Erastus: Pertobatan yang Sejati Terlihat dari Pemulihan dan Pembaharuan Hidup

suaratapian.com Pengkhotbah kesohor yang dikenal konsisten pada panggilannya, kekonsistenan khotbahnya pada pada tataran doktrin. Dialah Pdt Dr Erastus Sabdono MTh, pria kelahiran Surakarta 1959 ini juga sosok yang produktif menulis dan memproduksi khotbah-khotbahnya, di media TV, Radio dan media cetak. Dia juga dikenal pengajar kebenaran Alkitab yang inovatif.

Suami dari Suharni Liberty ini dikaruniakan Tuhan dua orang anak putra-putri; Stephen dan Stephanie. Pendeta Erastus memimpin jemaat GBI Rehobot Ministry di Jakarta. Dan pemimpin umum sekaligus penanggung jawab majalah dan Renungan Harian TRUTH. Telah juga mengarang lebih seratus lagu rohani. Apa yang menginspirasi mengarang lagu? Soal mengarang lagu, katanya, didapatkannya umumnya hasil imajinasi, secara otomatis keluar dari ketidaksengajaan.

“Ketika saya sedang menyembah, berdoa, sedang dalam perjalanan atau ketika sedang dalam masalah biasanya Tuhan suka berikan inspirasi untuk menulis lagu. Dan lagu itu biasa selesai dalam waktu 5-20 menit.” Baginya, musik sangat memberi pengaruh dalam kehidupan semua orang. “Orang Kristen yang memiliki kedalaman penyembahan, musik memberi pengaruh untuk menyembah Tuhan. Memang tanpa musik kita juga bisa menyembah. Tapi musik juga mempunyai pengaruh secara jiwani.”

Tak hanya menciptakan ratusan lagu, dia juga sudah menulis puluhan buku. Mantan rektor STT Bethel ini juga menggeluti beberapa bisnis, antara lain Sola Gracia Record dan Precision Printing. Aktivis yang berjubel. “Saya harus dapat membagi waktu secara bijak. Bagi saya, Tuhan adalah prioritas yang utama. Dalam hal ini yang pertama, kedua, ketiga, keempat, dan selanjutnya adalah Tuhan. Menempatkan Tuhan dalam segala hal,” ungkapnya. Ternyata aktivitas yang demikian padat tak membuat pendeta yang gemar membaca ini tidak mempersiapkan diri saat akan berkhotbah dengan matang. “Saya selalu mempersiapkan khotbah. Khotbah itu gampang. Tidak sulit. Yang sulit adalah bagaimana kita mewarnai khotbah itu setiap hari. Karena khotbah itu sebenarnya adalah kehidupan kita selama 24 jam setiap hari. Bukan sekedar bicara di mimbar. Mimbar adalah representasi
dari kehidupan kita.”

Menyelesaikan sajarna teologia di Institut Teologia dan Keguruan Indonesia, sekarang disebut STT Bethel, Pertamburan, Jakarta Pusat. Lalu melanjutkan studi Magister Teologia dari STT Jakarta, Jalan Proklamasi, Jakarta. Oleh American Christian College menyematkannya gelar Doktor Honoris Causa padanya. Sementara Doktor Teologia diselesaikan di STT Baptis Indonesia (STBI) Semarang, Jawa Tengah. Itulah kekelumit tentang Pdt Dr Erastus Sabdono MTh. Di sela-sela kesibukannya masih berkenan melayani pertanyaan Hotman J Lumban Gaol (Hojot Marluga). Demikian petikan bincangbincangnya:

Anda dikenal pengkhotbah yang konsisten menyampikan pada tataran doktrin. Pertanyaannya, soal keselamatan, terkesan pemikiran umat pada umumnya bahwa percaya Yesus itu pasti selamat. Padahal, bapak mengatakan, bahwa justru harus dibuktikan dengan pertobatan?

