Buku “Hendry” Humor Batak Telah Terbit

Buku bertajuk Sipatu Ni Pendeta diambil dari salah satu judul di buku ini. Cerita seorang pendeta yang kehilangan sepatu. Sipatunya salah dimasukkan ke dalam peti mayat. Sebagaimana di kampung halaman terbiasa orang menyelipkan barang-barang orang yang sudah meninggal ke dalam peti jenasahnya. Kebiasaan ini memang sudah semacam “laten.”

Bicara humor tentu pelbagai macamnya. Ada humor ala Papua, seperti cerita ini. “Seorang anak Papua meninggal dan naik ke sorga. Di sorga dia berjumpa dan dikasih sayap oleh Tuhan. Lalu dia menyapa Tuhan. Tuhan saya sudah jadi malaikat kah? Jawab Tuhan, malaikat putih toh, kau hitam, kau jadi kelelawar saja….” Ada pula humor Jawa, yang kita kenal dengan Srimulat. Ada humor langgam Sunda, dan masih banyak humor etnis lain. Humor Batak adakah? Tentu ada, versi Batak. Bahkan dulu di tahun 60-an ketika masih ada opera Serindo asuhan Tilhang Gultom sebagai hiburan rakyat, selalu diselipi humor “siparengkelon” mengiringi jalan cerita.

Namun, seiring waktu, takkala opera tak ada lagi, humor Batak pun mulai redup, hilang ditelan tenggak. Memang, ada saja kelompok yang mencoba mengeksiskan humor Batak. Contoh saja, humor Batak ala Si Timbal Laut, Si Sangku Sahitna, Si Monggo Agani alias Gomong Sinaga, atau Si Jurtul. Yang terbaru viral di media sosial humor Edison Sibuea dengan rekannya, “Apa kau bilang. Apa katanya!” Atau, humor ala Jonrikson Pangaribuan meniru suara perempuan dengan sosok Magdalena Simentel-mentel. Hanya sayang, walau sudah diperjuangkan eksis, tetap saja humor ala Batak hanya mengeliat di lingkungan Batak, belum bisa menasional.

Soal humor, presiden keempat kita, Gus Dur adalah sosok yang dikenal berjibun cerita humornya. Termasuk kisah yang dikaitkan dengan orang Batak. Paling tak ada beberapa humor Gus Dur menceritakan orang Batak, salah satunya humor tentang orang Batak suka makan daging anjing, barangkali Anda pernah mendengar atau membaca kisahnya itu.

“Satu kali ada perlombaan anjing. Semua anjing yang jago lari, diperlombakan. Ada satu anjing yang jago lari, yaitu anjing orang Jawa. Sesaat perlombaan, semua anjing yang hendak diperlombakan bersiap berlomba. Begitu wasit meniupkan pluit tanda lomba dimulai, semua anjing pun berlari.
Tumben, kali itu, anjing jago itu tidak ikut berlari.”

Lalu, sang pemilik, memukul-mukul anjing itu agar cepat berlari. Toh tidak mau lari. Lalu, orang Jawa ini tidak kehilangan akal, berbisik ke arah anjing. “Eh….cepat kau lari, orang Batak sudah datang…” Maka dengan ketakutan anjing itu pun lari sekencang-kencangnya, hingga mendahului anjing yang lain.” Ternyata, kata Gus Dur, “anjing itu takut dimakan orang Batak.” Tentu, itu cerita imajinasi Gus Dur, tetapi cukup mengelitik, bahkan kerap itu diceritakan pehumor Batak, sesungguhnya ide cerita dari Gus Dur.

Humor‬ itu amat penting karena menggundang tawa. Sebab, tertawa membawa kesehatan pada tubuh dan batin. Humor ibarat pelumas untuk meredakan ketegangan. Agar jangan tegang, perlu tertawa. Selain itu, humor ala terbaik menyampaikan pesan moral. Para pemimpin, guru yang mengajar, termasuk alim ulama, pendeta sekalipun perlu memiliki naluri humor. Bahkan, tugas jurnalis, selain mengedukasi dan mengkritisi fungsi yang tatkala penting adalah menghibur, perlu dibumbui humor. Maka, semestinya juga saat menyampaikan ujaran agama, perlu dibumbui cerita humor.

Seperti ventilasi udara dalam rumah. Rumah yang berventilasi akan terasa sejuk di dalamnya. Sebaliknya, rumah tanpa ventilasi akan terasa bau dan sesak. Sudah tentu humor yang pantas dan patut, tak asal mengundang tawa. Humor mesti cerdas, tak boleh porno sebab itu nilainya rendah. Oleh karena, semakin bagus selera humor seseorang semakin cerdas dan cerah pula pikirannya. Intinya, menghumor, mesti menjaga perasaan, walau bisa menyentil. Selain menampilkan kelucuan, tak hanya sekedar ajang jenaka atau lucu-lucuan semata.

Penulis buku ini, Hendry Lumban Gaol punya selera humor yang tinggi. Di Facebooknya, dibuatnya orang Batak ngakak. Tulisannya dengan bahasa Batak logat khas Humbang selalu diselipi humor. Dia kisahkan kejadian nyata menjadi lucu. Bacalah buku ini pasti Anda terpingkal-pingkal. Selain mengelitik juga berpesan moral. Akhirnya, ketika hidup tengah sulit, jangan tambah dibikin pelik. Saatnya terbahak, tertawa lepas sebelum dibuat undang-undangnya. Sebab hanya dengan tertawa, hormon endorfin mengembang, hormon yang membawa senyawa kimia yang membuat kita merasa senang. Mari kita sambut buku ini dengan tangan terbuka sebagai buku yang mengasuh hati senantiasa ceria.
Hojot Marluga, Pengiat Budaya Batak

Please follow and like us:
0

Leave a Comment