Banner Siburian: Bermarturia Dengan Semangat dan Partisipasi Aktif Seluruh Jemaat

suaratapian.com Satu dari tiga tugas gereja (Koinonia, Diakonia dan Marturia) adalah Marturia. Dalam hal kesaksian iman yang dimaksud untuk pemberitaan kabar baik bagi seluruh umat manusia. Bagi Pdt Banner Siburian MTh, dalam konteks kesaksian perlu dipahami bahwa tugas pemberitaan dan kesaksian dimulai dari kesaksian diri, dan dilakukan oleh semua orang percaya. Praeses Distrik HKBP XIX Bekasi ini menyebut, bahwa tugas Marturia penting untuk senantiasa digelorakan. “Bahwa tugas Marturia ibarat mimbar berjalan untuk menjangkau semua jemaat,” ujar mantan Praeses HKBP Distrik XXVII Kaltimsel ini. Lulusan sarjana teologia dari STT HKBP

Banner Siburian bersama Zuhairi Misrawi
Pematang Siantar dan master teologia dari STT Proklamasi Jakarta ini beberapa waktu lalu berbincang dengan redaksi saat menggelar Lokakarya Marturia HKBP Distrik XIX Bekasi. Banner juga menyebut, bahwa pelaksanaan lokakarya paling tidak punya empat sasaran atau tujuan pokok. Pertama, agar kita kembali memahami dan menghayati akan arti dan makna Marturia. Kedua, agar semangat dan partisipasi kita semakin meningkat. Ketiga, untuk lebih memperlengkapi diri kita dalam pekerjaan pekabaran injil (PI). Dan kempat, agar semua menjadi bagian dari wadah Marturia di tingkat distrik. Demikian petikannya:

Boleh diuraikan sekilas tentang HKBP Distrik XIX Bekasi?
HKBP Distrik XIX ini berada di tiga daerah yaitu Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi dan sebagai Kabupaten Bogor. Ketiganya masuk dalam wilayah Jawa Barat. Secara demografi Provinsi Jawa Barat disebut juga Jawa Kulon. Merupakan provinsi yang terbesar di Indonesia dan beribukota di Kota Bandung. Suku yang mendominasi adalah Sunda, Jawa, Betawi ditambah etnis-etnis lain. Data tahun 2015 menyebut sekitar 46.497.175. Di Jawa Barat sendiri sedikitnya jumlah orang Batak, khususnya Toba diperkirakan 350.000 jiwa. Menurut data Suara Pembaharuan 16 April 2017 menyebut bahwa jumlah Protestan ada 195.145 sedangkan Katolik ada 65.568.

Lebih detail tentang HKBP?

Data base dari HKBP Distrik XIX Bekasi per September 2017 ada sejumlah 74.831 jiwa atau 19.679 kepala keluarga. Jumlah jemaat sebanyak itu ada di 42 gereja, dipimpin 72 pendeta, 2 Bibelvrouw dan 1 guru huria. Berarti, setiap pendeta asumsinya melayani 1000 jiwa. Memang sesuatu yang berat sekali, maka mestinya ada penambahan tenaga pelayan, bahkan hal ini sudah menjadi keharusan di Distrik XIX Bekasi.

Asumsinya dari jumlah SDM pendeta yang ada tidak akan bisa maksimal lagi melayani di Distrik XIX Bekasi?
Jika seorang pelayan diasumsikan melayani 500 jiwa, maka paling tidak butuh lagi 75 lagi pendeta. Memang, para pendeta pimpinan jemaat agak sungkan membicarakan hal ini diintenal mereka, karena takut majelis setempat menolak dengan alasan klasik “sian dia bahenon balanjo ni” dari mana dibuat membiayainya nanti. Ke depan pemahaman majelis dengan pendeta harus seirama bahwa tidak mungkin pelayanan maksimal jika rasio tadi tetap ada. Paling tidak pelan-pelan harus diusahakan penambahan pelayan. Karena itu gereja yang sudah besar harus terus memberi ruang bagi pertambahan pelayan.

Bagaimana soal semangat toleransi?

Jika mengacu pada berita-berita yang ada bahwa Jawa Barat selalu wilayah yang lebih banyak berita tentang penolakan mendirikan rumah ibadah. Sudah tentu, jika dari jumlah penduduk hal ini bisa mudah dihitung secara matimatis. Namun soal heteroginitas Jawa Barat, memberi peluang, disana tumbuh semangat solidaritas untuk hidup saling tolong menolong, mutlak menjadi modal yang harus diperhatikan dengan seksama, sehingga tidak menjadi salah satu pemicu atau pemantik konflik horizontal.

Bagaimana dengan Kota Bekasi?

Kota Bekasi merupakan salah satu yang terdapat di Jawa Barat. Kota ini merupakan bagian dari megapolitan Jabodetabek, dan menjadi kota satelit dengan jumlah penduduk terbanyak.

Bagaimana heterogenitas Bekasi, populasi orang Batak dan peluang untuk bermarturia?