Berbicara mengenai doktrin keselamatan, maka keselamatan harus dipandang dari dua pihak. Pertama, keselamatan dari pihak Tuhan yaitu: tindakan Tuhan untuk mengembalikan manusia kepada rancangan semula atau tujuan awal manusia diciptakan. Untuk mewujudkan keselamatan atas manusia, maka Allah memberikan kuasa atau hak kepada mereka yang menerima-Nya (Yoh 1:12). Isi kuasa atau hak yang diberikan itu antara lain: pertama, penebusan. Dengan penebusan, maka seseorang dapat menjadi milik Tuhan (1 Kor 6:19-20). Kedua, adalah Roh Kudus. Untuk mengembalikan manusia kepada rancangan Allah semula maka Roh Kudus diberikan untuk mencerahkan pikiran seseorang yang telah menerima-Nya, sehingga seseorang dapat mengerti kehendak Allah yang sempurna (Rom 12:2).

Ketiga, Injil. Iman adalah landasan keselamatan yang timbul dari mendengar firman Kristus (Rom 10:17). Injil itulah firman Kristus. Sebagai satu-satunya sarana yang memuat pengenalan akan Allah atau kebenaran-Nya. Keempat, penggarapan Allah. Penebusan, Roh Kudus, dan Injil tidak akan matang atau kurang berdaya guna tanpa penggarapan (Rom 8:28). Tuhan menggarap manusia melalui peristiwa kehidupan atau pengalaman hidup. Inilah sekolah kehidupan yaitu dimana seseorang diproses dalam menjalani keselamatannya.

Selanjutnya, adalah keselamatan dari pihak manusia yaitu; perjuangan melawan dosa atau ketidaktepatan (hamartia). Ketidaktepatan artinya, tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Perjuangan melawan ketidaktepatan dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa manusia telah gagal untuk mengerti kehendak Allah dan melakukannya dengan sempurna. Tuhan Yesuslah yang telah menggenapi dan melakukannya dengan sempurna. Sekarang, orang percaya dipanggil untuk memiliki kualitas hidup yang sama seperti Tuhan Yesus. Perjuangan tersebut dimaksudkan agar orang percaya mengambil bagian dalam kekudusan-Nya atau mengambil bagian dalam kodrat ilahi (2 Pet 1:3-4).

Lalu, apakah arti bertobat yang disuruh Yohanes?
Makna pertobatan dalam Perjanjian Lama tentu berbeda dengan makna pertobatan menurut Perjanjian Baru. Makna pertobatan yang diserukan oleh Yohanes adalah kembali kepada taurat dan beribadah kepada Yahwe. Sementara menurut Perjanjuan Baru makna pertobatan adalah percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat pribadi, dan selanjutnya belajar kebenaran Tuhan supaya memiliki kecerdasan dan kepekaan untuk mengerti kehendak Tuhan yaitu apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna.

Apa yang diajarkan di dalam PB sangatlah batiniah. Karena itu, dibutuhkan ketajaman untuk menangkap kebenaran batiniah menurut kebenaran yang Tuhan Yesus ajarkan. Kata pertobatan disebut dalam bahasa Yunani metanoia, yang berarti perubahan pikiran disertai dengan penyesalan dan perubahan perilaku.
Umumnya kaum kharismatik mengakui lahir baru dibuktikan dengan dibaptis?

Lahirbaru tidak bisa dibuktikan melalui tindakan pembabtisan.

Mengapa?
Sebab seseorang bisa saja dibabtis, tetapi tanpa kesadaran yang benar untuk dikuburkan dan hidup dalam hidup yang baru yaitu hidup bagi Tuhan. Dikuburkan disini bukan hanya rela meninggalkan moral yang salah. Tetapi seluruh filosofi hidupnya. Istilah kelahiran baru yang digunakan Tuhan Yesus sejajar dengan proses kelahiran manusia. Tidak mungkin Tuhan menggunakan istilah ini tanpa ada kesejajaran dengan proses kelahiran seorang manusia.

Fenomena pembuahan adalah sebuah misteri kehidupan. Maka demikian pula dengan fenomena kelahiran baru. Disini seseorang tidak dengan mudah mengklaim dirinya telah mengalami kelahiran baru, atau menilai sesamanya telah mengalami kelahiran baru. Kelahiran baru adalah sebuah proses dimana melalui perjalanan waktu, maka buah seseorang yang telah mengalami kelahiran baru akan nampak. Dalam Yohanes 1:13 menyatakan, bahwa “orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Dalam ayat ini Yohanes mengungkapkan, adanya fenomena adikodrati, sesuatu di luar kodrat umum, dan transcendental, sesuatu di luar akal pikiran, yang terjadi atas orang-orang yang menerima Yesus. Kata dilahirkan dalam teks ini sama dengan yang digunakan dalam Yoh 3:3 & 5 yaitu genao. Ini bukan suatu kejadian yang terjadi dalam sekejab atau instant tetapi proses panjang.

