Bincang-bincang Filosofi Bhinneka Tunggal Ika bersama Rektor Universitas Mpu Tantular Dr Mangasi Panjaitan

JAKARTA-suaratapian.com
Saat ini Universitas Mpu Tantular paling tidak punya cita-cita di tahun 2030 ingin menjadi kampus yang dikenal di Indonesia, dan tahun 2040 dikenal di Asia Tenggara. Lebih dari itu dikenal sebagai kampus yang berfilosofi Bhinneka Tunggal Ika, yang menguasai teknologi dan memahami budaya. Mengapa budaya jadi penting?

“Sebab, saat ini banyak orang tak peduli dengan kebudayaan. Jika hanya menguasai teknologi tanpa memahami budaya maka anak-anak muda yang lulus dari universitas tercerabut dari akarnya,” ujar Dr. Ir. Mangasi Panjaitan, ME, Rektor Universitas Mpu Tantular (2017-2021).

Hal itulah menjadi alasan dan konsen dari Univeristas Mpu Tantular untuk kembali mengangkat jati diri bangsa. Sebab, lembaga ini juga menyakini benar bahwa sejak dulu nenek moyang bangsa Indonesia, jauh sebelum para pendiri bangsa menyebut kebhinnekaan itu, Mpu Tantular sebagai budayawan dan penulis telah mendengungkan Bhinneka Tunggal Ika yang artinya biar berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Ini ditulis dalam bukunya Sutasoma.

Mangasi menyebut, sebenarnya buku tersebut semacam syair, fiksi yang menceritakan percintaan dua anak manusia yang berbeda latar belakang agama yaitu Hindu dan Budha. Tetapi oleh sastrawan tersebut menarasikannya dengan apik, walaupun keduanya mendapat pertentangan di zamannya, tetapi percintaan keduanya tetap kokoh.
“Sebenarnya itu adalah filosofi yang menggambarkan bahwa manusia berasal dari satu sumber yang sama. Maka apa pun latar belakangnya, suku atau agamanya kita tetap berasal dari satu sumber yaitu Tuhan. Bahwa seluruh jagat raya ini, ada bulan, bintang-bintang dan seluruh alam bimasakti asalnya dari satu sumber dan bahkan seluruh makhluk berasal dariNya.”

Sumbernya satu, sumber dari segala sumber adalah Tuhan. Yang kemudian oleh bapak pendiri bangsa Soekarno mengambilnya dan menaroknya di kaki burung garuda. Oleh alasan itulah kampus ini kembali mendengungkan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Diharapkan, nantinya lulusan dari Universitas Mpu Tantular menjadi insan-insan yang memahami spirit Bhinneka Tunggal Ika tersebut dan memahami bahwa perbedaan itu sesuatu keniscayaan, tak mungkin ditiadakan. Tuhanlah yang menciptakan perbedaan. Maka perbedaan harus dirawat dan dijaga sebagai kekuatan untuk kesatuan.

“Jika Tuhan mau sudah pasti menciptakan keberagamaan. Satu agama, satu suku, satu ras dan semuanya seragam. Tetapi justu bukan demikian, Tuhan menciptakan perbedaan demi menunjukkan bahwa semua sumbernya adalah satu. Konteks di Nusantara sebelum Indonesia didirikan bahwa sejak kerajaan Majapahit dan Sriwijaya, kita sudah beragam. Dan inilah perbedaan dan menjadi ciri khas Indonesia dari bangsa lain, bahwa Indonesia diciptakan dengan keberagaman itu,” ujarnya dengan takzim.

Oleh karena pemahaman itulah, paling tidak dari universitas ini lahir semangat etos Bhinneka Tunggal Ika. Paling terayal di dalam studi setiap mahasiswa ada mata kuliah Bhinneka Tunggal Ika. Jadi pembeda dari kampus lain dengan kampus Mpu Tantular ini bahwa ada muatan lokal bidang studi Bhinneka Tunggal Ika. Dan, untuk memperkukuh semangat tersebut di kampus ini didirikan lembaga penelitian yang konsen pada nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika dan kearifan lokal Nusantara untuk mengimplementasikan spiritnya.

