Pdt. Dr. Marihot H Siringoringo, S.H., S.E, M.M

suaratapian.com JAKARTA Talenta atau potensi diri seseorang bukan dari genetika, sudah tentu kembali diawali dari kemampuan personal untuk menemukan potensi dirinya. Telah banyak penelitian menyebut, bahwa talenta berkembang oleh adanya kemauan dan kerja keras dari diri sendiri. Ada pendapat menyebut talenta identik dengan bakat, passion, minat. Bukan! “Bagi saya sesungguhnya asal ada kemauan dan kerja keras untuk mencapainya pasti bisa.

Sebab memang Tuhan memberikan manusia potensi diri dan mengembangkan sendiri. Asal dirinya mau mengembangkan,” ujar Pdt Dr Marihot H Siringoringo SH SE MM. Minatnya tertuju pada banyak hal. Paling tidak dia aktif mengerjakan bejibun profesi; pengusaha, pengacara dan pendeta. Selain itu, di sela-sela waktu yang ada dia masih bisa memberi waktu mengajar,  sebagai dosen, aktif di berbagai organisasi dan mengelola media.

Hasratnya untuk membantu banyak orang membawanya mendalami berbagai keahlian dan mengarungi berbagai jenjang stara akademik. Itu sebab, baginya, jika sudah pandai dalam suatu talenta, ada baiknya mencari peluang lain, mengembangkan talenta lain dan mengasahnya agar lebih baik lagi. “Semakin banyak talenta yang kita miliki semakin baik,” demikian kata pria kelahiran Samosir, 12 Juli 1961.

Selulus dari Akademi Maritim Indonesia Medan tahun 1981, beralamat di Jalan Pertempuran, Pulo Brayan, Kota Medan, dia mengadu nasib ke Jakarta. Saat itu dirinya baru menikah dengan (alm) Herli boru Ambarita. Di masa itu oleh karena fulus tak ada, dia ke Jakarta sendiri dengan menumpang truk. Bahkan, sampai lima kali naik-turun truck, karena tak punya uang.

Mobil yang ditumpanginya terakhir berhenti di terminal Kalideres. Apa boleh dikata hidupnya sempat luntang-lantung di sana. Sebab tak ada orang yang dikenal, apalagi keluarga yang dijumpainya untuk menumpang sementara. Namun beruntung dirinya berjumpa dengan seorang Batak. Berkenalan dengan siasat sendiri.

“Waktu itu saya luntang-lantung. Tak ada orang yang saya kenal di Jakarta. Agar bisa kenalan, siasat saya kalau raut mukanya orang Batak saya pura-pura kenal dan berkata. Masih kenal nggak lae? Lalu dijawab. Oh iya. Kenal.” Yang menjawab lelaki Batak, marga Marbun Lumban Gaol.

 Akhirnya mereka berbincang sesaat. Padahal si Marbun ini juga sepertinya tak kenal. Cuma tak enak hati menyebut tak kenal. Dia menanyakan hendak ke mana? Jawaban si Marbun ini mau ke Utan Kayu di mana dirinya tinggal. Lalu dia spontan bertanya, ”Kalau daerah Rawamangun dekat nggak dari Utan Kayu?” Dia katakan, dirinya hendak menuju ke sana sebab saudaranya ada di Rawamangun. Pendek cerita akhirnya dia ikut sampai ke Utan Kayu, ke rumah si Marbun. Sesampainya di rumah si Marbun, dia pura-pura mengatakan hendak mau ke Rawamangun untuk mencari saudaranya, itu.

Kira-kira satu jam mutar-mutar naik angkot, dia kembali lagi ke rumah si Marbun dan berkata, saudaranya yang di Rawamangun itu sudah pindah, dan yang menempati rumahnya sekarang sudah orang Jawa. Marga si Marbun itu tentu memberi tumpangan kepadanya. Waktu itu dirinya mendapat kabar ada marga Siringoringo di daerah Tanjung Priok, seorang penyanyi. Sejak berjumpa dengan semarganya itu dia pamit baik-baik dengan si Marbun dan tinggal di daerah Tanjung Priok.

