Dr. Ir. Mombang Sihite, MM,  Direktur Berca Group: Memacu Generasi Muda Berdaya Juang Di Era Revolusi Industri 4.0

Memacu Generasi Muda Berdaya Juang Di Era Revolusi Industri 4.0

Bersikap antusias, bersemangat dan disiplin hal itulah yang terlihat tatkala berjumpa dengan Dr. Ir Mombang Sihite MM, Presiden Direktur PT Azbil Berca Indonesia, ini. Berkarakter positif dan berdisiplin menurutnya adalah kunci utama menjadikan seseorang sukses. Soal berdisiplin sudah sejak dulu didapatnya dari kedua orangtuanya; Waldemar Juragan Sihite dan Ibunda Nursia boru Manalu.

Ayah dan ibunya yang sudah almarhum, dulu selalu menasihatkan agar kehidupannya bisa berdampak bagi orang lain, perlu ada kepedulian. Anak bungsu dari sembilan bersaudara ini melewati masa kecil hingga remaja di Kota Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan. Studi SMA sempat satu semester dilaluinya di SMA Negeri 1 Dolok Sanggul. Namun, tahun 1982, hijrah ke Jakarta melanjutkan studi di SMA 54 Jatinegara Jakarta. Namun kepindahannya ke kota Jakarta sempat mengganggu studinya dan sempat nilainya amburadul.

“Nilai saya jeblok. Saya merasakan ketidaksetaraan pendidikan antara Jakarta dan di Dolok Sanggul. Hal itu membuat saya harus bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan studi,” ujarnya mengenang masa lalunya itu. Syukur, akhirnya dia bisa menyesuaikan diri dengan pendidikan di Jakarta. Luarbiasanya dia pun lulus dengan nilai bagus.

Selulus SMA, dia memilih program Politeknik Universitas Indonesia oleh karena ingin berkerja di dunia industri. Selulus diploma Politeknik, dia melamar ke PT Berca Indonesia.  “Setelah lulus kuliah dari Politeknik saya diterima di PT Berca Indonesia pada tahun 1990. Saya langsung ditempatkan sebagai jabatan fungsional sebagai site manager dan jabatan structural engineer. Pekerjaan itu membutuhkan kemampuan dalam memahami sistim otomatisasi industri, sangat jauh berbeda dengan otomatisasi dasar,” jelasnya.

Puji syukur dia bisa menyesuaikan diri, bekerja sembari belajar. Hal yang dia syukuri, misalnya ketika di Politeknik, selain ilmu yang didapat juga kemampuan mengelola waktu. Mengapa? Oleh karena sistem perkuliahan yang ketat dalam pengelolaan waktu, perkuliahan yang sangat padat, dan sistem paket, bukan SKS dan banyaknya tugas-tugas LAB dan Workshop membuatnya terbiasa dengan kedisplinan. Tentulah sebagai mahasiswa, jika tak bisa berdisiplin niscaya bisa mengikuti irama yang ada di kampus. “Belum lagi sistem Drop Out yang selalu diberlakukan setiap semester. Karenanya, saya harus bekerja keras untuk memenuhi standar kelulusan saya.”

Akumulasi dari pelatihan mental, jejak rekam dari latihan di masa kecilnya, dididik bekerja keras dan dilanjutkan dengan sistem pendidikan di Politeknik menuntutnya berdisiplin. Hal itu semua sangat membantu pembentukan karakternya di kemudian hari. Jelaslah, jikalau tak disiplin, bagaimana dia bisa mengerjakan bejibun pekerjaan; jadi CEO, konsultan di green building, konsutan manajemen, dosen di beberapa kampus, melayani di gereja dan masih aktif di puluhan organisasi sosial lainnya.

Di perusahaan, menurutnya, karena bukan hanya kemampuan engineering yang dituntut, tapi juga kemampuan manajemen dalam mengelola project untuk memenuhi kewajiban dalam pencapaian target. Termasuk pengelolaan anggaran sehemat mungkin, pengerjaan engineering sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan. Multi assignment project atau mengelola beberapa proyek sekaligus secara bersamaan sudah menjadi santapan hariannya.

