Janji Suci “Letkol GA Manullang” Menantu “Ferdinand Tobing” Jadi Pahlawan

suaratapian.com BEKASI-Sumbangsih umat Kristen di Indonesia ini tak kepalang. Sejak awal memperjuangkan kemerdekaan Republik ini orang-orang Kristen di Indonesia telah memberi aset, sumbangan besar. Hal ini bisa buktikan di makam-makam pahlawan, banyak orang-orang Kristen gugur demi nusa dan bangsa, sebut saja salah satunya Letkol GA Manullang. Nama lengkapnya; Gustav Adolf Manullang. Gustav gugur di misi bala bantuan Kontingen Garuda III di Kongo, Afrika. Meninggal di usia amat sangat muda, 35 tahun, tepatnya 19 Mei 1963. Dia meninggalkan istri, dan sepasang anak yang saat itu masih bayi 2, 5 tahun dan 6 bulan.

Tak banyak yang tahu, Gustav berasal dari desa Matiti, Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan. Gustav lahir di Matiti, 9 September 1928. Karier terakhirnya sebagai Komandan pertama Yon Kavaleri 7, Cijantung, dan pasukan itulah yang dikomdoinya ke Kongo. Sebelumnya, tahun 1961 dia juga sempat ke Kongo untuk misi kemanusian, dan segera pulang ke Indonesia tak sampai satu tahun. Saat itu, dia membawa puluhan vespa Kongo, dan jadi miliki anggotanya yang ikut ke Kongo, vespa ini penghargaan dari pemerintah Indonesia kepada kontingen, Pasukan Penjaga Perdamaian Indonesia di Kongo.

Lalu, tahun 1962 pada Kontingen Garuda III berada di bawah misi UNOC dan dipimpin oleh Brigjen TNI Kemal Idris dan Kol Inf Sobirin Mochtar. Sementara Gustav juga diminta kembali mengomandoi kompi kavalerinya yang langsung bertanggung-jawab kepada dua pimpinan itu. Saat di Kongo mereka sempat sempat dikunjugi Menteri/Panglima Angkatan Darat Letjen TNI Ahmad Yani. Yani berkunjung ke Markas Pasukan PBB di Kongo. Gustav telah ikut tiga kali, dari Garuda I ke Mesir dan Garuda II & III ke Kongo, ketika itu bernama Zaire. Sesungguhnya, oleh karena kecerdasan dan kemampuannya di atas rata-rata dari sebantarannya, maka kariernya begitu cemerlang di ketentaraan. Disebut bakal jadi calon pemimpin tentara di masa depan. Itu sebabnya A.H Nasution menjadikannya ajudan.

Cinta sejati; Ninnin

Gustav menantu dari Dr. Ferdinand Lumban Tobing, mantan pemimpin Karasidenan Tapanuli yang juga Gubernur Sumatera Timur dan tiga kali menjabat menteri di zaman pemerintahan Soekarno.  Gustav menikah dengan putri pertama Tobing, tepatnya anak kelima dari tujuh bersaudara. Namanya Fernanda Paulina Ninnin boru Lumban Tobing, dipanggil Ninnin. Ninnin putri kesayangan ayahnya. Parasnya cantik, gesit dan pintar. Putrinya ini mirip dengan istrinya, Anna Paulina, perempuan asal Minahasa, kemudian hari diberi marga dari marga ibu Ferdinand Lumban Tobing, boru Sitanggang.

Ninnin di usia masih remaja sudah aktif membantu ayahnya, tokoh patriot pembela republik itu. Usia 13 tahun Ninnin sudah menjadi sekretaris ayahnya; kemanapun Tobing pergi, baik sebagai dokter atau mengurusi negara, Tobing selalu melibatkan putrinya, hingga puncak kariernya, menjadi menteri, Ninninlah sekretaris pribadinya. Tentu, pemuda masa itu berpikir ribuan kali mendekati Ninnin, selain karena gadis tersebut cedikia, pintar bergaul. Tak heran tokoh-tokoh nasional sebantaran ayahnya menjadi teman diskusi Ninnin. Termasuk Soekarno beberapa kali berdiskusi dengan Ninnin. Namun, salah satu pemuda yang lama terpesona dengan Ninnin adalah Gustav.

