Sitor: Sastra dan Politik

Oleh : Hotman J Lumban Gaol (Hojot Marluga)

Raja Usu, demikian nama yang diberikan Ompu Babiat kepada anaknya yang kemudian masyhur menjadi penyair dan budayawan dengan nama Sitor Situmorang. Ompu Babiat meninggal pada usia 123 tahun. Ompu Babiat adalah panglima perang dari Sisingamangaraja XII yang mendirikan benteng perlawanan terhadap penjajah Belanda di Lintong. Menurut pengakuan Sitor, walau Ompu Babiat dibaptis oleh Zending, namun sampai akhir hayatnya dia tetap menjalankan ritus agama Batak. “Dia tidak makan daging babi. Berambut gondrong, mengunyah sirih, dan tidak pernah menggunakan angkutan modern (mobil) ke mana pun dia pergi. Dia mirip seperti orang Badui Dalam, mempertahankan budaya nenek-moyangnya.” Lukisan lahiriah ayahnya itu direkam Sitor dalam otobiografi Sitor Situmorang seorang satrawan 45 peyair Danau Toba. Riwayat hidup tersebut ditulis 30 tahun lalu, takkala sang penyair berumur 55 tahun. Sekarang, Puji Tuhan, panjang usianya, dia berusia 85 tahun.

Sitor adalah anak kelima dari sembilan bersaudara. Lahir 2 Oktober 1924 di lembah yang menghampar untuk mengilhami penyair dan para pemuja keindahan, sebuah desa yang bernama Harianboho. Desa tersebut berada di luar pulo Samosir. Dalam salah satu sajaknya, Sitor menyebut Harianboho sebagai lembah yang kekal. Sitor adalah sundut atau tingkatan marga ke-18 dari Situmorang.

Sebenarnya asal-usul marga mereka dari Urat, Samosir. Tahun 1908, setelah Perang Batak usai, berakhir dengan wafatnya sang Raja Batak Sisingamangaraja XII, Ompu Babiat pun menyerah pada Belanda dan membangun kehidupan yang baru di Harianboho, keluar dari Samosir. Di sanalah Sitor lahir dan dibesarkan hingga remaja. Untuk mengenang lembah kekalnya, Sitor menulis sajak “Harianboho.” Sajak yang selalu mengingatkannya pada lembah kekekalan, lembah Harianboho, yang tiada duanya. Ke mana pun dia mengembara, di kaki langit yang mana pun dia berpijak, kenangan pada Harianboho tidak terlupakan. Lembah yang kekal itu dia dendangkan dalam sajak berjudul Harianboho:

’Ku yakin menemukan jalan selalu
kembali padamu,
jalan pulang ke landai
di tepi danau
sepanjang pantai

’Ku yakin selalu padamu kembali
di akhir nanti,
saat kembara berakhir,
tiba saat pada musafir.

Di lading dan gerbang
negei-negeri ramah, tapi asing,
kau pun terkenang.

Betapa sering,
puluhan tahun negeri orang,
jadi tamu ragam cinta,
namun penumpang jua.
Karena ketentuan masalalu,
tak dapat diulang,
lahir sekali di pangkuanmu.

Ingatan jadi keyakinan terang.
Di seberang aku berada
kau di telapak terbawa,

menanti di tiap langkah
batu-batu lembah semula.

Cintanya bukan hanya pada Harianboho, juga pada Danau Toba dan Tanah Batak secara umum. Sajaknya, “Angin dan Air Danau Toba” menceritakan saat-saat Sitor muda, dengan menumpang perahu meninggalkan rumahnya di tepi barat laut Danau Toba untuk melanjutkan pendidikan. Keterikantannya pada negeri Batak seakan tak terlerai. Masa kanak-kanaknya, kehidupan dan tata cara yang direndam dalam mitos Batak kuno menjadi sesuatu yang musykil untuk terlupakan oleh Sitor. Sitor yang berarti berputar-putar dibuatnya Ibunya kalau sedang mencarinya, saking lasaknya ketika masih kecil. Sifat yang ketika dia tumbuh dewasa menjadikannya seorang pengembara, pulang dan pergi ke beberapa negeri Eropa, terutama Belanda, negeri asal istrinya yang kedua, Barbara Brower.

