Budaya Perlu Dimaknai Demi KemuliaanNya

suaratapian.com JAKARTA-Kearifan lokal itu penting dan perlu dilestarikan, paling tidak itulah yang disampaikan pakar Tradisi Lisan, Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S. “Perlunya kearifan dilestarikan. Dalam tradisi budaya selalu saja menyimpan hal-hal tentang etika,” ujar mantan rektor Universitas Dharma Agung itu, saat menjadi pembicara di STT IKAT, bertema Diskusi Ilmiah Kajian Theologia dan Budaya, pada Selasa, (11/6/19).

Menariknya, dalam seminar ini dibahas soal kearifan lokal dan kearifan lokal sebagai esensi tradisi lisan dalam perspektif teologia. Selain itu, mencuak pembahasan, apakah pendidikan karakter melalui tradisi lisan. Selain Robert, hadir juga tiga pembicara diantaranya; Dr. Meiske Rinni Liando, Dr. Abdon Amtiran dan Dr. Ruben Nesimnasi.

Robert menambahkan, paling tidak ada sebelas komponen dalam kearifan lokal yang dia temukan. Menurutnya, yang utama kerja keras, lalu etika diantaranya; kebaikan, keterpercayaan, kesopansantunan, kejujuran, komitmen. Karena itu, Robert menghimbau agar tak hanya melihat dari segi teologia saja. Perlu juga memperhatikan kearifan lokal untuk menata hidup. Kearifan untuk tata laku dalam kehidupan.

“Etos kerja, kerja keras dan belajar keras itu bisa kita gali dari kearifan lokal. Tentu perlu didengung-dengungkan terus untuk melatih generasi muda agar arif di kehidupan. Sering-sering diingatkan. Berbeda diingatkan dan tak diingatkan,” tambah Guru Besar Universitas Sumatera Utara dalam bidang antropolinguistik itu.

“Komponen dari karakter kerja keras itu adalah pintar, smart. Jadi tak ada yang otomatis pintar, yang ada kerja keras, belajar keras maka jadi pintar,” ujarnya lagi.

Menurutnya, bahwa komponen pembentukan karakter dimulai dari anak-anak sampai orang tua. “Pertama, penanaman karakter dimulai dari masa kecil, dimulai dengan kerja keras. Mengembangkan karakter dengan mendorong kepercayaan dalam bertanggung-jawab. Orang yang kuat karakternya tak akan melakukan kecurangan.”

Sementara Meiske menyampaikan gagasannya dari penelitiaannya atas tradisi di Minahasa, tentang Mapalus. Menurutnya, pendidikan karakter adalah usaha manusia untuk menanamkan nilai-nilai karakter. Meiski menambahkan, tradisi adalah hal yang disampaikan generasi sebelumnya ke generasi berikutnya.

Sementara  Abdon Amtiran melihat dari perspektif sejarah gereja, sebagai pakar Sejarah Gereja. Amtiran mengatakan, tak ada gereja yang bebas dari kebudayaan. “Jika ditelisik dari suatu perjumpaan misioner dan sejarah gereja, jelas, bahwa Yerusalem itu ada di Asia. Artinya kekristenan dimulai dari Yerusalem, Asia. Awalnya kekristenan dipengaruhi budaya Yahudi. Saat kekristenan lahir ada dua mazhab; Yudaisme dan Helenisme. Tetapi, akhirnya kekristenan berubah di abad ke IV. Eropa kemudian menjadi Kristen.”

“Hampir seluruh Eropa menjadi Kristen. Sejak itu Eropa, Kristen yang mengadopsi kearifan lokalnya. Maka Kristen yang berkembang Kristen dengan tradisi Eropa yang datang ke Indonesia. Tantangannya kemudian di Indonesia agama Kristen masuk saat terjadi kolonialisme.

Pembicara terakhir, Ruben memberi kesimpulan bahwa intepretasi budaya Perjanjian Lama dalam konteks ibadah gereja masa kini. Ruben menyebutkan, budaya adalah karya dan prestasi. “Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang berbudaya. Kita dicipta menurut gambar dan rupa Tuhan. Sejak kejatuhan manusia dosa, manusia menciptakan budaya untuk kepuasan dirinya sendiri,” kata Pakar Teologia Perjanjian Lama dari STT IKAT ini.

Karenanya, dia menghimbau agar manusia jangan mengisi kekosongan dalam dirinya dengan budaya yang menimpang. Tetapi, tentu kekosongan dalam batin manusia itu hanya bisa diisi jika ada hubungan baik dengan Tuhan. “Budaya itu harus dimaknai untuk kemuliaan Tuhan,” ujarnya. (red)

Please follow and like us:
0

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.