Makam Si Singamangaraja XII Ada di Sionom Hudon

Oleh: Raja Wasi Tinambunan

suaratapian.com JAKARTA-Sionom Hudon adalah sebutan tanah ulayat untuk keturununan Tuan Nahodaraja di tanah  dairi Kelasen. Tuan Nahodaraja hijrah dari pulau Samosir membuka perladangan baru di tanah  dairi Kelasen, sebagai petani dan sebagai partaki (raja) kampong, kemudian menjadi ketua raja wilayah seluruh tanah dairi Kelasen. Saat ini, tanah Klasen telah berubah nama menjadi Sionom Hudon, sebagai nomenklatur pembagian kekuasaan kepada anak-anaknya, secara  administrative masuk perintahan Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan (Pemekaran dari Kabupaten Tapanuli Utara), Provinsi Sumatera Utara.

Nama Sionom Hudon merupakan nomenklatur yang diadopsi berdasarkan jumlah anak Tuan Nahodaraja, si-onom artinya si- enam, sementara Hudon artinya periuk. Tuan Nahodaraja sesungguhnya memiliki delapan anak. Anak pertama adalah si Buyakbuyak yang  katanya pergi dengan misterinya kealam gaib lautan Hindia (kisah tersendiri). Anak  kedua si Tambun, disusul si Tanggor, si Bittang Marria, si Raja, si Turut,  si Payung dan paling bungsu si Ampun. Anak-anaknya yang memiliki keturunan hanyalah enam, sementara keturunan anak perempuan si Bittang Marria akan  meneruskan marga atau klan suaminya, sesuai aturan adat Batak.

Seiring waktu hingga  saat ini, Sionom Hudon menjadi penamaan dalam pemerintahan desa (nomenklatur) untuk beberapa desa di kecamatan Parlilitan. Penamaan yang diambil dari penyatuan enam marga bersaudara selaku penghuni atau pemilik ulayat disana, yaitu : Desa Sionom Hudon Timur, Desa Sionom Hudon Selatan, Desa Sionom Hudon Utara, Desa Sionom Hudon Tonga, Desa Sionom Hudon Balik Gunung dan desa pemekarannya, Desa Sionom Hudon Timur II, Desa Sionom Hudon Sibulbulon dan Desa Sionom Hudon Runggu. Desa-desa tersebut masuk  wilayah pemerintahan kecamatan Parlilitan, kabupaten Humbang Hasundutan Humbahas) yang dulunya bagian dari kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Sionom Hudon merupakan bukti sejarah bagi masyarakat disana bahwa nenek moyang  mereka Tuan Nahodaraja adalah pendiri wilayah itu dan raja, kemudian menjadi raja wilayah dinamai kerajaan wilayah Kelasen atau Dairi Kelasen. Beliau memiliki 8 orang anak dari dua isteri, yaitu boru Sihotang beranakkan Si Buyakbuyak, si Tambun, si Tanggor, si Bittang Marria dan si Raja. Setelah boru Sihitang wafat, kawin lagi dengan boru Limbong beranakkan si Turut, si Payung dan si Ampun.

Saat si Ampun umuran kanak-kanak, si Buyakbuyak ikut bersama adek-adeknya mencari kapur kayu ke gunung Sijagar. Belahan balok kapur itulah dimanfaatkan olehnya tempat berguling hingga hilang ke lautan Hindia, hingga kini tidak pernah kembali. Sementara anak perempuan si Bittang Marria ikut suami bernama Datu Parulas Parultop, sehingga tinggallah enam dari delapan bersaudara, maka dinamai si 6 Kodin (si Onom Hudon).