Sitor kecil dididik dalam tradisi pendidikan Belanda. Mengenyam sekolah Hollands Inlands School (HIS) semacam sekolah dasar di Balige dan Sibolga, yang kemudian dilanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), setara SMP sekarang, di Tarutung, dan Algemeene Middelbare School (AMS) setara SMA di Jakarta yang masih bernama Belanda, Batavia.

Saat duduk di MULO Tarutung, dia mengalami banyak perubahan, seperti seorang manusia purba yang melihat dunia baru, peradaban yang asing untuk nenek-moyangnya. Untuk pertama kali melihat mobil dan merasakan sensasi menonton film. Pertemuan Sitor dengan sastra adalah ketika dia membaca “Max Havelaar,” karangan Murtatuli. Buku tersebut dia temukan di perpustakaan kakaknya.

Di MULO Tarutung, Sitor muda gemar pada pelajaran ilmu pasti. Menurutnya, belajar di sekolah Belanda guru-gurunya berlainan; lain guru untuk ilmu pasti, lain guru sejarah, lain pula guru bahasa. Di kelas, dia selalu berada di ranking atas. Kerapkali, guru ilmu pasti mengajar hanya sebentar, lalu menyerahkan murid-murid pada Sitor yang sudah dianggap sebagai asisten guru. Namun, dia menganggap kepercayaan itu sesuatu yang bisa-biasa saja. Menurut dia, kalau ujian ilmu pasti Sitor tidak diuji guru, malah diminta untuk mengawasi teman-temannya sekelas. Alasan gurunya sederhana saja, Sitor sudah dianggap mengerti dan tuntas memahami pelajaran. “Saya jadi profesor kelas tiga. Dulu, sekolah Belanda menyebut semua guru itu profesor. Sayalah profesor sampai kelas tiga,” katanya mengenang.


Tamat dari MULO Tarutung, Sitor melanjutkan studi ke Batavia, nama lama Jakarta. Dia diterima di sekolah Belanda. Belakangan sekolah ini berubah menjadi Perkumpulan Sekolah Kristen Jakarta (PSKD). Dia mendapat kursi di sekolah itu dengan melenggang masuk, tanpa tes. Tetapi, di Batavia Sitor tenggelam ke dalam dunia lain, yang membuatnya malas menghadapi pelajaran. “Malas sekolah, apalagi ilmu pasti, saya malas. Kerja saya hanya baca, baca, dan baca terus.” Namun, kegemaran membaca ini menjadi bekal bagi karirnya kelak.

Dalam periode inilah bakat kepenyairannya mulai menemukan bentuk. Menurut dia, kemampuannya sebagai penyair terbina sejak kecil, melalui kedekatan dan penghayatannya pada acara-acara adat Batak. Sebelum bersekolah sudah terbiasa mendengar pidato-pidato yang bagus yang disampaikan oleh para tetua adat dalam bahasa Batak. “Sejak kecil saya terbiasa mendengar ibu-ibu mangandung,” kenang Sitor. Mangandung adalah sastra lisan dalam masyarakat Toba, yang didendangkan seraya menangis dengan syair-syair yang menceritakan kisah hidup orang yang meninggal.

Membaca banyak buku-buku sastra dan sejarah semakin mengasah ketajaman kepenyairannya. “Saya menangkap tema dari pengalaman, pengamatan atau pendengaran yang mengharukan perasaan. Menulis sajak juga soal kepekaan bahasa. Bahasa itu bentuk budaya yang hidup dalam diri kita lewat pendengaran, pengalaman, bergaul dengan manusia lain. Ada bunyi, irama. Makin tambah umur, kepekaan menerima suara-suara, nada-nada, dan irama makin kendor,” katanya.


Sitor pernah menjadi wartawan. Karier jurnalistiknya dimulai tahun 1942, menjadi redaktur harian Suara Nasional dan pernah menjadi wartawan perwakilan kantor berita ANTARA di Pematang Siantar. Oleh pendiri koran Waspada yang terbit di Medan, tahun 1947 Sitor ditawari untuk menjadi koresponden harian itu di Yogyakarta. Masa itu pusat pemerintahan republik berada di Yogyakarta. Dari kota itulah Sitor mengirimkan tulisan-rulisannya untuk Waspada, sehingga koran tersebut selalu mendapat berita-berita aktual dari pusat. Namun sayang dalam buku “40 tahun Koran Waspada” nama Sitor tidak disebut, padahal dia pernah ikut membesarkan koran itu.

