Ketua GPI, Rev. Dr. MH. Siburian, M.Min. “Para Pemuda Mesti Bertanggung-jawab Pada Imannya”

suaratapiancom. Gereja Pentakosta Indonesia (GPI) pertengahan April lalu mengadakan Jambore 2018 bagi pemuda-pemudi untuk pembentukan metal dan jiwa militansi sebagai pemuda gereja. Para pemuda dilatih untuk makin kokoh pemahaman imanya. Mereka tinggal dalam tenda, selama empat hari tepatnya pada tanggal 12-15 April 2018. Bertempat di Pantai Putih Tandarabun, Pulau Samosir. Hadiri 2,000 orang pemuda dari 25 provinsi di seluruh Indonesia. Di sela-sela acara berlangsung, redaksi berbincang-bincang dengan Ketua GPI, Rev. Dr. MH. Siburian, M.Min. Demikian petikannya:

Apa makna dalam ajakan pak Pendeta pada sambutan pembukaan, harapannya agar setiap keluarga GPI memiliki sarjana?

Saya melihat sudah saatnya setiap keluarga melihat bahwa intelegensia sangat perlu dimiliki. Tantangan zaman makin besar. Zaman sekarang zaman kompetisi. Sebagai orang Kristen kita tak perlu ikut berkompetisi sebagaimana yang terjadi. Tetapi, sebagai mahkluk sosial mau tak mau kita harus juga ikut terlibat dalam kompetisi tersebut. Kalau menelisik sejarah peradaban kita, sejak dulu bahwa penemu-penemu yang hebat dari para hamba-hamba Tuhan. Mereka-mereka yang memenangkan kompetisi di jamannya, orang-orang yang cedikia.

Maka saya melihat dalam kondisi sekarang, tentu tak selalu demikian, bahwa pendidikan formal menolong setiap orang untuk bisa kompetitif. Dulu, orang-orang GPI rata-rata berpendidikan SD, tetapi seiring waktu makin berkembang, sekarang kebutuhan kompetisi itu lebih luas lagi, maka perlu pendidikan yang lebih taraf untuk setiap keluarga GPI bisa berkompetisi di era ini. Mengapa saya ajak agar semua keluarga GPI mendorong anak-anaknya, atau anggota GPI harus berpendidikan sarjana? Agar mereka lebih taraf lagi. Para pemuda berlomba untuk makin pintar. Sudah tentu bukan untuk mengutamakan gelarnya. Tentu, yang utama firman Tuhan ada dalam hati mereka.

Tetapi, menjadi lebih baik lagi bahwa di atas pemahaman firman Tuhan tersebut mereka memiliki pengetahuan, knowledge. Pengetahuan penting, itu sebabnya fasilitas yang diberikan Tuhan kepada kita, seperti pikiran harus didayagunakan dengan baik. Kemampuan analisis, kemampuan berpikir, kemampuan penalaran didapat karena dipicu pendidikan yang baik lewat pengetahuan yang mumpuni.

Maksudnya, bahwa pengetahuan itu tak bertentangan dengan firman Tuhan?
Iya, justru pengetahuan adalah anugerah Tuhan. Orang Barat sudah tiga abad lebih dahulu maju dari kita. Tigaratus tahun lalu mereka sudah sampai pada pemahaman menguasai pengetahuan menguasai peradaban, bahwa pendidikan membawa orang makin memahami anugerah Tuhan. Nah, sekarang kita belum terlambat, semangat belajar itu harus ditumbuhkembangkan di setiap anak-anak Tuhan.

Mengapa disebut belum terlambat?
Kesempatan makin lebih mudah. Sebab informasi dalam pengembangan pengetahuan begitu mudahnya kita peroleh saat ini, asal ada kemauan belajar, asal ada kemauan menambah pengetahuan, dimana-mana sekarang pengembangan ilmu pengetahuan mudah didapat.

Bukankah Eropa yang dicerahkan ilmu pengetahuan terbukti malah meninggalkan iman Kristen?
Betul! Justru karena itu kita mulai dari iman, dasar kita adalah iman, pengetahuan tentang firman Tuhan, bukan rasional. Rasional adalah fakta kemanusiaan yang tak bisa disangkal. Semua kita mulai dari iman, maka pernyataan ini diberikan pada orang-orang beriman, agar pengetahuan itu tak disalahartikan. Mereka yang sudah kokoh iman tak dipatahkan oleh rasio, hanya yang diperlukan pengetahuan. Nah, sekarang masalahnya adalah apakah kualitas iman mereka diimbangi dengan rasional mereka? Ini yang menjadi pertanyaan. Menurut saya, Alkitab tak pernah mengawinkan antara iman dengan rasional.

