Peluncuran Buku “Penyembahan-Persembahan” 40 Tahun Pelayanan Patut Sipahutar

Suaratapian.com JAKARTA-Esensi terpenting dalam agama adalah penyembahan dan persembahan, berkaitan erat dengan spiritualitas. Spiritualitas intinya kejujuran, meliputi aspek-aspek kepercayaan atau keyakinan berarti mempercayai, mempunyai komitmen terhadap sesuatu. Spiritualitas adalah jembatan memahami Tuhan. Tentu tergantung dengan kepercayaan yang dianut setiap individu, personal.

“Tentu yang hilang dari kehidupan kita akhir-akhir ini adalah nilai-nilai spiritualitas. Sebab tak ada lagi yang menjembatan nilai-nilai spiritualitas,” ujar Pendeta Patut Sipahutar saat memberi pemaparan pada peluncuran bukunya yang bertajuk Hidup dalam Komunitas Penyembahan Persembahan. Bertempat di gedung Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI), Resort Rawamangun, Jalan Belanak VI No.28-B Rawamangun, Jakarta Timur, pada Minggu, (25/11). Buku yang merukan bunga rampai gagasan puluhan pemikiran para teolog dan pemuka agama lintas iman. Diterbitkan dalam rangka 40 Tahun Pdt. Patut Sipahutar, M.Th melayani di GKPI.

Pendeta kelahiran Padang Sidempuan, 29 Oktober 1953 ini dalam pengantar di perluncuran bukunya, mengajak yang hadir untuk menggumuli bejibun pertanyaan tentang kehidupan spiritualitas. “Apakah yang kurang bagi manusia Indonesia saat ini? Apakah sekedar fisik? Intelektualitas? Apakah kita kurang orang-orang pintar di negeri ini? Bukankah kita bangsa religi? Tetapi, apa yang kurang sebenarnya? Yang kurang nilai, esensi, spritualitas. Spiritualitas justru ada untuk merelasikan segala sesuatu yang hidup dalam lingkungan yang menyatu,” jelas mantan Bishop GKPI (2010-2015).

Lagi-lagi Pdt Patut Sipahutar menjelaskan, penyembahan erat kaitannya dengan menjalankan agama, masing-masing secara setia dan benar. “Semua agama mengajarkan kebaikan. Hal itu juga yang harus terus kita tularkan kepada bangsa ini,” ujar lulusan cumlaude dari STT Jakarta, ini. Dalam perhelatan peluncuran buku, hadir juga dua narasumber yang telah malang-melintang dalam diskusi lintas iman diantaranya; hadir Ulil Abshar Abdalla dan Pdt. Dr. Martin L. Sinaga.

Dalam pemaparannya, Ulil Abshar Abdalla menyebut, bahwa persembahan yang benar adalah ketaqwaan pribadi dan hubungan sosial yang sehat. “Nilai spiritualitas seseorang berpulang pada sikap hidupnya, bagaimana seseorang menjalankan ibadahnya serta memperlakukan orang lain sebagai sesama umat Tuhan,” jelas tokoh Jaringan Islam Liberal tersebut.

Dia menambahkan, dalam Islam dikatakan bahwa persembahan dalam bentuk penyembelihan hewan tak membuat seseorang masuk surga. “Penyembahan adalah ritual agama Yahudi. Tentu bicara persembahan korban, Yahudi mirip dengan ritual Islam, korban,” tambahnya. Sementara itu, Pdt. Dr. Martin L. Sinaga memberikan masukan yang agak berbeda, pandangan dalam penyebutan penyembahan persembahan. Menurutnya dalam Alkitab menyebut bersekutu dengan Tuhan.

Ketua penerbitan buku, Haposan Hutagalung dalam kata pengantarnya dalam buku tebal, 576 halaman tersebut mengatakan, sebagai panitia dia mengucapkan terimakasih kepada banyak pihak yang bersumbangsih atas terbitnya buku itu. “Saya kira banyak hal lagi yang perlu kita apresiasi pada masa kepemimpinan Pdt Patut Sipahutar. Karena itu, dalam memperingati 40 tahun pelayanannya, sekaligus memasuki masa emeritus sebagai pendeta GKPI,” ujar pengacara kesohor itu.

Haposan menambahkan, buku ini memberi pemahaman bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita harus menjalankan dalam konteks penyembahan dan persembahan. “Agama harus berkontribusi dalam memberikan kebaikan kepada semua orang, bukan sebaliknya membuat suasana menjadi tak kondusif lantaran mempertentangkan keimanan,” jelasnya. Sementara penyunting buku ini, Pdt Irvan Hutasoit yang juga pendeta Resort GKPI Rawamangun, menyebutkan diharapkan buku ini bisa memberi pencerahan pada khalayak muda. (Hojot Marluga)

Please follow and like us:
0

Leave a Comment