Dia juga pernah menjadi wartawan Berita Nasional dan Warta Dunia. Tahun 1959 hingga 1965 Sitor menjadi pejabat di bidang kebudayaan pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bersama berbagai tokoh nasional dalam berbagai bidang dia pernah menjadi anggota Anggota Dewan Nasional, anggota Dewan Perancang Nasional, anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara, anggota Badan Pertimbangan Ilmu Pengetahuan Departemen Perguruan Tinggi pada awal tahun 1960-an.

Sitor adalah ketua Lembaga Kebudayaan Nasional, sayap kebudayaan dari Partai Nasional Indonesia, sejak organisasi itu berdiri tahun 1959 sampai dibubarkan oleh rezim militeristis Suharto tahun 1965. Tak jauh dari dunia kesenimanan, dia pernah pula menjadi dosen di Akademi Teater Nasional. Pada tahun 1956-57 Sitor malah sempat menekuni sinematografi di California, Amerika Serikat. Anak desa Harianboho ini pernah pula menjadi dosen tamu di Universitas Leiden, Belanda (1981-1991). Dia sering mengembara di berbagai negara Eropa, terutama Negeri Belanda, Perancis, Italia, dan Spanyol. Dia berkunjung ke Beijing awal 1960-an dan menulis puisi-puisi perjalanan tentang Tiongkok. Dia berkunjung ke Singapura tahun 1942.

Di ulangtahunnya yang ke-85 dia (2011) tak kelihatan lelah, matanya menatap tamu dengan cerah. Kalau memberikan tekanan, suaranya tetap tinggi. Gayanya yang khas juga tak berubah: menggebrak, menunjuk-nunjuk, terkadang malah mengguncang pundak lawan berbicara sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Salah satu sajaknya yang paling digemari publik adalah Lagu Gadis Itali. “Ketika menulis sajak itu saya memang menggunakan kekuatan pantun,” katanya. Pandangan politiknya dengan nyata tercermin dalam sajak-sajaknya. “Silakan nilai puisi saya dari puisi, bukan dari politik. Saya memang menulis puisi politik, ada juga yang tidak. Jika politik dinilai merusak bakat saya, itu kesimpulan mereka. Banyak orang yang memaksakan penilaian dengan hanya membaca puisi politik saya. Padahal, mereka juga membaca puisi saya yang non-politis, tapi tidak masuk penilaian. Ini tidak baik. Jika sajak saya dianggap tidak berhasil, silakan. Tapi, itu bukan karena aktivitas saya di politik.”

Dia berteman dengan semua sastrawan dan budayawan. Baginya, satu musuh terlalu banyak, seribu teman terlalu sedikit. Pertemanannya dengan Pramoedya Ananta Toer layaknya kedekatan yang tidak lekang oleh ketuaan. Persahabatan kedua sastrawan besar itu suatu ketika diperingati di Goethe House, Jakarta, di mana Sitor membacakan puisinya ”Blora” sebagai kenangan untuk Pram yang lahir di kota yang dinyanyikan Sitor dalam sajaknya itu.

Penyair dan dramawan Rendra memanggil Sitor dengan sapaan hormat dan bersahabat: Abang. Ketika Rendra meninggal 6 Agustus 2009, Sitor membacakan sajaknya di hadapan jasad temannya itu. Sajak yang dia bacakan itu semula berjudul ”Lagu Malamku Kini.” Namun, sebagai penghormatan pada Rendara judulnya dia tulis ulang menjadi ”Lagu Malammu Kini,” dan semua akhiran ”ku” berubah menjadi ”mu.”


Lagu Malammu Kini

Matranya ombak
zikirnya sungai
bahana hutan
deru samudra

lagu malamu kini
di pangkuan semesta
alam pesta tari
alunan gamelan dewa-dewa

cintamu, cintamu, sempurna!

Menurut Ajip Rosidi, temannya dan sesama anggota Akademi Jakarta, “Mungkin Sitorlah penyair yang paling banyak menghasilkan sajak di Indonesia.” Hampir 600 judul sajak yang dia tulis dalam kurun waktu yang cukup panjang, antara 1948 – 2005. “Dan Sitor sekarang masih hidup dan masih menulis sajak,” tulis Ajip.

