Hidup Adalah Perjuangan

suaratapian.com-Salah satu buku yang saya gemari adalah buku “Seri Selamat” yang ditulis pendeta Emeritus Dr Andar Ismail. Kali ini buku Selamat Berjuang. Buku yang dieditori, Rika Uli Napitupulu-Simarangkir, korektor naskah, Samuel Septino Saragih, desain sampul, Ruri Handiswari, Diterbitkan PT BPK Gunung Mulia (2012). Dan buku-buku Seri Selamat ini menjadi salah satu buku bestseller di Toko Buku Gunung Mulia. (Andar berteman dengan almarhum Eka Darmaputera. Keduanya sama sama pendeta dan penulis produktif. Tetapi karakter menulis kedua tokoh ini berbeda). Satu hal yang berbeda dari tulisan pak Andar, ajakan motivasionalnya. Bukunya yang tak putus putus saya bacq ulang judul Selamat Berjuang. Penulis reflektif yang kreatif ini menyebut, soal Selamat Berjuang, sepanjang jalan kita berjuang.

Berjuang untuk sesuap nasi, untuk mengembangkan diri, untuk menjalani dalam pergumulan, berjuang sembuh dari sakit, sebagaimana saudara-saudara kita saat ini yang tertular Covid-19 berjuang untuk sembuh, untuk sehat selaras, berjuang untuk hak, berjuang untuk kehormatan, berjuang untuk keutuhan rumah tangga, berjuang untuk anak anak, dan juga berjuang sebagai warga negara.

Karena hidup adalah perjuangan.Dan ketika berjuang, perubahan cepat terjadi. Hidup di jagat ini serba cepat berubah, dilematis, dubius, enigmatis dan susah diperkirakan. Namun, insan yang menjalani kehidupan dengan mawas, tentunya tak terhindar dari berbagai corak masalah di kehidupan, namun teguh dalam konsistensi berupaya.

Masalah memang tak bisa diprediksi, mengapa? Perjuangan hidup itu amat penting? Tentu, jika bicara perjuangan hidup, bahwa perjuangan adalah ujian untuk pemurnian hidup. Yang murni akan teruji, yang tak murni tak teruji.Perjuangan dapat menjadi motivasi dalam mencapai tujuan hidup. Pergulatan itu sendirilah satu-satunya cara untuk tetap meyakini kehidupan. Orang yang konsisten dalam berjuang adalah orang yang menemukan tujuan hidupnya.

Sadar bahwa dirinya ada di dunia untuk satu misi. Seseorang tak perlu banyak bicara, tetapi banyak bekerja, dengan konsistensi berjuang menemukan kehendakNya di kehidupan.Alih-alih hidup ini tak lepas dari perjuangan, malah sejak kecil setiap orang telah belajar untuk berjuang dari merangkak, tertatih tatih berdiri, melangkah hingga kemudian bisa berlari.

Ada kalimat juga mengatakan, hidup itu perjuangan, mereka yang tak berjuang pun mesti berjuang untuk tak berjuang di kehidupan. Oleh karenanya, mau tidak mau perjuangan itulah yang menemukan kebermaknaan; nilai.Disinilah perlu tetap antusias, bersemangat dalam mengarungi kehidupan, dan berhenti menyalahkan keadaan. Tak menggerutui setiap kondisi yang hadirmenyapa. Nyatanya, tak ada gunaya menyalahkan keadaan.

Daripada terus-terusan menyalahkan keadaan, menyalahkan keadaan pun tak akan menyelesaika keruwetan. Manakala hidup mulai tak seperti yang diingingkan, setiap kita diminta tetap berjuang, tabah dan persisten di konsistensi.Jikalau keadaan yang tak diinginkan harus terus menyelesaikannya dengan proses yang sesungguh, bila penting ambil risiko. Tak nyaman di zona nyaman. Mengapa mengambil risiko, itu salah satu jalan menemukan tujuan dari yang dicita-citakan? Risiko adalah tolak ukur seseorang jadi taraf.

Karenanya, orang yang berani mengambil risiko adalah mereka yang berusaha, berjuang. Lagi-lagi dipesankan untuk jangan pernah takut mengambil risiko. Tentu terkadang kita semua takut melakukan sesuatu hal yang baru, takut gagal, takut jatuh.Hanya dengan mengambil resiko tahu sejauh mana kemampuan kita, jika sudah mengambil resiko mesti dengan mengerjakan dengan Lebih sungguh-sungguh, sepenuh hati. Intinya, dalam perjuangan di hidup ini jangan pernah menyerah, bahkan apapun yang terjadi, dalam berjuang, tetaplah tabah.

Saya selalu ingat ungkapan dari judul buku yang pernah saya tulis Sikap Antusias; tatkala kesulitan menyengat, bertahanlah!Akhirnya, selama masih ada waktu, jalani dengan bahagia dan syukuri dan laluilah hidup di warna warni yang ada. KuasaNya tak pernah terlambat bagi yang membutuhkan pertolongan dariNya.Jika mengingat tahun-tahun yang telah berlalu, ada satu hal yang patut kita syukuri.

Masih ada kesempatan, kesehatan, artinya sampai di sini Tuhan tetap menopang. Tak perlu terhasut apalagi menghasut melihat keadaan. Belajarlah pada kehidupan dan berjuang dalam pengharapan, tuntas sampai akhir. Harapan adalah sebuah kehidupan dimana orang yang hidup tanpa harapan adalah orang orang yang lebih dahulu mati daripada kematian itu sendiri, sebab memang kita tak tahu bila mana kematian datang menjemput,

Dan, yang pasti jangan kita ditemukanNya berhenti berjuang di kehidupan ini. Tetap di koridor berjuang. Jangan menyerah, perjuangan masih panjang dan tetaplah berjuang tanpa henti. Mari ingat, Tuhan juga ikut berjuang dengan untuk kita. Sebab, hidup ini bukan perjuangan kita, melainkan perjuangan Tuhan juga untuk kita.

Inti dari buku ini mengajak agar kita sadar, bahwa hidup memang bagaikan roda pedati, sekali di atas sekali di bawah, berputar begitu tiada henti. Kalau kita hanya mau roda itu terus -menerus ada di atas, itu berarti roda kita mandek. Maka perlu bertekun. Bertekun atau bertabah dalam perjuangan pun bukan sesuatu yang terus-menerus ada pada kita, melainkan turun naik.

Maka perlu terus berjuang, sebagaimana dikatakan Vivekananda, tokoh yang menginsperasi Soekarno pernah menyebut “Tiap orang mempunyai potensi ilahi, yakni potensi untuk mengasihi, sebab itu tujuan pendidikan adalah menolong orang mewujudnyatakan potensi itu kepada orang-orang di sekitarnya.” Akhirnya, jika kita menghargai hidup, kita akan mengembangkan dan membuahkan hidup sehingga kelak kematian tidak percuma. (Hojot Marluga)

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.