NOBEL PERDAMAIAN 2020: Tiada Damai bagi Kaum Lapar

suaratapian.com JAKARTA-Kemarin 9/10 sore, Panitia Nobel di Stockholm telah menetapkan organisasi World Food Program (WFP) menjadi pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 2020: karena lembaga ini telah berjuang di garda depan memerangi kelaparan di dunia sejak 1961. Tahun lalu WFP berbelanja tak kurang dari 9 miliar dollar untuk berbagai bantuan pangan bagi hampir 100 juta korban dan penderita di berbagai lokasi buruk di 88 negara; terutama negeri yang dilanda konflik bersenjata seperti Suriah, Sudan, Yemen, dan Afghanistan. Lembaga yang bermarkas di Roma, Italia ini–di Indonesia berkantor di daerah Karet Tengsin, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta–adalah organ utama PBB mewujudkan SDGs (Sustainable Development Goals) Nomor 2, yaitu Zero Hungry by 2030. Ditargetkan oleh PBB, dunia akan bebas lapar atawa cukup makan pada tahun 2030.

WFP adalah semacam penjelmaan modern Nabi Yusuf dari zaman Mesir kuno, yang karena hikmat Tuhan mampu mengantisipasi datangya 7 tahun masa makmur dan 7 tahun masa paceklik; yang kemudian dengan dekrit raja (firaun) membangun lumbung-lumbung pangan di seantero negeri, sehingga saat masa kelaparan tiba, Mesir telah menjadi lumbung pangan bagi dunia.

Dewasa ini dicatat: 1 dari 9 penduduk dunia–mayoritas anak-anak–tergolong kurang makan, kurang gizi, yang pada gilirannya mengalami stunting (gagal tumbuh); fisik dan mental intelektual yang inferior.

Mungkin karena seorang ibu, Angela Merkel menjadi penimpin dunia yang pertama menyambut hangat Hadiah Nobel bagi WFP ini.

Sambil memuji Panitia Nobel dan pemenangnya: Kanselir Merkel mengajak seluruh dunia mendukung WFP, yang memang bekerja dengan donasi negara-negara anggota PBB, berbagaisi korporasi global, serta sejumlah pribadi superkaya berhati mulia.

Sebagai distributor berbagai jenis pangan berskala masif, dengan sendirinya WFP menjadi operator logistik kelas dunia.

Di musim pandemi Covid ini: adalah WFP yang paling mumpuni melakukan operasi logistik medis, alkes dan obat-obatan ke 120 negara di dunia.

Direktur Eksekutif WFP, David Beasley, merasa sangat terharu menerima hadiah bergengsi tinggi ini, tidak menduganya, dan menyebut para donorlah penerima sejatinya, bersama 17 ribuan staf yang bertaruh nyawa melaksankan misi mulia kemanusiaan ini di lokasi-lokasi berbahaya.

Beasley yang mantan Gubernur South Carolina, AS itu, mengantisipasi soal kekurangan pangan ini menjadi dua kali lipat akibat pandemi ini berharap orang-orang hiper kaya dunia lebih banyak menjadi donatur.

Dengan kekayaan global yang sedemikian besar dewasa ini semestinya tak ada lagi orang di dunia ini yang pergi tidur dengan perut lapar.

(Jansen Sinamo/reuters/cnn/theguardian/bbc)

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.