Rasional itu satu fakta empiris, sementara iman sebuah hal yang melampaui rasio manusia, namun keduanya harus pararel berjalan. Eropa punya masalah, mereka menilai yang irasional dengan kaca mata rasional. Menilai iman dari sudut pandang pengetahuan, padahal iman beyond mindset, melebihi penalaran rasio manusia. Sehingga ketika nalar menyemberang ke ruang iman, irasional, seolah-olah pengetahuan lebih hebat. Padahal irasional di atas rasional.

Rasional tahu apa yang dia tahu, sedangkan irasional memahami yang dia tak tahu. Irasional itu adalah penyataan yang tak kita tahu, tetapi ada keyakinan disana. Itu sebabnya Ibrani 11: 1 menyebut, iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita lihat dan bukti dari segala sesuatu yang tak bisa kita lihat. Iman itu sebagai bukti yang belum kita gapai. Sesuatu subtansi dari yang tak terjelaskan tetapi subtasi itu bisa kita rasakan. Itulah iman. Stephen William Hawking menyebut, bahwa tak ada sorga yang ada hanya fiksi. Sudah tentu dia mencoba bernalar dari sudut rasionya yang terbatas. Sekali lagi, pengetahuan terbatas sedangkan iman tak terbatas, melebihi jangkauan keterbatasan nalar manusia. Fakta sorga tak pernah sampai kepada penalaran manusia. Iman itu bukan fiksi, tetapi fakta yang di luar logika.

Jadi, bagaimana dimensi sorga itu bisa terjelaskan dalam nalar manusia?
Iya, karena itu tak bisa terjelaskan dari nalar, maka hal itu masuk dalam perumpamaan. Alkitab membuat analogi yang masuk akal. Jadi dengan beriman, kita menjaga irasional bahwa sorga tak mungkin terjelaskan oleh rasional. Keduanya berjalan pararel. Jadi, Eropa punya kesalahan bahwa iman dilihat dari sudut nalar, rasio. Menilai yang irasional dengan rasional.

Perkembangan sains misalnya, kita ambil contoh, orang sekarang menunjukkan penalaran yang berkembang, contoh terayal adalah kloning. Bagaimana iman Kristen meresponi hal seperti ini?

Bahwa iman Kristen juga jangan menyeberang pada penemuan kontemporer seperti itu. Tentu perkembangan nalar oleh pengetahuan satu fakta yang tak mungkin bisa dilawan. Yang ada ialah Kekristenan kita bukan pembatasan pengetahuan manusia. Sekarang pertanyaan bisakah manusia dikloning? Saya yakin bisa, karena perkembangan pengetahuan sudah makin maju. Tetapi disana ada moral, oleh keteguhan moralitas menjadi semacam alarm untuk hati nurani manusia.

Menurut saya, Amerika sudah mampu melakukan. Kalau demikian mengapa mereka tak melakukan? Oleh karena moral, hati nurani. Kekuatan iman itu masih juga menjaga hati nurani para tokoh-tokoh mereka. Ada ikatan moral. Jika manusia tak lagi memiliki moral, maka ini menjadi permasalahan besar. Apa pun penemuaan teknologi, maka iblis akan menggunakan untuk menguasai yang lain. Perang akan berkecamuk kembali.

Itu artinya, keKristenan juga tak boleh anti ilmu pengetahuan?

Jelas, tak boleh. Orang-orang Kristen harus melek ilmu pengetahuan. Kejahatan terjadi karena orang-orang yang dicerahkan firman Tuhan tak berperan maksimal dalam menguasai pengetahuan, yang menguasai malah tangan-tangan jahil. Bayangkan jika teknologi dikuasai orang-orang yang takut Tuhan, teknologi akan makin membawa manfaat semakin baik untuk manusia. Dan sebaliknya, jika yang menguasai orang-orang yang tak punya iman, teknologi akan disalahartikan.

