Memacu Adrenalin, Menguji Nyali


Oleh: Hojot Marluga

Adrenalin pemicu hormon antusias. Terpicu atas reaksi oleh tekanan diekpresikan melalui kecepatan gerak tubuh. Saat adrenalin terpicu ada semacam alarm di dalam tubuh yang otomat, memacu kelenjar adrenal. Adrenal terletak di atas ginjal yang fungsinya melepaskan set hormon seperti noradrenalin dan kortisol. Efek dari hormon-hormon tersebut dirasakan di sekujur tubuh termasuk mengalir ke otak. Adrenalin, disebut juga epinefrin, hormon stres yang diproduksi oleh kelenjar adrenal dan saraf dalam otak.

Bahasa Inggris disebut adrenaline atau epinephrine, hormon yang memicu reaksi terhadap tekanan dan kecepatan gerak dari tubuh. Saat adrenalin meningkat pesat, hal-hal yang menakjubkan terjadi. Misal, seseorang bisa berlari sekencang-kencangnya, melompati tembok tinggi oleh karena takut dikejar anjing. Itu tentu karena dipicu adrenalin. Jelas, jika tak dikejar anjing orang tersebut tak bisa lari kencang.

Saat adrenalin meningkat, diri kita akan memunculkan kekuatan prima, hiper-antusias, gairah menghebat, spirit berkelebat, semangat melintas di sekucur tubuh. Mengapa bisa? Alarm kewaspadaan berdering, berbunyi oleh koneksi hormon stres yang diproduksi kelenjar adrenal. Barangkali, tepatlah ungkapan menyebut, jika urat takut sudah putus maka keberanian muncul. Moralnya adalah; tatkala sudah lama berjuang dan tak berhasil, adrenalin memicu keberanian berusaha dengan persisten. Keberanian dimunculkan oleh karena melewati batas takut.

Mengkondisikan terjepit salah satu pemacunya. Di titik ini orang yang antusias berusaha, baginya gagal adalah masalah kecil. Putus asalah yang jadi perkaranya. Takut atau berani tergantung dari respon dan tindakan, dan soal bagaimana personal (diri) meresponinya. Saat adrenalin terpicu membuat jantung berdetak cepat, dan lebih cepat. Detakannya memacu bergerak cepat. Tentu, proses terpacunya adrenalin membuang hormon stres kortisol,  dan adrenalin masuk ke dalam aliran darah. Pemacu, ketika diri merasa panik, terancam dan takut disana terjadi kimiawi tubuh. Tubuh terjaga dan langsung mengaktifasi kewaspadaan pada fisik dan fisikis.

Secara medis adrenalin dapat berdampak berbahaya jika berkepanjangan, terutama orang yang sakit jantung dan darah tinggi tentu berbahaya. Karena, hormon stres dalam tubuh yang muncul bersama adrenalin akan mengganggu semua proses tubuh, semisal gangguan tidur, pencernaan bahkan bisa sampai depresi. Namun, tak selamanya adrenalin berdampak buruk. Dampak positifnya memacu tubuh, otak, tentunya lewat berpikir untuk bias fokus dengan hal yang sedang dikerjakan atau dikejar.

Sebagaimana para wartawan yang mengejar deadline misalnya. Bisa fokus berjam-jam di depan computer atau laptopnya saat menyelesaikan tulisan oleh dikerjar deadline. Saya beruntung bisa mengalami berbagai irama deadline di redaksi media cetak, dari majalah bulanan, tabloid mingguan hingga koran harian. Jadi mengerti suasana batin dikejar-kejar deadline hal itu memang luarbaisa tegangnya. Saat adrenalin terpicu, hasilnya tugas-tugas kognitif dapat teratasi lebih cepat dari normalnya.

Alih-alih, adrenalin juga berfungsi terhadap ancaman. Saat adrenalin terpacu sejenak memicu adanya rasa panik dan takut. Saat-saat suasana batin diberi ruang jeda memberi jawaban, persis pekikan eureka, sebagaimana seruan Archimedes pada waktu menemukan gaya angkat air; “Aku telah menemukannya,” sembari berlari telanjang, saking girangnya atas temuan ide briliannya. Saat Archimedes menemukan ide itu, dia terkagum, takjub, tercengang, terheran-heran, sesungguhnya dipicu karena kaget, adrenalin memerintahkan otot-otot halus pada tubuh untuk rileks.

