Gelleng Sihapur Dijunjung Do Simajujungna

Mereaktualisasi Ungkapan Filosofis Batak Jilid I

Filosofi ini juga sering disebut, Gelleng Sihapur dijunjung do uluna. Na ditambahkan sebagai kata ganti “nya.” Salah satu filosofi hidup Batak adalah Metmet pe sihapor, dijujung do simanjujungna. Hal ini soal rasa hormat. Bagi leluhur Batak sihapura atau belalang punya filosofi hidup mempertahankan kehormatan hingga mati.Manusia batak memiliki pengharapan hidup setelah mati. Selain roh, arwah menjadi sahala, juga nama besar yang hidup setelah badannya mati.
Belalang jarang menggerakkan kepalanya tanpa mengikutkan tubuhnya. Yang paling unik dalam temuan mereka adalah bila belalang mati kelihatannya seperti hidup. Ada dua hal yang membuat manusia sulit menebak hidup atau mati belalang bila hanya dari kejauhan. Pertama, belalang banyak diamnya. Kedua, bila mati, kepalanya tidak terkulai dan badannya tidak terjerembab. Metmet pe sihapor, dijujung do simanjujungna. Walau belalang kecil, kepalanya tetap dijunjung. Ini berbeda dengan gajah, singa, harimau dan banyak jenis binatang lainnya yang bila sudah mati sangat jelas dalam pandangan mata.
Artinya walaupun bebalang, binatang yang kecil itu, ia tetap mampu mengangkat kepalannya. Ini amat filosofi, yang merujuk pada manusia bahwa orang yang terkecil sekalipu, dari latar belakangnya, pendidikannya, kariernya, kekayaannya, tidak boelh dihina. Karena dia punya kehomatan. Kepala disini bukan saja soal soal kepala secara fisik, tetapi kepala menggambarkan keaguang. Nilai kehormatan manusia. Tak ada orang yang mau dihina, sekalipun dia orang kecil akan melawan jika dihina. Maka, pesan filosfoi ini adalah jangan coba-coba menghian orang yang kecil. Apalagi Anda punya posisi yang lebih tinggi dari yang Anda hina.
Apakah makna harga diri bagimu ? Seberapa tinggikah kau junjung harga dirimu ? Seberapa pentingkah harga diri bagimu ? Bahwa harga diri merupakan kemampuan penilaian dari dalam’diri individu dalam menginterpretasikan semua keberartian yang sanggup dirangkumnya dari ‘luar’ dirinya menjadi suatu konsep mengenai “keakuan” dirinya sendiri. Seseorang dapat saja meletakkan ukuran harga dirinya pada keberartian.
Dengan perkatalan lain bagaimanan menjunjung tinggi kehormatan. Karena setiap orang memilik martabat dan harga diri, kehormatan yang tidak ternilai harganya. Oleh sebab itu, setiap orang siapa pun dia butuh aktualisasi diri dihormati dan dihargai oleh orang lain.
Seseorang yang bermartabat, punya harga diri pasti peduli untuk ikut mengangkat harkat, derajat, dan kedudukan yang terhormat bagi kemajuan dirinya. Maka ada ungkapn, kalau kita ingin dihargai, hargai juga orang lain. Sikap saling menghargai adalah suatu kewajiban. Kita tidak boleh bersikap sewenang-wenang terhadap sesama. Itu berarti kita juga harus menghormati orang lain, karena semua orang mempunyai harkat dan martabat yang sama.
Oleh karena itu, semua manusia tidak boleh dibeda-bedakan. Namun, akhir-akhir ini telah terjadi banyak pelanggaran ham yang merendahkan harkat dan martabat manusia. Maka mereka yang menderita secara fisik namun juga menderta secara batin harus dimerdekakan. Mereka beranggapan bahwa harga diri mereka diinjak-injak dengan semena-mena dan diperlakukan seperti tidak seperti manusia. Karena itu harus sekuat tenaga menggapai harkat dan martabat. Tak boleh diinjak-injak apalagi direndahkan harkat martabatnya.

Please follow and like us:
0

Leave a Comment