Aek Godang Aek Laut, Dos Ni Roha Sibaen Nasaut

Ungkapan Batak ini mengajarkan, betapa perlunya ada kebersamaan. Nenek moyang orang Batak mengerti sekali betapa perlunyakebersamaan untuk menggapai tujuan. Kekompakan adalah kekuatan. Ibarat lidi yang diikat maka bisa kuat menyapu. Analogi sapu lidi yang merupakan alat penyapu, umumnya digunakan untuk membersikan pekarangan rumah. Lidi kuat menyapu karena menyatu, tak berpisah-pisah. Mengapa perlu disatukan? Ada lidi yang tipis dan ada pula lidi yang kuat. Saat disatukan dengan pengikat yang kuat, maka lidi yang lemah tadi akan ditopang dengan lidi yang kuat pula. Kesatuan lidi membuatnya mampu menyapu.

Dalam budaya Batak, bahwa setiap orang mempunyai posisi. Posisi itu otomatis akan mengetahui di mana posisinya dalam adat. Sebab posisi itu berubah tergantung pada posisi dan status. Saat seorang Batak berada dalam satu tempat dan masa, maka seyogianya dia tahu harus duduk di mana dan harus tahu apa yang dikerjakan. Maka dalam pelaksanaan filosodi tadi sebenarnya berangkat dari kesadaraan untuk kepentingan bersama yang mengungkapkan kebersamaan menghasilkan sinergi, membawa keberhasilan. Implikasi dari ungkapan ini berarti perlunya musyawarat dan mufakat setiap mengambil keputusan. Betapa dalamnya filsafat Batak ini mengedepankan musyawarah mufakat dalam mencampai kata sepakat.

Artinya, sebagaimana disebut pada Sila Keempat Pancasila itu juga adalah salah satu perwujudan Adat Batak. Sila keempat merupakan penjelmaan dalam dasar politik Negara, ialah Negara berkedaulatan rakyat menjadi landasan mutlak daripada sifat demokrasi Negara Indonesia. Sila keempat Pancasila yang berbunyi “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmatkebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.” Memiliki makna, mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat. Kemudian, tak memaksakan kehendak kepada orang lain. Juga mengutamakan budaya bermusyawarah dalam mengambil keputusan bersama. Akhirnya, bermusyawarah sampai mencapai katamufakat diliputidengan semangat kekeluargaan.

Soal perlunya kebersamaan itu juga terungkap dalam umpama: Baliga nang pagabe, na ni tabo-taboan. Arinta ma gabe, asal ma marsiolo-oloan. Artinya, baliga dan pagabe alat-alat tenun yang diminyaki lilin, agar benang tak kusut. Arinta ma gabe, asal ma marsiolo-oloan. Alihbahasanya, hari ini kita tetap bahagia, asalkan kita saling mengiyakan, tolong-menolong, bantu-membantu. Hal di atas hanyalah aspek garis besar dalam kehidupan Adat Batak, masih banyak hal-hal yang lebih detail yang telah mampu membuat semua Masyarakat Batak eksis dan mampu mengambil peran dalam kehidupan jaman modern ini.

Aek doras tu aek laut, Dos ni roha sibaen na saut. Aek doras tu aek laut ‘Air sungai ke air laut. Dos ni roha sibaen na saut diterjemahkan, jika ada kesepakatan maka tercapai tujuan. Dosniroha semadengan kesehatian. Maka jika ada kesehatian itu yang membuat tim solid. Kalau itu dalam persatuan marga, perkumpulan marga itu betul-betul menjadi kuat. Demikian juga kalau itu diterapkan dalam rumah tangga, keluarga tersebut akan kokoh. Kesehatian suami-istri akan bisa menjalani mahligai rumah tangga. Alih-alih di kehidupan ini mengharuskan kita memiliki rasa kebersamaan, karena saat bersama diri kita menjadi kokoh.

Sekali lagi, pesan filosofi ini diharapkan kita bisa menikmati kebersamaan. Kita diingatkan untuk menyadari bahwa kita membutuhkan orang lain. Maka pesannya jaga kebersamaan dengan orang lain. Kebersamaan keluarga, kebersamaan dengan kerabat, kebersamaan dengan rekan-rekan. Apapun komunitas selalu menuntut kita kebersamaan, itu.

Lagi-lagi, persahabatan adalah tentang kebersamaan. Karena filosofi dos ni roha ini tak sedikit orang Batak membuat nama usahanya Dos Ni Roha. Jika rasa bersama telah memudar maka persahabatan tinggal waktunya akan karam. Karena itu, komunitas yang tak dibangun di atas kebersamaan niscaya akan kokoh. Jarak boleh terpisah, tapi jika ada kebersamaan tetap terjaga sudah tentu ada kekuatan. Itulah pengertian dari persahabatan yang didengungkan nenek moyang orang Batak. Filosofi ini universal. Bisa diterapkan untuk siapa saja. Bahwa kebersamaan membuat kita bisa bekerja dengan lebih efektif dan efisien.

Sesungguhnya setiap perkumpulan orang Batak harus didasari filosofi Dos ni roha, kebersamaan. Perkumpulan yang paling dekat misalanya, perkumpulan dos ni roha di sekitar rumah. Perkumpulan parsahutaon itu dasarnya dos ni roha. Mengapa? Karena orang Batak sadar bahwa kebersamaan membuat hal yang sedikit terasa sangat melimpah. Bahwa setiap kebersamaan selalu lebih kuat menghadapi apapun. Aek godang, aek laut. Dos ni roha sibahen nasaut, hasil musyawarah untuk mufakat itulah yang terbaik. Karena kebersamaan itu sendiri bukan berarti kita selalu bersama-sama secara fisik, tapi lebih pada hubungan psikologis.

Falsafah Batak Mengandung muatan bagaimana bersinergi. Satu ide atau satu tujuan itulah sebuah kekuatan, satu pemikiran, satu misi, itulah sebuah kedalaman kekuatan bersama dalam berbagai hal. Sinonim dari peribahasa kalau dalam bahasa Indonesia menybut, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Kalau berat sama dipikul, ringan sama dijinjing sama pulalah makna dari ungkapan di atas. (Hojot Marluga)

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.