Dr. Lasmaida S. Gultom, SE, MBA, D.Min

Melayani Tuhan Dalam Pekerjaan Kita

Hidup ini adalah anugerah, itu sebabnya isilah dengan bermakna. “Semua karena Tuhan. Hidup ini anugerah.” Demikian dikatakan Lasmaida S Gultom. Perempuan kelahiran Simalungun, 10 April 1965 ini. Lahir dan dibesarkan di daerah Pokan Baru Hutabayu Raja, Kabupaten Simalungun dari sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Cita-citanya dulu ketika masih SD hanya ingin jadi doktoranda. Tetapi setelah menjadi SMP di SMP Negeri 61 Pematang Siantar cita-citanya berubah, ingin menjadi dokter.

Itu sebabnya sejak belia dia sangat bahagia menggunting kuku dari kakek dan neneknya dari pihak ibunya bernama Mangain boru Gultom dan kakeknya Mulia Samosir bahkan nenek-nenek teman neneknya yang berkunjung ke rumah orang tuanya. Kebiasaan melayani sudah membebat dijiwanya. Kesukaannya menolong, termasuk menolong orang misalnya, ada yang luka, dia dengan bahagia membersihkan dan membalut lukanya. “Kemudian cita-cita jadi dokter, ingin merawat orang tua ke desa-desa,” kisahnya lagi.

Selulus SMA, dia mencoba mengikuti test masuk perguruan tinggi negeri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ke Jakarta. Tetapi belum beruntung, dia tak lolos seleksi. Oleh karena itu, dia ingin terus kuliah, tetapi hendak mengambil jalur hukum di Universitas Kristen Indonesia (UKI), sebab fakultas hukum UKI yang dia tahu saat itu. Namun keluarga menyarankan agar jangan kuliah di UKI, sebab di UKI terlalu orang Batak. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan kuliah saja dulu satu tahun, sembari menunggu tahun berikutnya untuk mencoba ikut test lagi supaya masuk fakultas kedokteran UI. Maka dirinya kuliah di Univesitas Pancasila Fakultas Ekonomi yang saat itu di kampus Jalan Borobudur, Jakarta.

Di semester awal, nilainya tak begitu bagus karena memang di pikirannya masih ingin kuliah di kedokteran. Tepat di semester dua, satu waktu dia punya pengalaman rohani yang membuat cara berpikirnya berbeda. Memang sejak kecil dia sudah telaten berdoa, sebab itu ajaran orangtua, bahwa Tuhan yang tak bisa dilihat mata jasmani itu sesungguh-sungguhnya ada. Maka sedari kecil sekolah minggu di HKBP, bergereja tak pernah ditinggalkan. Termasuk setelah kuliah, di kampus dia mengikuti persekutuan doa kampus, yang dikelola oleh kakak-kakak kelasnya.

Sebenarnya, di awal dirinya kurang terlalu menikmati persekutuan kampus itu, sebab di gereja HKBP tak biasa beribadah dengan tepuk-tepuk tangan dan berdoa menangis. Maka satu waktu, ketika saat kebaktian kampus dia kerap menghindar ke perpustaakaan. Hingga kemudian satu waktu malam-malam sekitar jam 12 malam dia terbangun. Waktu itu dia tertidur, tiba-tiba terbangun dia mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Pada saat itu dia seperti mendapat penglihatan, seperti menonton film. Dalam film itu dia mendapat penglihatan dan bisa melihat kehidupannya sendiri sejak balita sampai dewasa. Diperlihatkan mulai dari merangkak sampai dewasa. Satu perkataan yang dia dengar, “Anakku engkau begitu jahat di mataKu.” Kata-kata itu terus terngiang di telinganya.

Selama ini dia tahu orang yang berjumpa dengan Tuhan, kata-kata yang sering didengarnya adalah; “Anakku, Aku mengasihiMu.” Tetapi ini malah sebaliknya. Dalam film itu terjadi interaksi antara dirinya dengan Tuhan, dan berbicara langsung. Dia menjawab Tuhan, “Tuhan, jika memang engkau ada, saya mau Tuhan pakai seturut mau dan kehendakMu.” Ternyata saat itu dia dalam keadaan berdoa. Saat mengucapkan amin, seluruh bajunya bagian depan basah karena air mata. Saat itu dia tersadar bahwa itu bukan film. Namun dia heran mengapa dalam film itu dia bisa menyaksikan dirinya berinteraksi langsung dengan Tuhan.