Di terminal Tanjung Priok dia bertemu dengan marga Sianturi yang membawanya bekerja di pelabuhan. Saat itu dirinya sempat mengamen. Ritme yang dilaluinya, sambil bekerja sambil mengamen. Tak ingin terus hidup demikian, tahun 1986 dia melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta. Dulu berlokasi di Gunung Sahari, sekarang berada di Marunda Makmur Cilincing, Jakarta Utara. Di sana kuliah untuk penyesuaian ijazah negeri, sebab dulu di Brayan sekolah swasta.

Selulus dari sana, sebenarnya dia lulus masuk ke angkatan laut dan akan diberangkatkan ke Timor Timur. Tetapi sempat dia tolak. Mengapa dia tolak? Pikirannya, istrinya masih tinggal di Medan, karenanya menjadi tentara diurungkannya. Namun jiwa wirausahanya muncul sambil berkerja sambil jual roti ke pelabuhan Tanjung Priok, sembari terus dia membangun relasi dengan orang-orang di pelabuhan. Tak jarang dia memberi gratis roti jualannya untuk mendekatkan diri dengan mereka. Dari sana dagangan rotinya makin laku karena sudah banyak orang dalam dia kenal, maka informasi tentang lowongan juga mudah didapatnya.

Akhirnya kesempatan itu kemudian tiba. Saat itu perusahan Pelni membuka lowongan pekerjaan bagi para lulusan Akademi Pelayaran. Oleh karena itu dirinya lulusan dari pelayaran sudah pasti tepat di hatinya. Saat ditest, ternyata dia salah satunya yang lulus test terbaik. Saat hasil test diumumkan nilainya terbaik, maka diberi keistimewaan memilih berkerja di laut atau di darat. “Saat hasil test diumumkan, nilai saya yang terbaik. Ada keistimewaan bagi yang lulus dengan nilai terbaik bisa memilih berkerja di laut atau di darat,” ujarnya.

Begitu instruktur berkata demikian, dia memohon waktu jedah sebentar untuk berpikir sebelum menjawab memilih di mana. Karena itu, dia mencari orang di sekitar lokasi yang bekerja di pelabuhan itu dan bertanya perihal, pilihannya lebih baiknya bekerja di laut atau di darat. Jawaban yang diterimanya lebih baik bekerja di laut. Mengapa dia harus tanya? Hal itu dilakukannya agar tahu mana yang lebih banyak uangnya; di laut atau di darat. Dia kita tak etis menanyakan pengujinya. Maka siasatnya bertanya di lingkungan perusahaan. Setelah mendapat jawaban cepat-cepat dia bertemu dengan penguji perihal jawabannya, dan dia menjawab bahwa dia bersedia ditempatkan di laut.

Oleh karena sudah memilih, maka cepat-cepat dia disuruh mengukur seragam, baju dinas untuk bekerja di laut. Tiga hari kemudian pakaian dinas selesai dan langsung diberangkatkan bekerja di kapal laut. Kebetulan kapalnya menuju Pelabuhan Belawan, Medan. Sudah tentu kesempatan itu dimanfaatkan, saat kapalnya bersandar di Pelabuhan Belawan dia kemudian menjumpai istrinya yang sudah bertahun ditinggalnya untuk mengadu nasib di Jakarta. Dia sudah berhasil mendapatkan pekerjaan bagus sesuai latar bidang pendidikannya.

Sesampainya di depan rumah, bukan disambut istrinya dengan rindu, malah dimarahi karena dianggap sok memakai seragam Pelni. Istrinya tak percaya suaminya bekerja di Pelni. “Dinas siapa kau pakai itu. Jangan malu-maluin,” ujar istrinya. Oleh karena itu, dia pergi lagi ke kantor Pelni dan dia minta diantar sopir dari Pelni dan meminta tolong menjelaskan kepada istrinya perihal bahwa benar suaminya bekerja di Pelni.

Namun setelah dijelaskan, istrinya pun terharu dan menangis selain sudah rindu suaminya bertahun ditinggal, istrinya bangga suaminya pulang sudah berhasil berkerja di perusahaan negara. Beberapa waktu kemudian, setelah pulang ke Jakarta, dia kemudian menyuruh istrinya untuk datang ke Jakarta. Tak berapa waktu lagi istrinya menyusul dengan naik KM Kambuna. Dia sendiri menjemput di pelabuhan Tanjung Priok.

