Sekolah Minggu Cinta HKBP dan Cinta Indonesia

suaratapian.com HKBP Distrik XIX Bekasi terus aktif bergerak. Kali ini menggelar kegiatan pembelajaran dalam pendidikan budaya diperuntukkan untuk anak-anak


Ket Foto: Menutup ibadah, Kepala Departemen Diakonia HKBP, Pdt Debora Purata Sinaga MTh didampingi Praeses HKBP Distrik XIX Bekasi, Pdt Banner Siburian MTh bersama seluruh pendeta yang hadir dari HKBP Distrik XIX Bekasi
Sekolah Minggu dengan digelarnya Ibadah Raya, yang menampilkan vocal group, tortor dan lomba yel-yel dari masing-masing huria. Betempat di Sopo Godang Gedung Sopo Marpingkir, Pulo Gebang, Jakarta, pada Minggu, (8/10/17). Hadir 1200 anak, ditambah ratusan guru Sekolah Minggu dan orangtua.

Seyogianya hadir Walikota Bekasi Dr Rachmat Effendi, diganti pejabat Eselon II, Ferry Lumban Gaol, sebagai Staf Ahli bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik Kota Bekasi. Dalam sambutannya Ferry mengatakan, permohonaan maaf atas ketidakhadiran walikota sebab tugas lain. Ferry mengatakan sebagaimana pesan walikota agar pimpinan HKBP dalam hal ini praeses Distrik XIX Bekasi terus berkoordinasi dengan pemerintah Kota Bekasi.

“Kami sangat merepon positif setiap dinamika yang terjadi di Kota Bekasi, termasuk terhadap masalah izin tempat ibadah bagi HKBP, karena itu pemerintah membuka pintu untuk selalu membuka ruang komunikasi, asalah dilalui dengan prosedur yang sudah disepakati,” jelas jemaat HKBP Jatiwaringin ini, sebagai mana pesan walikota.

Di tengah kebaktian diberikan sambutan mewakili anak Sekolah Minggu dan mewakili Guru Sekolah Minggu. Mewakili seluruh anak-anak Sekolah Minggu, Andrew Hasoloan Nababan, 11 tahun dari HKBP Perumnas II Bekasi menyebut cukup senang akan kesempatan mengerti liturgi HKBP dan budaya Batak. Sementara mewakili guru-guru Sekolah Minggu, Julianto Panjaitan dari HKBP Maranatha Rawalumbu. Julianto dalam sambutannya mengatakan, sebagai Guru Sekolah Minggu agar semua pendeta mendukung seluruh program Sekolah Minggu, baik di tingkat huria maupun di tingkat distrik.

Anak-anak Sekolah Minggu di HKBP Distrik XIX Bekasi yang mengikuti kirap baju adat dari berbagai daerah
Dari pucuk pimpin pusat HKBP hadir Kepala Departemen Diakonia HKBP, Pdt Debora Purata Sinaga MTh yang juga ditapuk berkhotbah. Saat berkhotbah Debora mengundang dua kelompok anak-anak, masing-masing sepuluh orang, mereka diminta naik di atas panggung.

Satu regu berkostum hitam putih, sementara kelompok kedua menggunakan rupa-rupa pakaian budaya adat Indonesia. Debora menjelaskan, baju seragam dan baju budaya maknanya sama-sama indahnya. “Kebersamaan adalah kekuatan, tetapi juga keberbagaian adalah kekuatan dan keindahan. Kebersamaan tenyata indah, tetapi keberagaman lebih indah,” ujar praeses pertama perempuan HKBP ini.

Dia menambahkan, tak mungkin bangsa ini besar jika tidak dijaga keberagamannya. Juga dalam khotbahnya tak lupa mengingatkan anak-anak, bahwa firman Tuhan bermanfaat untuk mengajar. “Apa yang dikatakan di Hukum Kelima, hormatilah orangtuamu agar lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan kepadamu. Firman Tuhan juga menyatakan untuk kesalahan, jangan ulangi lagi kesalahan. Firman Tuhan memperbaiki kelakuan. Jika diingatkan kesalahan agar kelakuannya diperbaiki. Dan firman Tuhan mendidik orang untuk kebenaran. Oleh sebab itu yang diperhitungkan untuk mengajarkan kebenaran,” jelas istri lelaki asal Jepang, Uno Usan, ini.

Selesai memimpin ibadah, Debora juga diwawancara mengatakan, bahwa dengan adanya acara ini anak-anak bisa melihat bahwa keberagaman itu penting. Agar saling menghormati dan menghargai orang yang berbeda dengan kita. Kalau hanya seragam saya kira ada kelemahannya. Kita berharap anak-anak harus diperkenalkan budaya, adanya keberbagaian. Karena hal itu kelak mereka akan dijumpai di ruang yang lebih luas.

Maka jika sikap mental mereka perlu dibangun sejak dini agar kelak tumbuh keberanian, siap membangun keberagaman bahkan mereka akan bebas dari rasa takut beribah. Tentu, di keberagaman ada kepedulian ada empati lingkungannya. Karena itu, dia juga berpesan acara seperti ini jangan hanya berhenti di sini, harapnya. “Tentu, yang lebih penting di atas semuanya bukan hanya gereja tetapi lebih dari itu peran orangtua dilibatkan sebagai yang langsung mewariskan sikap Kristen dan budaya Batak pada anak-anaknya.”

Sementara, Praeses HKBP Distrik XIX Bekasi, Pdt Banner Siburian MTh menghimbau digelarnya acara ini, bisa berpesan makna dari liturgi gereja HKBP sekaligus pelan-pelan memperkenalkan kebudayaan Batak. Dan memang, perhelatan ibadah dan pekan budaya ini mengikuti liturgi HKBP.

“Kami mengharapkan bahwa anak-anak Sekolah Minggu memahami liturgi HKBP. Tujuan kedua, agar kita mencintai perbedaan. Kalau ada tetangga kita berbeda mari bangun komunikasi. Ketiga agar anak-anak kami sekalian ini makin mencitai bangsa dan negara. Cinta HKBP dan cinta Indonesia,” ujar ayah empat anak ini.

Acara ini cukup membuat anak-anak antusias akan budayanya. Akhirnya, panitia sudah berjeri lelah menyelenggarakan acara ini, walau demikian tak ada gading yang tak retak sebagaimana disampaikan Ketua Tahun Pendidikan dan Pemberdayaan B Sirait SE bertindak sebagai koordinator panitia menyebut, memohon maaf jika ada kekurangan dalam acara tersebut, sembari mengingatkan rangkaian acara ini juga akan digelar Seminar 500 Tahun Protestan yang akan digelar di HKBP Rawalumbu bulan November nanti. (HM)

Please follow and like us:
0

Leave a Comment