tegas dia membatasi diri dengan berbagai hal-hal yang bisa merusak reputasi yang dibangunnya. Maka dengan tegas dia tak lagi membuat atau menerima janji pertemuan di luar jam kantor. Baginya, lebih baik pulang ke rumah. Di rumah dia bisa berinteraksi dengan anak-anak, bisa  leluasa membaca buku untuk menambah pengetahuannya, kalau tidak dia menonton atau mendengarkan khotbah. Ronald juga tak lupa untuk melayani, dia sadari melayani itu memurnikan hidupnya.

Tak hanya diundang memberikan pencerahan firman Tuhan, dia juga kerap bersama rekan sepelayan ke luar kota mengadakan misi ke desa-desa terpencil, kalau tidak mengunjungi panti asuhan. Maka dia selalu siapkan waktu untuk melayani, memberi hati, termasuk membantu pelayanan yang dikelola teman-temannya. Walau pernah sekolah teologia, tetapi bukan niatnya untuk menjadi pendeta, tetapi jiwa melayani itu terus dikobarkannya. Baginya, semua profesi adalah ladang pelayanan atau “market place.

“Hidup ini sangat rentan. Saya tahu bahwa pelayanan kitalah yang memagari hidup kita. Sebab firmanNya itu bagaikan pedang bermata dua. Saat menyampaikannya, satu sisi untuk orang lain, tetapi jangan lupa satu sisi  untuk diri kita.” Tentu, pelayanan bisa dibuat topeng. Sudah tentu itu terlihat dari motivasi atau niat masing-masing. Kalau dalam istilah hukum disebut, mens rea, (sikap batin pelaku perbuatan pidana),  apa yang memotivasi dari dalam? Tentu jika motivasinya untuk dilihat orang alim, paling gampang apalagi jika hamba Tuhan.

Persoalannya niat dari dalam diri, apa? “Firman itu kita beritakan dan itu juga yang mengaca diri kita. Jadi penuntunnya adalah firman. Maka Alkitab harus menjadi sahabat kita, dibaca setiap hari. Sama seperti buku penuntun dari smartphone kita. Kita tak bisa maksimal menggunakan fungsinya jika kita tak membaca manual book-nya. Demikian juga dalam hidup ini, kita tak maksimal di kehidupan ini jika tak membaca aktif buku penuntun; Alkitab. Itu sebabnya keKristenan bukanlah sekedar agama akan tetapi jalan hidup atau “way of life.

Menurutnya, banyak orang yang salah presepsi, bahwa jika telah jadi Kristen harus diberkati secara materi, padahal bukan demikian. Berkat materi itu tersedia bagi setiap orang dan bukan saja bagi orang Kristen. “Tuhan memberikan kesempatan kepada semua orang untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki dalam hidupnya. Mindset kita harus dirubah, bahwa kita tidak lagi fokus kepada berkat materi seperti itu. Kalau untuk hal itu, kita harus kerjakan secara bertanggung jawab, dengan bekerja keras, hidup hemat, berintegritas, maka Tuhan pasti mencukupkan. Fokus hidup orang percaya sebenarnya adalah bagaimana bisa hidup berkenan dan menyenangkan hati Tuhan.” ujar jemaat di Gereja Suara Kebenaran Injil (GSKI) Rehobot, gereja yang digembalakan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, itu.

Ronald menambahkan, bahwa perlindungan Tuhan otomatis bagi orang-orang yang mengandalkanNya. “Berkat itu bukan hanya materi. Banyak berkat Tuhan yang kita terima, perlu kita hitung-hitung temasuk kesehatan.” Banyak orang berpikir bahwa kalau sudah kaya secara materi maka hal tersebut merupakan berkat Tuhan, padahal belum tentu. Maka dia ilustrasikan, bahwa tak semua yang bersisik itu ikan,. Sebab ular juga bersisik. “Kerap orang tak bisa membedakannya. Sebab, nyatanya, banyak orang yang menyamakan ikan dengan ular, karena sama-sama bersisik.”

Dia mengisahkan, seorang pemuda di Plumpang yang kerjanya mengambil minyak dari setiap mobil tanki yang lewat di saat  jalanan macet. Setiap hari hal itu dilakukan. Minyak yang diambilnya makin banyak, tetapi di benak pemuda itu bahwa seluruh mobil tanki adalah pembawa minyak. Si pemuda tak tahu ternyata ada juga mobil tanki yang membawa tinja. Satu waktu dia mengejar mobil tanki yang tenyata membawa tinja. Begitu mobilnya berjalan pelan-pelan, dia kejar dan dibukanya. Apa yang terjadi? Tiba-tiba yang muncrat adalah tinja. Mengapa demikian? Sebab pemuda tadi tidak mengerti mana tanki tinja atau tanki minyak.  Implikasi dari ilustrasi ini Ronald hubungkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Bahwa setiap kita harus memahami mana berkat Tuhan dan mana yang bukan berkat Tuhan. Jadi, jangan maruk atau rakus dan tak boleh dipukul rata semua. Kalau materi itu berasal dari Tuhan, itulah berkat, namun juga ada materi yang bukan berasal dari Tuhan, itu bukanlah berkat dan bisa jadi laknat,” ujarnya mengakhiri. Maka, keruwetan pun bisa jadi berkat jika mampu dipahami makna tersirat di keruwetan yang ada. (Hojot Marluga)

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.