Dia percaya itu lawatan Tuhan. Sejak perjumpaan itu, dia berubah dengan hati yang haus dan rindu senantiasa berdoa, memuji dan menyembah Tuhan serta membaca Firman Tuhan. Mulai sejak itu mulai aktif di kampus dan melayani di persekutuan kampus, bahkan kuliah ekonomi yang dulu tak begitu disukainya mulai makin membuatnya antusias belajar ekonomi, dan dampaknya sudah tentu hasil nilai makin bagus. Bahkan, bukan saja hanya aktif di persekutuan kampus, dia menjadi koordinator persekutuan doa di Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila hingga lulus kuliah.

Tahun 1990, dia bekerja pertama di PT Taspen. Sebelumnya sempat menjadi guru privat untuk beberapa mata pelajaran matematika, fisika dan kimia. Anak muridnya anak dari orang-orang yang berada. Sebelum bekerja di Taspen, perusahaan negara yang mengelola pensiunan. Saat masih kuliah, dia selalu berdoa jika Tuhan hendak memakaiNya, dia minta petunjuk apakah dia melayani jadi full timer atau bergelut di marketplace. Tetapi, jika Tuhan mau memakainya di marketplace dia rindu bekerja di bidang keuangan. Tak lupa diingatnya, tugasnya, di mana pun Tuhan tempatkan dia bekerja, dia merindukan ditempat dimana dia bekerja ada selalu saja ada persekutuan orang-orang yang mengasihi Tuhan Yesus sehingga dia melayani. Karenanya dia juga salah satu inisiator mendirikan persekutuan doa di kantor PT Taspen.

Istri dari Maradat Situmorang ini, menyebut, melayani di setiap kesempatan menjadi komitmennya sejak kisah di mahasiswa itu. “Saya sadar diberikan Tuhan karunia penglihatan, karunia berbahasa roh atau bahasa lidah. Termasuk diberikan Tuhan karunia kesembuhan. Tak sedikit orang yang saya doakan sembuh,” ujarnya. Tetapi dia tak mengumbarnya, sebab itu adalah pemberian Tuhan. Dia sadar bahwa dirinya hanyalah alatNya bagi kemuliaan namaNya. Namun yang jelas dia tahu bahwa di balik itu semua ada rencana Tuhan yang paling indah. Oleh karena itu, berdoa dan membaca firman Tuhan atau bersaat teduh tiap-tiap pagi selalu dilakoninya dengan hati yang rindu dan haus senantiasa bersekutu dengan Tuhan atau menikmati hadirat Tuhan.

Tetapi, kata-kata, “Anakku, engkau begitu jahat di mataKu.” Membuat dirinya terus mencari mengapa Tuhan katakan itu. Makin rajin membaca Alkitab, berdoa pribadi untuk membangun relasi yang intim dengan Tuhan. Bahkan, dirinya mulai menemukan teguran-terguran Tuhan melalui pembacaan Firman Tuhan dan berdoa. Pada akhirnya Tuhan memberikan jawaban tentang makna “AnakKu engkau jahat dimataKu, yaitu “kesombongan“. Tak sabar melihat orang yang lambat dalam segala hal.” Oleh karena itu, dia sadar hal itu jahat di mata Tuhan. Karenanya dia selalu mengingatkan diri sendiri atas teguran Tuhan, agar hidup sabar, rendah hati dan murah hati dengan belajar terus menerus melakukannya.

Dalam doa dan pelatihan mental setiap hari dia belajar bagaimana berkenan di hadapan Tuhan dengan merendahkan hati. Dia sadar bahwa semua yang ada padanya adalah dari Tuhan, bahwa apa pun pencapaiannya itu adalah karena Tuhan, dia tak ada apa-apanya tanpa Tuhan, dia sadar tak bisa berbuat apa-apa tanpa perkenanan Tuhan.

Sejak perjumpaan dengan Tuhan itu, dia mulai belajar perlahan-lahan bisa memahami orang lain dan menerima orang lain apa adanya. Termasuk belajar sabar menghadapi orang yang lambat. Selama ini dia sadar, bahwa standar ekpektasinya terlalu tinggi bagi orang lain. Jika ada orang di sekitarnya sangat lambat dia mudah marah dan berupaya mendorong orang tersebut untuk mercepat gerakan. Hal itu terjadi baik di rumah atau di kantor. Ternyata itu tak berkenan di mata Tuhan. Maka kelakuan yang demikian mulai dia kikis pelan-pelan. Makin banyak berubah dan memperbaharui budi untuk semakin hari semakin berkenan di hadapanNya.