Sudah bersama istri, dia fokus berkarier di Pelni. Suka duka dilaluinya bersama istrinya. Tetapi jalan Tuhan dengan jalan manusia berbeda, dalam perjalanan mengarungi rumah tangga istrinya dipanggil Tuhan dihapanNya. Tak mau terus bersedih dalam keadaan demikian, dia kemudian menikah dengan istrinya Meida Siregar SH. Dari istrinya pertama Tuhan anugerahkan empat anak, dan dari istrinya kedua Tuhan anugerah dua anak lagi.

Kembali ke jalan kariernya. Setelah delapan tahun bekerja di laut dia tak ingin tua di laut. Maka dia mengajukan diri untuk bekerja di darat. Selain karena alasannya uang sudah lumayan dan tak mau hidup sampai tua di laut, kemudian dia ditempatkan di Pelni Pusat di daerah Gajah Mada. Tak berapa lama dia disuruh mengikuti sertifikasi KNPN untuk menempati jabatan wakil kepala urusan muatan. Dua tahun jabatan itu disandangnya. Kariernya terus menaik lagi dan dipindah menjadi kepala FKL.

Empat tahun menjabat jabatan itu kemudian dinaikkan menjadi kepada urusan muatan. Sebenarnya masih ada jabatan di atasnya, direktur, tetapi tawaran itu harus berganti agama. Baginya agama itu adalah prinsip tak boleh diganti-ganti. Dirinya kokoh tak mau menggadekan imannya oleh karena hanya jabatan direktur. Maka jabatan itu ditolak. Sudah tentu oleh karena penolakan itu berdampak pada kariernya.

Lag-lagi tangan Tuhan tetap membimbingnya untuk terus menaik. Dia menjadi direktur di perusahaannya sendiri. Tak mau pasif, dia terus kreatif mencari peruntungan lain. Tahun 2006, sembari bekerja dia mulai lebih memberi waktu memulai usaha sendiri. Di tengah-tengah waktu yang luang berkerja dia mengembangkan usaha, sedangkan andalannya untuk usaha ini dia mempercayakan kepada keluarga.

Sementara untuk menaungi legalitas usahanya, dia kemudiaan mendirian PT Gambiri Raya di bidang ekpedisi, PT Sipinggan bergerak di bidang pengangkutan. PT Mula Huta bidang penjualan tiket. Mengapa sekaligus tiga perusahaan, oleh karena masing-masing berbeda bidang dan akan lebih mudah mengajukan pinjaman ke bank. Dia mendapat nasihat dari staf bank, katanya, untuk bisa meminjam besar harus berbeda-beda bidang usaha.

Baginya, mendirikan perusahaan itu otomatis dirinya menjadi direktur seumur hidup, sebagai pendiri dan pengelola. Sebab dia punya jabatan di Pelni, dan kesempatan itu juga dimanfaatkan dengan PT Gambiri Raya menjadi pensuplai roti ke kapal-kapal penumpang Pelni. Oleh karena usaha roti ini berkembang dia juga menjadi memproduksi roti dengan mendirikan PT Tuan Ringo, pabriknya di daerah Bekasi. Menyediakan roti di kapal Pelni dia mengelola dari hulu hingga hilirnya. Dia yang jual dan dia yang produksi. Nyatanya dia tetap masih kekurangan roti untuk disuplai ke seluruh kapal-kapal Pelni.

Caranya dia siasati dengan membeli roti dari Medan naik pesawat. Namun oleh Pelni bungkus rotinya juga diganti menjadi bungus logo Pelni. Memang peraturannya demikian, lewat koperasi Pelni semua barang yang masuk ke Pelni harus berlogo Pelni. Dan hasilnya dua puluh persen untuk Pelni. Sebenarnya keuntungannya di bisnis roti sungguh besar, berkali-kali lipat untung dari biaya produksi.

Misalnya, di darat roti dijual hanya lima ribu di kapal, dijual dua puluh ribu. Itu pun habis. Apalagi dulu penumpang kapal laut sungguh berjibun. Bukan seperti sekarang sudah banyak pesawat swasta. Apalagi di kapal itu makanan kurang enak dan membuat banyak orang mabuk di kapal. Orang yang tak bisa makan akan membeli roti. Sesungguhnya ide menjadi pesuplai roti di kapal karena pengamatannya bertahun-tahun, bahwa orang kesulitan untuk makan di kapal.

