Kamaruddin: Klien Kami Tak Memalsukan Akta Otentik, Justru Pelapor Membuat Akta Notaris “Palsu”

Suaratapian.com JAKARTA-Pengacara senior, Kamaruddin Simanjuntak, S.H., menyampaikan Hak Jawab terhadap perkara “Pemalsuan Surat/Akta Otentik” yang membebat kliennya, Juniar alias Vero. Hak Jawab itu, Kamaruddin sampaikan di hadapan para wartawan dari berbagai media. “Hak Jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya,” ujar pendiri Firma Hukum “Victoria” ini, sesaat membacakan pers release, pada Selasa, (11/2/20) di bilangan SCBD, Jakarta Selatan.

Kapasitas Kamaruddin bertindak sebagai pengacara dari Juniar alias Vero, yang beberapa waktu lalu ditahan di Rutan Pondok Bambu, Jakarta. “Saat ini klien kami sedang ditahan di Rutan Kelas II Pondok Bambu. Maka untuk dan atas nama klien kami, dengan ini kami memberi Hak Jawab dan konferensi pers dengan poin-poin sebagai berikut,” ujarnya.

Ada pun poin pertama, dia membeberkan kejanggalan penetapan kliennya sebagai tersangka oleh kepolisian. “Kami memberi Hak Jawab, sehubungan dengan nama baik  klien kami telah dicemarkan oleh Dirkrimum Polda Metro Jaya melalui siaran pers Dirkrimum Polda Metro Jaya, pada 28 Januari 2020. Pukul 13:30 WIB dalam Laporan Polisi No LP/5905/IX/2019/PMJ/Ditreskrimum, 17 September 2019.”

Diketahui, Sub Direktorat (Subdit) Harta dan Benda (Harda) Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya, 28 Januari lalu telah menetapkan Muhammad Hosea dan Juniar alias Vero sebagai tersangka pemalsuan Sertifikat Tanah atas nama (alm) Basri Sudibyo di wilayah Bintaro, Jakarta Selatan. Karenanya, dengan tegas Kamaruddin menyebut  kliennya, Juniar, tak memalsukan Akta Otentik sebagaimana disangkakan kepada perempuan kelahiran Palembang, 22 November 1963 itu.

Perkara ini bermula ketika Basri Sudibyo suami dari Juniar meninggal. Anak tiri tersangka, Suzana Liany dan Martin Adam, melaporkan Juniar pemalsuan Sertifikat Tanah. Padahal Juniar menerima wasiat itu dari almahum sebagai istri. Kisah ini berawal tatkala almarhum menduda sakit-sakitan mencari pengobatan. Satu waktu datang ke Juniar sebagai ahli pengobatan akufuntur. Sebelumnya, sakit yang dialami almarhum, sudah dibawah ke berbagai klinik pengobatan dan rumah sakit, tetapi tak pernah sembuh. Namun di klinik akupuntur milik Juniar, berlahan dalam pengobatan itu almarhum mengalami kesembuhan. Atas kesembuhan yang dirasakan Basri Sudibyo, oleh adik perempuan dari almarhum pun juga berobat dan mendapat kesembuhan dari pengobatan akufuntur milik Juniar.

Atas pengalaman itu, Juniar makin dekat dengan keluarga Basri Sudibyo, bahkan di hati keduanya lahir benih-benih cinta. Apalagi Basri Sudibyo tak lagi terikat perkawinan dengan siapapun, oleh karena istrinya yang pertama telah meninggal. Atas hal itu, keduanya menikah diawali dari (alm) Basri Sudibyo meminta kepada orangtua Juniar untuk diterima pinangannya untuk menikahi Juniar. Pendek cerita, keduanya menikah secara agama. Sebagai orang yang beragama Kristen, pernikahan keduanya diberkati di Gereja GKP Cisarua, Bogor, Jawa Barat, bertempat di Tangerang.

Maka terkait berita yang menyudutkan kliennya; Juniar alias  Vero, dan Pendeta Muhammad Husein Hosea juga Agus Butar Butar oleh karena memberkati pernikahan kliennya dengan memberitakan menyebut sebagai “Pendeta gadungan dan terapis palsukan akte nikah untuk kuasai tanah senilai 40 milyar.” Lagi-lagi bagi Kamaruddin pernyataan itu tak berdasar. “Jelas itu adalah fitnah dan pencemaran nama baik klien kami.”

Sementara terhadap Pdt. Mohammad Hosea, Kamaruddin menyebut, bahwa pendeta Hosea bukan pendeta gadungan. “Dia itu lulus STT Nommensen Pematang Siantar, tahun 1972-1977. Bahkan Hosea pernah melayani di HKBP.” Demikian juga kliennya, Juniar. “Dia bukan terapis sebagaimana disebutkan, melainkan dia seorang fisiologi, dan ahli pengobatan Chinese, ahli akupuntur. Bahkan, klien saya pengusaha, pendiri sekaligus pemilik Klinik Pratama Rumah Engedi di Kelapa Gading, Bali, Surabaya, dan Singapura.”

