Kembali ke Hati Nurani

Oleh: Hojot Marluga

Nurani adalah polisi di batin kita yang mengawasi manusia tetap terjaga. Mawas akan kenyataan hidup. Namun sebelum membahasnya lebih dalam, mari menilik terlebih dulu sinonim dari kata nurani. Nurani adalah; batin, fuad, jantung hati, kalbu, lubuk hati, relung hati, sanubari, hati nurani. Kata itu juga sehaluan dengan pikiran, kesadaran, rasio, nalar. Puncaknya iman.

Alih-alih nurani, relung hati berfungsi mereparasi hidup manusia dari kerusakan, sedangkan ego menjauhkan fuadnya dari perubahan, dan memunculkan kebencian di batinnya. Kebencian hati menggelinding jadi perang. Memproklamirkan perang berarti ingin meniadakan yang lain, dan ingin hidup sendiri. Egoisme kata lainnya. Perang jelas-jelas mengganggu nurani.

Seorang penulis dan sejarahwan dunia Arnold Toynbee menulis dalam bukunya bertajuk A Study of History menyebut, bila orang mempersiapkan perang, sudah ada perang. Artinya, tanpa diumumkan pun sudah berkecamuk perang tiap-tiap hari di kehidupan. Itu sebabnya John Calvin mengibaratkan hati nurani sebagai sebuah zona perang.

Senada dengan itu, Joyce Meyer menyebut, bahwa pikiran adalah medan perang. Maka memenangkan perang dimulai dari pikiran untuk mengubah hidup. Dimulai dari nurani, diawali dari pikiran. Karena cara berpikir yang keliru, hidup dalam persungutan, hidup dalam kebencian yang mengakumulasi bertumpuknya masalah, mentalitas padang gurun. Hidup di lingkaran setan. Tak berubah, dan susah berubah.

Ayub menyebut, bahwa hati nuraninya tak menuduh dirinya. Apa artinya? Oleh karena nuraninya beres. Ini bukan kesombongan rohani. Ini bukan mengangung-agungkan diri, kebanggaan kosong; ini justru klaim keyakinan dari seorang yang benar. Jikalau kita ingin hati nuraninya menjadi tenang, sadar bahwa sumber kebenaran itu adalah keagungan yang paling mulia, dibuktikan menjadikanNya sebagai patron hidup. Teladan dan penuntun diri berjalan.

Hati nurani mengingatkan, sebagai polisi untuk menuntun ke jalan yang benar. Kita (manusia) tentu mengimani bahwa tak ada yang tersembunyi di hadapanNya. Alasan itu ada agama. Agama ada atas kesadaran bahwa di luar kekuasaannya ada kuasa yang lebih sempurna, yang tak terjangkau dengan rasio. Agama ada sebagai penjawab kemisterianNya. Sekarang, kembali kepada diri sendiri, apakah ada keraguan  tersebut?

Sederhananya, tak mungkin tata surya ini bisa begitu sempurna berjalan, seirama, berjalan dalam ritme, sesuai aturannya. Sudah pasti ada kuasa yang pasti ada kuasa yang tak terdeteksi oleh kemampuan pikiran manusia untuk menarasikannya. Bukan sekedar beragama. Itulah Dia. Maka seseorang yang sudah tersadarkan harus mampu menggelorakan hatinya.

Dan, cakap mengobarkan api antusiasmenya, dan sungguh-sungguh sedia membangun gairah di hadapanNya. Memungsikan kembali nurani untuk berkenan di hadapanNya. Sejujurnya selama ini kita bertopeng, menyembunyikan pikiran-pikiran tercela dari mata dunia, tetapi tidak dari amatanNya. Semuanya tersingkap. Sebab Dia lebih tahu akan diri kita daripada kita tahu akan diri kita sendiri.

Oleh karenanya, kita bergairah denganNya atas kerinduan untuk memperbaiki diri. DariNya kita merasakan, Dia memperbaiki pikiran serta perbuatan kita. Tatkala Dia melakukan, menolong kita dari tubir jurang keputusasaan, bahkan menebus dari kebinasaan abadi. Disinilah hati nurani berfungsi. Sebaliknya, jika nurani sudah tumpul, nurani, pikiran akan menolakNya. Ibarat hilang sinyal. Hidup jadi terasa hambar jika tak memiliki dunia dengan rupa-rupanya. Diri menjadi egomania, hanya memikirkan diri sendiri.