Menurut Ajip Rosidi, sajak-sajak Sitor Situmorang yang mulai mendapat ”perhatian besar” adalah yang dia tulis sekembalinya dari perjalanannya ke Eropa untuk pertama kali pada tahun 1950. Waktu itu Sitor merupakan salah seorang seniman Indonesia yang menerima undangan dari Sticusa, lembaga kerjasama kebudayaan Belanda, untuk berkunjung ke negeri bekas penjajah tersebut. Sajak-sajaknya itu, menurut penilaian Ajip, ”… seakan membawakan suasana baru bagi perkembangan puisi Indonesia pada waktu itu, yang oleh sebagian pengamat disebut sebagai ’zaman puisi gelap,’ karena kata-kata yang membentuk sajak-sajak tidaklah memberikan arti atau citra yang dapat ditangkap oleh pembaca.” Sajak-sajak Sitor, kata Ajip Rosidi, yang adalah juga seorang penyair dan budayawan penting Indonesia, seakan menghidupkan kembali puisi lama yang tadinya sudah dilupakan orang karena dianggap ketinggalan zaman.

Sementara Harry Aveling, Director of Asian Studies School of Social Science La Trobe University, Australia, melihat sajak Sitor Situmorang banyak berisikan hasil renungan pengalaman religiusnya, sebagai seorang pemeluk agama Kristen. Harry Aveling menjuluki Sitor Situmorang sebagai penyair agung, karena selama 60 tahun lebih terus berkarya dan telah menghasilkan lebih dari 600-an sajak.

Karya Sitor tidak hanya kental dengan tradisi Batak yang kuat, tetapi juga dipengaruhi budaya Barat melalui sastrawan modern Belanda, seperti Slauerhoff. Tema karya Sitor yang menonjol: cinta semu atau tidak kekal, pengembaraan dan siklus abadi kematian dan kehidupan. Setelah pensiun sebagai dosen tamu di Seksi Indonesia di Universitas Leiden (1981-1990), sang penyair sempat tinggal di Pakistan. Pada tahun 2006 dia memperoleh anugrah ASEAN Writes Award dari Muangthai.

Sitor pernah dibui beberapa hari oleh tentara Belanda karena menjalankan profesi sebagai wartawan. Dan pengalaman yang paling pahit adalah ketika dia ditangkap dan ditahan selama delapan tahun oleh rezim Orde Baru tanpa pernah disidangkan. Tidak jelas apa kesalahan yang telah diperbuatnya, sehingga begitu lama dia menderita di balik jeruji besi. Ada yang menyebut Sitor dibui karena karena keberpihakannya pada gelombang pasang gerakan kebudayaan yang menerjang kebudayaan imperialis, dan dukungannya yang teguh pada sikap politik Presiden Sukarno yang berusaha menyatukan kekuatan bangsa Indonesia baik dari unsur nasionalis, agama, dan sosialis, komunis.

Sitor adalah seorang sastrawan sekaligus seorang politikus. Mengutip ucapan Rendra dalam buku Mengapa & Bagaimana Saya Mengarang, yang ditulis Pamusuk Eneste tentang seniman berpolitik: ….seniman sebagai anggota masyarakat, sebagai bagian dari rakyat yang tidak ikut berkuasa, akan syah dan wajar pula kalau menyuarakan hasrat dan pendapat mengenai kedailan, ekonomi dan politik di dalam karyanya. Tidak bisa karyanya dianggap merosot hanya karena membicarakan politik, sosial, dan ekonomi.

Sitor termasuk dalam jajaran sastrawan Angkatan 45. Menurut dia, keberadaan Angkatan 45 untuk menggantikan Angkatan Pujangga Baru. Menjelang pergeseran dalam babakan sejarah sastra Indonesia itu, berlangsung polemik yang monumental antara mereka yang mau mengadopsi Barat dan mereka yang dengan cemerlang bisa melihat kekuatan budaya Timur sebagai dasar bagi kemajuan bangsa. Perdebatan ini dikenal sebagai “Polemik Kebudayaan.” Tahun 1953, Sitor mengusulkan satu dikotomi yang mirip dengan pandangan “Pujangga Baru.” Hal ini bisa dibaca sebagai tanda bahwa harapannya akan revolusi kejiwaan belum juga terkabul dalam perkembangan budaya.