Pernikahan sah secara agama

Pernikahan sah jika menikah menurut agamanya. Artinya, pernikahan keduanya, Juniar dan (alm) Basri Sudibyo  dikuatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara, dengan adanya surat akta perkawinan gereja GKP Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Putusan tersebut pada Rabu, 20 November 2019. Diucapkan dalam persidangan terbuka untuk umum oleh Hakim Ketua dengan didampingi oleh para Hakim Anggota tersebut, dibantu Efa Cendrakasih, S.H., sebagai Panitera Pengganti. Putusan pengadilan itu dihadiri tergugat, namun tanpa dihadiri oleh para penggugat/kuasa hukum para penggugat dan turut tergugat. “Klien saya adalah istri yang sah dari alamarhum Basri Sudibjo,” tegas Kamaruddin.

Selain itu, Kamaruddin pun menunjukkan sejumlah bukti-bukti lain berupa foto pernikahan. Kliennya, Juniar bersama (alm) Basri Sudibjo menikah tahun 2017, terbukti dari Surat Akta Perkawinan Nomor 02/GKP/C-B/VI/A-K/2017 Tanggal 11 Pebruari 2017 dan itu dikuatkan melalui Penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Utara No: 290/Pdt.P/2019/PN, Jakarta Utara Tanggal 13 Mei 2019.

“Juniar adalah isteri sah dari Basri Sudibjo menurut hukum Indonesia berdasarkan Surat Akte Perkawinan Nomor 02/GKP/C-B/VI/A-K/2017, tanggal 11 Pebruari 2017,  yang telah  dilakukan menurut Hukum Gereja  dan/atau Agama Kristen. Selain itu, ada penetapan Nomor: 290/Pdt.P/2019/PN,Jkt.Utr tanggal 13 Mei 2019, yang pada pokoknya menetapkan, menerima dan mengabulkan permohonan pemohon, dalam hal ini Juniar, untuk seluruhnya dan menyatakan dan menetapkan Sah Perkawinan Pemohon, Juniar dengan Basri Sudibjo.

Memang, sejak awal anak dari alamarhum, Suzana Liany dan Martin Adam tak setuju penikahan kedua ayah mereka dengan Juniar. Tetapi, sebagaimana kita tahu, bahwa hukum mengatur pernikahan tak bisa batal oleh karena tak disetujui anak-anak. Maka selama pernikahan kliennya dengan almarhum semasa hidup tak pernah lagi ada masalah. Atas “bunga cinta” almarhun Drs Basri Sudibjo kepada istrinya Juniar, almarhum memberi wasiat berupa tanah, Sertifikat Hak Guna Bangunan dengan nomor 09360 atas nama dirinya, Drs Basri Sudibjo di hadapan Notaris Grace Parulian Hutagalung, S.H., beralamat Ruko Niaga Cibodas, Tangerang, Banten.

Oleh karena itu, menurut Kamaruddin, penetapan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya terhadap perkara diduga penipuan akta nikah dan pemalsuan Pemalsuan Surat/Akta Otentik terbolak-balik.  Justru, berdasarkan keterangan kliennya, Basri Sudibjo sebelum meninggal pernah  sakit dan masuk perawatan di Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk, dari  tanggal 14 September 2018. Saat itu, Juniar sebagai istri sedang menyelesaikan studi di Singapura. Namun saat suaminya sakit dan tak diberitahu keluarga dari pihak anak tirinya. Juniar sendiri sebagai istri tak pernah diberi izin oleh keluarga untuk melihat dan merawat suaminya yang sedang sekarat hingga meninggal.

“Klien kami selalu saja diusir secara paksa oleh Suzana Liany dan Martin jika hendak menjeguk, sementara klien kami bermaksud membawa suaminya berobat ke rumah sakit terbaik di Singapura, namun tak pernah pernah diizinkan, bahkan hanya sekedar membezuk saat masih hidup hingga suaminya meninggal dunia pada Rabu, 10 Oktober 2018.” Diketahui pula almarhum bukan meninggal di rumah sakit, namun seperti di rumah sakit, dengan cara dijemput ambulance RS Siloam Kebon Jeruk ke rumah Suzana Liany, dalam keadaan tak bernyawa ketika tiba di UGD RS Siloam, Kebon Jeruk. “Artinya, patut diduga, suami klien kami diduga tanpa dirawat selayaknya seorang manusia.”

Ada indikasi, Suzana Liany dan Martin Adam tak memberi penanganan perobatan yang sepantasnya, justru tujuan dibawa pulang hanya untuk mendapatkan dokumen Notaris/ PPAT No. 03 tanggal 20 September 2018, tanpa pernah Notaris/PPAT dimaksud bertemu dengan almarhum, Basri Sudibjo.