Tentu, hal itu membuatnya merasa harus melanjutkan pendidikan guna meningkatkan kemampuan untuk bisa makin memahami manajemen dan teknik elektro lanjutan. Maka, jadilah dia kuliah sambil bekerja untuk mengambil gelar sarjana. Di tengah ketatnya waktu, sebagai kepala keluarga dia harus pintar mengelola waktu. Dia  kuliah di Universitas Jayabaya. Bertepatan saat itu Fakultas Tekniknya membuka Program Eksekutif, kuliah Sabtu-Minggu. Dia pun bisa belajar di akhir pekan tanpa mengganggu aktifitas pekerjaan di kantor, tetapi tentu mengurangi kuantitas waktu berjumpa dengan anggota keluarga. Syukur, kuliah lanjutan ini dia selesai hanya dua tahun.

Seiring perjalanan waktu, karir dan tanggung jawabnya meningkat dan bertambah, bukan lagi hanya sebagai engineering manager, tetapi diberi tanggung jawab mengelola puluhan project baru. Selain itu, dia juga ikut melakukan pemasaran untuk mendapatkan order dari customer lama dan customer baru. “Dari pengalaman itu makin banyak network dan relationship saya dengan customer, dan kepercayaan dari customer juga meningkat, market share juga meningkat dan nilai equity perusahaan juga meningkat karena kemampuan untuk membangun reputasi perusahaan,” ujarnya.

Menurutnya, dalam mengembangkan perusahaan, satu hal yang tak boleh luput adalah membangun reputasi perusahaan dengan menuju service level customer satisfaction menjadi kunci dasar untuk mendapatkan customer loyalty dan akan menghasilkan customer retention yang sarat dengan indirect marketing positive of mouth . “Itu menjadi fundamental operasional dan service perusahaan kami.” Peluang makin terbuka lebar, hal itu dijawabnya untuk kembali menimba ilmu, magister manajemen. “Peluang itu harus saya sesuaikan dengan peningkatan keilmuan saya, tanpa harus mengganggu pekerjaan saya. Maka saya melanjutkan pendidikan di Universitas Pancasila program Pasca Sarjana, Marketing Manajemen di Kampus Jalan Borobudur Jakarta Pusat setiap sore dan saya memilih Kampus Universitas Pancasila karena dekat dengan kantor saya, bisa ditempuh hanya 10 menit.”

Tuhan begitu baik dalam kehidupan Mombang. Seiring waktu dan pertambahan jejang pendidikan yang disandangnya, dan makin mumpuni pengalamannya dengan mengikuti beragam pendidikan non formal, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Maka, perusahaan pun memberi tanggung- jawab dan jabatan baru. Karier terus menaik.

“Sejalan dengan pertumbuhan kinerja perusahaan, dari engineering manager meningkat menjadi General Manager setelah tanggung-jawab saya tidak hanya untuk engineering saja, tapi juga marketing dan beberapa tahun kemudian saya dipromosikan menjadi Direktur Divisi bisnis.” Perusahaannya terus bertumbuh, produk portofolio dikembangkan, area pasar yang digarap terus bertambah dan bisnis portofolio juga dibuka sehingga jumlah karyawan pun harus ditambah.

Awal tahun 2012 lalu, perusahaan Share holder dari Azbil Corporation Jepang dan Berca Indonesia sebagai pemegang saham  menilai kesetian dan reputasinya di perusahaan, maka dirinya diberi tanggung-jawab lebih besar, memimpin perusahaan sebagai Presiden Direktur. Hal ini menjadi sejarah pertama bagi Azbil Corporation Jepang memilih pimpinan cabang perusahaannya dari non-Japanese, seorang Putra Batak yang beragama Kristen pula.

Jabatan itu melecutnya untuk terus menambah pengetahuan dengan studi kembali, dia mengambil strata Doktoral. Maka filosofinya dalam berlajar, terus belajar, selagi masih ada waktu. “Kepercayaan ini sangat berat buat saya dan mengingat usia saya pada waktu itu tepat 45 tahun. Kepercayaan ini harus saya wujudnyatakan dengan terus meningkatkan kapasitas saya dalam kemampuan saya dalam manajemen, sehingga mendorong saya mengambil program Doktor,” ujar lulusan Doktor Universitas Padjadjaran, Bandung ini.