Dalam perjalanan sejarahnya, Tuan Nahodaraja membagikan wilayahnya kepada keenam anaknya. Setiap bagian wilayah disebut kuta (kampung). Kuta tersebut dipimpin seorang Partaki (perintis suatu kampung) yang kemudian disebut raja. Nama-nama Partaki itu, kemudian menjadi panggilan (marga) bagi keturunan mereka hingga saat ini. Anak kedua si Tambun menjadi marga Tinambunan. Anak ketiga Si Tanggor menjadi marga Tumanggor, anak kelima Si Raja menjadi marga Maharaja, anak keenam Si Turut menjadi marga Turutan, anak ketujuh Si Payung menjadi marga pinayungan dan anak kedelapan Si Ampun menjadi marga Nahampun.  Nama panggilan keenam wilayah kampong itulah diberi nama : Si Ennem Kodin,  diartikan periuk. Bahasa batak Toba disebut : Sionom Hudon.  Itulah sejarah terjadinya sebutan nama Si Ennem Kodin atau si enam periuk.

Bagaimana sejarah itu diperoleh? Sejarah ini diperoleh dari carita turun temurun dari kakek-nenek kepada anak-cucunya,  sehingga kemudian menjadi cerita rakyat turun temurun hingga sekarang. Demikianlah juga kakek Aman Tumagas Tinambunan, beliau bercerita kepada kami selaku cucunya bahwa moyang Tuan Nahodaraja adalah pendiri kampung Sirintua, kemidian kerajaan wilayah Kelasen.  Selaku panglima besar Si Singamangaraja XII dari tanah Kelasen sejak tahun 1886-an hingga wafatnya hari Jumat tanggal 17 Juni 1907, beliau juga bercerita tentang seluk beluk perjuangannya mengawal Si Singamangaraja XII melawan Belanda, baik Sumatera Timur maupun  hingga Aceh.

Selain itu, beliau juga cerita strategi perdaya musuh. Cerita yang dijadikan media menyampaikan nasehatnya, baik heroik perlawanan terhadap musuh yaitu pasukan Belanda, juga penggunaan ilmu mistis  mengintai musuh sebelum seranga dimulai.  Cara penyampaian pun beragam pula, ada cara dengan peraga tangan seperti moncak, ada pula dengan tiruan bunyi tangis disebut “tangis pangiren“. Ada pula ragam tiruan nada disebut  “othong-othong”. Walau ceritanya dianggap fiksi namun menarik untuk dicerna sebagai pengajaran, mereka merapat untuk mendengarkan.

Di waktu kapan cerita disampaikan? Biasanya, kakek atau nenek mulai cerita pada sore tiba atau terkadang malam saat menunggu tidur, tergantung kemauannya dan situasi kesegaran fisiknya. Pada zaman itu, cerita sejarah atau legenda merupakan hiburan bagi pendengarnya  tua atau muda, kumpul mengelilinginya. Maka, penulis tertarik menulisnya dalam sebuah buku sebagai kenangan masa lalu.

Ingat saat kanak-kanak tahun 60an, penulis terbiasa tidur dengan kakek-nenek.  Bila  akan membujuknya cerita, memijit kakinya sebagai rayuan agar memulai ceritanya. Sekarang, zaman cerita telah berubah, tergerus oleh budaya visual atau perfiliman sehingga bcerita dongeng tersingkir.  Dalam rangka perlestarian, penulis mengungkit kembali agar budaya lokal dari Sionom Hudon tetap terjaga sebagai budaya lokal.

Kapan gerangan sejarah terjadinya Sionom Hudon? Kejadian sejarah itu tidak diketahui secara pasti namun dapat diperkirakan. Bila dihitung mundur kebelakang per generasi (Penulis adalah generasi ke 17 dari Tuan Nahodaraja), andaikan satu generasi rata-rata 25 tahun,  patut diduga, peristiwa sejarah Sionom Hudon terjadi sekitar 500 tahun silam atau sekitar abad ke15. Bahwa sejak zaman itu, Tuan Nahodaraja telah merintis perladangan di Sirintua dan menjadi raja kampung disana, kemudian menjadi raja wilayah tanah Kelasen. Sirintua, pusat pemerintahannya dan sentral perdagangan antara Samosir dengan kota Barus.