Sebagai seorang militer yang kariernya cemerlang, walau bukan anak pejabat tinggi (ayah Gustav hanya seorang Kepala Nagari yang memimpin wilayah Simanullang Toba, berpusat di Desa Matiti. Matiti berasal dari kata titi, jembatan. Maknanya menyelesaikan berbagai perkara). Gustav sendiri anak bungsu. Konon Gustav mendaftar menjadi perwira ke Jawa oleh karena ingin menjadi seorang abdi bagi bangsa dan negaranya.

Awalnya, Gustav masuk ketentaraan di Bandung, lalu pendidikan pengemblengan di Kota Malang. Selesai pendidikan ditugaskan kembali di Bandung. Kariernya cemerlang bak meteor. Atas kepintarannya dia didaulat negara mengikuti berbagai kursus militer, baik di dalam mau pun di luar negeri; ke Amerika Serikat, Jepang, Inggris dan beberapa negara lainnya. Maka jadilah dirinya salah satu penerbang dari Angkatan Darat yang mampu memiloti pesawat tempur. Tak heran dirinya jadi rebutan petinggi militer waktu itu. Sempat menjadi ajudan Jenderal Ahmad Yani, lalu menjadi ajudan Jenderal Abdul Haris Nasution.

Sebagai ajudan AH Nasution, dan Ninnin sekretaris pribadi ayahnya, Ferdinand Lumban Tobing. Kedua pejabat negara itu, sebagai pejabat teras, kedua tokoh asal Tapanuli ini sering-sering mengadakan rapat. Kedua tokoh ini selalu didampingi masing-masing ajudan dan sekretaris pribadi. Sudah pasti Ninnin dan Gustav sering juga berjumpa. Dalam perjumpaan itu Gustav menaruh hati pada Ninnin, tetapi walau tentara yang memegang senjata, Gustav tak berani mengutarakan isi hatinya, hingga satu waktu, sesama ajudan, ada seorang ajudan dari pejabat lain, menyampaikan ke Ninnin, bahwa Gustav menaroh hati padanya. Ninnin gadis yang agresif, dan ternyata juga sudah menaruh hati pada Gustav, maka gayung pun bersambut. Ninnin-lah yang mengutarakan isi hatinya. Walau tak biasa, perempuan menyampaikan isi hatinya pada seorang laki-laki. Ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan, keduanya saling jatuh cinta.

Atas kedekatan keduanya, lama-lama diketahui kedua pimpinan nasional itu, Ferdinand Lumban Tobing dan AH Nasutian. Pertama yang tahu sesungguhnya Nasution. Lalu di sela-sela istirahat di satu rapat kabinet, Nasution mendekati Tobing dan menyampaikan, bahwa putrinya Ninnin dekat dengan ajudannya Gustav. Dan, Nasution sendiri setuju, selain karena mereka satu etnis dan sama-sama seagama, beragama Kristen, sangat setuju menjadi pasangan suami-istri. Demikian pula Tobing, juga menyambut pertemanan kedua pemuda yang sedang mabuk cinta itu. Tobing sendiri sejak awal sudah memperhatikan budi baik, peragai Gustav.

Maka, satu waktu Tobing meminta Gustav menghadapnya ke kantor, perihal pertemanan mereka berdua, antara Gustav dengan Ninnin putrinya. Sontak Gustav perwira itu juga agak kagok menjawab pertanyaan Tobing, sebab bukan hanya bertanya justru menantangnya! “Jika kau mau menikahi putriku. Boleh. Tapi hanya satu pesanku, jika kalian sudah menikah nanti, jangan hidupi keluargamu, putri dan cucuku kelak dengan hasil korupsi. Tetapi, berjanjilah jadi pahlawan.” Tentu dengan sigap, kata-kata itu disanggupi Gustav. Dianggapnya janji suci dan terus tergiang di benaknya. Dia tentu sangat menghormati mertuanya. Itu sebab, sebelum Gustav berangkat untuk yang kedua kalinya ke Kongo, mertuanya Ferdinand Lumban Tobing meninggal (Dr. Ferdinand Lumban Tobing meninggal di Jakarta, 7 Oktober 1962 pada umur 63 tahun), Gustavlah salah satu yang sangat berduka.

