Haposan Hutagalung: “Tuhan Pakailah Saya Jadi Alat KemuliaanMu”

suaratapian.com JAKARTA-Barangkali para motivator bisa jadi belum pernah merasakan getirnya hidup tetapi tampil memesona. Artinya, berprofesi motivator belum tentu karena mengalami langsung. Namun motivator sejati adalah orang yang mengalami langsung  dan mampu memetik hikmat dari pengalaman pahit itu, jangan  putus asa, tetap  tetap berjuang untuk lebih baik kedepannya.

“Orang yang pernah mengalami pergumulan dan perkara besar dalam  hidupnya, mengalami sendiri di penjara, itulah yang bisa bercerita. Ini  pengalaman saya, bukan pengalaman orang lain, dipenjara selama enam tahun penuh terkait kasus besar dan heboh di tahun 2010 yakni kasus Gayus Tambunan dimana  Haposan Hutagalung sebagai pengacaranya yang   bahkan menyeret Kabareskrim  saat itu Komjen. Pol Susno Duadji ikut masuk penjara,” ujar Haposan Hutagalung saat berbincang beberapa waktu lalu di  The Atjeh Connection Resto & Coffee Sabang di jalan Sabang, Jakarta Pusat.

“Tentu ribuan hikmat yang bisa dipetik dari pengalaman itu. Orang yang bisa bertahan dan survival dalam kata luas, sehat mental dan sehat fisik.” Hidup ini harus berjalan terus, meski persoalan apapun yang menghadang kita. Tidak perlu menyesali apa yang terjadi, tidak perlu terus-menerus melihat ke belakang, kita ambil hikmahnya saja sebagai pelajaran hidup. Benang merahnya perjalanan hidup manusia tentu tak terputus, tersambung masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang.

“Tidak boleh tersandera oleh masa lalu, apa yang membuatnya bisa survival? Setiap orang jelas tak ada yang mau dipenjara. Siapa pun itu tak mau dipenjara. Saya mengalami kepanikan, saya merasakan kegelapan. Mengapa? Karena persoalan (perkara) yang menguasai saya, terasa gelap dan sesak karena dikurung oleh keaadaan,” kenang pengacara kondang ini.

Di benaknya, saat itu hanya terfikir bagaimana lolos dari perkara yang menimpanya? Tetapi pikirannya tak mampu menemukan jalan keluar, hingga dia merenung sendiri bahwa  keadaan seluruhnya harus dihadapi dan  dijalani. “Sebenarnya menjadi beban saya adalah bagaimana membiayai hidup keluarga, anak-anak dan istri  termasuk menjadi beban fikiran juga adalah bagaimana menghidupi karyawan di kantor,  termasuk juga perasaan malu  menghadapi keluarga,” ceritanya lagi. Itulah yang membuatnya panik selama lebih kurang  seminggu.

Mengapa panik? “Oleh karena saya mengandalkan diri sendiri. Saat itu yang ada saya menangis dan memeras otak, bagaimana mencari jalan keluar. Namun tak ada jalan keluar. Hingga tiba satu momen menyerah dan berserah total kepada Tuhan. Minta ampun dan memohon penyertaanNya. Saya mengakui bahwa Tuhan adalah yang terbesar dari segalanya, bahkan jauh lebih besar dari perkara besar yang sedang saya hadapi dan sadar sepenuhnya hanya Tuhan yang dapat memulihkan kehidupan saya kembali.”

Klimaksnya dia berserah total karena memang tak ada jalan keluar. “Segala cara dan upaya yang saya lakukan ternyata tidak mampu menemukan jalan keluar. Tenyata,  uang bukanlah segala-galanya, meski uang bisa berbuat banyak hal tapi sekali lagi uang belum tentu mampu menyelesaikan setiap persoalan.”

Haposan tiba pada kesimpulan, meski kita banyak beking pejabat, pangkat  juga bukan segala-galanya. Meski banyak kenal dekat dengan penguasa dan pengusaha, meski kita didukung banyak orang ternyata itu bukan segala-galanya.  Sampai  ke titik puncak,  perasaan  lelah atau sesak dan tak mampu berbuat apa-apa Haposan menyerah dan mengakui bahwa kuasaNya-lah yang paling dhasyat.

Hidup  ini pilihan! Persoalannya adalah kita memilih apa dan kemana? Berserah kepada siapa? Kepada Tuhan atau kuasa lain? “Sebab di luar kuasa  Tuhan ada kuasa lain yakni kuasa iblis. Tapi saya pilih bersandar kepada Tuhan,” ujar jemaat GKPI Menteng, Jakarta Pusat ini.

Setelah  kita berserah  kepadaNya,  maka kita  menggunakan iman bukan lagi mengandalkan akal dan kekuatan kita. “Tuhan itu tak kelihatan, tak pernah bicara kepada kita kok. Namun sesungguhnya Tuhan selalu berbicara   kepada kita, hanya saja kita tak peka mendengarNya. Ingat! Kitalah yang tak setia sedangkan Dia tetap setia,” ujarnya lagi.

Dia menambahkan, Tuhan mengasihi seluruh umatNya, dan Tuhan memberi anugerah dan berkatNya  kepada semua orang yang percaya kepadaNya,  bahkan  kepada orang yang tak percaya kepadaNya pun,  dengan maksud agar orang yang tidak percaya itu mau percaya dan mengakui bahwa  Tuhan Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berkuasa memberi hidup dan memulihkan hidupnya dari segala persoalan hidup. Sekarang adalah tinggal sikap kita apakah kita mau bersandar dan berserah kepadaNya atau tidak?