Sebagai sastrawan Angkatan 45, Sitor mengagumi Chairil Anwar. Sementara pengaruh dari luar diterimanya dari Jean Paul Sartre, Albert Camus, dan Andre Malraux. Terutama Malraux banyak mempengaruhi pemikiran dan karyanya. Gagasan Malraux tentang “museum imajiner” dimodifikasi Sitor menjadi “living museum” atau museum hidup. Dan Malrauxlah yang banyak mempengaruhi kepenyairan Sitor.

Asrul Sani, yang juga termasuk dalam Angkatan 45, menyebut Sitor sebagai penyair yang hebat tapi politikus picisan. Semula, banyak yang mengkritik bahkan menyayangkan Sitor terjun ke ranah politik, karena hal itu akan “mengganggu” bakat kepenyairannya. Pada awal-awalnya, puisi-puisi Sitor membawa gaya sendiri dengan menengok kembali tradisi lama, seperti pantun, dengan renungan pribadi dan ziarah batin.

Sikap politik Sitor sangat kentara dalam sajak-sajak perjalanannya, yang merekam sentuhannya dengan rakyat Tiongkok yang sedang membangun sosialisme. Perjalanannya ke negeri yang berada di bawah pimpinan Mao Tse Tung pada tahun 1962 dicatat oleh sementara kalangan sebagai sajak-sajak perjalanan yang penting yang sangat sarat pandangan politik. Ini bisa dimaklumi karena dukungannya yang tak tergoyangkan pada politik Presiden Sukarno yang dekat dengan Republik Rakyat Tiongkok.

Aku ingin minum dari kehangatan/ harapan saudara-saudara./ Aku ingin menjabat tangan/ saudarasaudara yang sibuk bekerja./ Aku ingin makan roti ini,/ roti komune, sebagai tanda/ pulihnya pergaulan, setiakawan dan/ harapan antara manusia,/ buat selama-lamanya dalam cinta,/ cita-cita dan kenyataan dunia sosialis. Begitu bait terakhir sajaknya yang berjudul ”Makan roti komune.” Bahasanya sederhana, niatnya jelas. Tak heran jika Ajip Rosidi mencatat: ”Sajak baginya menjadi semacam catatan harian, meski tidak ditulis setiap hari. Dari sajak-sajaknya kita bisa mengikuti perjalanan hidup Sitor sang petualang.” Tidak hanya perjalanan hidupnya, juga sikap politik yang telah dia pilih secara sadar dengan risiko yang agaknya sudah pernah dia bayangkan. Dibungkam! Dipenjarakan! Bertahun-tahun oleh rezim Orde Baru Suharto.

Lawatan Sitor ke Tiongkok merupakan bagian dari acara sebuah delegasi Persatuan Pengarang Asia-Afrika yang dia pimpin, yang singgah di Tokyo. Di dalam delegasi tersebut ada Rivai Apin dan Utuy Tatang Sontani. Di Tokyo lahirlah sajaknya Dialog dekat patung Hachiro yang dia tulis setelah melihat patung peringatan bagi kesetiaan seekor anjing yang terletak di depan stasiun Shibuya. Perjalanan para pengarang Asia-Afrika itu lalu berlanjut ke Hong Kong. Dari kota dagang, koloni Inggris, ini rombongan bertolak ke Beijing. Selain sajak yang memuja persahabatan di salah satu komune yang terletak di pinggir Beijing itu, lahir pula sajak-sajaknya yang lain, yang dikumpulkan dalam antologi ”Zaman Baru,” seperti Surat dari Tiongkok untuk Reni, Udara Pagi di Peking, Lagu-lagu Tiongkok baru, Tiongkok lama, Lukisan-lukisan pekerja Tiongkok.