Tahun 1959, empat tahun sebelum Tobing meninggal, kedua sejoli ini menikah. Diberkati di gereja Immanuel yang sekarang jadi GPIB Immanuel beralamat di Jalan Merdeka Timur. Saat menikah, saksi dari pihak Gustav adalah Tuan Manullang, sahabat dekat Ferdinand Lumban Tobing, wartawan yang dikenal sebagai pendiri koran Soeara Batak dan kemudian hari menjadi pendeta. Tentu ibunya boru Situmorang juga datang dari Matiti ke Jakarta untuk menghadiri resepsi pernikahan anak bungsunya tersebut, sedangkan ayahnya Kornelius Simanullang beberapa tahun sebelumnya sudah meninggal. Setelah menikah dan mulai mengarungi mahligai rumah tangga kedua pasangan ini mendaftar menjadi anggota jemaat di HKBP Jalan Jambu, Menteng, Jakarta Pusat.

Dari pernikahan Gustav-Ninnin, Tuhan karunia dua anak; Augusta Monalisa Srimatiti boru Manullang dan Patuan Mangaraja Gustaf Mangapul Manullang. Namun itulah hidup. Kisah percintaan-pernikahan kedua insan ini tak sampai empat tahun. Sesudah mertuanya, Ferdinand Lumban Tobing wafat, tujuh bulan kemudian Letnan Kolonel (Anumerta) GA Manullang pun gugur di Kongo. Sebagaimana nasihat mertuanya, agar dirinya jadi pahlawan. Gustav setia dengan janjinya, dan memenuhinya jadi pahlawan. Tentu yang paling berduka adalah istrinya, Ninnin. Ibunda dari Gustav juga datang dari Dolok Sanggul, tetapi tak sempat lagi melihat jasad anaknya, karena sudah dimakamkan.

A.H Nasution ketika memimpin pemakaman GA Manullang di Makam Pahlawan Kalibata, sempat tertegun dan meneteskan air mata. Ajudan yang dia siapkan jadi calon pemimpin kelak, tertapi kini berpisah selamanya mendahului dirinya. Di beberapa kesempatan A.H Nasution pernah utarakan, bahwa Gustavlah salah satu calon pemimpin militer Indonesia kelak, setelah generasinya, Generasi Proklamasi sebagaimana disebutkan TB Simatupang, yang akan mempertahankan Pancasila di negeri ini dari rongrongan kaum anti Pancasila.

Bagaimana nasib selanjutnya Ninnin? Ninnin sedia membesarkan dua orang anak, hasil buah cintanya dengan kekasihnya, membesarkan sebatang kara. Ninnin tak merengek-rengek atas jalan hidup yang disediakan Tuhan untuk dijalaninya. Tetap teguh dan militan menjalani hidup, berjuang sampai hayat. Sebelum meninggal di usia 72 tahun, Ninnin masih terus bernemui makam suaminya, minimal sekali setahun di saat-saat menjelang Hari Paskah. Menjumpainya dalam kenangan yang tak mungkin hanya imaji. Ternyata sampai Ninnin dipanggil Tuhan, dia teguh dalam pendiriannya, kematian tak memisahkan cintanya.

Kontingen Garuda III

Ketika Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Mesir segera mengadakan sidang menteri luar negeri negara-negara Liga Arab. Pada 18 November 1946, mereka menetapkan resolusi tentang pengakuan kemerdekaan RI sebagai negara merdeka dan berdaulat penuh. Pengakuan tersebut adalah suatu pengakuan de jure menurut hukum internasional. Bahkan untuk menyampaikan pengakuan ini Sekretaris Jenderal Liga Arab ketika itu, Abdurrahman Azzam Pasya, waktu itu mengutus Konsul Jendral Mesir di India, Mohammad Abdul Mun’im, untuk pergi ke Indonesia. Waktu itu Ibukota Negara ada di Yogyakarta, dan diterima secara kenegaraan oleh Presiden Soekarno dan Bung Hatta pada 15 Maret 1947. Ini pengakuan pertama atas kemerdekaan RI oleh negara asing.

Hubungan yang baik tersebut berlanjut dengan dibukanya Perwakilan RI di Mesir dengan menunjuk HM Rasyidi sebagai duta. Demikian juga sewaktu terjadi perdebatan di forum Majelis Umum PBB dan Dewan Keamanan PBB yang membicarakan sengketa Indonesia-Belanda, para diplomat Arab dengan gigih mendukung Indonesia.

Maka pada 1956, ketika Majelis Umum PBB memutuskan untuk menarik mundur pasukan Inggris, Prancis dan Israel dari wilayah Mesir, Indonesia mendukung keputusan itu dan untuk pertama kalinya mengirim Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB ke Mesir yang dinamakan dengan Kontingen Garuda I.