“Perkuliahan saya di Universitas Padjadjaran Bandung di program Doktor ilmu ekonomi dan bisnis dapat saya selesaikan selama tiga tahun, dengan predikat lulus cumlaude dengan IP 3.98. Nilai keilmuan kedoktoran saya adalah bagaimana membangun strategi bisnis yang berkelanjutan,” jelasnya lagi. Dalam penelitian disertasinya, Mombang menyebut, dalam membangun bisnis berkelanjutan, membutuhkan reputasi perusahaan yang memiliki nilai equitas dan nilai emotional, didukung kegiatan inovasi dan pengembangan produk portofolio, dan memiliki nilai keunggulan bersaing yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Hasil disertasi ini membuatnya semakin percaya diri, dan merasakan ilmu ini tak berhenti pada dirinya atau perusahaan yang dipimpinnya, tetapi harus diteruskan kepada generasi muda bangsa Indonesia, supaya setiap perusahaan besar atau perusahaan sedang menengah punya visi untuk membangun kinerja bisnis yang berkelanjutan.

“Membangun bisnis yang berkelanjutan membutuhkan komitmen pimpinan yang berjiwa kharismatik. Tak hanya berorientasi pendek menengah, tapi juga berorientasi panjang, karena perlu ada biaya yang harus dikeluarkan dalam membangun reputasi perusahaan sebagai investasi dalam membangun masa depan perusahaan, seperti pembangunan sumber daya manusia yang unggul sebagai asset perusahaan yang sulit ditiru pesaing,” jelasnya lagi.

Era Revolusi Industri 4.0

Di era ini setiap personal dituntut memiliki disiplin, punya atitude bagus dan memiliki pengetahuan. Masa di mana bermunculan banyak sekali inovasi-inovasi yang tak terlihat, tak disadari oleh organisasi mapan sehingga mengganggu jalannya aktivitas tatanan sistem lama, bahkan menghancurkan sistem lama tersebut.

Mombang melihat lain dan menekankan, untuk bisa eksis di era disruptif ini, seseorang mesti meninggalkan zona nyaman; dan harus kembali lincah dan gesit berkejaran dengan waktu. Selain itu fokus dan konstan pada tujuan agar persisten. Menurutnya, itulah yang membentuk mental seseorang menjadi smart.

“Di era Revolusi Industri 4.0 ini kita bertransformasi untuk memperbaiki diri. Jangan sibuk mengkritik orang lain lupa memperbaiki diri. Sebab orang yang tak menguasai teknologi dan mampu berselancar di era ini akan tertinggal.” Dia mencontohkan, budaya yang dibangun korporasi di Jepang, mereka maju dan sukses karena mereka memahami keadaan, mereka disipilin untuk terus berinovasi.

“Kita mesti mampu menghadapi tantangan pada zamannya di era Revolusi Industri 4.0 dan tak bisa menghindari tuntutan yang memaksa untuk lebih kreatif, inovatif, serta selalu melakukan pengembangan kompetensi yang dimiliki, disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Sebab di era Revolusi Industri 4.0 memunculkan tantangan baru, di antaranya, adanya perubahan perilaku pada generasi dalam konteks pembelajaran, hal itu diakibatkan oleh potensi distrupsi yang cukup tinggi pada setiap individu, kondisi dimana seseorang menjadi sulit memahami isu, sampai tak terverifikasi. Oleh karenanya, di era Revolusi Industri 4.0, setiap kita dituntut adaptif perubahan.”

Menurutnya, orang-orang yang sukses ke depan adalah orang-orang bukan saja menguasai teknologi, tetapi menguasai data, sebagaimana pernah dikatakan Jack Ma, perlu menguasai data berbasis pada mutu dan pasar. Maka tepatlah premis yang menyebut, siapa yang tak mampu beradaptasi dengan zaman akan tersingkir. Sebaliknya yang mampu beradaptasi, berselancar di atasnya yang survival.

Bagi Mombang mesti ada strategi dalam memacu pertumbuhan. Bahwa jelas, krisis ekonomi membuat semua langkah pendekatan tersebut terhenti untuk sementara waktu, tetapi orang yang selalu adaptif terhadap perubahan akan senantiasa optimistis akan perubahan, bahkan akan memacu daya juangnya dalam setiap perubahan. Masalahnya, adalah kegagalan untuk beradaptasi.

