Ganti Rugi Bagi Ahli Waris Korban Insiden Pesawat Milyaran Rupiah

suaratapian.com JAKARTA– Insiden Lion Air JT-610 yang beberapa waktu lalu jatuh di perairan Laut Karawang, menewaskan seluruh penumpangnya. Oleh Basarnas dan tim terpadu cepat bergerak mencari titik jatuhnya pesawat. Oleh karena kesigapan pihak Basarnas akhirnya bisa menemukan titik jatuhnya pesawat dan menemukan para korban.

Hingga tanggal 10 November lalu, pihak Basarnas mengumumkan telah memhentikannya pencarian. Tentu, diberhentikannya pencarian bukan berarti perkaranya sudah selesai. Salah satu ahli hukum Fredrik J. Pinakunary yang berpengalaman menangani masalah-masalah musibah Pesawat, menyebut, salah satu yang harus segera diselesaikan adalah masalah hukum.

“Nyawa penumpang Lion Air JT-610 tidaklah dapat digantikan atau dihitung dengan nilai uang, berapa pun itu, namun negara memberi kewajiban kepada pihak maskapai penerbangan untuk bertanggung jawab mengganti rugi,” ujar pendiri Kantor Hukum Fredrik J. Pinakunary, Senin (12/11) saat diwawancarai di kawasan Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur.

Bahkan, menurutnya, tanpa menggugat pun ahli waris korban wajib mendapat ganti rugi.  “Sebagaimana diatur dalam Pasal 3 Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 77/2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara. Jumlah ganti rugi kepada ahli waris korban meninggal dunia adalah satu milyar dua ratus lima puluh juta Rupiah,” jelas pengacara yang berpengalaman banyak menangani penyelesaian insiden pesawat.

Selain itu, Fredrik menyebut, bagasi juga diganti rugi. “Bagasi juga. Ahli waris mendapatkan ganti rugi untuk bagasi. Bagasi yang hilang akan diganti dua ratus ribu rupiah per kilo gram. Atau maksimal empat juta rupiah,” jelas Ketua Umum Perhimpunan Profesi Hukum Kristiani Indonesia, ini.

Ditanya, terkait masalah hasil investigasi yang tak semuanya dibuka pada publik, Frendik menjelaskan bahwa, hasil investigasi KNKT ada yang bersifat rahasia dan ada yang terbuka untuk publik.

“Ada hal-hal yang berkaitan dengan kondisi kesehatan dan pribadi korban kecelakaan yang bersifat rahasia dan bukan untuk konsumsi publik. Sedangkan yang terbuka untuk publik dapat diakses oleh setiap orang melalui Website Kementerian Perhubungan,” jelasnya lagi.

“Dan, hasil investigasi KNKT bukan untuk dijadikan alat bukti di pengadilan, tapi dimaksudkan untuk menyelidiki dan memberikan rekomendasi dalam rangka mencegah terjadinya kecelakaan yang sama di kemudian hari,” ujarnya.

Please follow and like us:
0

Leave a Comment