Rektor yang memulai kariernya sebagai asisten dosen sejak mahasiswa ini. Adalah anak pertama dari delapan bersaudara. Anak dari seorang pertani, Bapak Oloan Panjaitan (alm) dan Ibu Dina Manurung (alm). Lelaki kelahiran 15 Desember 1965. Lahir di Desa Batu Lima, Kisaran, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Insyinur dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Magister Ekonomi dari Universitas Indonesia Doktor dari IPB. Sebelum menjadi rektor dia sudah malang-melintang menjadi dosen di berbagai universitas. Bahkan, tiga kali mendapat predikat menjadi dosen terbaik di beberapa universitas berbeda, dari Institut Bisnis Indonesia dan Universitas Trisakti.

“Sebenarnya saya dulunya tak bercita-cita menjadi dosen, karena tak suka melihat orang bodoh. Dosen hanya karena terpaksa,” ujarnya mengisahkan. Awalnya menjadi dosen karena kiriman orangtuanya tak cukup, hanya mendapat jatah kiriman 20 ribu perbulan untuk kebutuhan sehari-hari. Sekedar perbantingan saat itu, untuk makan seadanya di Warteg 600 rupiah. Artinya jika tiga kali makan sehari dana itu hanya cukup makan 33 kali. Kalau makan 3 kali sehari berarti hanya cukup bertahan untuk 11 hari, sementara 19 hari lagi harus memeras otak dan keringat.

Namun dia beruntung ketika masih semester tiga sudah diajak dosennya menjadi asisten dosen di Universitas Pakuan, Bogor. Dia mengajar fisika dan fisika teknik, bidang yang dia sukai. Dan sekali mengajar mendapat honor 5000 rupiah, dan rata-rata seminggu bisa mengajar empat kali. Maka dalam sebulan Mangasi bisa mengantongi uang 80 ribu, empat kali lebih besar dari kiriman orangtua.

Suami dari Siti Tan. Ayah dari empat anak, dua putra dan dua putri. Putrinya yang pertama Febrina boru Panjaitan, kedua Asido Panjaitan, ketiga Aristo Panjaitan dan keempat Nadia Asima boru Panjaitan. Dibawah kepemimpinannya sebagai rektor Universitas Mpu Tantular dengan tagline kampus Bhinneka Tunggal Ika. Beberapa waktu lalu, Hojot Marluga berbicang-bincang denganya. Demikian pentikannya:

Dibawah kepemimpinannya Anda sebagai rektor Universitas Mpu Tantular dengan tagline kampus Bhinneka Tunggal Ika, apa yang mendasari?
Kita memahami bahwa di seluruh suku bangsa yang ada di Indonesia ini, bahwa ikatan kekeluargaan itu kuat. Ada pada setiap suku bangsa yang ada. Bahkan, semangat dari Gotong Royong itu ada dalam seluruh suku bangsa di Indonesia. Bahwa negara ini didirikan oleh spirit Bhinneka Tunggal Ika, dan sampai saat ini tetap menghujam dalam sanubari seluruh anak bangsa. Karenanya, seluruh mahasiswa di Universitas Mpu Tantular ini di awal pendidikan harus mengikuti mata kuliah Bhinneka Tunggal Ika.

Lalu, untuk memantapkan semangat Bhinneka Tunggal Ika tersebut di Universitas Mpu Tantular, apa yang dilakukan Rektor untuk hal ini?

Kami mendirikan lembaga penelitian. Tentu lembaga penelitian inilah yang menggodok dan melakukan penelitian tersebut di bidang toleransi, sebab masing-masing suku punya kearifan lokal untuk merawat toleransi. Meneliti kearifan-kearifan lokal dari suku-suku di Indonesia. Lalu dibuat semacam diskusi dan dari diskusi ini nantinya akan dibuat semacam seminar untuk kemudian dihimpun sebagai gagasan baru. Dan kemudian dipublikasi di berbagai media termasuk media sosial. Lalu ditulis dalam berbagai jurnal, karena memang banyak kearifan lokal nusantara yang bisa digali, tetapi selama ini terlupakan oleh generasi sekarang. Itulah upaya yang kami lakukan untuk kembali menggali nilai-nilai kebhinekaan.

