Sikap Baik Membuktikan Seseorang Anak Tuhan

Jarot Widjanarko pesohor, tampil sering di salah satu televisi swasta sebagai narasumber siaran motivasi. Sesungguhnya sejak dulu dia konsisten di jalur ini. Motivator untuk perusahaan-perusahaan, sekaligus pelayan Firman untuk gereja-gereja. Sejak tahun 1998 hingga sekarang dia bergabung dengan “World Serve International” berpusat di Vancouver, Canada. Melayani Gereja-Gereja dari semua denominasi dengan Seminar Pemulihan Gereja. Dan sejak tahun 1992 menjadi pemilik dan pendiri PT Ifaria Gemilang, yang memiliki jaringan IFA Club dan Direktur Utama PT Happy Holy Kids, perusahaan edutainment, rumah produksi film anak, Event Organizer, dan perdagangan produk anak-anak. Anggota jemaat Gereja Bethel Indonesia ini berbincang dengan Hotman J. Lumban Gaol (Hojot Marluga). Demikian petikannya:
Kita terbiasa mendengar bahwa yang menggerakkan orang-orang hebat adalah motivasinya. Sesungguhnya motivasi apa yang membuat seseorang bisa antusias, konstan berjuang sampai berhasil. Sementara orang lain tetap pasif?

Motivasi yang muncul dari dalam hati terdalam, yang diyakini dengan benar, ditetapkan sebagai tujuan hidupnya. Motivasi ‘terpepet’ kalau tidak dilakukan akan mati, akan bangkrut juga cukup kuat tetapi tidak sekuat motivasi yang menjadi tujuan hidup. Nah kekuatannya sebenarnya di tujuan hidupnya.

Profesi motivator selalu diminati lembaga atau organisasi. Buktinya, produk dari para motivator selalu laku. Pertanyaan, apakah para motivator tersebut bisa memotivasi orang lain dari luar diri. Bukankah motivasi sesungguhnya itu dari dalam dari? Mohon dijelaskan motivasi yang berasal dari internal maupun eksternal. Apa yang lebih penting dari kedua faktor tersebut. Faktor manakah yang lebih utama dari keduanya?

Motivasi dari eksternal pasti bisa, karena manusia memang cenderung meniru. Menggunakan hal-hal diluar orang tersebut untuk memotivasi orang tersebut, misalnya orang lain yang sukses/ kaya/ terkenal sebagai pembanding (apalagi pendidikannya sama, start awal miskinnya sama, dll) untuk memicu keinginannya. Kekayaan atau harta juga eksternal. Orang dimotivasi kaya, setelah ingin kaya baru didorong maju, makanya rajin dan seterusnya.

Motivasi internal adalah menyentuh hati nurani terdalam, mengenai tujuan hidup dan makna hidup. Misal hidup untuk berdampak, hidup menjadi berkat, hidup berguna bagi orang lain. Nah setelah motivasi internal ini diterima, baru didorong maju, kalau mau lebih verdampak ya harus pintar, sukses, punya jaringan, menulis buku dan seterusnya.

Motivasi eksternal lebih menarik, lebih mudah digunakan sebagai alat motivasi, tetapi tidak kekal, tidak jangka panjang, ada saatnya dia akan jenuh, loyo lagi, sudah mapan, tujuan ercapai dan jiwanya akan kosong lagi dan butuh motivasi lagi.

Apa yang dilakukan para motivator agar sampai menyentuh batin pendengarnya?

Terbaik memiliki kesaksian hidup sendiri. Jika tidak, maka banyak yang menggunakan kisah orang lain, kisah2 yang menyentuh hati. Berikutnya adalah memilih kisah yang ‘match’ dengan kisah cliennya, atau match dengan keunikan cliennya, apakah dia Sanguin, Melankolik, Plegmatig atau Kolerik. (Bisa juga pendekatan keunikan foto karakter, DISC maupun golongan darah, pendekatan suku, intinya tersentuh karena merasa sama, match, cocok)

Bagaimana menemukan potensi diri dengan memotivasi diri sendiri?

