Girgir Mananginagi Bangkol Manghatahon

Mereaktualisasi Ungkapan Filosofis Batak Jilid I

Rangkaian kata di atas satu kalimat penting yang mensinkronkan keduanya, kebiasan suka mendengar tetapi lambat berkata-kata. Cepat mendengar lambat berkata-kata. Jika telah memahami ungkapan ini kita akan tiba pada pertanyaan, berapa banyak habitus, watak, pikiran yang negatif sudah kita transformasi menjadi budi baik, sifat baik dan berpikir positif? Rangkaian ungkapan itu: girgir manangi-nangi, bangkol marhata-hata. Suka mendengar, tidak apatis tetapi makin dalam mengerti. Menjadi pendengar yang baik.
Pada tradisi Batak bahwa berbicara itu adalah sesuatu kehormatan. Itu sebab disebut jambar hata. Tetapi, sebelum berbicara pertama yang harus didalami suka mendengar. Tak ada pembiacara yang hebat jika tak suka mendengar. Lalu, orang yang suka bicara tapi tak suka mendengar disebutlah sigodang hata, parhata sada, olan hatana sibegeon. Etisnya jika orang lain berbicara kita hendaknya diam mengikuti dan memahami yang diucapakan lawan bicara kita.
Tak elok mendominasi pembicaraan. Jangan sampai Anda mendominasi satu pembicaraan, sedangkan yang mendengar Anda sudah bosa. Bagi orang Batak amat terhormat jika disebut waktu berbicara, semua yang pendengar diam. “Tatangihonon dongan namanghatai.” Dan lagi filosofi Batak itu juga menyiratkan bahwa makin banyak kita mendengar makin banyak yang kita tahu.
Alih-alih setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat dalam berkata-kata. Bukan lambat dalam arti berbicara, tetapi hendak lebih dalam dipikirkan sebelum bicara. Artinya tak boleh terlalu gampang merangkai kata-kata. Disinilah kekuatan ungkapan itu: cepat mendengar, lambat berkata-kata. Bahwa ilmu terpenting dalam hidup ini, supaya dia cakap dan piawai dalam menguasai segala keadaan. Ada satu ilmu yang sangat dibutuhkan dalam hidup manusia, bahkan lebih penting dari semua ilmu pengetahuan yang sudah dimilikinya yaitu “ilmu mendengar.”
Melalui kesukaan mendengar, disanalah letak hikmat menemukan makna dari berbicara. Terlalu banyak berbicara ternyata bisa kleseleo lidah. Mesti sedikit berbicara, lebih banyak mendengar baru kita berilmu. Itu juga sebabnya Tuhan memberi kita hanya satu mulut tetapi dua telinga. Tetapi inilah kenyataan yang ada, faktanya lebih banyak orang ingin berbicara daripada mendengar. Setiap manusia itu ingin sekali di dengarkan, namun ternyata belum banyak orang yang bisa untuk menjadi pendengar yang baik.
Salah satu hal penting yang perlu kita pertimbangkan adalah menyangkut apa yang hendak kita dengarkan? Coba kita lihat, dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu sering diperhadapkan pada begitu banyak stimulus yang menuntut kita untuk memilih yang mana yang akan kita dengarkan? Karena itu disinilah perlu cara memilah dan meyimak lalu mencernanya. Pertanyaan, mengenai apa yang hendak kita dengarkan ini tentu berkaitan erat dengan tujuan kita dalam mendengarkan sesuatu. Apakah kita mendengarkan hanya untuk sekedar ingin tahu, apakah kita mendengarkan untuk kemudian memahami?
Kalau sudah cakap mendengar, kita diminta untuk kembali menganalisa. Dari sana dilanjutkan dengan mulai merangkainnya menjadi kata-kata yang mengedukasi, kata-kata penyemangat. Disadari atau tidak, tiap kata yang kita ucapkan memiliki kekuatan yang sering kali tak kita sadari. Tiap kata bukan hanya sekedar kata. Namun punya makna, bahkan, tak hanya bermakna. Kata yang sama diucapkan dengan nada yang berbeda maka akan menghasilkan persepsi yang berbeda. Kekuatan yang berbeda. Sekali lagi kekuatan kata-kata yang terlontar bisa menjadi kekuatan yang membangun, tetapi bisa juga menghancurkan semangat.
Lalu, berapa banyak dalam sehari kita mengeluarkan kata-kata? Penelitian menunjukkan bahwa seorang manusia normal mengeluarkan kurang lebih 135.000 kata, mungkin bila seorang pengkhotbah atau pembicara akan bertambah sekitar 15.000 kata. Pertanyaannya, berapa banyak dari kurang lebih 150.000 kata per harinya yang kita ucapkan untuk membangun? Berapa banyak yang kita gunakan untuk melukai, membunuh sukacita dan damai, menimbulkan akar pahit dan dendam?
Belajar mendengar sama dengan belajar untuk sabar dan mendahulukan orang lain daripada diri kita sendiri. Bukan hanya pengorbanan saja yang terdapat di dalamnya. Belajar untuk banyak mendengar, tanpa kita sadari kita telah diperkaya oleh berbagai macam ilmu, informasi, cara pandang, dan lain sebagainya.
Akhirnya, belajar mendengarkan salah satu kunci sukses di kehidupan. Lambat berkata-kata artinya tak gampang berbantah dan memprotes apa yang didengar, tetapi dipikirkan dan disimak dengan jernih. Ilmu mendengar jelas tak berhenti hanya menjadi pendengar pasif, tetapi pendengar yang aktif. Yang menyadari dari mendengar dia banyak belajar. Kata-kata bukanlah sekedar kata-kata biasa. Kata-kata biasa bila digunakan dengan motivasi yang baik akan selalu menyempatkan diri untuk mendengar lebih banyak. Lebih dari itu setiap kata yang keluar dari mulutnya akan dikonversi menjadi kekuatan yang mengubah manusia menjadi lebih baik.

Please follow and like us:
0

Leave a Comment