Tumbur Naibaho: Pendiri KSP Makmur Mandiri Bertangan Dingin

Adalah Tumbur memulai usaha koperasi sebenarnya sejak menjadi staf di Bumi Asih Group. Bumi Asih sendiri didirikan oleh Karel Mompang Sinaga. Tumbur sebagaimana diartikan dalam bahasa Batak, artinya terus bertumbuh. Apa yang ditanam terus bertumbuh. Sebagai karyawan ketika itu dia mesti mengencangkan ikat pinggang, intinya menghemat biaya. Saat memulai keluarga, dirinya tinggal di Paseman daera Salemba Jakarta pusat. Pilihan itu dibuat karena saat itu istrinya, Juniar Simbolon sebagai seorang perawat di Rumah Sakit St Corolus.

Tetapi, ketika putri tiga, dan membutuhkan konsetrasi penuh untuk mendidik ketiga putrinya, Tumbur meminta istrinya agar melepaskan pekerjaan sebagai tenag medis di rumah sakit, dan konsentrasi mengurus anak. Oleh karena istri konsentrasi mengurus anak, mereka pun pindah ke Tambun, Bekasi. Rumah yang sebelumnya mereka sudah beli. Sementara di Jakarta mereka masih mengontrak.

Dan, di Tambun kemudian putra satu-satunya lahir. Tumbur sendiri juga mensiasati biaya yang makin besar dengan memulai koperasi yang dikelola masih swadaya di rumahnya, sembari dia menambah ilmu master manajemen. Waktu itu dari perusahaan memang ada jatah untuk mendapat beasiswa untuk kuliah, namun waktu itu belum gilirannya, maka jadilah dia kuliah dengan biaya sendiri.

Naik bus dari Jakarta ke Tambun. “Saya memulainya dari nol. Tidak langsung maju, berhasil. Saya dulu hanya punya sepeda motor. Dan kalau ke Jakarta naik kereta api, kalau tidak naik bus. Itu sambil kuliah, setelah pulang kerja,” ujarnya menjelaskan kisah hidup yang dialaminya.

Tahun 2005, dia mulai melatih diri berjiwa entrepreneur dengan membuka kantor Cabang Koperasi Bersama Mandiri (KBM) berkantor di rumahhya, Perumahan Griya Asri 1 Tambun. Lalu, tahun 2007, dia melihat bahwa PT Asuransi Jiwa Bumi Asih (BAJ) sepertinya tidak sehat lagi. Saat itu, perusahaan dia sudah 20 tahun bekerja mulai tak stabil lagi. Terlihat dari mulai sebagian karyawan dilakukan pemutusan tenaga kerja. Membaca situasi itu, Tumbur bukannya mundur malah berselancar sengan gelombang yang ada.

Dia adaptif terhadap situasi itu dan memulai usaha koperasi. Dari keadaan yang kritis itu memacu dirinya  untuk terus mengembangkan koperasi. Maka, saat itu dia membangun brand dendiri, jadilah koperasi Makmur Mandiri. Dan memberanikan diri memindahkan kantor dari rumahnya ke Ruko Niaga Kalimas Bekasi Timur. Koperasi yang sebelumnya dia kerjakan sendiri, sekarang dikelola dengan propesional.

Apalagi pengalaman yang dimilikinya di bidang asuransi, pasat modal dan dana pensiun juga mengelola koperasi BPR miliki Bumi Asih. Maka, Juni 2009 dia memberanikan diri mendirikan Koperasi Makmur Mandiri dengan pertama mengajak 25 orang sebagai anggota pertama, dari kerabat,  sahabat dan relasi. Namun, saat itu koperasi yang didirikan adalah di wilayah Kabupaten Bekasi. Sudah tentu likupan jangkaunnya terbatas.

Tahun 2011 digelarlah Rapat Anggota dan sepakat untuk mengembangkan usaha lebih menasional diganti nama menjadi Koperasi Prima Nasional dan memindahkan kantor pusat dari Kabupaten ke Kota Bekasi, di wilayah Pondok Ungu, Bekasi Selalatan. Dan fokusnya unuk Simpan Pinjam. Melihat perkembangan yang ada maka kantor pusat kembali dipindahkan  ke jantung Kota Bekasi. Desember 2014, Koperasi punya kantor sendiri di Ruko Suncity Square Blok A/8 Bekasi Barat.

Bertangan dingin

Pengalaman adalah guru paling berharga. Ungkapan bijak itu tepat untuk menggambarkan perjalanan Tumbur Naibaho dalam mengelola koperasi. Sebelum dipercaya menjadi Ketua Koperasi Simpan Pinjam Makmur Mandiri seperti sekarang, pria kelahiran Sumatera Utara, 29 Januari 1965  ini pernah menjadi pengelola koperasi karyawan di salah satu perusahaan asuransi swasta. Sehingga, ia tidak canggung ketika dipercaya oleh anggota untuk memimpin koperasi.

Bagi pria yang hobi travelling ini, mengelola koperasi itu menyenangkan karena bisa membantu masyarakat di tingkat akar rumput. Apalagi segmen pasar Koperasi Makmur Mandiri memang membidik kalangan masyarakat kecil. Ini terlihat dari rata-rata plafon pinjaman yang sebesar Rp 4 juta per anggota. “Senang rasanya bisa membantu usaha orang kecil dan menciptakan lapangan kerja,” ujarnya.

Sebagai sarjana matematika, ia terbiasa berpikir logis dan mendetail. Kebiasaan ini terbawa dalam mengelola koperasi. Strategi pengembangan usaha dilakukan dengan perencanaan yang matang dan rinci. Hasilnya terlihat dari kinerja Koperasi yang kinclong. Dibawah “tangan dingin” Tumbur, usaha KSP Makmur Mandiri terus berkembang yang ditandai dengan jaringan kantor yang  bertambah. Selain itu, kepercayaan masyarakat terus meningkat dengan tumbuhnya jumlah anggota. “Semua ini berkat kerja sama tim dan dukungan anggota,” pungkasnya dengan nada merendah.

KSP Makmur Mandiri didirikan pada Juni 2009. Sampai Januari 2018, Koperasi ini  memiliki jaringan 86 Kantor Cabang di 13 (tiga belas) provinsi, dan didukung hampir 1.000 orang karyawan. Dimasa mendatang, diharapkan KSP Makmur Mandiri akan semakin banyak berperan dan turut membantu pengadaan lapangan kerja.

Please follow and like us:
0

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.