Hal yang sama misalnya, saat menonton film horor yang juga memacu adrenalin. Pikiran yang terjaga mampu membedakan dunia nyata dan dunia imaji. Film yang ditonton hanyalah fiksi, tak nyata. Tentu, dari menonton bisa menginstensifkan perasaan baik maupun buruk, namun, adrenalin memaksa fokus, sehingga pikiran tak disimpangkan. Saat fokus maka pekerjaan pun cepat tuntas. Tapi orang yang dipengaruhi bisa ketakutan, semisal menonton film horor, apalagi lampu dimatikan.

Uji nyali

Dulu di tv sering ditayangkan acara; Dunia Lain. Saya tentu bukan penonton setianya. Entah benar hal itu, nyatanya banyak yang menikmati acara tersebut. Dunia Lain, acara tv disambiguasi, proses memotong aliran audio menjadi beberapa berkas audio. Acara tv tersebut katanya, dirancang untuk memacu adrenalin karena menampilkan sisi pengujian nyali. Walau bagi saya ada hal-hal yang tak patut, mengundang makhluk halus. Terkesan mistik. Itulah Indonesia, percaya mistis, demikian kata Mocthar Lubis sastrawan dan salah satu pinihsepuh wartawan Indonesia, itu.

Saya teringat beberapa tahun lalu, saat masih redaktur di tabloid Reformata, pernah menguji nyali dengan meluncur dari lantai tujuh sebuah mall. Tepatnya di Mall fX Sudirman. Saat itu, saya diundang oleh satu perusahaan bertepatan lunching produk baru mereka dengan menggelar jumpa pers. Selesai jumpa pers, para wartawan diberikan voucher untuk menikmati wahana baru Atmosfear, itu. Perosotan untuk berseluncur uji nyali, memacau adrenalin. Tetapi, tak semua wartawan mau menjajalnya. Saya termasuk yang ikut, pertama karena gratis, kedua saya mau uji nyali.

Wahana permainan ini disebut untuk memacu adrenalin dengan kecepatan tinggi. Saya ingin merasakan perosotan baru ketika itu. Pertanyaannya, apa berani? Saat saya meluncur dengan cepat melesat mengikuti tikungan-tikungan curam sampai ke bawah, hanya dalam hitungan detik untuk turun dari ketinggian dua puluh meter? Saya merasa nyawa hampir copot. Saya pikir itulah gara-gara gratis. Sebelum meluncur sesungguhnya saya ragu-ragu, sempat takut dan ingin mengurungkan niat.

Tetapi petugas memberikan keterangan yang memastikan aksi itu aman. Tak perlu ditakuti karena dilengkapi dengan berbagai alat pengaman mulai dari helm, pengaman siku tangan, pengaman lutut hingga pengaman membalut tubuh. “Agar jangan tegang Anda harus berteriak kecang, sekencang-kencangnya,” kata petugas. Jujur saya tetap dilanda rasa takut. Mengapa? Karena ada juga disebut prasyarat orang yang bisa mengikutinya, harus benar-benar sehat; tak sakit jantung, atau penyakit epilepsi dan penyakit kronis lainnya.

Selain itu, ibu hamil tak boleh diikutkan, apalagi anak-anak dan manula, harus benar-benar usia dewasa. Masih fit dan prima. Dengan penjelasan petugas dan pengamanan tubuh itu saya akhirnya memberanikan meluncur. Namun selesai meluncur saya merasakan ada semangat baru. Namun saya bayangkan, kalau sekarang dicoba, kemungkinan saya tak berani lagi. Tetapi, jika karena kondisi atau situasi memicu, saya kira pasti bisa lagi berseluncur. Jadi kondisi terdesak yang memacunya. Mengkondisikan terdesak itulah yang menstimulasi adrenalin.

Penulis adalah seorang jurnalis, pengiat buku & editor di Penerbit Permata Aksara

Please follow and like us:
0

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.