Orang yang dipercaya

“Uang, relasi, pertemanan, dan  akses  ke banyak penjuru penguasa ternyata ternyata tak bisa berbuat banyak. Dalam   perenungan yang mendalam dan detail,  kita ini  merasa kecil, bahkan, merasa sangat kecil dan tak ada apa-apanya di mata Tuhan, dan karena kita menyadari sangat kecil dan tidak berarti dimata Tuhan, maka kita berserah dan merendahkan diri dan mohon untuk dipulihkan” ujarnya.

Dia menambahkan, sekali pun kita lahir dan besar di gereja, bahkan jadi pejabat gereja sekalipun  tidak berarti hidup tanpa persoalan.  Setiap orang hidup tidak pernah lepas lepas dari persoalan hidup, miskin, kaya semua punya persoalan hidup hanya yang membedakannya adalah kualitas dan tingkat kesulitan persoalan yang dihadapi, dan buat saya esensi hukuman penjara bukanlah bermakna “Balas Dendam” dari negara tapi menurut saya pribadi itu semua bermakna mendekatkan diri dan mengandalkan Tuhan dalam hidup.

Logika manusia tidak berlaku kepada Tuhan, karena rencana-mu bukanlah rencana Tuhan dan jalan-mu bukanlah jalan Tuhan. Setinggi langit dan bumi itulah jarak perbedaannya dan itulah yang membuat Haposan pasrah total dan berserah kepada kehendak Tuhan.

Kata Haposan adalah nama pemberian orangtua. Dulu semasa kecil tentu dia tak tahu makna namanya, tapi setelah dewasa baru memahami dan mengerti apa arti nama Haposan secara tersurat maupun tersirat, yakni kepercayaan. Dalam  perjalanan hidup, dia semakin menemukan kekuatan di balik  nama Haposan,  menjadi percaya akan  menentukan keberhasilan hidup seseorang.

 Apalagi di bidang profesi pengacara, orang menggunakan jasa pengacara karena kliennya percaya (Haposan) kepada pengacaranya. “Jadi menurut saya, kiat hidup untuk bisa berhasil jadilah orang yang dapat dipercaya dan bekerja keras.” Tentu, sebagai manusia kita tak dapat mengerti rencana Tuhan, beserahlah secara total saja, dan biarlah Tuhan yang memandu dan menentukan arah hidup kita.

Indah rencanaNya

Perjalanan hidup yang getir selama di penjara, baik di Rutan Mabes Polri, Rutan Salemba dan Sukamiskin Bandung Jawa Barat membentuk dirinya sedemikian rupa dan dengan keteguhan imannya justru menjadi pemimpin bagi saudara-saudaranya yang seiman selama di penjara dalam menekuni ibadah, bahkan disana jugalah dia belajar main gitar  dan bernyanyi dalam setiap ibadah di penjara, “Disana saya membentuk vocal group untuk mengisi setiap acara kebaktian,” kisahnya.

“Vonis hukum kepada saya awalnya tujuh tahun, lalu saya banding divonis malah naik menjadi sembilan tahun, lantas Kasasi. Eh,  malah naik jadi 12 tahun.  Itulah akibatnya kalau kita hanya  mengandalkan kepintaran dan kekuatan manusia. Coba kalo saya terima putusan PN hanya tujuh tahun? Kan harusnya saya sudah lama bebas,” ujarnya terbahak. “Saya bebas pada tahun 2016 setelah menjalani hukuman selama enam tahun,” ungkapnya. Kini Haposan aktif pelayanan. “Pelayanan harus terus berjalan, dan harus aktif melayani di gereja dan masyarakat.”

 Dia berkisah, orang jahat yang ada di sebelah Yesus waktu disalib, mengakui dosanya dan  saat itu juga dia  bertobat, dan saat itu juga dia diselamatkan. Oleh sebab itu, jujurlah pada Tuhan, sebab Dia tahu apa yang kita lakukan, bahkan Dia tahu apa yang ada dalam hati kita. “Orang lain bisa kita bohongi, tapi Tuhan tidak. Ingat! Tuhan tidak pernah menjanjikan jalan mulus tanpa hambatan, bahkan banyak jalan yang terjal dan berkerikil yang menyakitkan meski kita pengikut setia Tuhan, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa Tuhan juga berjanji bahwa Dia akan menyertai tiap langkah anak-anakNya yang setia kepadaNya dan akan memberi kekuatan dan memampukan kita untuk melewati kesukaran hidup sebesar apapun.”

Haposan berdoa agar Tuhan kiranya memakai hidupnya jadi alat Tuhan. “Tuhan pakailah saya menjadi alat-Mu. Saya bukan berdoa, Tuhan pakailah saya menjadi pengacara yang terkenal dan kaya.”

Dia kemudian memperumpamakan hidup manusia seperti bejana di tangan pembuatnya. “Bejana itu, kan dibuat dari tanah liat, tetapi setelah dibentuk oleh  pembuatnya, harus dibakar supaya menjadi kuat dan keras, demikian juga hidup. Apakah kita mau dibentuk dan dibakar untuk menjadi kuat? karena kalau tak dibakar, maka akan mudah retak bahkan patah,” ujarnya, setelah menemukan makna pertobatan.

Hingga saat ini  profesinya tak berubah, tetap menjadi pengacara, tetapi ada saat-saat dia juga sungguh-sungguh membantu orang yang tidak mampu yang berperkara, tak dibayar malah mengeluarkan uang untuk membiayai perkara yang ditangani. Haposan menegaskan,  bahwa  hidup kita  ini adalah anugerah, maka hidup tak boleh egois atau mementingkan diri sendiri. Lihatlah sekelilingmu. Karena kita sudah lebih dulu diberkati, maka kita pun harus menjadi berkat buat sekitar kita, ujarnya. (Hotman)

foto : vivanews.com

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.