Termasuk kesabarannya diuji tatkala hendak mencalonkan diri menjadi Deputi Direktur di Bank Indonesia sekitar tahun 2010. Ada surat kaleng sampai ke pimpinan tertinggi Bank Indonesia, saat itu dijabat Dr Darmin Nasution. Dirinya disebut menerima suap dan lain-lain dari pihak ketiga. Saat dia tahu dengan hikmat dari Tuhan bahwa yang mengirim surat kaleng tersebut justru anak buahnya. Dia berdoa dan berpuasa selama tiga bulan supaya Tuhan tolong dan mampukan tetap mengasihi dan mengampuni orang tersebut supaya tidak membencinya serta diberikan  kesabaran untuk melewati semua hal itu. Tuhan sungguh dahsyat dan luar biasa menolong dan memampukannya melakukan hal tersebut, akhirnya dia lolos sebagai Deputi Direktur di BI pada bulan Maret 2011 dan orang yang menulis surat kaleng tersebut mengaku dan minta maaf.

Kerja adalah ibadah

Kerja adalah institusi sosial yang telah ditetapkan oleh Tuhan, karena bekerja itu ibadah, demikian John Calvin pernah mengatakan. Bagi Lasmaida, bahwa memang bekerja adalah ibadah. “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Bagaimana seharusnya sikap orang Kristen ketika bekerja, sudah tentu berkerja untuk Tuhan, serius mempersembahkan hasil pekerjaan terbaik kepada Tuhan,” ujar lulusan doktor ministri dari Sekolah Tinggi Theologi (STT) IKAT, Juni 2019 ini.

 Tuhan menciptakan manusia menurut gambarNya dengan karakteristik-karakteristiknya. Dengan demikian, bila dikaitkan ke dalam dunia kerja dan profesi, maka seharusnyalah seorang Kristiani menunjukkan tempatnya bekerja harus merupakan tempat ibadah, dan tempat menaruh pelayanan. Baginya, berarti menjadi pendeta atau penginjil atau hamba Tuhan.” Kita harus memandang pekerjaan kita sebagai ibadah dan pelayanan kepadaNya. Firman Tuhan yang saya baca dan pahami bahwa kalau kita bekerja mesti dengan ihklas dan sungguh-sungguh, berkerja untuk Tuhan bukan untuk manusia. Karena itu, saya hanya takut kepada Tuhan, bukan kepada manusia. Manusia saya hormati dan hargai, tetapi bukan untuk saya takuti,” ujarnya.

“Saya sangat yakin, kalau seseorang menyebut dirinya seorang Kristen, tetapi tak melakukan saat teduh atau intim dengan Tuhan setiap hari. Tak membaca buku petunjuk, buku penuntun hidup yaitu Alkitab, nonsen seseorang itu bisa kokoh, kuat dan konsisten berjalan setiap waktu bersama Tuhan,” tambah mantan koordinator Persekutuan Doa Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila itu. Menjadi saluran berkat itulah yang selalu menjadi permohonannya. “Hari demi hari, membangun hubungan yang intim dengan Tuhan. Berdoa tentu bukan untuk meminta berkat bagi diri sendiri, tetapi meminta agar Tuhan berkenan menjadikan dirinya menjadi saluran berkat bagi banyak orang.”

Masih bening dalam ingatannya, tahun 1990 dia diterima bekerja di Bank Indonesia. Saat itu persekutuan doa kantor di sana sudah ada, dia tinggal mengikutinya terlibat dalam pelayanan. Tahun 1997 dirinya diberikan kesempatan oleh Bank Indonesia mengikuti pendidikan ke Jepang mengambil magister manajemen dengan gelar MBA. Namun sejak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berdiri, dirinya tugaskan ke OJK, sesuai Undang-Undang OJK diberikan opsi atau pilihan kembali ke Bank Indonesia atau tetap berada di OJK. Hingga sekarang dia berkarier di OJK karena memilih bergabung dengan OJK sebagai salah satu pejabat eselon 2 di OJK.

Mengapa pilih OJK? “Oleh karena saya saat itu di OJK bekerja di direktorat edukasi dan literasi keuangan. Hal ini sebagai kesempatan untuk mencerahkan masyarakat soal keuangan,” ujar Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan di OJK tahun 2015. Berbeda ketika dia bekerja di Bank Indonesia, bekerja sebagai pengawas perbankan dan di Sumber Daya Manusia hanya bertemu dengan internal BI dan orang-orang bank (Industri Perbankan). Sementara di OJK dia berkesempatan menjumpai banyak orang termasuk masyarakat dari berbagai kalangan, maka dalam kesempatan itulah dia menunjukkan siapa dirinya. Sebagai anak Tuhan atau orang yang mengasihi Tuhan untuk menjadi garam dan terang bagi orang lain.