Kontingen Garuda I dikirim pada 8 Januari 1957 ke Mesir. Kontingen Garuda Indonesia I terdiri dari gabungan personel dari Resimen Infanteri-15 Tentara Territorium (TT) IV/Diponegoro, serta 1 kompi dari Resimen Infanteri-18 TT V/Brawijaya di Malang. Kontingen ini dipimpin oleh Letnan Kolonel Infanteri Hartoyo yang kemudian digantikan oleh Letnan Kolonel Infanteri Suadi Suromihardjo. Kontingen Garuda I berangkat tanggal 8 Januari 1957 dengan pesawat C-124 Globe Master dari Angkatan Udara Amerika Serikat menuju Beirut, ibukota Libanon. Dari Beirut pasukan dibagi dua, sebagian menuju ke Abu Suweir dan sebagian ke Al Sandhira. Salah satu pemimpin kompi dalam Kontingen Garuda I itu adalah Gustav Adolf Manullang. Kontingen ini mengakhiri masa tugasnya pada tanggal 29 September 1957.

Selajutnya,  Indonesia ingin berperan dalam perdamaian dunia. Maka Kontingen Garuda II dikirim ke Kongo pada 1960 dipimpin oleh Letkol Inf Solichin GP. Pasukan tentara Indonesia bertugas di Kongo September 1960 hingga Mei 1961, Gustav juga ikut sebagai pimpinan kompi kavaleri. Kemudian Kongo bergolak lagi. Tahun 1962 Indonesia mengirim kembali bala bantuan tentara yang dipimpin Brigjen TNI Kemal Idris dan Kol Inf Sobirin Mochtar. Kontingen Garuda III terdiri atas Batalyon 531/Raiders, satuan-satuan Kodam II/Bukit Barisan, Batalyon Kavaleri 7, dan unsur bantuan tempur yang dipimpin langsung GA Manullang.

Mendidik rakyat Kongo

Pasukan ini berangkat dengan pesawat pada bulan Desember 1962, dan berada di medan tugas selama delapan bulan. Mereka ditempatkan di Albertville. Di tempat ini telah disiapkan satu kekuatan pasukan besar, yang terdiri dari dua batalyon kavaleri. Sedangkan Batalyon Arhanud ditempatkan di Elizabethville, yang menjadi wilayah kekuasaan tiga kelompok militia yang ingin memisahkan diri, di bawah pimpinan Moises Tsommbe dari pemerintah Republic Democratic of Kongo pimpinan Presiden Kasavubu saat itu. Pergolakan yang terjadi dipicu memperebutkan daerah yang terkenal dengan kekayaan mineralnya.

Beberapa kali terjadi pertempuran sengit antara pasukan PBB melawan kelompok-kelompok pemberontak. Disini interaksi antara pasukan Garuda III, sangat luwes, pandai bergaul dengan masyarakat setempat sehingga mereka menaruh kepercayaan besar kepada pasukan. Gustav sebagai pemimpin batalyon juga pesankan kepada anak buahnya bagaimana mengambil hati rakyat Kongo agar mendukung misi mereka, bukan membela pemberontak.

Mereka mengajarkan masakan Indonesia, membuat kue, serta menyayur daun singkong sehingga enak dimakan. Sebab dulunya penduduk Kongo hanya mengetahui memasak singkong untuk makanan inti dengan cara dikeringkan, ditumbuk jadi tepung baru dapat dimasak, sedangkan daunya dibuang. Gustav juga mengajarkan kepada anak buahnya untuk masuk ke ruang kelas-kelas belajar, mengajar. Termasuk bagi penduduk yang beragama Kristen mengajari mereka agama Kristen. Gustav memahami hidup harus adaptif, selalu menekankan anak buahnya agar dekat dengan rakyat Kongo.

Dengan adanya interaksi dan hubungan dengan masyarakat setempat, maka semua program yang direncanakan berjalan dengan baik. Masyarakat menaruh simpati pada program yang dicanangkan, misalkan melakukan tindakan pengamanan daerah setempat dari pengacau. Dengan spontan, tanpa di perintah masyarakat memberitahukan kepada personil Garuda III, bila akan ada serangan yang dilancarkan oleh gerombolan pengacau.