Dampaknya, orang yang tak menikmatiNya akan dinihilkanNya dari fungsi batin. Hati nuraninya. Karenanya, orang yang tak memiliki hati nurani, tak sensitif. Tak ada empati. Berlahan akan mengaburkannya sebagai polisi di sanubari. Hal ini pernah dikatakan Yeremia, bahwa mereka yang tak memiliki hati nurani, suara hatinya akan hilang. Jadi, pertanyaan yang hendak dijawab dari pernyataan itu adalah, bisakah hati nurani hilang? Tentu hilang disini berarti tumpul, tak berfungsi. Tak bisa lagi membedakan kebenaran dari kejahatan. Tak terganggu lagi melihat kecurangan, dosa dan segala macamnya itu.

Lalu, bagaimana kita bisa menemukan hati nurani yang jernih? Tentu, bukan karena telah mendengar dan membaca buku yang berbauh nurani. Bahkan bukan karena sudah membaca Kitab Suci ratusan kali. Percuma jika hanya menghapal, tak membuahkan dampak.

Jelas, firmanNya mengubah hidup, mengubah nurani, tetapi konkretnya bagaimana? Ketersadaran dan ketercerahan tindakan yang terpenting, kembali kepada kehendakNya. Kalau demikian, apa kehendakNya itu? Menjadikan diri dinikmatiNya dan membawa banyak orang dinikmatiNya. Dalam bahasa lain; melayaniNya. Melayani adalah membawa orang agar benar-benar menemukanNya, dan menyadari keterpanggilan bahwa dirinya dinikmatiNya.

Jika seseorang masih merasa malu, dan menyadari bahwa dirinya manusia yang berdosa, masih ada detakan jantung dari nuraninya. Jika terus diarahkan pada sumbu yang benar untuk pengenalan sumber Matahari Kebenaran itu, maka nuraninya berlahan akan pulih. Ibarat kehilangan sinyal hanphone, ada baiknya segera memeriksa SIM cardnya untuk menemukan sinyal yang hilang. Sinyal akan bagus kembali, terpulihkan, mudah terkoneksi dengan sumber di menara kebenaran.

Tentu, semuanya ada waktunya, dan manusia diberikan batas usia oleh waktu. Contoh lain, seperti komputer atau laptop yang kita gunakan hang. Ada masanya mesti diinstal ulang. Mengapa? Sebab komputer atau laptop yang tak instalasi ulang, kinerjanya akan semakin lambat, lelet. Mengapa hang? Tentu, banyak faktor, barangkali oleh karena CPU kepanasan, overheating. Atau karena kekurangan daya, memori penuh. Dan, bisa juga oleh karena adanya virus. Demikian juga hidup manusia, hang oleh berbagai-bagai persoalan hidup, dosa yang membelenggu, maka harus dilepaskan untuk dipulihkan.

Pelbagai contoh di atas tadi sudah digambarkan, bagaimana juga tokoh-tokoh di Kitab Suci, mereka mengenal diri dalam menemukanNya. Mereka melatih sendiri dengan hati nuraninya untuk makin peka pada sumber kebenaran, bersemayam dalam kekudusanNya. Nurani yang benar bukan berarti manusia yang sudah suci. Ada premis yang mengatakan, hati nurani yang jernih bukan berarti Anda sudah tiba. Sudah tiba kemana? Tiba di tempat suci, sorga.

Tentu, semua orang yang mau memperbaiki diri arahnya ke sana. Kitab Suci dengan tegas mengatakan, untuk bisa melihatNya nurani harus suci. Tak ada yang bisa melihat Allah jika tak suci hatinya. Manusia disiapkan untuk bisa serupa denganNya, untuk bisa berjumpa dan berhadap-hadapan rupa denganNya. Sebab manusia diciptakan segambar dengan diriNya, hanya jalannya, manusia mau diinstall ulang.

Itu sebab, seorang dengan hati nurani yang jernih tak boleh bermengah, apalagi jumawa jika sudah memahami hal ini. Sebab tugas selanjutnya orang yang sudah berjumpa dengan kebenaran mesti memiliki tugas, beban panggilan, tugas untuk mengajak orang yang belum mengenalNya diperkenalkan kepada kemulianNya. Sesungguhnya itu bukan tugas institusi buatan tangan manusia, atau organisasi persekutuan para imam.