Kalau demikian pertanyaannya, bagi orang Kristen yang taraf dalam teknologi menjawab pernyatan ini, apakah Tuhan menginginkan manusia mengkloning. Kalau Tuhan izinkan, bagaimana roh manusia itu, dan segala macam urutan pertanyaan berikutnya?
Harus dijawab. Jadi, pertanyaan sekarang bukan apakah manusia sanggup mengkloning. Faktanya teknologi yang ditemukan manusia sudah sanggup mengkloning. Tetapi bagaimana moralitasnya.

Lalu, bagaima soal spiritualitas?
Sebenarnya agama itu adalah media dari spiritualitas. Kita harus ingat, Yesus tak pernah membawa agama. Jika agama bisa membawa keselamatan, maka Dia sudah pasti tak perlu datang ke dunia. Dia membawa sistim ke dalam dunia ini, bahwa manusia selamat oleh karena Allah memberi diriNya untuk tebusan dosa. Jadi, percaya kepada Yesus bukan soal beragama Kristen. Seseorang bisa percaya pada Yesus bukan karena beragama Kristen. Masalahnya kita ingin menjadi institusi yang dominan atas nama agama. Intinya sebenarnya, bagaimana kita percaya bukan bagaimana kita beragama.

Spiritualisasi adalah kebutuhan mendasar manusia, disinilah harus berjalan beriringan sisi Kristen, tetapi juga kekudusan sosial. Kita tak hanya mengatakan Tuhan mengasihi, tetapi tak pernah membuktikan Tuhan mengasihi dari hidup kita. Itu sebabnya Yesus berkata, damai yang dari dunia ini tak membawa kenyamanan, tetapi damai yang dari dalam hati oleh karena hidup dalam Dia pemberi damai. Itulah spiritualitas sesungguhnya. Jadi damai bukan karena kehidupan kita baik, atau pencapaian kita baik, apa pun kondisinya, damai senantiasa ada di dalam diri kita asal kita memberi Tuhan yang memimpin.

Lalu, pesan untuk pemuda GPI agar mereka dengan nilai-nilai api Pentakosta tetap menyala dalam diri mereka?

Dasarnya harus kokoh memahami iman Kristen. Pemahaman dasar itu harus dimiliki. Nalar sebenarnya teknikal, sesuatu kemampuan yang diberi Tuhan untuk ditumbuhkembangkan dengan diri personal tiap-tiap orang. Jadi tergantung personalnya. Jika kredo iman Kristennya sudah kokoh, maka seburuk apapun kondisi, sesulit apapun perjalanan hidup pasti tak akan meninggalkan imannya. Masalahnya iman sebagai pondasi bernalar kerap dinafikan. Maka Yesus harus menjadi pedoman hidup. Sehebat apapun penalaran sebagai pemuda, jika tak memahami iman dalam Kristus, maka imannya tak akan sampai memahami kuasa Tuhan.

Terakhir, soal ide Jambore GPI 2018, apa sebenarnya yang diharapkan?
Jambore ini sebuah kegiatan untuk menunjukkan identitas dirinya sebagai keluarga. Kaum pemuda menyadari keluarga besarnya, dengan demikian ada semacam kerinduan keterhubungan, sebuah pertemuan fisikal. Bukan pertemuan facebook di media sosial. Kita merasa bahwa perjumpaan face to face perlu untuk menumbuhkembangkan spirit bersama pemuda gereja. Sebagai ketua GPI pesan saya pada pemuda, jadilah bertanggung jawab dalam imanmu.

Sekali lagi, para pemuda GPI mesti bertanggung-jawab pada imannya. Jangan kuatir dalam hidupmu, tetap bersemangat menjalani hidup dengan militan di dalam Tuhan. Belajar sungguh-sungguh dan bekerja keras untuk berkontribusi bagi gereja dan bangsamu. Sebab Roh Tuhan ada dalam hidupmu, maka tak perlu kuatir. Kekuatiran terjadi oleh karena tak sensitif atas kesadaran bahwa kuasa Roh Tuhan menyertainya. Jika kesadaran kuasa Tuhan ada dalam hidupmu tak perlu gentar menjalani hidup, baik maupun tak baik keadaan pasti bisa survival. Responmu dan sikapmulah yang menentukan masa depanmu. (Hojot Marluga)

Please follow and like us:
0

Leave a Comment