Terbaik mengenal TUHAN secara pribadi, karena hanya TUHAN lah yang mengenal pribadi kita paling dalam, mengerti rancangan dan memiliki rancangan untuk pribadi kita. Namun jika hal ini terlalu teologis atau teoritis bagi beberapa orang atau masyarakat maka bisa digunakan tips lain. Mendengar pendapat orang tua. Karena bagaimanapun orang tua selain mengenal kita, maka tidak diragukan lagi motivasinya pasti demi kebaikan dan kebahagiaan anak-anaknya. Ketiga: Temukan Potensi Diri dengan pergi ke psikolog, test temperamen dasar, test DISC atau foto karakter, bolej juga test sidik jari, ada berbagai alat dan ilmu yang bisa membantu seseorang menemukan dirinya dengan lebih tepat.

Dan, bagaimana menemukan motivasi terdalam dari diri?

Setelah langkah no 4 diatas, menemukan keunikan diri sendiri, kekuatan dan kelemahanya, khususnya kekuatannya, maka baru bisa menentukan tujuan hidup, bidang keahlian, profesi yang akan digeluti dan mendapat keyakinan kuat bahwa bisa, Keyakinan kuat bahwa bisa inilah motivasi dari dalam diri sendiri. Motivasi akan lebih kuat lagi jika diyakini bahwa itu panggilan hidup dari Tuhan. Nah ini hanya bisa nyambung jika langkah 4.a dialami, kenal dan memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan

Apa yang membedakan seseorang berhasrat, sehingga mampu mengaktualisasi diri sampai tingkat yang paling tinggi?

Hasrat yang match dengan minat, bakat, talenta dan kemampuan. Setelah hasratnya tepat dan benar, mendapat komunitas yang tepat yang mendukung, membuka jalan, support. Namun yang lebih penting mereka yang mencapai impian (hasrat)nya adalah yang berjuang pantang menyerah, karena gagal dan gagal adalah proses dalam mencapai impian, tidak kendor oleh waktu, tidak mundur oleh masalah. Boleh saja merevisi impian, namun harus segera bangkit kembali mencapainya. Paling hebat jika seseorang menemukan panggilan hidupnyanya, yang diyakini itu panggilan dari Tuhan untuk melakukan hal tersebut. Apalagi ditengah perjalanan hidupnya, dia semakin diyakinkan bahwa Tuhan merestui, memberkati, menolong, maka rintangan apapun dia akan hadapi.

Hal apa yang mesti dimiliki seseorang agar motivasi yang dimilikinya tak menyimpang saat mengaktualisasikan diri?

Hanya ada satu cara supaya motivasi tidak menyimpang, jika seseorang dekat dengan Tuhan, cinta Tuhan, takut akan Tuhan (takut berbuat dosa) dan tetap dalam komunitas orang-orang yang hidup bersama dengan Tuhan.

Apa yang harus dilakukan oleh seorang motivator saat memotivasi agar peserta melakukan yang disarankan?

Pelajari dengan teliti audience dan kebutuhan mereka. Nasehat yang memenuhi kebutuhan, yang menyelesaikan masalah, pasti akan didengar. Yakinkan dengan kesaksian atau cerita yang pas.

Apa yang mesti dicerahkan, apakah cukup motivator memanas-manasi semangat?

Memanas-manasi hanyalah bumbu, walau bumbu juga penting, karena manusia memang makhluk emosi. Namun yang paling utama sebenarnya TUJUAN HIDUP dan MAKNA HIDUP.

Lalu, dari segi agama sebagai orang Kristen, apa yang harus disadari seseorang agar menyadari bahwa dia bisa memotivasi diri sendiri?

Orang Kristen yang LAHIR BARU, semestinya sadar, bahwa di dalam dirinya ada Roh Kudus, pribadi Allah yang hidup, yang akan menghibur, mengingatkan Firman, menuntun kehidupan. Semestinya paling mudah memotivasi diri sendiri adalah orang percaya, karena ada FIRMAN yang memiliki otoritas, janji yang bisa diegang, menuntun kepada Tujuan Hidup yang ilahi. Orang percaya harus membaca Firman karena itulah sumber motivasi terhebat.