Intinya tak peduli betapa besar kita mencoba untuk hidup sesuai dengan tujuanNya, memiliki jabatan prestisius sekalipun, kita tak akan mencapai kesempurnaan atau merasa lebih otoritatif dibanding orang lain. Hal itu tak bisa jika tak ada kerendahan hati, memahami diri, bahwa diri  memang tak layak, tetapi dilayakan untuk sampai kehadapanNya. Sekali lagi bukan karena penahbisan manusia, semua diberi kesempatan yang sama. Disinilah maksudnya tak boleh memegahkan diri.

Hanya dengan kesadaran ini, memiliki hati nurani yang memberikan damai sejahtera, batin pulih yang membawa diri lebih dekat kepadaNya. Karena itu, menyadari semuanya oleh anugerahNya, dan anugerah itu diresponi dengan membuat keputusan untuk membuktikan bahwa diri sudah menerima penebusanNya.

Paulus mengetahui bahwa iman dan hati nurani yang waspada berkaitan erat, maka Paulus memperingatkan anak rohaninya Timotius untuk tetap peka terhadap kehendakNya, mendengar suara hatinya. Jika dunia mempesonakan hati, sudah tentu itu bukti hati tak dapat menikmati kemulianNya. Berarti jikalau dunia memikat hati untuk tak patut kepadaNya, maka dengarkanlah suara hati Anda sendiri.

Masalahnya, apakah kita terusik, atau merasa bahwa hidup kita milik diri kita sendiri, dan kita teguk habis demi diri kita sendiri? Jika sifat manusiawi ini, kita masih memberontak atas panggilanNya masuk ke rumahNya, sekali lagi dengarkanlah hati nurani. Hati nurani bisa menolong  untuk mengikuti Dia: Matahari Kebenaran.

Berhutang

Sampai sejauh ini kita mengulik apa itu hati nurani, barangkali juga kita belum menemukan kedalamannya. Jelas, kedalaman lautan bisa diukur manusia, tetapi kedalaman hati nurani tak terukur. Ini semacam misteri. Disebut misteri karena kedalamannya tak terbatas, dan tak terukur oleh rasio atau pun nalar. Hati nurani sesungguhnya tempatNya bersemayam.

Nun jauh di kedalaman jiwa, roh, di dalam hati manusia itu ada rongga kosong, tempat Roh. Itulah hati nurani. Hanya Dia yang bisa bertahta di sana. Bisa disebut nurani semacam lembaga independen yang disiapkanNya dalam hidup manusia. Penggugat dan hakim yang jujur memvonis topeng-topeng lagak manusia. Disinilah tugas pribadi untuk membuka hatinya agar yang empuNya pemilik tahta itu bersemayam. Sudah tentu peran kita, jika kita memberi dan mempersiapkan tempat itu dengan membuka hati, Dia akan masuki di hati kita.

Manakala hati nurani siaga, diri mampu menyadari pelanggaran atau dosa-dosa yang diperbuat, sedia menyediakan waktu yang diberiNya bergumul. Diri merasa bersalah karena tersadar bahwa diri melakukan kesalahan. Mengenal diri berarti mengenal bahwa diri belum sempurna, bahwa ada yang lebih mulia yang belum sampai di tataran tersebut.

Itu sebabnya Paulus berkata, saya mengetahui yang baik, tetapi yang tak baik saya lakukan. Memang nyatanya untuk pemulihan itu dibutuhkan hari demi hari, pergumulan yang terus-menerus, sepanjang hayat. Tak mudah dan butuh waktu yang panjang. Kontraknya masih semasa hidup. Selagi hidup. Sekali lagi, disinilah pentingnya mengaktivasi nurani, mendengar hati nurani, dengan demikian kita akan mencegah dari kehancuran yang membawa kebinasaan kekal.

Sebab kita adalah orang yang berhutang. Tentu, jika bicara melunasi hutang itu artinya mesti ada sesuatu yang dikorbankan. Isa Almasih telah memberi diri jadi korban perdamaian lewat via dolorosa. Kitab Suci tegas soal ini. Di Mazmur 37:21 menyebut, orang fasik meminjam dan tidak membayar kembali tetapi orang benar adalah pengasih dan pemurah.