Berlahan usahanya maju. Dia kemudian merambah usahanya ke bidang perhotelan dengan mendirikan Hotel MH Sipinggan dan merambah bisnis angkutan,  truk kontainer dibawah naungan PT MSK Logistik. Namun itulah usaha jika tak dipimpin langsung sendiri. Satu waktu dia menemukan pembukuan perusahaannya kacau. Selidik punya selidik ada banyak ketidakjujuran dari pengelola yang dipercayakan.

Oleh karena itu, agar lebih fokus dalam usaha tersebut, dirinya mengambil ahli kepemimpinan seluruh usaha dan pensiun dini dari Pelni. Dampaknya sudah tentu makin berdampak pada kemajuan usahanya. Makin dalam mengelola usaha, makin banyak juga hal-hal yang dihadapinya terkait dengan hukum. Termasuk ada oknum-oknum aparat yang ingin memeras dan berbagai rupa-rupa di dunia usaha.

Oleh karena dia tak ada kemampuan hukum, kadang kala dia dicurangi dan selalu pihak yang dirugikan. Maka tak mau terus demikian, dia terjun sendiri mempelajari hukum. Kuliah lagi di fakultas hukum, sekolah hukum di Universitas Azzahra. Kampus ini sebenarnya sekolah yang berbasis Islam, tetapi alasannya sekolah di sana ingin belajar hukum Islam. Sebab kampus ini menjunjung tinggi program kuliah berkualitas dalam bentuk pendidikan yang setara untuk kompetisi global.

Dia mengibaratkan seperti mas, kalau diletakkan di mana pun pasti esensinya tak hilang. Ilmu itu seperti emas. Imitasi kalau dipajang pun ditempat terbaik tetap saja karatan. Tetapi emas walau berada diselokan tetap akan mengkilap. Prinsip itulah yang diamininya. “Itu filosofi hidup saya. Saya sadar manusia ciptaan Tuhan yang paling mulia. Kemana saya pergi selalu berserah pada Tuhan,” ujarnya.

Tentu dia kuliah hukum bukan karena maruk, sesungguhnya untuk memahami bahwa berbisnis mau tak mau beririsan dengan hukum. Tak berhenti hanya memahami hukum, ingin menjadi praktisi di bidang hukum, menjadi pengacara. Maka selulus kuliah hukum dia mengikuti kursus profesi advokat di Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta. Setelah kursus profesi advokat, magang dua tahun sebagaimana syarat mengikuti sertifikasi. Sudah tentu seluruh proses dilaluinya, tak langsung lulus, berkali-kali mengikuti ujian sertifikasi, sampai tiga kali ujian, baru kemudian lulus.

Pelayanan

Sejak awal menyadari bahwa hidup juga mesti melayani. Setiap kehadiran di lingkungannya selalu melayani. “Saya menyadari sebagai seorang Kristen perlu senantiasa melayani. Melayani Tuhan merupakan suatu kerinduan saya,” ujarnya. Karena itu, sejak awal di hatinya ingin terlibat melayani. Karena itu, dia aktif dalam pelayanan di berbagai kesempatan melayani. Termasuk berkontribusi melayani dalam banyak pembangunan gedung gereja.

Paling tidak dia tercatat ikut berkontribusi membangun, kalau tak disebut mendirikan gereja diantaranya; berkontribusi membangun gereja HKBP Duren Jaya, Bekasi, tahun 2000. Ikut mendirikan gereja HKBP di Perumnas III Bekasi, sebab dia tinggal di komplek Pelni mulai tahun 1991 sampai tahun 2000. Tahun 2000, lalu pindah di Villa Permata Gading, Kelapa Gading dan menjadi jemaat di HKBP Immanuel Kelapa Gading. Dia juga tercatat membantu pendanaan pembangunan HKBP di Tanah Merah, Jakarta Utara dan di HKBP Kayu Mas, Polo Gadung dan termasuk kontribusinya di HKBP Semper.

Tak hanya itu, oleh karena kerinduan aktif melayani dirinya juga mengambil kuliah Doktor Teologi (S3) dari STT Sunsugos, Jakarta. Karena dirinya ingin lebih dalam terjun di bidang pelayanan. Maka atas hal itu dia memberanikan diri untuk menyampaikan niat mulia ini kepada pucuk pimpinan HKBP, ephorus. Di satu waktu ketika ephorus datang ke HKBP Semper, Jakarta Utara, dirinya meminta waktu pada ephorus untuk menyampaikan niatnya ini, ingin ikut melayani, diberi ruang melayankan firman, sebab dirinya sudah lulus dari sekolah teologia.