Di Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi jumlah orang Batak cukup signifikan. Mereka itu bekerja di berbagai macam profesi, ada seperti sopir, tukang tambal ban, karyawan pabrik termasuk pengawai negeri dan berwirausaha. Mereka hidup di tengah kota urban, di tengah-tengah masyarakat yang mayemuk. Oleh karena itu, kerukunan harus dijaga dan dirawat agar potensi gesekan horizontal dapat dihindari. Sebab kondusifitas dari lingkungan sendiri berdampak untuk warga sendiri. Sebaliknya jika terjadi masalah yang terganggu adalah masyarakat itu sendiri. Maka agar dampak negatif keberagaman suku, agama, ras dan antargolongan dapat dihilangkan. Memang, tak bisa dipungkiri, desakan ekonomi, merantau, pekerjaan yang terpinggirkan mungkin membuat mereka dalam posisi tidak sepenuhnya terjangkau pelayanan di gereja.

Dari sebuah penjelasan tadi, tentang Marturia, apa kajian dari Anda untuk memberdayakan jemaat HKBP Distrik XIX Bekasi?
Marturia adalah tugas utama dari gereja, karena itu amat agung dari Tuhan Yesus. Namun, kita harus terus belajar pada masa lalu dan semakin memahami kondisi lingkungan. HKBP dengan visinya jelas inklusif, dialogis dan selalu terbuka merangkabangun hubungan dengan sesama anak bangsa, khususnya dalam pelaksanaan Marturia untuk jangka panjang dan berkesinambungan, sebagai wujud ketaatan kita mengemban perintahNya.

Bagaimana melibatkan seluruh jemaat?
Memang ada pemahaman yang terasa deviasi bahwa tugas Marturia adalah tugas semata-mata oleh pendeta. Dan bermarturia hanya disampaikan kepada mereka yang belum beragama Kristen. Seolah-olah tugas Marturia hanya keluar, hanya dipahami bagaimana menambah jumlah kuantitas Kristen. Bagi saya, pemahaman yang demikian adalah sebuah pendangkalan makna Marturia. Marturia itu juga kedalam, menjadi saksi di dalam. Pekabaran Injil bukanlah tugas lembaga gereja saja, atau hanya parhalado, tetapi panggilan hidup untuk semua orang yang sudah mengakui dan menerima Yesus sebagai Juru Selamat.

Artinya?
Kita perlu pemahaman baru, bahwa Marturia jangkauannya bukan membuat orang pindah agama. Yesus tidak pernah menyuruh kita untuk mengajak orang pindah agama, tetapi ajarannya mengajarkan bahwa kita menjadi murid-murid yang meneladankan laku dan tindak tanduk seorang hamba, murid Yesus yang sejati. Lagi, Dia meminta kita untuk menjadi pribadi yang missioner, tidak hanya menyimpan dan merasakan sendiri, berbaga dan peduli bukti telah menerima pembebasan dariNya. Tetapi, Marturia juga mengajak pemuridan atau pendewasaan. Karenanya, bagi saya kalau kita bicara Marturia kita bangkit dari kemerosotan, artinya ada perhatian zending internal dan external. Tuhan sudah menyelamatkan kita melalui Injil, maka kita juga harus membawa kabar kesukaan, maka kita harus menjadi berkat, bermarturia. Paling tidak bermarturia di komunitas terkecil, di keluarga, di lingkungan atau di tempat pekerjaan kita.

Lalu, apa kendala di lapangan untuk mengimplementasikan tugas panggilan Dewan Marturia ini?
Dewan Marturia adalah perpanjangan tangan distrik untuk menjangkau berbagai elemen masyarakat dan warga gereja, terutama mereka yang belum terjangkau oleh pelayanan gereja, huria setempat. Marturia distrik menjadi penyambung kerjasama dan mengkoordinasikan pelayanan Marturia di gereja. Selama ini, Marturia Distrik terkesan belum punya sentuhan langsung dengan berbagai lapangan Marturia, termasuk jadwal yang jelas dan terukur, bahkan sumber daya untuk mengorganisir dan menyelenggarakan Marturia.

Terakhir, apa yang harus dilakukan distrik untuk itu?
Setidaknya ada beberapa ajuan bidang pelayanan yang terfokus melayani sesuai dengan bidangnya masing-masing; ada pelayanan ke rutan-rutan, pelayanan yang fokus kepada mahasiswa, pelayanan ke rumah sakit, ke buruh-buruh pekerja dan jemaat-jemaat yang lain. Saya kira kesempatan pelayanan ini harus kita tangkap. Bila tidak melayani dan menjangkau mereka dengan sungguh, gereja akan dianggap sebagai institusi yang dilayani. Padahal mesti melayani bukan untuk dilayani.

Sesungguhnya Marturia adalah seperti mimbar berjalan untuk menjangkau mereka, dengan gereja sebagai pusat pelayanan. Karena itu, Dewan Marturia dan Seksi Zending wajid dipacu, agar lebih banyak bergerak, berjumpa dengan warga di dalam keseharian mereka. Barangkali, ke depan sudah waktunya dipikirkan bahwa ada pendeta zending yang tugasnya khusus menjangkau mereka yang belum terlayani. Mereka itu, “Pendeta Zending” itu tanpa terlalu dibebani banyak tugas rutin di gereja. Lagi-lagi disinilah gereja harus berjiwa besar untuk menopang kehidupan material si pelayan.
(Hojot Marluga)

Please follow and like us:
0

Leave a Comment