Keprihatinan Puluhan Pimpinan Sinode Atas Pemilihan Ketua Umum PGPI Mubes VIII 2018

Suaratapian.com JAKARTA– Puncak Musyawarah Besar (Mubes) VIII Persekutuan Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI) 2018 memilih ketua umum. Bertempat di GBI Mawar Saron, Rabu, (14/11). Tentu, salah seorang yang paling berbahagia adalah Pdt. Jason Balompapueng sebagai Pimpinan Sidang merangkap sebagai Ketua Panitia Mubes VIII PGPI (tak etis ketua panitia menjadi ketua sidang).

Bukan hanya itu, dia salah seorang kepercayaan Pdt DR Jacob Nahuway MA juga diberi tugas menjadi Bendahara Umum PGPI, bahkan merangkap Ketua PGPI DKI Jakarta. Jason gembira hasil pemilihan itu. “Akhirnya Pendeta Nahuway kembali terpilih memimpin PGPI,” demikian ucapnya kepada temannya, sesaat disalami selesai berhasil memimpin pemilihan.

Walau demikian,  sebagian besar peserta Mubes kecewa kinerja panitia pelaksana Mubes VIII PGPI yang kentara tak netral. Pemilik suara kedua tertinggi Bakal Calon, Pdt Dr. Sherlina Kawilarang MBA. Dia melihat lagak panitia, sepertinya Jacob Nahuway sudah ditetapkan sebagai ketua umum jauh sebelum sidang pleno pemilihan, dan dipaksakan petahana untuk menjabat kembali, katanya.

Atas proses pemilihan tak jurdil itu, dia mencoba menengahi keinginan pimpinan sinode gereja yang mendukungnya mayoritas dari Jawa Timur yang hendak menolak hasil Mubes VIII. Kepada wartawan, dia minta agar bersabar untuk memberi ruang waktu untuk berpikir jernih.

“Sekarang kami hanya membuat surat keprihatinan. Itu pernyataan sikap kami sementara. Tetapi, tentu, kami prihatin atas pemilihan ketua umum Mubes VIII itu. Ini sangat memprihatinkan!,” tambahnya bersama 30-an hamba Tuhan, saat jumpa pers dengan wartawan di Hotel POP, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis, (15/11).

“Saya menahan teman-teman yang mendukung saya. Ada yang meminta bahwa hasil pemilihan kita tolak. Ada yang mengusulkan agar mendirikan PGPI tandingan. Bahkan, ada pemikiran untuk dilaporkan kepada yang berwajib. Saya menahan teman-teman agar kita membuat surat keprihatinan saja. Berhubung sebagian ketua-ketua sinode daerah sudah pada pulang. Nanti segera kami akan konsolidasi tentang keputusan akhir kami,” ujarnya.

Pernyataan sikap keprihatinan

Ditanya, mengapa tak menerima kenyataan tersebut? “Hal lumrah dalam setiap pemilihan ketua di organisasi ada menang dan kalah. Saya tak berambisi menjadi ketua umum. Saya diusulkan teman-teman, saya direkomendasikan sinode gereja saya, yang membuat kami membuat sikap atas keprihatinan ini oleh karena sesungguhnya belum ada yang terpilih menjadi ketua tahu-tahu sudah ditetapkan. Ini tak benar. Tahap awal masih penetapan Bakal Calon. Itu sebab digelarlah tahap penjaringan suara dari 163 suara,” ujar Ketua Asosiasi Tekstil Indonesia se-Jawa Timur menyayangkan proses pemilihan ketua umum itu penuh rekayasa.

Faktanya, pertama memilih Bakal Calon. Hasil yang menetapkan bakal calon ada enam orang yaitu; Pdt DR Jacob Nahuway dengan 83 suara, Pdt Dr. Sherlina Kawilarang 61 suara, Pdt DR Japarlin Marbun 12 suara, Pdt DR Mulyadi Sulaeman 3 suara, Pdt Ir Timotius Subekti 2 suara dan Pdt DR Daniel Tumbel 1 suara. Paling tidak dari keenam bakal calon tersebut bisa diajukan untuk mencalonkan 3 orang yang suaranya tertinggi.

Masih Penetapan Bakal Calon (Balon)

Namun, berdasarkan hasil penjaringan awal tersebut di atas, selanjutnya Pimpinan Sidang Pdt Jason Balompapueng ketika itu meminta Pdt Haro Palit untuk membacakan mekanisme Pemilihan Ketua Umum yang antara lain menjelaskan; “Bila mana pengajuan calon ketua umum, ada yang memperoleh suara 50% plus 1 peserta, maka dapat mengajukan dengan aklamasi untuk tidak perlu diadakan pemilihan lanjutan.”

Namun demikian, pemimpin sidang tidak boleh langsung menentapkan Pdt Dr Jacob Nahuway, sebagai ketua umum PGPI 2018-2023. Seharusnya, terlebih dahulu dilakukan verifikasi, tentang terpenuhinya seluruh persyaratan sebagai ketua umum, sebagaimana dimaksud dalam Anggaran Rumah Tangga PGPI; Bab V, Pasal 6. Ayat II, No.9. Salah satu menjadi syarat ketua umum menyebut terlebih dahulu; mendapat ijin dan rekomendasi dari sinodenya.