Tetapi, pimpinan HKBP mengatakan, “Tak bisa.” Tak bisa di satu sinode, bukan berarti tak bisa di sinode lain. Jawaban itu tak membuat dirinya mengurungkan niat melayani. Kerinduan mulia untuk tetap membara, semangatnya melayani tetap berkobar. Dia memilih jalan lain pindah dari HKBP dan bergabung dengan Gereja Sahabat Indonesia (GSI) anggota PGI, dan mendirikan Jemaat GOKI Jalan Enggano No 98, Hotel MH Sipinggan, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Niat sebenarnya sederhana, bagaimana menjangkau orang yang terpinggirkan. Termasuk orang yang datang ke gereja tak menjadi beban oleh aturan kaku dalam berpakaian. Oleh karena itu, sebagai bagian dari komitmennya untuk melayani Tuhan, sejak tahun 2013 dia sengaja menyediakan ruang kebaktian di Hotel MH Sipinggan sebagai tempat beribadah. Lima tahun hal itu berjalan. GSI Jemaat GOKI rutin menggelar ibadah di tempat tersebut. Meski sebagai pendiri gereja GSI Jemaat Gereja Oikumene Kristen Indonesia (GOKI) asalnya dia tak langsung menjadi pendeta. Sebagaimana peraturan dari sinode dia mesti melewati berapa tahun sebagai penatua.

Meskin pendiri gereja tak ujuk-ujuk ditahbiskan menjadi pendeta. Setelah melewati berbagai proses dari sinode, termasuk beberapa tahun menjadi penatua, maka 2018 dirinya ditahbiskan menjadi pendeta sekaligus menjadi gembala sidang. “Saya ingin memajukan GSI baik secara kualitas maupun kuantitas. Sehingga tak hanya disenangi oleh jemaatnya, tapi juga memberikan dampak positif bagi orang di sekitarnya,” ujarnya. Baginya, kita diciptakan untuk memuliakan Tuhan dan menikmati Tuhan selamanya. Kita dipanggil untuk mengasihi Tuhan.

Kita lahir di dunia ini untuk melayani Tuhan. Itu tujuan hidup kita yang paling utama. Itu yang Tuhan inginkan dari kita anak-anakNya. Setelah peneguhan dan pengurapan itu menandakan bahwa dia sudah resmi menjadi pendeta, karena itu dia tak mau setengah hati melayani. Dia menambahkan, hal yang paling indah di dunia ini adalah kalau kita bisa mengalami kasih Tuhan, terpanggil untuk mengasihi Tuhan, menikmati Tuhan dan melayani Tuhan. Setiap hari menjadi indah dan mulia saat kita melayaniNya. Maka sangat penting kita melayani Tuhan.

Maka jadilah dia mengelola usaha, menangani klien dan melayani jemaat di jemaat. Tentu, dia punya kiat sendiri, bila mesti mengerjakan dan segala tugas itu, dia mesti tahu semua detail, mesti turun langsung sembari membangun tim. Bukan hanya tugas pelayanan. Dia juga menjadi di organisasi non profit, bidang sosial, termasuk menjadi Ketua Umum Punguan Siringoringo Se-Jabodetabek. Baginya, kalau diberi karunia, anugerah keselamatan dari Tuhan, mesti dibagaikan dan melayani, memuliakanNya.

Sebab memang semua orang Kristen dipanggil untuk melayani Tuhan dan gerejaNya untuk membangun tubuh Kristus. Tentu semuanya terpulang kepada pribadi meresponinya dengan mengembangkan talenta yang dipunya. Sebab memang setiap orang diberikan Tuhan talenta. Dari Tuhan  kita diminta untuk kembangkan dan gunakan untuk melayani Tuhan. Disinilah menurutnya setiap kita perlu memeriksa diri kita masing-masing menemukan talenta masing-masing. Dan menggunakan kreativitas kita untuk melayani Tuhan dengan kreativ.