OJK menilai pemahaman masyarakat Indonesia terhadap sistem keuangan moderen masih sangat rendah. Hal itu tercermin dari indeks literasi keuangan Indonesia sebesar 21,8 persen pada 2013, jauh di bawah negara Asean lain seperti Singapura yang mencapai 95 persen.  Lasmaida S. Gultom, Direktur Literasi dan Keuangan OJK tahun 2015 menyatakan, kondisi ini membuat OJK gencar melakukan edukasi keuangan ke masyarakat. Antara lain dengan memperbanyak Mobil Literasi Edukasi Keuangan (siMOLEK), dari 20 unit yang saat ini tersedia menjadi 41 unit.

“Salah satu untuk meningkatkan indeks literasi keuangan (Indonesia adalah) dengan menambah siMOLEK menjadi 41 unit pada semerster II 2015 dengan program kerja literasi dan edukasi keuangan lainnya. Ada tambahan 21 unit (siMOLEK) dari saat ini 20 unit,” tutur Lasmaida. Menurut Lasmaida, banyaknya jumlah penduduk serta luasnya wilayah Indonesia menjadi kendala tersendiri bagi OJK dalam menyampaikan informasi keuangan kepada masyarakat.  Oleh karena itu, OJK menargetkan indeks literasi keuangan Indonesia dapat ditingkatkan setidaknya dua persen per tahun.

SiMOLEK merupakan unit mobil literasi edukasi keuangan yang dilengkapi dengan peralatan multimedia dengan berbagai fitur lengkap untuk memenuhi kebutuhan materi edukasi. Selain menjangkau langsung wilayah tempat tinggal masyarakat, OJK juga menyediakan mobil edukasi tersebut di kantor regional OJK yang terdapat di kota besar dan Kantor OJK.

“Saat ini OJK sudah memiliki 35 total kantor dengan 9 kantor regional dan 26 kantor OJK yang tersebar di seluruh Indonesia. Sembilan Kantor Regional ada di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Palembang, Bali, Makassar dan Banjarmasin. Selain itu, OJK juga memberikan edukasi keuangan kepada ibu rumah tangga, siswa dan mahasiswa, para profesional  hingga penyuluh Keluarga Berencana (KB) dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)  agar dapat ikut menginformasikan layanan keuangan kepada masyarakat.

Menurut Lasmaida, upaya peningkatan literasi dan edukasi keuangan perlu dilakukan sebagai tindakan preventif agar masyarakat tidak mudah tertipu oleh investasi bodong yang menjanjikan imbal hasil tinggi. Selain itu, OJK konsisten mendorong serta mendukung Lembaga Jasa Keuangan (LJK) menyediakan Layanan Keuangan Mikro (Laku Mikro) sehingga dapat menjangkau masyarakat di sektor jasa keuangan, khususnya yang berpenghasilan rendah dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Di OJK dia bukan hanya pejabat. Tetapi yang utama mempunyai kesempatan memberikan pencerahan bagi banyak orang yang lintas batas suku, agama, bahkan termasuk bisa menjangku kaum-kaum marginal. Tugas-tugas inilah yang mendorongnya memilih bergabung dengan OJK. Tiga Tahun di OJK Institut (tahun 2016-2018) memiliki kesempatan juga mengajar di kampus-kampus melalui program kerja OJK Mengajar. Sekarang dia sebagai Analis Eksekutif Senior di Departemen Pengendalian Kualitas Pengawasan Perbankan OJK.

Beberapa tahun lalu (Agustus 2011), oleh karena sudah berumur tak bisa lagi dapat bantuan kuliah di luar negeri dari Bank Indonesia. Dia kemudian kuliah tingkat doktoral di Manajemen Bisnis Institut Pertanian Bogor (IPB) di Bogor dengan meraih gelar Doktor di Bidang Sumber Daya Manusia Desember 2015 dan semua biaya ditanggung OJK. Dia kuliah hanya setiap hari Sabtu, maka tak pernah terganggu jadwal pekerjaan di OJK. Semua pencapaian dan yang ada padanya hanya oleh karena pertolongan, kasih dan anugrah Tuhan semata. Dulu cita-citanya semasih kecil sederhana hanya menjadi doktoranda, sekarang Tuhan beri lebih dengan pendidikan formal meraih dua gelar doktor di bidang SDM dan Ministri, bahkan melebihi yang dimintanya. (Hojot Marluga)

Please follow and like us:
0

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.