Pribadi yang Matang

suaratapian.com-Di kehidupan ini, sudah pasti kita tak mungkin lepas dari interaksi dengan sesama. Namun saat bersinggungan, sebaik-baiknya kita mestinya bijak menjalani perjumpaan tersebut. Kita tak tahu pasti mengapa orang lain tak suka dengan kita. Bisa saja oleh karena cara pandang. Bagi kita tak masalah, tetapi bagi orang lain itu masalah. Soal cara berpikir dan bertindak setiap orang berbeda-beda. Tetapi bukan berarti kita menihilkan perjumpaan dengan orang lain. Kita tetap membutuhkan interasi sosial itu. Sebagaimana Amsal mengatakan, besi menancapkan besi, manusia menancapkan sesamanya. Pastinya kita berhadapan dengan orang lain, interaksi di mana pun. Tetapi, kita tak mungkin bisa membuat semua orang senang dengan interaksi kita. Memang ada saja yang kerap bersikap kelewat batas, mereka tega menyakiti, mempermalukan sesamanya.

Tentu, hal-hal seperti itu sangat sulit diterima, yang jelas hubungan antarmanusia kerap membutuhkan usaha untuk merawatnya. Menjaga hubungan dibuktikan dengan kesetiaan. Apa yang sebenarnya kita rasakan, tetapi kita tak melakukannya karena takut orang lain salah paham dan takut kita dianggap egois. Lagi, tak mungkin kita bisa membuat semua orang senang dengan kita. Karenanya, tak perlu sibuk untuk membuat semua orang senang kepada kita oleh karena tak mungkin itu terjadi.

Apapun yang orang pikirkan dan rasakan tentang kita, tentulah menjadi hak setiap orang membuat penilaian, dan, itu bukan masalah sesungguhnya. Ada benarnya ungkapan yang mengatakan, kita tak bisa larang burung lewat di atas kepala kita, tetapi kita bisa menghindari burung mengotori kepala kita.

Sama saja dengan rasa benci. Kita tak mungkin melarang orang lain untuk tak suka dengan kita, yang bisa kita lakukan menghalangi pikiran negatif menimpa kita atas kebencian orang lain. Entah mengapa memang, ada saja orang tak suka kepada kita. Faktanya demikian. Yang kita lakukan baik, sudah pasti ada saja orang, kelompok yang tak suka dengan apa yang kita kerjakan. Apalagi melakukan yang tak baik.

Yang jelas ada type orang tak suka melihat orang senang. Selalu saja ada rasa iri, dengki. Sifat seperti ini ada pada setiap orang, dan itu bagian dari ego yang tak mudah dikelola. Akan tetapi jikalau kepribadian seseorang terbilang matang, egonya bisa dikendalikan, dia tetap berkarya, kerja produktif. Kiatnya sebenarnya asal kita tak ada niat menyakiti hati siapapun, jika orang lain tak suka dengan kita itu urusan mereka. Namun bila ada orang tak suka dengan kita, kita hanya bisa belajar bahwa dalam hidup ini kita tak mungkin membuat hati semua orang suka dengan kita.

Disinilah perlu kematangan kepribadian itu. Kepribadian yang matang jelas label positif. Banyak orang tak pernah berpikir menjadi matang. Padahal, kepribadian matang merupakan ukuran perkembangan kepribadian yang sehat. Kepribadian yang matang diartikan secara berbeda-beda oleh banyak orang.

Jelas, ciri yang menandakan bahwa seseorang matang secara emosional, merupakan suatu keadaan atau kondisi dimana seseorang telah mencapai tingkat kematangan berpikir. Tak mudah putus ada. Tak mudah tersinggung atas ketidaksukaan orang lain kepadanya. Di posisi ini akan kelihatannya luwes dalam berpikir, elastis dalam bertindak. Akhirnya, kepribadian yang matang yang akan mampu membawa rasa percaya diri dengan segala keadaan dan permasalahan yang dihadapinya, mampu dipikulnya. (Hojot Maluga)

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.