“Kreativitas itu berasal dari Tuhan. Kita harus mengetahui kemampuan dan batas-batas kapasitas kita, lalu menyediakan waktu, perhatian dan dana kita untuk mengelola pelayanan kita, khususnya untuk melayani orang lain, termasuk keluarga kita.” Baginya, melayani Tuhan mesti dimulai dari keluarga. “Kita melayani Tuhan melalui keluarga. Melayani Tuhan harus kita mulai dari melayani keluarga kita. Sediakan waktu untuk bersekutu, berdoa dan menyembah Tuhan. Sebelum melangkah ke luar rumah, sediakan waktu untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas hari yang baru,” ujarnya, ketika ditanya tentang berhubungan erat dengan Pencipta, cara melayani orang lain atau sesama.

Manajemen psikologi

Bagaimana fokus untuk mengerjakan semua. “Tentu yang saya lakukan bukan rakus mengerjakan semua. Saya menjadi pengusaha, pengacara dan hamba Tuhan, mengerjakan semua bidang itu dengan sungguh-sungguh. Saya kira tak ada profesi yang saya tinggalkan. Tiap-tiap hari pekerjaan ini saya kerjakaan dengan sungguh-sungguh. Sudah tentu harus cakap mengelola waktu,” ujarnya lagi.

Tentu, jatuh-bagun, gagal selalu saja ada, tetapi ketika hal itu datang tak membuatnya menjadi pusing. Baginya bahwa setiap waktu memohon bimbingannya. Salah satu doanya adalah selalu memohon pimpinan Tuhan agar menemukan orang-orang yang seia-sekata dan seirama dengannya dalam mengembangkan usaha, kantor pengacara dan gereja.

Karenanya, bagi dia sebagai seorang pendiri dan pemimpin mesti mensikronisasikan semuanya dengan baik. Termasuk manajemen psikologi, dia pelajari bagaimana agar seluruh usaha, kantor dan gereja bisa maju. Karenanya, jika saat profesi yang disandangnya, seberat apa pun masalah yang datang, dia enjoy saja menghadapi. Dia selalu punya metode,  manajemen organisasi; planning, organizing, actuating, controlling dan action.

Baginya, perencanaan pemilihan atau penetapan tujuan organisasi dan penentuan strategi, kebijaksanaan usaha dalam mencapai tujuan. Menurutnya, dalam usaha perencanaan sangat perlu. Perencanaan dibuat untuk memberi jawaban. Sebagaimana fungsi seorang manajer yang berhubungan fokus dalam menggapai tujuan-tujuannya. Namun tatkala penting menurutnya adalah action. Misalnya, satu waktu dia menyuruh anak buahnya menangani barang di Tanjung Priok.

Lalu, dia menelepon anak buahnya yang mengurusi hal itu. Saat ditelepon sang anak buah menjawab sudah berada di Tanjung Priok. Tetapi, sebentar lagi sopir yang mengantar barang sudah tiba di Tanjung Priok. Anak buah yang mengurusi bongkar muat itu teryata tak ada di tempat. Feelingnya jalan, langsung menghampiri ke kawasan Kramat Tunggak, dulu tempat dunia malam, sebelum ditutup dan diganti menjadi Islamic Center oleh gubernur saat itu, Sutioso.

Ternyata, anak buahnya sedang bersenang-senang di Kramat Tunggak. Sesungguhnya dia kesana hanya ingin memastikannya, bahwa anak buahnya berbohong. Dia tak menjumpai apalagi marah saat itu. Dan dia sendiri mengambil alih tugas itu, dan menyelesaikan sendiri urusan bongkar muat barang. Baru di lain waktu dia peringati anak buahnya. Artinya, sebagai pemimpin harus bisa menyelesaikan setiap keadaan apa pun melebihi tugas yang dikerjakan anak buah, termasuk menganti tugas anak buah.

Sebenarnya, bukan hanya tiga profesi itu dijalankan. Termasuk menjadi dosen, dan juga aktif mengelola media. Baginya, semasa Tuhan masih memberi nafas, hidup ini jangan disia-siakan tetapi dimaksimalkan. “Hidup ini adalah kesempatan, kalau memang talenta itu diberikan Tuhan mesti dijalankan dan dikembangkan. Kalau Tuhan memberi lima talenta bukan didiamkan tetapi dikembangkan untuk makin berbuah lebat lagi, dan talenta itu makin bertambah,” tambah ompung satu cucu ini. (Hojot Marluga)

Please follow and like us:
0

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.