Karenanya, dia menghimbau, satu lagi pelajaran penting yang bisa kita petik dari runtuhnya kerajaan bisnis seperti Yahoo! Misalnya, adalah: jangan terlena dengan kesuksesan yang telah diraih. Masalahnya, bagi perusahaan-perusahaan yang sudah terlanjur besar, virus yang menggerogoti penyakit lembam seperti ini bukan merupakan sesuatu yang langka. Krisis ekonomi membuat semua langkah pendekatan tersebut terhenti untuk sementara waktu, tetapi orang yang selalu adaptif terhadap perubahan akan senantiasa optimistis akan perubahan, bahkan akan memacu daya juang dalam setiap perubahan, dan untuk bisa sinambung (sustainable) dalam jangka panjang.

Di era pembangunan ekonomi kreatif seperti ini, menurutnya, generasi muda dengan pemanfaatan teknologi digital seperti e-marketing dan e-commerce untuk melahirkan pengusaha ekonomi kreatif generasi muda. Nyatanya memang banyak perusahaan besar kolap oleh karena tak siap dan tak mampu mempersiapkan diri, yang menaik justru usaha-usaha yang dirintis generasi muda berbasis teknologi informasi. Padahal, prediksi datangnya era digital ini bukan tiba-tiba muncul.

Mombang juga aktif menulis gagasan dan pemikirannya. Termasuk tulisannya mengamati fenomena yang terjadi di masyarakat. Disinilah, menurutnya faktor kepemimpinan yang kuat dan visioner itu perlu ada. Dia mencontohkan misalnya, dalam tulisannya di Kompassiana.com menyebut, perusahaan Fujifilm asal Jepang itu bisa konstan berjalan, berhasil menyelamatkan diri dari distrupsi dengan mentransformasi Fujifilm lewat inisiatif-inisiatif inovasi serta diversifikasinya, dari perusahaan fotografi menjadi korporasi sains yang multi-industri.

Peduli tanah Batak

Pria kelahiran Kota Dolok Sanggul, 6 Oktober 1966 ini beruntung ditopang keluarga. Sebagai sosok yang mobilitasnya tinggi, peran istrinya Linda Boru Marpaung, sokongan semangat dari ketiga anaknya;  Naudita Olivia Sihite, Darrell Matthews Hatoguan Sihite dan Nathania Isabella Ulibasa Sihite yang membuatnya terus antusias bergerak untuk memberi setitik arti di kehidupan. Di masa hidupnya, ingin mengabdi untuk kemaslahatan, terutama demi kemajuan kampung halamannya di tanah Batak.

Tentu, dia juga mengotokritik penerapan acara adat yang terlalu berlebih, mewah dan boros. “Banyak acara adat terlalu lama dan melelahkan. Dan banyak tambahan di luar esensi adat. Selain itu, bersifat eksklusif, kurang membuka pintu bagi anggota di luar suku Batak. Luncunya apa yang diterapkan tak mudah dipahami dan diwariskan kepada generasi muda.”

Karenanya, dia memberi kritikal terhadap acara ada, agar perlu penjelasan konkrit titik-titik yang disorot sehingga generasi muda paham, bukan gagal paham terhadap kritik ini. Baginya, adat adalah identitas yang harus dijaga, tetapi harus bersifat komparatif, sehingga keunikannya mempunyai nilai kebanggaan. Sebab tuntutan globalisasi tak mungkin dinafikan. Maka perlu efektifitas dan efisiensi dan setiap ada peluang perbaikan untuk mengarah efisiensi, maka akan dilakukan perbaikan secara berkelanjutan. Tentu, ada sebagai identitas tak kehilangan maknanya karena tuntutan efisiensi dan efektifitas.

Atas perhatiannya untuk kampung halaman itu, dia pun sudi memberi diri bagi tanah Batak. Atas dasar ingin pengabdian lebih luas, dia mencalonkan diri, maju menjadi Calon Legislatif dari DPR RI dari daerah pemilihan Suamatera Utara II. “Saya tak mencari jabatan atau pekerjaan. Murni untuk demi ingin membantu kemajuan masyarakat di kawasan Danau Toba.”

