Seorang Ustad Melakukan Kekerasan Seks Terhadap Santrinya

Suaratapian.com MADURA-Atas nama keadilan S (14) selaku korban kejahatan seksual dari seorang tersangka, H. Gufron (45) seorang Ustadz yang berprofesi sebagai guru mengaji di Yayasan Nurul Imam di Pulau Giliyang,  Dusun Baru, desa Banraas, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur  dimungkinkan dapat diancam dengan  pidana 20 tahun penjara. “Jika terduga pelaku melakukan perbuatannya berulang-ulang dan korbannya lebih dari satu orang, maka terduga pelaku dapat dikenai hukuman tambahan berupa kebiri melalui suntik dengan kimia,” ujar Arist Merdeka Sirait.

Dia menambahkan, mengingat ancaman hukuman terhadap terduga pelaku di atas lima tahun dan merupakan kejahatan luar biasa  (Extraordinary Crime) dan tindakan khusus (Leg Specialist) maka tidak ada alasan bagi Polres Sumenep untuk tidak meneruskan perkara ini ke proses hukum sekalipun HM Gufron seorang Ustad. Yang dihukum bukanlah ke ustadtannya tetapi perbuatan dan prilakunya yang melanggar hukum, jelasnya.

Lebih jauh  Arist menjelaskan seharusnya peristiwa memalukan ini tidak perlu terjadi jika terduga pelaku menyadari dan memahami atas profesinya. Sementara itu, AKBP Muslimin Kapolres Sumenep menyampaikan pihaknya telah menangkap Haji  Gufron (45) pelaku pencabulan anak santrinya dibawah umur di Pulau Giliyang, Dusun Baru, Desa Branraas,  Kecamatan Dungkek,  Kabupaten Sumenep,   pada bulan Juni 2019 sekitar pukul 6.00 WIB di mana korban S disetubuhi oleh tersangka di dalam ruang kelas Yayasan Nurul Imam  Rabu 30 Oktober 2019.

Menurut AKBP Muslimin, kejadian tersebut berawal pada bulan Juni 2019 saat itu korban S bermalam di rumah pelaku.  Sekitar pukul 00.00 WIB malam korban di WA oleh pelaku disuruh datang ke ruang kelas Yayasan Nurul Iman di mana pelaku sudah menunggunya dan kemudian mengajak melakukan persetubuhan badan. Korban mengatakan, bahwa tersangka bukan hanya satu kali saja melakukan kejahatan seksual  akan tetapi tersangka melakukan berkali-kali  yang pada akhirnya perbuatannya terbongkar dan dilaporkan ke Polres Sumenep. Selain itu, untuk  kedua korban lainnya dilakukan kejahatan seksual di kamar Hotel Safari dan berikutnya di dalam kandang ayam di Dusun Balai Desa Banraas,  Kecamatan Dungkek,  jelasnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Sumenep AKP Tugo S menjelaskan diketahui H. Ghufron merupakan seorang Ustadz yang berprofesi sebagai guru ngaji atau pengasuh Yayasan Nurul Iman, dari kasus ini pihak kepolisian telah mengamankan sejumlah barang bukti yaitu jaket kaos,  baju,   dan celana dalam. AKP Tego menekankan bahwa dalam kasus ini tersangka dapat dijerat dengan pasal 81 ayat (1) dan (3) dan pasal 82 ayat (1) dan (2) Undang-undang RI Nomor: 17 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-undang RI Nomor: 23  tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman  hukuman 20 tahun penjara.

Atas peristiwa ini Arist Merdeka mendorong pemerintah Kabupaten Sumenep mengajak masyarakat untuk berpartisipasi membangun gerakan perlindungan anak se kampung ke seluruh desa di Sumenep dan mendorong pemerintah dan Stakeholders perlindungan anak di Sumenep menjadikan kasus kejahatan seksual dan pelanggaran  menjadi program utama dan perioritas.

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.