Maka, kontens cerita  dalam buku ini adalah cerita kearifan local tentang sejarah Tuan Nahodaraja dan generasinya, yaitu : tanah ulayat,  adat istiadat dan bahasa. Tanah ulayatnya disebut Sionom Hudon, adat istiadatnya disebut adat Kelasen. Bahasanya disebut bahasa Dairi Kelasen. Akan tetapi, pada dasarnya masyarakat Sionom Hudon adalah heterogen dengan beragam  marga disana, memiliki kekerabatan tutur lokal masing-masing.

Turun temurun, masyarakat Sionom Hudon percaya bahwa nenek moyang mereka adalah bernama Tuan Nahodaraja. Tanah ulayatnya dinamai Sionom Hudon adalah penamaan wilayahnya kerajaan tanah Kelasen sebagai nomenclatur jumlah  keenam  anaknya  dan pembagian tanah ulayatnya kepada anak-anaknya. Kemudian, nama-nama itu menjadi marga, maka disebut: Si Onom Hudon (si 6 marga).  Pada saat itu, setiap marga  memiliki perkampungan sendiri, dipimpin oleh seorang pemimpin  kampung disebut pertaki.  Setelah zaman berganti, pertaki disebut raja, sedang Tuan Nahodaraja disebut ketua raja sebagai  pendiri kerajan  tanah Kelasen.

Pasukan sigudamdam

Tahun 1883, kampung Sindias kedatangan tamu Si Singamangaraja XII. Awalnya dikenal sebagai  tamu keluarga raja Jangkar Tumanggor (Parbunga). Setelah beberapa bulan, diperkenalkan bahwa Si Singamangaraja XII adalah malim (raja pangalualuon) masyarakat Batak. Oleh berbagai pembelaan terhadap  masyarakat, dituduh separatis pengacau oleh Belanda sehingga dicari untuk dipenjarakan, maka mereka mengungsi ke Sindias, rumah pakdenya Jangkar Tumanggor. Oleh sebab seorang malim, maka keluarga itu dilindungi dan  dirahasiakan keberadaannya.

Selama 22 tahun berada di Sionom Hudon, Sisingamangaraja XII mengajar  sebagai (raja pangalualuon) yang  karismatik, memberi nasehat kepada seluruh umat perihal pemikiran maupun prilaku.  Akan tetapi, pengajaran  itu pupus.  Tahun 1907,  pasukan Belanda  pimpinan Kapten Kristofel, membunuhnya di Sibulbulon, Jumat 17 Juni 1907.

 Oleh sebab pembunuhan itu diexpose oleh wartawan dalan surat kabar lokal maupun luar negeri  sebagai perbuatan sadis. Berita sensasi yang menjadi perhatian dunia terhadap raja Batak  ditanah Batak. Pasukan sigudamdam (orang Toba menjebut Sihudamdam) pun turut  mengadakan perlawanan Belanda, citra pemerintah Belanda dimata internasional merosot tajam

Dalam rangka merubah citranya dimata publik,  politik rangkul terhadap raja- raja wilayah (ketua raja) seluruh Sumatera  dicanangkan oleh pemerintah Belanda sekitat tahun 1910. Program penataran (edukasi) itu diselenggarakan oleh Boven di setiap  kewedanaan,  diselenggarakan  selama tiga bulan di setiap kewedanaan.  Raja wilayah Sionom Hudon memperoleh perlakuan yang sama, diundang oleh boven Barus.

Setelah undangan dibaca,  ketua raja Sionom Hudon curiga oleh persyaratan undangan.  Bahwa setiap ketua raja  membawa surat keterangan yang ditanda tangani oleh raja-raja kampung sebagai pengesahan. Ingat masa lalu, ketua raja sebelumnya dipanggil tidak pernah kembali.  Oleh pertimbangan keselamatan dirinya, maka  mengutus perwaliannya, seseorang yang dianggap pendatang di wilayahnya. Orang tersebut dibekali surat keterangan yang ditanda tangani oleh raja-raja kampung. Surat keterangan tersebut dibawa sendiri sebagai bukti bahwa dirinya adalah ketua raja Sionom Hudon.  