Tak membuat janji-janji palsu untuk kampaye. Murni mengajak masyarakat untuk tercerahkan. Menurutnya, orang sudah bosan dengan tataran teori, visi-misi, yang dibutuhkan sekarang bagaimana mengaplikasikan dalam tindakan, dari gagasan dan pikiran. “Rakyat sudah bosan dengan visi-misi. Sudah bosan dengan janji-janji kampanye, sudah tak waktunya kasih-kasih sembako, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana mensubsidi pendidikan. Bahwa ke depan semangat pendidikan kita harus berubah.”

Dia melihat sekarang tak banyak lagi cendikia orang Batak dibanding etnis lain di Indonesia, padahal dulu orang Batak dikenal dengan taraf pendidikan yang mumpuni. Namun yang terjadi sekarang terlihat justru ketidakmampuan orang Batak mempertahankan kualitas pendidikan di masa lalu itu, malah cenderung melemah.

Karenanya, dia bergairah untuk menenguhkan kembali spirit, daya juang Batak untuk terus-menerus dapat ditumbuhkembangkan. “Sejujurnya, sejak dulu mental Batak dulu adalah pejuang. Orang Batak perantau daya juangnya tinggi. Siang kerja, malam bekerja. Hanya sekarang semangat juang mereka makin tergerus,” ujarnya prihatin.

Oleh karenanya, dia mengajak ada transformasi, sebagaimana slogan pemerintah Joko Widodo, Revolusi Mental. Maka baginya perlu juga ada revolusi mental bagi orang Batak. Dia mengkritisi juga, filosofi Batak yang selama ini cenderung mengutamakan kekayaan. “Seolah-olah orang kaya itulah yang utama. Tetapi gereja juga berperan, hanya mengapresiasi orang yang kaya materi.”

Lalu, bagaimana memperbaiki itu? Menurutnya yang pertama adalah keluarga. Keluarga harus ditransformasikan. “Ketika keluarga tak bisa menjadi pondasi kita berpijak, membangun mental, maka susahlah untuk membangun sikap karakter tadi. Seseorang anak bisa teguh dalam daya juang tentu karena meniru keluarga. Ketika keluarga anggota keluarganya, saling menopang, sinergi terjadi.”

Hal senada dia lakukan sebagai kepala keluarga, Mombang konsisten dengan ungkapannya itu, walau harus memimpin perusahaan besar, dan di tengah-tengah kesibukan itu, masih juga memberi perhatian tugas di gereja, mengajar di beberapa kampus dan memberi perhatian ke beberapa organisasi yang juga memintanya membantu. Tetapi komunikasi dengan keluarga harus terus dibangun. Menurutnya yang penting kualitas komunikasinya, bukan kuantitas waktu berjumpa.

Lagi-lagi, ke depan, dia rindu kapasitas dan kapabilitas masyarakat Batak, terutama generasi muda makin maju pendidikan akademik dan karakternya. Karenanya, sebelum sampai ke tataran itu, dia mendorong adanya pendidikan budi pekerti, terutama karakter sejak usia dini dalam pendidikan dasar dan lanjutan itu dalam rumah, dalam keluarga.

“Intinya keluarga dan komunikasi terbangun dengan baik, agar saling memahami. Saya terapkan itu dalam rumah. Tatkala di rumah misalnya, saya ingatkan anak-anak, bahwa tugas mereka sekolah. Maka belajar itu yang nomor satu. Sementara jika kuantitas waktu dalam berjumpa dengan anggota keluarga memang sulit, saya menjelaskan dengan komunikasi. Yang penting sebenarnya kualitas berjumpa bersama dengan anggota keluarga; komunikasi suami istri bersama anak-anak dimaksimalkan. Semuanya harus terlayani dengan baik. Karena waktu yang lain harus dibagi,” ujar calon penatua di HKBP Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ini.

Potensi Danau Toba

Sebagai putra Batak, kelahiran Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Mombang melihat lain potensi pariwisata di lingkungan Danau Toba yang dikelilingi tujuh kabupaten, yang sekarang masuk zona Otorita Danau Toba. Baginya keindahan alam Danau Toba tak kalah menariknya dibanding daerah lain di tanah air.

Masalahnya selama ini jarang wisatawan melihat pemandangan Danau Toba oleh kurangnya pelayanan yang baik. Oleh karenanya, menurutnya, keindahan alam Danau Toba harus ditransformasi menjadi salah satu destinasi unggul pariwisata di Sumatera Utara, khususnya di tanah Batak, dengan mentransformasikan mindset ramah untuk wisatawan.