Bagaimana mengajak orang menyadari, menemukan bahwa di dalam dirinya ada potensi dan mesti dihidupi melalui roh?

Hanya satu cara, melalui LAHIR BARU, sehingga di dalam roh nya ada Roh Kudus, lalu dididik dengan Firman, supaya menemukan bahwa dirinya adalah anak Tuhan, warga Kerajaan Sorga. Selanjutnya dia mesti mulai memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan melalui pembacaan Firman dan komunitas orang percaya, sehingga bertumbuh di dalam Tuhan.

Sekarang ini para motivator utamanya yang Kristen agak samar untuk dibedakan motivator atau pendeta. Sebab nyatanya ada pendeta belajar pada motivator, sementara motivator juga mencoba menjadi pendeta?

Motivator dan Pendeta adalah profesi, jika semuanya orang percaya, maka semuanya hamba Tuhan. Saat berhadapan dengan jemaat, bisa saja menggunakan kependetaaanya, jika memang ia ditahbiskan sebagai pendeta. Saat diminta memotivasi di perusahaan, client tentunya tampil sebagai motivator secara profesional sesuai profesinya.

Nah motivator tidak salah atau malah perlu, bagi saya malah harus, belajar Firman, karena Firman Tuhanlah sebenarnya sumber inspirasi terbaik, benar dan sangat dalam untuk memaknai kehidupan, nilai2, tujuan hidup. Menggali hal2 ini dari Firman Tuhan, hanya ketika disampaikan ke publik, dengan hikmat dikemas dengan bahasa motivasi.

Nah pendeta, boleh juga belajar dari para motivator, terumata dalam hal skill seperti publik speaking, sistematika dan logika dalam menyusun sebuah pelajaran (semacam ilmu homeletik) supaya kotbahnya lebih runut, nggak kesana kemari. Bisa juga belajar dari sisi aplikatifnya, karena motivator tentuna lebih kaya soal hal-hal praktis.

Namun yang harus hati2, pendeta atau hamba Tuhan tidak boleh menyerap nilai2 atau prinsip hidup yang tidak sesuai Firman Tuhan. Karena tidak jarang motivator yang menganut New Age Movement, Theologi Liberal, Atheis atau lebih mengutamakan kemampuan pribadi seorang manusia dan mengenyampingkan Tuhan.

Umumnya motivator mengajarkan sukses berjubel capaian. Sebaliknya, jika kita belajar agama Kristen, bahwa hidup bermakna. Tentu, bisa berbalik-balik oleh karena nyatanya banyak juga orang yang mengaku melayani padahal sesungguhnya motivasi untuk kesuksesan diri sendiri. Bagaimana kita menempatkan diri?

Tidak bisa dipungkiri, hari-hari ini gereja menjadi semacam ladang entertainmen bisnis, membuka cabang gereja seperti sistem franchise, ada gereja seperti sebuah industri atau perusahaan. Andapun pasti bisa tahu pendeta-pendeta siapa yang memiliki mobil super mewah, rumah mewah, proteri dan asset dimana mana dan hidup dalam kemewahan yang sering disaksikan sebagai berkat. Dalam kondisi seperti ini, maka pendetanyapun menjadi seperti artisnya, lengkap dengan tarifnya, ada kelas-kelasnya, tidak mau melayani di kelas ‘bawah’ nanti turun pamor, mengundang merekapun mulai dari tiket pesawat, mobil penjemputan, hotel dan akomodasi terkait ada kelas dan standarnya, maka memang menjadi sulit ini pendeta atau artis, ini gereja atau bisnis.

Bagaimana kita menempatkan diri?

Saya pribadi tidak mau menghakimi, tetapi jika ada kesempatan secara pribadi atau pas diundang kotbah di gereja tersebut, menyampaikan kebenaran sebagai sahabat. Saya sendiri tidak mau ikut dalam pola dan gaya hidup demikian (walau kadang tergoda juga untuk ikut-ikutan), menjaga kemurnian motivasi dengan tetap terus berada dalam komunitas orang-orang yang murni, walau cukup sering melintas komunitas untuk mewarnai mereka, namun memiliki teman-teman yang sungguh2 melayani Tuhan dengan murni.

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.