Joyce: “Saya Terpanggil Memindahkan Pusara Nahum Situmorang ke Samosir”

suaratapian.com JAKARTA-Kerinduan untuk pemindahan tulang belulang Nahum Situmorang ke Pulo Samosir sampai sekarang tak pernah surut. Adalah Nahum Situmorang seorang seniman dengan bejibun karya yang melegenda. Lahir di Sipirok, 14 Februari 1908. (Nama Nahum sendiri ada dalam Alkitab. Nahum adalah salah satu nabi di Perjanjian Lama yang berkarya. Nahum menyatakan pesan Tuhan tentang kejatuhan bangsa Asyur yang telah membuat sejumlah bangsa menderita, termasuk bangsa Israel).

Nahum Situmorang bak permata dalam berkarya, menciptakan lagu-lagu perjuangan dan pesan-pesan mendalam. Bahkan bisa disebut, Nahum Situmorang adalah komponis Batak terbesar. Dari ratusan lagu-lagunya; paling tidak lagu, Dijou Au Mulak Tu Rura Silindung, O Luat Pahae, Pulo Samosir, masyhur. Khusus lagu Pulo Samosir, syair lagu itu melukiskan kesetiaan dan perjuangan seorang. Di salah satu lagunya Pulo Samosir, yang berpesan bahwa jasadnya ingin dikubur di Samosir. Saat ini pusara Nahum Situmorang ada di TPU Gajah Mada, Kota Medan.

Sebenarnya, sejak dulu sudah ada kerinduan, bahkan pernah terdengar ada tim yang berencana untuk memindahkan tulang-belulang Nahum Situmorang dari Kota Medan ke Pulau Samosir. Namun sampai sekarang belum diwujudkan. Rencana itu, dulu akan dipindahkan ke Urat Samosir, tanah leluhurnya Makam Ompu Tuan Situmorang Sipitu Ama di Komplek Parmasan Raja Raja di Si Jaga Rubi, Urat-Palipi, Samosir.

Adalah Joyce boru Manik orang yang paling bersemangat untuk mewujudkan kerinduan itu. Joyce menyebut bahwa dirinya bukan siapa-siapa dari Nahum Situmorang, dan tak punya kepentingan, hanya batinnya ingin berkontribusi akan keriduan sang seniman tersebut. Berpuluh tahun lalu ada panggilan ada di hatinya. Merasa hal itu adalah utang yang belum terbayarkan. “Saya merasa satu tujuan pemindahan adalah perwujudan permintaan almarhum, yang tertuang dalam penggalan lirik Lagu Pulo Samosir. Sejak dulu saya selalu dipanggil untuk mewujudkan pemindahan itu,” ujar ibu tiga anak ini saat diwawancara beberapa waktu lalu.

Joyce makin memberi perhatian itu ketika didapuk menjadi Ketua Kosentra (Komunitas Seniman Tradisi Sumatra Utara). Sebenarnya memindahan tulang-belulang Nahum Situmorang ke Pulau Samosir sudah digagas berbagai pihak, namun sampai sekarang belum terwujud. “Entah kenapa sejak dulu saya selalu dipanggil untuk mewujudkan pemindahan itu,” ujarnya mantan mahasiswa arsitektur UI ini.

Bahwa memang, penggalan lirik Lagu Pulo Samosir itu adalah: Molo marujungma muse ngolungku sai ingotma/anggo bangkengku di si tanomonmu/di si udeanku, sarihonma. Bila diterjemahkan; Bila berakhir hidupku, ingatlah/jasadku kuburkanlah di Pulo Samosir/di sanalah makamku, perhatikanlah.

Kekaguman akan karya-karya Nahum Situmorang bermula saat Joyce suka menyanyi dan menari. Lagu O Tao Toba Na Uli adalah salah satu lagu Batak favoritnya, dikarang Nahum Situmorang. Seingatnya, di masa kecil, Ompung Borunya (nenek) dari pihak ibu, pernah cerita, bahwa neneknya seorang kembang desa, di masa itu dijodohkan, lalu menikah dengan kakeknya.

Padahal, neneknya waktu itu dekat dengan Nahum Situmorang. Tak tersingkap siapa perempuan pujaannya, namun perpisahan dengan kekasihan hatinya itu membuat Nahum, memutuskan Nahum sampai akhir hidupnya tak pernah menikah, sebab cintanya hanya pada pujaan hatinya yang hanya bertepuk sebelah tangan. Dari kisah-kisah ompung borunya, Joyce makin mengagumi betapa kekuatan cinta membuat sang komponis hidup menyendiri, sampai mati tak menikah.

Dipanggil memindahkan

Setelah berkeluarga, di satu waktu Joyce ingin berolah raga, namun saat itu datang membebat, teringat wajah neneknya. Seperti nyata, ada suara terdengar di telinganya menyebut; “Bawa pulang Samosir. Jikalau bukan kamu, siapa lagi yang melakukannya.”

Peristiwa itu membuatnya tersadar bahwa tugas itu pemindahan pusara Nahum Situmorang. Sejak itu dirinya mencari banyak referensi tentang Nahum Situmorang. Joyce sendiri besar dan menikah di Jakarta, tak tahu dulu mendalam budaya Batak, sebagimana tersingkap dari lagu-lagu karangan Nahum, menjelaskan tentang kedalaman budaya Batak. Lalu Joyce bertanya ke mana-mana soal seniman itu. Sampai dia pun bisa bertemu langsung dengan keluarga besar Nahum sendiri.

Bahkan, sampai bertemu dengan seniman idealis, pematung yang membuatkan patung Nahum atas cerita tentang sosok legendaris itu. Dari semua informasi Joyce berkesimpulan bahwa Nahum Situmorang seorang yang besar dan berjasa bagi bangso Batak. Namun, Nahum tak mendapat penghormatan yang pantas, bahkan terkesan dilupakan.

Joyce Sitompul br Manik bersama Edwin P Situmorang, Ketua Umum Punguan Pomparan Situmorang Sipitu Ama Se-Jabodetabek

Alih-alih, perkara pemindahkan tulang belulang Nahum bukanlah perkara mudah, perlu sumber daya dan dana, dan perlu dukungan banyak orang. Atas kerinduan itu, Joyce pun melangkah dari hal-hal yang bisa diperjuangkan. Bersama teman-temannya Joyce telah menyelenggarakan refleksi 110 tahun Nahum Situmorang pada 14 Februari 2018 lalu, dengan menggelar diskusi bertajuk Menyusur Jalan Sunyi Nahum Situmorang. Perhelatan itu terselenggara tentu kerjasama antara Kosetra, Yayasan Pencinta Danau Toba, Anjungan Sumatera Utara. Saat itu menjadi narasumber, Radhar Panca Dahana seorang budayawan, dan etnomusikolog Irwansyah Harahap. Bahkan refleksi untuk Nahum itu dihadiri ratusan orang.

Bahkan, saat itu, “Sarung Balige” dibagikan kepada yang hadir sebagai simbol tugas belum selesai. Baginya, Joyce tugas pemindahan itu panggilan suci untuk memindahkan pusara Nahum Situmorang ke Samosir. Joyce terus ingin menunaikan tugas ini yang dianggapnya sebagai utang karena telah berjanji dalam dirinya, bahwa satu saat nanti bisa terbangun kompleks Nahum Situmorang di atas Danau Toba, sebagaimana kerinduan Nahum Situmorang atas Samosir, negeri indah kepingan surga, itu. (HM)

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.