Baginya, hal ini tentu bukan hanya impian tetapi harus diwujudkan. Benar-benar menjadi tujuan wisata unggulan di Indonesia. Betapa tidak, Danau Toba memiliki resources, sumber daya yang sarat dengan keunggulan komparatif yang tak dimiliki daerah lain. Selain itu, menurutnya, keindahan alam Danau Toba juga memiliki wisata situs-situs sejarah yang ada di hampir semua Kabupaten di kawasan Danau Toba; seperti sejarah berupa Istana Raja Sisingamagaraja di Bakkara, atau makam I.L Nommesen di Sigumpar, dan di wilayah seperti Samosir.

Maka keunggulan komparatif seperti ini mesti dikelola dengan baik sehingga ke depan kawasan Danau Toba sebagai tujuan wisata bisa memberi benefit bagi pemerintah daerah khususnya di kawasan ini. Hal itu bisa terjadi jika masyarakat juga bertransformasi menjadi masyarakat yang singap dan adaptif, ramah, tetapi identitas otentiknya tetap terpampang. Mombang memprediksi, ke depan pariwisata Danau Toba tumbuh menjadi tujuan wisata, bukan saja di Indonesia tetapi di mancanegara. Karenanya dia menghimbau, melihat terusnya pertumbuhan dan perkembangan menuju hal itu, masyarakat Batak juga harus siap secara mental, karena itu mesti menyiapkan diri.

“Saya berkerinduan ke depan kiranya tercipta  di era generasi mendatang, ada putra-putri Batak khususnya dari Tapanuli Raya bersaing di kancah Internasional, hal ini adalah kebanggan kita nantinya dan itu termasuk kerinduan pendahulu kita dan kita harus dorong itu untuk maju,” jelasnya, sembari menambahkan, kerinduannya dalam mengembangkan Danau Toba, dan mendirikan Universitas atau Politeknik di wilayah Tapanuli Raya.

“Saya terlahir dan berhasil dari dunia pendidikan, dan saat ini saya masih aktif di salah satu perguruan tinggi luar negeri. Pendidikan itu sangat penting, dan itu semua sudah kita tuangkan dalam rencana kita kedepan bagaimana caranya nanti ketika kita terpilih harus ada politeknik di wilayah kita, biar jangkawan pendidikan itu dekat dengan daerah kita dan itu nanti termasuk dalam program kita selain pengembangan pariwisata Danau Toba,” tandasnya.

Dosen Pascasarjana FEB Universitas Pancasila dan Universitas Mpu Tantular ini juga menekankan pembangunan sarana infrastuktur menjadi kunci penting di dalam membuka isolasi daerah yang berpeluang menjadi destinasi pariwisata dunia ke depan. Selain itu, dia menyarankan, Pemerintah Daerah (Pemda) mesti juga adaptif terhadap perkembangan yang ada.

Bahkan menurutnya, perlu membentuk team khusus untuk melakukan berbagai kajian-kajian seperti percepatan pembangunan destinasi pariwisata, termasuk mengundang investor untuk membangun fasilitas pendukung pariwisata. Oleh karena perlu peningkatan pembangunan ekonomi masyarakat, dengan menggali potensi industri yang dapat menunjang pariwisata, dan memberikan fasilitas kemudahan dalam berinvestasi, melindungi masyarakat dari dominasi investor asing.

Menjadi inspirasi

Sebagaimana di atas sudah dikisahkan, menceritakan kisah  kehidupanya, sejak kecil sudah didik orangtua menjadi anak yang mandiri dan berbagai untuk sesama. “Masa kecil saya, saya sudah berdagang. Sejak kecil sudah kehilangan masa kecil. Semasa SD setiap pulang sekolah saya sudah dipercaya untuk menjaga toko. SMP saya sudah terbiasa disuruh untuk membuat cek mundur, yang tanda tangan kakak saya, karena sudah memiliki rekening di bank,” kisahnya. Selain akar kedisiplinan ditanamkan dari keluarga, dia banyak belajar dengan budaya Jepang melatih dan menerapkan disiplin sejak masa kanak-kanak. Beruntung dia dididik dengan disiplin dari orangtua yang berjiwa wirausahawan mandiri.