Lebih serius lagi kata-kata Paulus mengatakan, jadi saudara-saudara, kita adalah orang yang berhutang tetapi bukan kepada daging supaya hidup menurut daging. Termaktup di Roma 8:12. Saya kira alasan itulah yang membuat T.B. Simatupang, jenderal ahli strategi perang, yang di masa tuanya sebelum dimuliakan di sisiNya menjadi orang yang bergumul dalam penemuan diri, mendalami teologia. Dia berkata, saya orang yang berhutang.

Amat sering dia katakan, saya orang yang berhutang. Bahkan, dalam judul buku dan monumennya di leter “S” Sidikalang, kampung halamannya terpampang tulisan: “Saya Adalah Orang Yang Berhutang.” TB Simatupang menyadari utang bagi bangsa dan tanah airnya. Tetapi esensi kata-katanya yang terdalam kepada Sang Penebus, ketersadaran dirinya manusia yang berhutang kepadaNya.

Disinilah kita diajak untuk bertanggung jawab atas perbuatan kita masing-masing. Ada ketersadaran bahwa diri tak layak, mengakui bahwa diri orang yang berutang. Hal itu dipertunjukkan tokoh-tokoh dalam Kitab Suci. Jika kita mempelajari biografi dan gagasan-pemikiran mereka, mereka mengakuiNya dan meminta ampun atas utang yang mereka ciptakan, sebab mereka menyadari orang-orang berutang.

Moralnya, tak penting apa yang sudah kita buat, kita capai di kehidupan ini, yang terutama kita diajak kembali kepada nurani mengakui utang itu. Ada kerendahan hati di sana. Sujud di kakiNya. Tentu bukan untuk membayar utang, sebab tak mungkin kita bayar. Yang dipinta dari kita respon pengakuan itu. Bagaimana membuktikan respon itu? Amat mudah menelusurinya dengan menjawab pertanyaan, apakah Dia menikmati hidup kita. Itulah yang menggugah dan menggugat. Sekali lagi, hati nurani loceng yang memanggil kita kembali ke rumahNya, kepada kebenaran, jantung yang berdetak untuk memuluskan jalanNya.

Mengakhiri tulisan ini, semata-mata refleksi, bahwa sekaranglah waktunya untuk kita meresponi panggilanNya, sebab nurani inilah yang memanggil kembali kepadaNya. Sebab, Dia menghendaki yang terbaik bagi setiap insan, bahkan melintas batas suku, agama. KerinduanNya untuk setiap kita, dan Dia ingin setiap kita kembali ke nuraninya, institusi independen di batin, kembali ke rumah ciptaanNya yang menyediakan cahaya kebaikan.

Caranya? Memperbaharui pikiran masuk ke dalam kebaharuan diri. Bermetanoia. Berdiri dalam kemenangan di peperangan kehidupan. Setiap kesempatan yang baru adalah pembaharuan diri dari relung hati yang rusak. Merefleksikan hidup kita di satu tahun penuh. Tentu banyak onak dan berbagai hal kita lalui.

Saatnya merefleksi, merenung, bahwa semuanya bukan karena gagah diri, semua semata-mata anugerahNya. Dia memanggil dan masih tetap setia seperti sedia kala panggilanNya, agar senantiasa setiap kita dibaharui, menjadi garam dan terangNya. Bicara terang; tentu banyak pilihanya, jadi terang bintang kecil, atau menjadi lilin yang meleleh untuk menerangi kegelapan, atau menjadi pemantul terang dari Matahari Kebenaran, atau tetap di kegelapan tanpa cahaya? Disinilah ada feewill, hak bebas diberikan kepada kita untuk memilih.

Sekarang, pilihan diberikan kepada kita, mau kembali kerumahNya atau terus jadi musafir pada ide-ide yang menyesatkan selama ini? Mari kita pilih! Intinya, ini ajang pemulihan hati dari batin yang terkontaminasi dari virus-virus yang meninabobokan, untuk memperbaikan relung hati dari kesuraman. Akhirnya, tahun yang baru ini mesti jadi kesempatan baru untuk memperbaiki kalbu dari perang yang berkecamuk di pikiran. Selamat memulai hidup yang baru di Tahun Baru.

Please follow and like us:
0

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.