Buku “Tujuh Alasan Saya Bangga Menjadi Orang Batak” Dilaunching

suaratapian-JAKARTA Ada ungkapan bijak menyebut, orang yang hebat adalah orang yang tak pernah melupakan asal-muasalnya, dan bangga terhadap budaya bangsanya. Dalam konteks ini, orang Batak disebut bangso merujuk kepada militansi kebesaran terhadap budayanya. Tetapi itu dulu, sekarang militansi orang Batak, terutama generasi muda sudah malu mengaku orang Batak.

“Orang Batak generasi muda sekarang tak lagi bangga jadi orang Batak. Ini saatnya orangtua Batak untuk mengajak anak-anaknya kembali bangga dengan budayanya. Tentu, bagaimana kita bangga menggunakan kebudayaan dalam kehidupan kita sehari-hari, kalau tidak kita mengetahui secara jelas sejarah kita?,” jelas St. P.T.D Sihombing sembari mengajak tanya, penulis buku 7 Alasan Saya Bangga Menjadi Orang Batak saat launching buku di Gereja HKBP Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin, (29/10/1).

Hadir dalam launching buku tersebut ratusan anggota Persatuan Lansia Distrik (PLD) HKBP Distrik VIII-DKI Jakarta hadir. Hanya sayang tak ada kaum muda diundang sebagaimana sasaran buku ini diterbitkan, agar generasi muda Batak bangga akan budayanya.

Dalam sambutannya dia mengatakan, mengamati tampaknya di antara generasi muda Batak masa kini memang ada yang sudah enggan mengaku diri sebagai orang Batak. “Selama ini, ada rasa kurang bangga orang Batak dan kepedulian mereka melestarikan budayanya. Menurut saya disinilah perlunya menumbuhkan kesadaran akan pentingnya nilai-nilai budaya Batak diungkap melalui literatur, buku. Selama ini anak-anak kita lebih bangga terhadap budaya-budaya impor,” ujarnya lagi.

Saat peluncuran buku tersebut, hadir juga memberi pemaparan Prof. Dr. Payaman Simanjuntak. Payaman menyoroti peranan Adat Dalihan Natolu untuk menetapkan kedudukan dan fungsional individu dan kelompok dalam sistem kekerabatan. Sebab, tantangan ke depan adalah persaingan yang makin sengit. Kompetensi dan kualitas kerja yang dituntut.

Terbitnya buku ini, bermula dari usulan penerbit dan sekaligus editor buku ini, Polmas R Sihombing meminta penulis untuk menulis tema yang mengangkat sejarah perjumpaan orang Batak dengan Kristen dengan nilai-nilai budaya Batak yang dihubungkan dengan keberhasilan orang-orang Batak di masa lampau, yang pada nadirnya membentangkan kebanggaan terhadap Batak itu sendiri.

“Proses penulisan buku ini panjang dan berliku. Beberapa kali saya mengajukan tema ini untuk ditulis. Tak langsung diterima. Saya mengatakan, belum ada buku Batak yang konsen membahas hal ini. Atas dasar itulah penulis menerima tawaran Seven Reasons I Proud to be a Batak ini,” kata Polmas.

“Orang Batak harus selalu bangga pada budayanya, bangga pada sejarahnya. Nah, untuk meningkatkan kecintaan dan kebanggaan terhadap budaya Batak itu kita beri referensi dari literasi ini,” tambah Polmas. Dia menambahkan, sebenarnya banyak tokoh Batak yang berhasil yang jarang diketahui publik. Misalnya, pendiri penerbit Erlangga itu didirikan orang Batak, sampai sekarang masih eksis, ujar mantan HRD di Penerbit Erlangga, ini.

Dia menambahkan, buku ini diterbitkan sebagai sumbangsih pemikiran dan kebanggaan terhadap budaya Batak. Intinya untuk mengajak dan mengarahkan generasi muda Batak untuk dapat kembali merasa bangga menjadi orang Batak. (Kebatakan bhs: Inggris: Bataknees) yang dirumuskan dalam tujuh bab.

Akhirnya, semoga buku ini dibaca, terutama generasi muda sebagai pelanjut generasi Batak berikutnya, terutama mereka yang berjalan di tengah-tengah pencarian jati diri menemukan kebanggaan sebagai Batak, yang konsisten dalam kata-kata, bicara apa adanya dan selalu menjaga hubungan kekerabatan sebagai mana nilai-nilai yang telah tersemayam nun jauh di abad-abad lalu dalam sanubari nenek moyang orang Batak. Jika ada yang hendak membeli, bisa kontak ke penulis langsung di HP. 0815741737367.

Please follow and like us:
0

Leave a Comment