Selama ini kita terlalu lama sibuk dengan masalah-masalah praktis tetapi melupakan hal-hal yang esensial. Kita sibuk membahas radikalisme, bahkan kita sebut sudah mengancam disintegrasi bangsa, tetapi kita lupa bahwa resepnya sebenarnya kembali pada pondasi didirikannya bangsa ini dengan pilar: Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan Undang-Undang Dasar 1945. Sebenarnya, kalau kita belajar sejarah bangsa ini, sudah berkali-kali bangsa diuji lewat berbagai cara, tetapi semuanya tumbang oleh karena memang pondasi kebangsaan kita kokoh.

Mengapa demikian kokoh dan tidak bisa ditumbangkan?
Sebab itulah jati diri bangsa. Tak ada satu tangan yang bisa merobah jati diri bangsa sebab Tuhan sendiri yang membuatnya demikian. Indonesia tak mungkin bisa seperti bangsa lain. Sekali Indonesia tetap menjadi Indonesia. Sekali Pancasila tetap Pancasila. Dan semangat Bhinneka Tunggal Ika akan tetap hidup di negera kita ini. Universitas Mpu Tartular sudah mewakafkan dirinya untuk itu. Sudah banyak tokoh atau sosok yang bisa kita tiru untuk menjadi pahlawan semangat kebhinekaan, merekalah pahlawan yang mempersatukan bangsa ini, dan itulah anugerah dan rahmat Tuhan yang harus kita jaga.

Artinya kita tak bisa menapikan keberagaman?
Bahwa keberagaman itu adalah keinginan Tuhan. Perbedaan itu adalah hukum Tuhan. Tuhan maunya demikian. Kalau Tuhan mau untuk seragam sudah pasti kita diciptakan sejak awal seragam, tetapi justru kita diciptakan beragam. Kalau Tuhan mau seragam, Tuhan tinggal ngomong saja maka jadi seragam. Tetapi, Tuhan kan tak melakukan itu, karena itu, mesti kita rawat keberagaman. Sebab memang dari penciptaan Tuhan sudah mencipta Bhinneka Tunggal Ika. Semua kebenaran dari Dia. Bahwa kebenaran itu tak mendua. Kebenaran itu sumbernya hanya satu hanya dari Tuhan.

Kebenaran itu satu-satunya yaitu Tuhan. Kita semua percaya sebagai orang yang beragama bahwa segala sesuatunya berasal dari Tuhan. Seberapa banyak pun perbedaan itu asalnya dari Tuhan. Maka alasan itulah kita percaya tak mungkin ada tangan manusia yang mampu mengganti seluruh pilar kebangsaan kita, Bhinneka Tunggal Ika. Kalau teman-teman Muslim menyebutnya itu sudah menjadi Sunnatullah, ketetapanNya. Itu rahasia dari yang Maha Kuasa. Kalau Tuhan sudah katakan A, tidak ada kekuatan satu apapun yang bisa merobah menjadi B, sebab Tuhanlah yang Maha Benar, Maha Kuasa dan Maha Segalanya.

Miris rasanya kalau lembaga-lembaga pendidikan melahirkan sarjana-sarjana yang berpikiran sektarian, primordial dan tak luwes memahami keindonesiaan. Tetapi kita bangga jika para lulusan sarjana-sarjana kita memahami keindonesiaan dengan benar dan kelak merekalah yang akan militan menjaga kebhinnekaan ini. Menjaga keharmonisan dan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Maka hidup dengan nyaman dan damai. Jika ada keharmonisan maka ada kedamaian, dan itulah menjadi tujuan setiap orang.