Setelah tiga bulan, beliau pulang, tiba di pasar Parlilitan dengan baju dinas putih dengan topi putih diatas kepala sebagai pertanda kebesaran bahwa dia adalah raja ihutan (ihutan artinya diikuti).  Saat surat penugasan diperlihatkan olehnya, masyarakat langsung protes bahwa Boven Barus salah angkat. Masyarakat sepakat menggugat keputusan itu  bahwa raja ihutan bentukan Boven Barus tidak sah. Awalnya didiamkan, setelah penuntutan masuk berita koran, kemudian turun keputusan  boven Barus menyebut bahwa surat keputusan telah ditanda tangani, maka keputusan tertulis tidak dapat diubah. Demikian ditetapan Boven Barus.

Oleh ketetapan seperti itu, masyarakat mengadukan Boven Barus naik banding  pada pengadilan tinggi  keresidenan Sibolga. Mereka melampirkan surat keterangan yang ditanda tangani oleh raja-raja kampung. Perlawanan banding itu diexpose oleh berbagai surat kabar, ditulis head line, bangkitnya semangat baru,

Kepala dipenggal

Musuh yang diburu telah terbunuh, perintah tangkap hidup atau mati telah dilaksanakan, mayat telah ada di hadapan mata bukti fisik tinggal memperlihatkan kepada pemberi perintah. Keterangan dukun kampung selaku petunjuk jalan tentang ciri-ciri, menimbulkan keraguan untuk dieksekusi. Kapten Kristofer selalu pimpinan exsekutor akan membuktikan keabsahan jasad Sisingamangaraja XII. Mayat berserahkan, selain raja dan keturunannya korban, ada 13 orang lagi pengawal yang bersamanya. Mayat-mayat setelah diidentifikasi, menembulkan keraguan. Bukti yang sah merupakan pembuktikan yang wajib dilakukan kepada pemberi perintah, sang Gubernur Jenderal JB van Heutsz.

Namun saat itu itu pertanyaan mana mayat Sisingamangaraja XII sesungguhnya menjadi pertanyaan. Ciri-ciri yang didapat bahwa raja menggunakan pakai ciri, pakaian tradisi dan symbol, juga memiliki lidah berbulu menjadi pembenaran keabsahan Sisingamangaraja XII. Setelah diskusi alot, mereka sepakat kebadsahan mayat, bahwa mayat yang berpakaian tradisi dan linda berbuluh itu jasad Sisingamangaraja XII. Seorang membuka mulut dari jasad itu, ternyata ditemukan ada dua mayat yang lidahnya berbulu.

Satu yang mudah dan satu yang tua. Saat dihunus, lehernya digorok, jasat yang mudah bisa terpotong, sedangkan yang tua tak terpotong, dipercaya adalah jasat Sisingamangaraja XII. Menjelang malam kepala mayat diperlihatkan, di Batu Gajah, di Kuta Salak, ke Samosir, bahkan samapai ke Balige yang akhirnya dikubur di Pearaja, Taruntung. Kemudian hari, setelah beberapa tahun dipindahkan ke Sopo Sorung. Tetapi di Sionom Hudon, pengikut Si Singamangaraja dari Sionom Hudon, didukung oleh perlawanan pasukan sigudamdam di berbagai daerah. Bahkan sebagian masyarakat percaya bahwa Si Singamangaraja  tak mati. Sampai sekarang penduduk Sionom Hudon percaya, makam Si Singamangaraja  XII ada di Sionom Hudon.

 Penulis buku Kisah Perjuangan Sisingamangaraja XII Di Sionom Hudon, cucu dari Aman Tumangas, salah satu Panglima Sisingamangaraja XII

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.