“Sihol Sihol Namarimpola” Di Mora Tabo

suaratapian.com JAKARTA-Salah satu etnis yang suka bincang-bincang atau markombur adalah orang Batak. Sejak dulu kebiasaan markombur itu telah jadi habitus umumnya masyarakat Batak, kebiasaan markombur tak bisa hilang dari budaya Batak, termasuk di perantauan, mereka, orang Batak selalu ingin menyampaikan gagasan dan pemikirannya. Atas kerinduan markombur, mantan hakim, Humala Simanjuntak SH mengundang komunitas Batak, Darapati dan Nabaja untuk menggelar bincang-bincang bertema “Sihol Sihol Namarimpola” pada Sabtu, (25/1/20) di Mora Tabo, Jl. Ciliman, Cikini, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat.

Bincang-bincang santai itu dipandu Hendry Lumban Gaol, dengan menghadirkan pemantik diskusi; Pdt Eldarton Simbolon DMin, Dr. Nelson Simanjuntak, SH, M.Si dan Dr. Eka Toba Putra Simanjuntak. Diskusi yang dibagi dalam tiga termin pertama pemantik diskusi dari paparan Pdt Eldarton Simbolon. Dalam pemaparannya, Pdt Simbolon menyebut, bahwa budaya Batak tak bertentangan dengan agama Kristen. Walau menurutnya, tak ada hubungan unsur budaya dan agama Kristen. Selain dihadiri komunitas Nabaja dan Darapati, hadiri juga puluhan undang, termasuk para pengacara. Hadir juga Kamaruddin Simanjuntak pengacara kesohor itu juga memberi pertanyaan kepada pendeta Simbolon. Selain itu, hadiri juga JS, Simatupang SH MH yang juga dikenal sebagai advokat senior yang kini menjabat Wakil Ketua Bidang Organisasi PERADI.

Pemantik diskusi kedua membahasa kekuatan kerjasama, disampaikan Dr Nelson Simanjuntak. Nelson mengatakan, kalau ingin menjadi unggul harus bermental unggul. Orang Batak yang unggul sikap dan teladannya juga unggul,” ujar Kepala Pusat Fasilitasi Kerjasama Kementerian Dalam Negeri, ini. Sementara Eka membahas probematik pendidikan. Dia menyebut, bangsa kita belum melek literasi, bisa membaca tetapi tak mengerti apa yang dibaca. Baginya, pendidikan bukan karena sudah mencapai jenjang tertinggi, tetapi esensi pendidikan adalah menemukan potensi diri. “Inti dari pendidikan memahami potensi diri lalu mengembangkannya. Karena itu, yang lebih penting adalah keterampilan dari sikap.”

Sebagai inisator acara “Sihol Sihol Namarimpola” Humala yang juga penulis buku Dalihan Na Tolu Nilai-Nilai Budaya Yang Hidup juga memberikan hal-hal yang positif terhadap budaya Batak. Baginya, sebagai orangtua budaya Batak sangat mendalam. Karenanya, dia mengajak, khususnya generasi muda yang hadir untuk bangga akan adat Batak yang sangat luhur sebagaimana tercermin dalam ungkapan-ungkapan filosofinya. “Falsafah hidup orang Batak Dalihan Na Tolu harus kita banggakan. Ada banyak nilai positif dari adat Batak. Jangan terlalu pesismis, jika kita perbandingannya dengan pandangan hidup suku-suku lain, budaya kita banyak yang lebih positif,” ujarnya.

Di penghujung diskusi, dibuat semacam epilog dari diskusi yang diramu Suhunan Situmorang. Penulis novel Sordam dan pegiat media sosial ini menyebut, salut atas pemaparan pendeta Simbolon soal pemahaman dan penjelasannya terhadap budaya Batak. Namun bagi Suhunan, sampai kapan pun budaya tak akan pernah menyatu dengan agama, apalagi agama Abrahamik yang disebut datang dari langit. Di akhir diskusi, pemilik Mora Tabo, Hot Asi Simamora juga larut dalam diskusi, bahkan mengajak untuk diskusi semacam ini berlanjut terus. (Hojot Marluga)

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.