Sebagai pemimpin di Kampus ini apa yang Anda lalukan, termasuk mengajak alumni dari Mpu Tantular?
Alumni dari Universitas Mpu Tantular sesungguhnya sudah banyak. Ada yang menjadi pejabat, menjadi pengusaha, ada yang menjadi pengacara dan menjadi profesional. Tentu mereka kami undang untuk kembali memberikan kontribusi dan meminta masukan dari mereka. Misalnya ketika di lapangan mereka merasa bahwa ada ilmu yang mereka belum pernah dapat dari kampus sebelumnya, mereka diberi ruang untuk menyampaikan gagasan dan masukan untuk kemajuan dari kampus.

Tentu para alumni ini menjadi alat promosi secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung misalnya, mereka yang merekomentasikan orang kuliah di kampus ini. Secara tidak langsung, mereka menunjukkan karya-karya mereka di lapangan. Kalau mereka hebat, orang juga akan tanya mereka lulus dari mana. Jika mereka diapresiasi di luar sana itu artinya berdampak positif juga kepada kampus. Kami sebagai pimpinan kampus ini terus berkomunikasi dengan para alumni, paling tidak dengan para pengurus alumni.

Bagaimana sinergi antara pengelola kampus dalam hal ini yayasan yang mengelolanya. Apa yang dilakukan sinkronisasi antara pimpinan kampus dan yayasan?

Pemilik Universitas Mpu Tantular ini adalah Ketua Yayasan Pendidikan Budi Murni, Bapak Budi P. Sinambela, BBA (anak dari pendiri Bapak Prof. DR. KRT Tarnama Sinambela. Pihak yayasan sangat konsen dengan semua yang kita bahas di atas sangat konsen dengan pengembangan sumber daya manusia. Yayasan sudah cukup banyak mengucurkan dana untuk mengembangkan kampus ini. Tidak sedikit dana yang dikeluarkan untuk itu. Sebab mereka punya visi dan kepedulian untuk pengembangan sumber daya manusia. Oleh perubahan zaman, dengan berkembangnya teknologi menjadi tantangan juga untuk kemajuan dari universitas. Biaya pengelolaan kampus menjadi lebih tinggi. Semua prasarana untuk menunjang perkuliahan modern harus diusahakan.

Termasuk ruang kuliah standar. Perpustakaan yang memadai. Gaji para dosen. Gaji karyawan. Dan tunjangan kesejahteraan-kesejahteraan lainnya harus dipenuhi. Sudah tentu, jika kampus ini memiliki visi besar dan ingin menjadi salah satu kampus yang ternama di Indonesia sudah tentu konsekwensi dana besar. Yayasan mengerti itu, walau semuanya dilakukan dengan bertahap, tetapi komitmen itu ada. Yayasan memikirkan bahwa dana tersebut dibutuhkan demi kualitas dan mutu pendidikan yang lebih baik. Tentu, caranya juga kampus ini harus makin dikenal dengan demikian makin banyak mahasiswa dari berbagai penjuru kuliah di sini.

Karenanya, kampus ini sudah punya standar, standar akademik dan non akademik. Standar akademik diatur oleh pengelola kampus dan standar non akademik diatur oleh yayasan. Standar akademik itu minimal memiliki delapan standar. Pertama, memiliki kompetensi lulusan. Kemudian standar isi, maka kurikulum juga mesti mendukung. Standar dalam kuliah, misalnya untuk satu mata kuliah harus mengikuti perkuliahan 14 kali pertemuan.

Ada standar pendidik, yaitu kualitas dosen minimal S2. Kemudian tenaga-tenaga pendukung seperti lektor kepala misalnya. Standar sarana dan prasarana. Standar pengelolaan, artinya mengelola kampus ini tidak boleh sesuka hati. Lalu standar pembiayaan termasuk pengajian dosen. Lalu standar penilaian, misalnya soal penilaian ada standar dari jurnal, penelitian. Semua standar ini sudah dijalankan sesuai dengan aturan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti).

Please follow and like us:
0

Leave a Comment