Jokowisme

ilustrasi

JOKOWISME! Politik berbasis rakyat. Jokowisme, berjuang mengembalikan kedaulatan rakyat dan kerinduan rakyat terhadap perubahan. Adalah Boni Hargens, pengamat politik Universitas Indonesia yang pertama meluncurkan istilah Jokowisme. “Saya diinspirasi oleh istilah seorang penulis Jerman tentang Jokowi, menyebut istilah Jokonomic yaitu praktik ekonomi populis, ekonomi kerakyatan,” katanya dalam sebuah diskusi di kantor Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP).
Alih-alih, Jokonomic di Jerman menurut Boni, sudah terbukti diyakini oleh pasar. “Pasar merespon istilah itu, sebagaimana indeks melesat tinggi setelah Jokowi diumumkan menjadi calon presiden dari partai PDI Perjuangan. Saya percaya, reaksi pasar tak berdiri sendiri, tetapi bagian dari keyakinan publik, bahwa Jokowi akan membawa babak baru. Dan, kita sebagai rakyat, harus mengawal Jokowi.” Sikap kepemimpinannya sudah terlihat sejak walikota di Solo. Rasa-rasanya, Jokowi menerapkan filosofi Ki Hajar Dewantoro dengan “Ing ngarso sung tulodo, ing mandya mangun karso, tut wuri handayani.”
Artinya, di depan memberi contoh, di tengah membangun prakarsa dan bekerjasama, di belakang memberi motivasi, semangat dan dorongan. Gaya bukan parlente, tetapi biasa, sederhana. Selalu blusukan ke tengah masyarakat. Tiadanya sikap berjarak seperti aturan birokrasi dan protokoler yang ketat. Apa maksudnya? Dia ingin memperoleh info yang sungguh-sungguh, langsung dari rakyat. Itulah spiritualitasnya sebagai pemimpin, melayani.
Melayani bukan dilayani, tak bertindak sewenang-wenang pada rakyat, tetapi malah memberikan mandat dan menunjukkan keteladanan, bukan kepura-puraan. Maka istilah Jokowisme mesti didengungkan lebih masif? “Kini, politik berbasis mandat rakyat sebagaimana yang diterapkan Jokowi di model kepemimpinannya.” Jokowisme tak selalu merujuk pada sosok Jokowi. Jokowisme lahir, tanpa satu ajaran, tetapi seruan untuk perubahan dengan kesederhanan.
Pemimpin yang diharapkan yang memiliki tata harapan yang ditunjukkan soal pembelaannya pada rakyat sangat jelas. Sebagaimana slogan Trisakti dari Soekarno yang berideologi Pancasila, mandiri secara ekonomi dan budaya. Diharapakan sosok pemimpin punya keteguhan seperti ini yang mampu mengembalikan kedaulatan rakyat. Lagi-lagi sebutan “Jokowisme” juga sebuah slogan untuk perlawanan pada kepemimpinan yang korup. Jokowisme tambah Boni, keseluruhan sistim yang menggambarkan penantian terhadap seorang misianik dalam politik, dalam tanda petik penyelamat bangsa. Hanya pemimpin yang benar-benar berkorban bagi rakyatlah yang mau mengorbankan dirinya demi hajat orang banyak.
Karena itu, Jokowisme antitesa kepemimpinan nasional yang berpijak pembelaannya pada rakyat. Rakyat butuh sosok pemimpin yang mau peduli dengan berbaur dengan rakyat, merasakan apa yang dirasakan rakyat. “Pemimpin yang dapat dipercaya, dan pemimpin yang takut Tuhan. Rakyat ingin mencari pemimpin anti suap. Alasan lain, rakyat ingin dipimpin seorang pemimpin yang mengerti hati rakyat. Rakyat butuh pemimpin yang tak banyak berteater.”
Jokowi salah satu sosok yang dinanti, dalam istilah Boni lagi “semacam mesias politik” oleh kelompok-kelompok yang menginginkan perbaikan dan pemerataan. Membicarakan perubahan sudah tentu tak mungkin dilakukan Jokowi sendiri, dan juga tak bisa menyenangkan hati semua orang.
Selama ini dilakukan politik lebih berfokus menyenangkan para kelompok borjuis, politik hanya basa-basi. Tetapi, sikap Jokowi menerapkan kepemimpinan lembut, muka mengiba, namun tegas dan punya garis perjuangan untuk rakyat. Sudah terbukti kepemimpinannya dari Solo hingga ke Jakarta. Namun, Jokowi tak sedikit yang membencinya apa lagi “pengusaha hitam,” karena mereka tak bisa lagi mengatur ekonomi.
Di situlah pentingnya rakyat mengawal Jokowi, sebab dia diharapkan memperbaiki sistem yang sudah rusak. Sebab, walau seorang yang pemimpin berhati mulia berjuang untuk rakyat, tak serta merta didukung semua orang.
