Menulis Selagi Masih Siang

suaratapian.com JAKARTA-Sedang membaca buku autobiografi 470 halaman, buku Dr Soritua Albert Ernst (S.A.E) Nababan. Nama Ernst sendiri ditambahkan ayahnya Jonathan Laba Nababan dari nama sahabatnya orang Jerman, Ernst Verwiebe yang membaptis SAE kelak menjadi Ephorus (Ephorus kelima HKBP, sebelum kemudian diganti Pdt Kasianus Sirait, Ephorus keenam, orang pertama putra Batak jadi Ephorus). Buku ini semacam memoar, ditulis sendiri, perjalanan hidup dan buah buah pikiran yang bernas dan cerdas. Saya pribadi mengenal SAE Nababan, walau sekedar perkenalan antara wartawan dan tokoh gereja, pewawancara dan narasumber. Saya beruntung kenal dengan beliau. Dua kali beliau bersedia menulis kata pengantar dan sambutan di buku yang saya tulis sendiri.

Lahir 24 Mei 1933 di Tarutung, anak ketiga dari 11 bersaudara. Adik adiknya pun hebat hebat. Salah satu adiknya saya kenal, Indera Nababan pendiri PMK HKBP, dimana sempat juga saya aktif sebentar di lembaga pelayanan kota itu. Adiknya yang lain yang dikenal di negeri ini aktivis HAM (alm) Asmara Nababan, istrinya, Magdalena Sitorus, aktivis perempuan saya kenal, dan beberapa kali saya wawancara untuk majalah Tapian dan tabloid Reformata. Lalu, adiknya Panda, wartawan senior yang nama aslinya Pandapotan Nababan, kemudian jadi politisi.

SAE Nababan lulusan Doktor Theologia dari Universitas Ruperto Carola, Heidelberlrg, Jerman. Lulus tahun 1963. Umurnya sudah 93 tahun, namun suaranya masih menggelegar dan selalu disiplin. Soal waktu disiplinnya memang luarbiasa.

Barangkali karena didikan Jerman, dikenal sangat teliti soal waktu, itulah yang ditekankannya ketika memimpin PGI pertama (sebelumnya DGI) dan ketika menjadi ephorus HKBP. Tak boleh lambat. Harus gesit dan lincah. Ada kata-katanya yang menarik soal itu. “Pangkuduson Nabadia” jika diterjemahkan, kegerakan yang suci. Oleh karena kedisiplinannya itu sering memarahi dan mempermalukan bawahannya. Soal disiplin saya merasakan sendiri, tak boleh meleset sedikit pun. Pengalaman saya, saya pernah dimarahi karena terlambat 10 menit ketika janji datang ke rumahnya di Jalan Rasamasa. Beliau langsung tanya. “Ai pukul piga do tahe hita marjumpa? Nunga dipake ho tingkiku 10 monut.” Saya agak kagok juga ketika itu.

Atas ketegasannya, katanya, itulah yang membuat sebagian orang tak menyukainya. Tentu, tak sedikit orang menyebutnya pendeta politisi dan tak sedikit pula menyebut pemimpin kharismatik. Memang demikianlah pemimpin besar, tak sedikit yang membencinya dan banyak pula yang mengangungkannya.

Di era pemerintahan Soeharto, ketika membuat azas tunggal Pancasila, SAE Nababan ketika itu ketua PGI tampil dengan tegak menentangnya. Bahkan, di masanya terjadi pergolakan di HKBP disebut karena kepemimpinannya yang keras, juga tak lepas hubungan yang tak baik dengan rezim Orde Baru, membuat HKBP kena dampaknya, hingga kemudian berujung konflik internal HKBP.
Di masa itu (1992-1998) ada 2 ephorus HKBP, Dr PWT Simanjuntak, dan kepada beliau ini (Simanjuntak) juga saya kenal. Termasuk ketika meluncurkan buku biografinya bertajuk Hamba Yang Tak Berguna (518 hal) yang ditulis teman saya (alm) bang Lambas Goeltom, Pemimpin Redaksi Suara HKBP yang sekarang berhenti terbit, saya diundang sebagai wartawan dari majalah Redaksi Tapian untuk meliput. Dan di beberapa pertemuan dengan ephorus emeritus PWT Simanjuntak, saya selalu diingatnya, “He Lumban Gaol.”

Kembali tentang SAE Nababan, sebagai generasi muda HKBP saya merasa para pemimpin ini ada plus minusnya. Satu lagi yang penting dari SAE Nababan adalah satu gagasan pemikirannya soal Teologia Waktu. Bagaimana memanfaatkan waktu. Waktu tak bisa distop, maka kalau ada kesempatan jangan disiasiakan. Itu sebab bukunya ini diberi judul Selagi Masih Siang mengutif ucapan Tuhan Yesus di Yohanes 9:4 “Kita harus mengerjakan perkerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja.” Dan, itu juga moto beliau untuk selalu menjalani perutusan sebaik baiknya selama masih hidup. (Hojot Marluga)

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.