“Sebelum berangkat sekolah sudah harus buka toko, dan paling cepat tidur pukul sembilan malam. Itu masih kanak-kakak. Artinya, disiplin itu sudah ditanamkan oleh orangtua sejak kecil. Ketika waktu belajar pun tak ada waktu khusus belajar, tetapi belajar sambil jaga toko. Demikian juga tatkala makan, tak ada waktu khusus, sambil makan jaga toko,” tambahnya lagi. Menurutnya, inilah yang membentuk karakternya. Sedari kecil sudah terlatih, maka ketika merantau pun karakter disiplin itu ditanamkan dalam sanubarinya.

Baginya, kesuksesan sesungguhnya tatkala hidupnya bermanfaat untuk orang lain. Itu sebabnya dalam kamus hidupnya, selagi hidup mengusahakan yang terbaik bagi sesama, paling tidak bisa menjadi pemberi semangat, dan menginspirasi generasi muda untuk jangan sekptis terhadap keadaan. Dia menyakini, bahwa Tuhan memberi kita masing-masing potensi, masalahnya bagaimana memunculkan potensi yang dimiliki itu untuk mampu memberi pembaharuan. Akhirnya, kerinduannya ke depan, generasi muda bangsa ini makin terus melaju, bisa berkontribusi dan berkompetisi di era ini. Tak hanya sekedar penikmat, menikmati kemajuan,  tetapi mampu memacu diri, punya daya juang di era yang distrutif ini. (Hojot Marluga)

 

Biodata:

Nama Lengkap: Dr. Ir. Mombang Sihite, MM

Tempat/Tanggal Lahir Dolok Sanggul, Humbahas 06 Oktober 1966

Nama Bapak

Waldemar Juragan Sihite (+)

Nama Ibu

Kandung Nursia Manalu (+)

Nama Istri:

Herlina Lindawati Marpaung

Anak

  1. Naudita Olivia Sihite
  2. Darrell Matthews Hatoguan Sihite
  3. Nathania Isabella Ulibasa Sihite

Pendikan:

D3 Politeknik Universitas Indonesia Teknik Elektro, tahun 1986-1989

S1 Universitas Jayabaya Fakultas Teknik Elektro, tahun 2002-2004

S2 Universitas Pancasila Marketing Manajemen, tahun 2006 – 2009

S3 Universitas Padjadjaran Manajemen Stratejik, tahun 2014- 2017

 

Pengalaman Pekerjaan:

Tahun 2012 – Sekarang President Director PT. Azbil Berca Indonesia

Tahun 2009-2011 Director PT Azbil Berca Indonesia

Tahun 2003-2008 General Manager PT. Yamatake Berca Indonesia

Tahun 2001-2002 Senior Manager PT Yamatake Berca Indonesia

Tahun 1998-2000 Engineering Manager PT Yamatake Berca Indonesia

Tahun 1996-1997 Project Coordinator PT Yamatake Berca Indonesia

Tahun 1993-1998 Project Manager PT Berca Indonesia

Tahun 1990-1993 Project Engineer PT Berca Indonesia

  1. Karya Ilmiah Yang Telah Diterbitkan
No Judul Tahun Penerbit
1 The Competitive Strategy in Green Building for Indonesia Stakeholder’s 2015 International Journal of Innovation and Technology – IJIMT
2 Business Performance Sustainability :A case of Industry of Building Automation Industry in Indonesia 2016 International Journal of Economics, Commerce and Management-United Kingdom
3 Gain Competitive through Reputation 2016 South East Asia Journal of Contemporary Business, Economics and Law
4 Corporate Sustainability Performance on Service Industry: A study of factors that Encourages Competitive Advantage for Industry Performance 2017 Sedang proses ke Scopus oleh Medwell Journal Scientific research publishing company
5 Competitive Advantage: Mediator of Diversification and Performance 2017 Sedang proses ke Scopus

Oleh 2nd Annual Applied Science and Engineering Conference – AASEC

6 Company’s Innovation and Cooperative Advantage as Sustainability Economic Support 2017 Sedang proses ke Scopus

Oleh the 1st International Conference on Research of Educational Administration and Management – ICREAM

 

 

Please follow and like us:
0

COMMENTS

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.