Manakala pemimpin seperti itu hadir juga tidak serta-merta mulus jalannya. Banyak perintang yang mencoba menjegal, meredupkan dian di atas gantang, fajar pembawa terang bagi rakyat. Disinilah garis orang berjiwa “Jokowisme” berjuang memuluskan jalannya. Atas realita yang terjadi, masyarakat punya harapan yang sungguh pada kepemimpinan yang jujur-berani-dan peduli. Sebagaimana spirit Jokowi, yang diharapkan Jokowisme menjadi pemimpin, menjadi gubernur di seluruh Indonesia. Sekali lagi, sudah terbukti kepemimpinan sejak memimpin kota Solo, kini Jakarta. Oleh daerah-daerah sosoknya ini ingin menjadi gubernur mereka, Jokowi disambut di berbagai daerah, termasuk saat kampanye di
Bumi Cendrawasih, Jokowi disambut antusias warga Papua. Di Papua itu, Jokowi mengatakan, “Infrastruktur harus dikoneksikan antara Papua dengan Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera.” Saat kampanye di Papua Jokowi mengutif kata-kata Bung Karno: “Potensi yang ada di sini sangat besar, tapi potensi yang ada itu sebesar-besarnya dipakai untukkemakmuran.” Dengan kata lain, kalau dirinya menjadi presiden harapan itu akan terwujud. Semua kecipratan dari pembelaan Jokowi. Oleh pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI), Hamdi Muluk, menganggap ada empat kelebihan Joko Widodo membuatnya menjadi figur terpopuler sebagai calon presiden.
Kelebihan Jokowi, yang pertama adalah karena memiliki jiwa kepemimpinan dan integritas. Hal itu dapat dilihat selama memimpin Jakarta, Jokowi memiliki citra baik karena dinilai jujur, amanah, dan memiliki empati sosial. Kedua, Jokowi memiliki political branding yang kuat, misalnya blusukan, baju kotak-kotak, dan lainnya. Faktor ketiga adalah Jokowi mampu menggoda publik sehingga menjadi kasmaran kepadanya. Atas dasar itu, Hamdi yakin kejelekan Jokowi yang diembuskan oleh lawan politiknya tak akan mampu menjatuhkan kepercayaan publik padanya, dan lagi rakyat makin teredukasi dan punya nurani.
Ketiga, ada teori epidemi sosial. “Ini seperti wabah yang tak bisa distop. Wabah ini baru akan berhenti ketika orang sudah nyoblos Jokowi.” Keempat kelebihan itu menjadi modal besar karena tak dimiliki secara utuh oleh figur lain dan membuat keinginan publik pada pencapresan Jokowi tak terbantahkan. Saat ini, Menurut Hamdi ada semacam fenomena atau fakta sosial yang menggambarkan keinginan publik agar Jokowi menjadi presiden berikutnya. Sejumlah hasil survei dianggapnya ikut menguatkan analisis tersebut karena figur yang mencuat sebagai calon presiden terus mengerucut. “Jokowi angkanya naik terus, tak terbantahkan. Artinya, keinginan publik makin mengerucut inginkan Jokowi jadi presiden.”
Sementara itu, Megawati Ketua Umum PDI Perjuangan menyebut, jika Jokowi kalah, PDIP takkan punya presiden lagi. “Saya melihat fenomena, bahwa rakyat Indonesia sangat inginkan pemimpin yang benar-benar jadi pemimpin di republik ini.” Sementara tanggapan Megawati soal Probowo? “Kalau Prabowo diinginkan rakyat, pasti PDI Perjuangan calonkan Prabowo.” Artinya, bagi Mega pencapresan Jokowi 98 Hikayat Reformata adalah kehendak rakyat, karena Jokowi selalu mendengar kehendak rakyat.
Tokoh Katolik Prof Dr Franz Magnis Suseno, mengimbau masyarakat agar tak sekadar memilih orang kuat dalam Pemilihan Presiden dan Wakil. Pasalnya, menurut Romo Magnis, seluruh persoalan Indonesia cukup pelik dan tak bakal terselesaikan oleh tokoh yang hanya dikenal sebagai orang kuat. Dia mengatakan, Indonesia harus dipimpin oleh orang yang berani untuk bekerja keras membenahi segala kebobrokan. Sesungguhnya, di era alam demokrasi sesungguhnya seperti sekarang ini boleh-boleh saja membuat slogan apa saja. Tetapi paling tidak, sebagai pemimpin, rakyat butuh komitmen dari calon pemimpin untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat.
Jokowi tak hanya menjadikan cita-citanya, tetapi tindakan dengan blusukan, menjangkau realitas yang ada di masyarakat. Jokowisme juga merupakan ungkapan lain menjelaskan metakritik buat Jokowi. Di hari-hari belakangan ini, soal pemberian media menyoroti sisi Jokowi. Sosoknya yang tampil apa adanya. Apa yang dia tunjukkan dengan menggelar blusukan adalah bukan basa basi, tetapi tidak-bisa-tidak dipungkiri amat efektif. Akibatnya, rakyat, yang memang merindukan kepemimpinan model seperti Jokowi. Jokowi pun adalah sosok visioner, memiliki wawasan luas serta mempunyai pengalaman mengelola perekonomian dan memimpin. Garis yang dianut, berada di pihak rakyat jelata, itulah Jokowisme.

Ditulis, Hotman J Lumban Gaol (Hojot Marluga)

Ket: tulisan ini pernah diterbitkan Tabloid Reformata Edisi 175, Mei 2014

 

Please follow and like us:
0

Leave a Comment