Sabam Sirait: “Jangan Ragu Menjadi Politisi Jika Punya Panggilan”

Suaratapian.com JAKARTA. Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) DKI Jakarta, Sabam Sirait, 82 Tahun, mengudang beberapa komunitas, termasuk Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (Pewarna ID) dalam rangka mengisi kegiatan reses untuk menampung aspirasi dari warga yang nantinya akan disampaikan dalam rapat senator. Bertempat di Cafe Codian Cililitan, Jakarta Timur, Rabu (1/11) lalu.

Diawali Sabam memberi penyelasan singkat, kemudian Sabam mempersilahkan semua undangan untuk mengajukan pertanyaan, tentang apa saja. Sebelum acara tanya jawab, Sabam membagikan pengalamannya bergelut sebagai politisi yang sejak muda sudah terjun politik. “Saya sejak mahasiswa Fakultas Hukum UI sudah aktif organisasi, bahkan usia muda sudah terpilih jadi Sekjen Parkindo. Saking sibuknya organisasi dan politik, kuliah saya sampai tersendat,” kisahnya.

Kuliah sarjana hukum itu lama tidak selesaikan. Baru kemudian di umur yang sudah uzur, Sabam dengan antusias kembali menyelesaikannya. Sabam juga menceritakan kisah hidupnya. “Saya lahir dan besar di Pematang Siantar. SD waktu itu disebut SR sampai SMP di Pematang Siantar. Lalu, saat SMA di Kota Medan. Kemudian dari sana ke Jakarta untuk kuliah. Tahun 50-an saya ke Jakarta cita-cita waktu itu ke Universitas Indonesia karena sudah sering baca beritanya di koran. Di Jakarta tujuan pertama saya adalah rumah amanguda saya, Letjen (Purn) TB Simatupang.”

“Rumah beliau waktu itu di kawasan Monas, bekas rumah pejabat militer Belanda. Selama tinggal disana saya sering mendengar tokoh-tokoh  besar yang datang ke rumahnya untuk berdiskusi atau meminta nasihat. Oleh karena itu, saya sering-sering mendengar perbincangan mereka, bahkan sering diajak untuk berbincang-bincang, dan diperkenalkan para tokoh tersebut, salah satunya Johanes Laimena,” ujarnya. Johanes Laimena sendiri di kemudian hari menjadi ketua Parkindo dan Sabam Sirait menjadi Sekjen pertama.

“Saat mahasiswa, saya aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan. Termasuk aktif di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) di Jakarta. Dan pergerakan di organisasi mahasiswa waktu itu dinamis. Saya sendiri kemana-mana membangun hubungan dengan berbagai mahasiswa,” tambahnya.

Dari pergerakan mahasiswa, Sabam kemudian mulai bersentuhan dengan politik praktis dan menjadi pengurus partai. Dalam sejarah Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dialah yang menandatangani meleburnya Parkindo dengan beberapa partai menjadi satu dalam Partai Demokrasi Indonesia.

Berfusi dengan beberapa partai yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Partai Murba), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) dan Partai Katolik, ketika itu dia juga menjadi Sekretaris Jenderal. “Karier saya menjadi politisi dari DPRD, kemudian menjadi Anggota DPR RI hingga 26 tahun.”

Karena itu, tambah Sabam kalau mau jadi anggota DPR atau terjun politik jangan ragu-ragu dan mulai sejak dini.  Tokoh nasional ini, sudah malang melintang di dunia politik. Bahkan, pernah disebut singa podium karena berani menginterupsi pimpinan DPR di masa Orde Baru. Pengalaman menjadi DPR, DPA, DPD dan pimpinan partai lengkap sudah bagi sosok Sabam. Dia telah menggeluti dunia politik dan eksis di era tujuh presiden Indonesia, bukti dari kepiawaiannya di bidang politik.

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.