Saat dikonfirmasi, apakah Pdt DR Jacob Nahuway telah mendapat surat rekomendasi dari sinode GBI, dimana GBI Mawar Saron yang digembalakannya bernaung di Sinode GBI. Oleh Pdt DR Japarlin Marbun menjawab wartawan yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) saat dihubungi lewat seluler Sherlina dan didengar seluruh wartawan yang hadir dengan tegas mengatakan, bahwa Pdt DR Jacob Nahuway tak ada surat rekomendasi dari sinode GBI mencalonkan ketua umum PGPI. “Masalahnya bukan sinode tidak memberi, tetapi pak Jacob tak pernah meminta surat rekomendasi ke sinode GBI untuk maju menjadi calon ketua umum PGPI,” ujar Ketua Umum Sinode GBI, ini.

Artinya, jika Pdt DR Jacob Nahuway tak ada surat rekomendasi dari sinodenya, maka telah terjadi pelanggaran Anggaran Rumah Tangga PGPI, ditanggapi Sherlina. “Jika dilakukan verifikasi oleh pimpinan sidang, jelas Jacob Nahuway tak bisa mencalonkan diri jadi ketua,” tambahnya. Sherlina sendiri paling tidak patut mendapat apresiasi yang tinggi karena telah menjadi perempuan pertama dalam sejarah PGPI mencalonkan ketua umum.

Lagi-lagi, pimpinan sidang, Pdt Jason Balompapueng sebelum membuat tahapan penjaringan bakal calon telah mengatakan, akan dilakukan verifikasi bagi calon ketua umum sebelum pemilihan dilakukan. Kenyataannya, pimpinan sidang tak pernah memverifikasi semua bakal calon. Ujuk-ujuk malah sudah mengetok palu, menetapkan ketua umum.

Lucunya, saat diintrupsi oleh Ketua PGPI Jawa Timur, pimpinan sidang tak menghiraukan, yang terjadi malah ketua PGPI ditarik oleh empat security. Paling tidak itu kesaksian dari Pdt Josua Nainggolan. Padahal, sebagaimana di Anggaran Dasar PGPI, Bab IV, tentang Keanggotaan, pasal 8; setiap anggota mempunyai (1) hak bicara dan hak suara (2) hak memilih dan dipilih, jelas terkmaktub.

Yang mengherankan lagi. Walau keamanan sangat ketat, apalagi wartawan tak bisa masuk ke ruang sidang pemilihan ketua, namun, pihak keamanan juga kebobolan. Salah satu yang bisa masuk adalah Dwi Handayani, dia bukan pemilik suara atau peninjau. Herannya, Dwi pun bukan Kristen. Saat di hotel POP, kepada wartawan Dwi memberikan kesaksian, sangat prihatian terhadap cara-cara pemilihan ketua pendeta yang dia saksikan itu.

“Saya ini bukan Kristen, saya Muslim. Saya mengikuti persidangan. Tetapi rasa-rasanya bukan seperti pemimpin gereja yang harusnya menebar kasih. Sangat memprihatinkan sikap mereka. Tak menunjukkan sikap keteladanan. Miris rasanya melihatnya. Oleh pimpinan sidang, peserta seperti dibungkam. Pimpinan sidang sangat arogan, kecongkakan yang diperlihatkan,” ujar Dwi, perempuan asal Jawa Timur ini.

Ketua bermasalah

Selain itu, pernyataan sikap keprihatian ditandatangan dari 31 pendeta dari berbagai sinode. Muncul juga dugaan pelanggaran oleh penambahan hak suara di saat pemilihan. Ada tambahan 16 suara dari pengurus 8 sinode yang baru (2 suara dari setiap sinode) ditetapkan pada rapat BPL PGPI 12 November, sehari sebelum pembukaan, dan disahkan di Musyarawah Besar VIII PGPI 13-15 November 2018. Dan, sesuai AD/ART PGPI seharusnya pengurus sinode yang baru bergabung itu belum mendapat hak suara, herannya, mereka diberi hak suara.

Dan, yang paling memprihatinkan lagi, satu dari delapan (8) sinode yang baru bergabung tersebut adalah Sinode Gereja Bethel Pembaharuan (GBP) pimpinan Basuki Hariman. Kita tahu bersama, Basuki Hariman seorang koruptor, ditangkap oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), bersama 10 orang di tiga tempat berbeda, pada Rabu, 25 Januari 2017 lalu. Dalam penangkapan itu, diciduk juga Hakim Mahkamah Konstitusi Patrialis Akbar.

Basuki Hariman sendiri seorang pengusaha bisnis impor daging yang memiliki 20 perusahaan, sebelum dibui, belakangan menjadi pendeta yang memimpin sinode GBP yang baru mendaftar ke PGPI di Mubes VIII kali ini. Basuki Hariman sendiri divonis 7 tahun penjara. Entah siapa yang mendaftarkan sinodenya, lucunya, yang terdaftar sebagai ketua umum sinode GBP adalah Hariman Basuki, dengan sekretariat sinode di bilangan Taman Mini, Jakarta Timur. Terlalu. Amat memiriskan. (Hojot Marluga)

Please follow and like us:
0

Leave a Comment