Gugur sebagai Anumerta

Suatu hari terjadi serangan mendadak ke markas Garuda III. Pertempuran dan tembak menembak terjadi tengah malam. Markas Garuda III terkepung. Semua personil merapatkan barisan, berusaha menangkis serangan tersebut. Serangan dilakukan oleh sekitar 2000 pengacau, hasil gabungan tiga kelompok pemberontak. Sedangkan markas komando Garuda III dipertahankan sekitar 300-an personil. Sesegera mungkin dibentuk tim berkekuatan tiga puluh orang personil sebagai tim bayangan sekaligus tim terdepan untuk pengejaran hingga ke markas pemberontak.

Mereka bergerak dengan perlengkapan garis satu untuk pengejaran. Semangat tinggi dan berkobar kelihatan jelas di wajah-wajah mereka yang terpilih, mengiring langkah kaki mereka menuju kawasan wilayah tak bertuan, yang menjadi daerah kekuasaan pemberontak, dan juga merupakan daerah terlarang bagi pasukan PBB. Di kawasan itu, dua kompi plus Pasukan India pernah dibantai tanpa tersisa.

Pasukan ini dipimpin Gustav dengan dibantu lima orang letnan. Dengan penyamaran, layaknya kumpulan suku pengembara. Pasukan ini bergerak dalam tiga kelompok. Badan dan wajah mereka digosok arang sehingga hitam dan menyerupai penduduk asli. Ada yang berpakaian ibu-ibu dan menjunjung bakul sayuran daun singkong. Mereka bergerak melalui pinggiran danau di daerah tak bertuan. Memasuki senja, personil bermalam di pinggiran danau sambil mengatur strategi penyerangan. Dikejauhan terlihat kelip-kelip lampu-lampu dari markas pemberontak.

Ada hal yang lucu, disini suku-suku di Kongo, termasuk pemberontak sangat takut hantu putih. Mereka percaya hantu dengan sosok berpakaian putih yang berbau bawang putih. Nah, disini strategi penyamaran diubah, menggunakan strategi itu; hantu putih. Di balik pakaian loreng mereka, terbungkus jubah putih yang mengembang ditiup angin danau sambil tak lupa dengan rantai bawang putih yang baunya menyegat tersebut. Persiapan penyerangan dari danau dengan menggunakan kapal yang dicat hitam-hitam dipersiapkan. Saat melakukan serangan itu GA Manullang gugur. Naas saat dia hendak melewati tembak menembak antara pemberontak dengan pasukan militer PBB itu, Gustav posisi di tengah hutan belantara membawa mobil Jeep.

Jalannya berbatu-batu sementara stir mobil yang dikendarainnya lepas. Akhirnya,  dia terpaksa meloncat ke sebelah kiri, karena stir posisi sebelah kiri. Tetapi, saat itu pemberontak menembaknya, dan tak berapa lama suara ranjau meleduk, persis disebelahnya dan mengenai tubuh Gustav. Malang tak dapat ditolak, tumbuh Gustav bersimbah darah. Sempat masih bertahan dibawah ke rumah sakit bahkan sempat masih berinteraksi dengan seorang pendeta, Gustav masih sempat melepasa dan menyerahkan jam tangannya untuk diserahkan kepada keluarga. Sebentar kemudian dia gugur. Dua minggu setelah berita meninggal Gustav, oleh PBB baru bisa mengurus jenasahnya untuk dikirim ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta, sebelum dimakamkan di Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, jasadnya disemayamkan di rumah mertuanya, Dr Ferdinand Lumban Tobing di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Saat itu juga pangkatnya dinaikkan menjadi Letnan Kolonel Anumerta, sebelumnya Mayor. Sayang nama harumnya tak pernah disemerbakkan di Indonesia, apalagi di kalangan masyarakat Batak. Padahal ide dan gagasannya banyak diaopsi tentara Indonesia. Termasuk pembuat logo Batalyon Kavaleri 7 orang hutan dengan slogan Pragosa Satya adalah dibuat GA Manullang. Bahkan, mengingat jasanya di lapangan bola Batalyon Kavaleri 7, Cijantung dinamai Lapangan GA Manullang, sebagai komandan pertama Batalyon Kavaleri 7. Semoga setelah 56 tahun Gustav meninggal, di tahun ini, atau jika Gustav masih hidup, usia sudah 88 tahun diingat dalam sejarah bangsa ini. Tentu, sudah sepantas perlu dibuat buku tentang dirinya demi mengenang peran kepahlawanannya itu. Semoga! (Hojot Marluga)

Please follow and like us:
0

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.