Bicara teologi Kristen paling tidak ada dua mahzab pemikiran tentang teologia pertobatan; Jhon Calvin dan Armenius yang sampai saat ini sepertinya tak ada titik temunya…

Apa yang dipahami oleh Calvin maupun Armenius sampai kapanpun tidak akan bisa dijembatani atau dipertemukan. Karena pengajaran mereka berangkat dari landasan berpikir atau bingkai yang berbeda.

Apakah cukup seseorang yang bertobat hanya merasakan kesedihan atau penyesalan. Misalnya menangisi dosanya? Penyesalan dan kesedihan seseorang terhadap dosa-dosa yang telah dilakukannya belumlah mewakili pertobatan yang sejati dari seseorang. Sebab sebuah pertobatan yang sejati harus disertai dengan komitmen untuk mengarahkan seluruh fokus dan tujuan hidupnya kepada kerajaan-Nya.

Pertobatan yang sejati harus sampai kepada pemulihan hidup dan pembaharuan hidup. Perhatikan pertobatan Petrus dan Yudas. Keduanya sama-sama menyesal, tetapi penyesalan Yudas tidak “finishing well.” Penyesalan yang atas sesuatu yang disadari sebagai sebuah kesalahan belum tentu membawa seseorang kepada pertobatan yang sejati.

Anda juga kerap mendengungkan seorang yang sudah lahir baru, mesti mengalami metamorfosis. Bukankah manusia dari sejak lahir sampai tua hingga hayatnya mengalami beberapa fase, metamorfosis?

Proses metamorfosis bukanlah sebuah perubahan fisik, tetapi perubahan gaya hidup yaitu gaya hidup mengikut jejak Tuhan Yesus.


Jadi, proses metamorfosis bukan merupakan perubahan bentuk fisik?

Kelahiran baru adalah sebuah proses dalam diri orang percaya yang berjuang untuk mengenakan gaya hidup Yesus secara permanen sampai satu titik, dimana orang percaya tersebut mencapai suatu titik tidak balik; yaitu suatu keadaan dimana seseorang tidak mungkin bisa murtad atau berbuat dosa lagi. Sempurna seperti Bapa (Mat 5:48). Bukanlah sempurna dalam hakekat tetapi memiliki karakter Yesus. Tuhan Yesus sudah menebus dan memakukan dosa-dosa kita di kayu salib, sekarang bagian kita menyalibkan karakter dosa kita.

Kalau demikian, bisakah diketahui kapan seseorang mengalami lahir baru. Karena kenyataan banyak juga yang mengaku lahir baru tetapi hatinya belum baru. Bukankah menjadi spekulatif kata lahir baru. Merasa lahir baru sudah sempurna, bukankah ini terkesan angkuh, kesombongan rohani?

Seseorang yang benar-benar mengakui Yesus Tuhan akan nampak melalui buah-buah kehidupannya yaitu karakter dosa yang terus terkikis habis.

Apa saja tanda-tanda seseorang lahir baru? Dan, bagimana kalau seorang mengaku sudah lahir baru, tetapi lakon hidupnya tak menunjukkan seorang yang sudah lahir baru?

Karena lahir baru bukan seketika melainkan proses. Maka, seseorang yang telah mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan tidak secara otomatis telah lahir baru.

Bagaimana seseorang yang benar-benar percaya, mengakui Yesus Tuhan Kristus dalam hidupnya?

Tanpa pengorbanan Kristus, maka sebaik apapun seseorang akan binasa. Tetapi, oleh karena salib maka penghakiman bisa digelar. Setiap orang akan dihakimi menurut perbuatannya. Bagi orang yang telah percaya Tuhan Yesus diberikan target untuk sempurna seperti Bapa, sedang (memiliki karakter Bapa). Dan bagi yang belum mendengar Injil atau Injil yang salah akan dihakimi menurut perbuatan kasihnya kepada sesam sesama (Mat 35:41-46).

Please follow and like us:
0

Leave a Comment