Oleh karenanya, kecuriaan di atas, sebagai advokat dan kuasa hukum dari Juniar, Kamaruddin menyebut, demi kepentingan kepastian hukum dan keadilan, sesuai pasal 17 UU No. 18 tahun 2003 tentang advokat. “Kami selaku kuasa hukum klien kami  telah berkirim surat kepada Direktur utama RS Siloam Kebon Jeruk, meminta foto copy status dan isi rekam medis dan/atau resume/ringkasan rekam medis dari suami klien kami, Basri Sudibjo. Akan tetapi hingga saat ini RS Siloam Kebon Jeruk belum bersedia memberikan ringkasan rekam medis dimaksud dengan alasan pada pokoknya sebagai rahasia kedokteran.”

“Akibatnya kami semakin curiga atas kematian almarhum, suami klien kami, sepertinya ada yang disembunyikan.” Lagi-lagi Kamaruddin menambahkan kejangalan. Kliennya, Juniar, telah dua kali dilaporkan kepada Polda Metro Jaya oleh anak tiri kliennya, yaitu; Martin Adam dan Suzana Liany. “Pertama soal ketentuan Pasal 372 Jo Pasal 378 KUHP, namun tak terbukti, selanjutnya dilapor lagi di unit yang sama Subdit yang sama Dirkrimum Polda Metro Jaya  dengan mengganti pasal menjadi pasal 263 KUHP tentang Pemalsuan Jo Pasal 264 KUHP Jo Pasal 266 KUHP Jo Pasal 55-56 KUHP, dengan menuduh pendeta yang memberkati pernikahan klien kami dengan almarhun adalah sebagai gadungan,” jelasnya.

“Naifnya, klien kami disebut sebagai terapis, untuk tujuan menguasai Sertipikat Hak Guna Bangunan atas Tanah Nomor 09360 atas nama Drs Basri Sudibjo, senilai Rp. 40 milyar, yang mana tuduhan itu adalah fitnah dan pencemaran nama baik, sebab Sertipikat Nomor 09360 atas nama Drs Basri Sudibjo tersebut diperoleh Juniar langsung dari suaminya dengan tanda terima Notaris dari Grace Parulian Hutagalung.”

Tuduhan pemalsuan Akta Otentik

Terhadap sangkaan kepada kliennya yang diduga melakukan Pemalsuan Surat atau Akta Otentik, bagi Kamaruddin justru pelapor, anak tiri kliennya yang membuat Akta Notaris “Palsu” Nomor  03 tanggal  20 September 2018 tentang menarik dan menghapus wasiat lama yang diduga dibuat oleh Notaris/PPAT Grace Parulian Hutagalung. Bagaimana mungkin, tanpa bertemu dan tanpa mengetahui kondisi kesehatan almarhum Basri Sudibjo keluar Surat Akta dari Notaris?

Lagi-lagi, menurut keterangan kliennya, bahwa Basri Sudibjo dibawa pulang tanggal 19 September 2018 dari RS Siloam, diduga untuk tujuan  menandatangani Akta Notaris Nomor  03 tanggal  20 September 2018 tentang menarik dan menghapus Wasiat Lama oleh Notaris Grace Parulian Hutagalung.

Atas hal itu, Juniar menggelar pertemuan dengan Grace Parulian Hutagalung, tanggal 09 Januari 2019, dan Notaris mengatakan, tak pernah bertemu dan juga tak tahu bahwa almarhum, Basri Sudibjo masuk Rumah Sakit, tanggal 14 September 2018 dan kemudian tak tahu bahwa telah meninggal dunia tanggal 10 Oktober 2018. Alasannya tak ada yang memberitahukan kepada Notaris Grace Parulian Hutagalung.

Oleh karena itu, Kamaruddin sebagai pengacara Juniar ingin memperjelas permasalahan ini. “Saya sebagai advokat dan kuasa hokum dan demi kepentingan kepastian hukum dan keadilan, sesuai pasal 17 UU No. 18 tahun 2003 tentang advokat, dengan ini  meminta keterangan terkait proses pembuatan dan Penggunaan Akta Notaris ‘Palsu’ Nomor  03 tanggal  20 September 2018 tentang menarik dan menghapus Wasiat Lama yang diduga “tanpa bertemu dan tanpa mengetahui kondisi kesehatan, almarhum, Basri Sudibjo,” jelasnya lagi.

Sementara untuk Notaris, Grace Parulian Hutagalung, Kamaruddin telah melayangkan surat pada tanggal 23 Januari 2020. Namun yang bersangkutan belum mau menjawab pokok masalah dengan berdalih yang bersangkutan berlindung dibawah Majelis Kehormatan Notaris. Bagi Kamaruddin, hal ini sangat penting diungkap, karena ada dugaan kejahatan Pemalsuan Surat/Akta Otentik di sana. (HM)

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.