Sitor saat diwawawancarai

Delegasi berada di Tiongokk selama dua minggu. Para anggota delegasi memperoleh jamuan kelas satu seraya merasakan jejak perjuangan rakyat melawan Chiang Kai Sek yang berupaya mendirikan sebuah rezim pro-Amerika Serikat di daratan Tiongkok. Saat paling mengesankan bagi Sitor adalah ketika menyaksikan pesta kembang api yang diadakan di Lapangan Tienanmen. Delegasi diundang untuk melangkahi gerbang Istana dan bertemu dengan Mao Tse-tung. Sitor diperkenalkan dan berjabat tangan dengan pemimpin Tiongkok itu. Dia sangat bangga. Dari pertemuan tersebut, delegasi diundang makan malam dan dalam kesempatan itu Sitor pun membacakan sajaknya Perayaan yang dipersembahkan kepada Mao dan rakyat Tiongkok. Sitor memang mengagumi Tiongkok, baik yang berhubung dengan komunisme ataupun tidak.

Rekaman jekak perjalanan ke Tiongkok bukan tidak hanya berbau politik. Sitor juga menulis dengan manis Anak Kuba di Peking, dan buat gadis cantik bernama Zoila. Tahun 1968, Sitor mengunjungi Uni Soviet memenuhi undangan Asosiasi Penulis Uzbekistan.

Sitor merasa bahwa para kritikus yang dapat memahami karya-karyanya adalah almarhum Subagio Sastrowardoyo. Pada tahun 1976, Subagio menulis esai sastra berjudul Manusia Terasing di Balik Simbolisme Sitor Situmorang. Dalam tulisan itu, Subagio membuktikan bahwa Sitor dipengaruhi oleh simbolisme Perancis. Sedangkan Maria Heinschke, seorang peneliti di Universitas Hamburg yang menulis sebuah buku berjudul Sitor: Mencari Penyair Modern Persaudaraan Baru, menyebut Sitor sebagai penyair yang punya kesadaran modernisme dalam mengungkapakan kebudayaan-kebudayaan dunia. Bagi Heinschke, Sitor menciptakan sebuah karya seni yang mesti dihadapi setiap hal yang melibatkan kehidupan.

Sementara kalangan menyebutkan sajak-sajak yang ditulis Sitor setelah terjadinya perubahan politik drastis pada tahun 1965-66 kembali ke bentuknya yang semula yang muncul pada tahun 1950-an. Subagio Sastrowardoyo menilai Sitor tetaplah seorang musafir yang menulis sajak, pengembara yang tidak bisa memiliki tempat yang berbeda.

Apakah arti agama buat Sitor? “Saya lebih percaya Sianjurmulamula. Saya lebih menghadap ke kiblat di Pusuk Buhit,” katanya. Sitor kagum pada mitologi dan ini terasa pada sajak-sajaknya, seperti Bromo, Pantai Parangtritis, Balige, Gunung Sibayak, Candi Borobudur, Legian, Tanah Karo pegunungan.

Namun tema Kristen tampil dalam sajak-sajaknya pula, seperti: Kisah Kias Kristus, Hukum Pilatus, Pesan Ruth Pada Tiap Perawan, Khotbah Baptisan Paskah, yang ditulisannya tahun 1980-an. Menurut Sitor, banyak orang yang menganggap sajak-sajak tersebut menandakan Sitor telah menemukan jalan kembali ke gereja. Tidak. Justru baginya, dia mengkritik agama baru yang telah menyingkirkan agama kuno Batak.

KM Sinaga, seorang pengusaha sukses, adalah teman Sitor saat sekolah MULO di Tarutung. Temannya yang lain, yang sudah melampaui usia 90 tahun adalah Amir Pasaribu, seorang komponis Indonesia terkemuka, saat ini berdiam di Medan. Amir adalah seniornya dalam kelompok diskusi Gelanggang Budaya. Untuk kedua rekannya ini Sitor mengabadikannya dalam sajak Lembah Silindung.

Ingat penyair Indonesia ingat Sitor Situmorang. Membicarakan penyair kontemporer Indonesia tidak bisa lepas dari si Ompung ini. Sajak-sajaknya sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Selian sajak, Sitor juga menulis cerita-cerita pendek, esai, dan naskah drama.

Pengalaman yang paling berkesan bagi Sitor adalah saat meliput Konferensi Federal di Bandung tahun 1947. Dengan bermodalkan tuksedo pinjaman dari sahabatnya, Rosihan Anwar, Sitor berhasil mewawancarai Sultan Hamid, tokoh negara federal bentukan Belanda, sekaligus menjadi ajudan Ratu Belanda. Perlu diketahui Sultan Hamid adalah orang yang diplot menjadi tokoh federal, tentu dengan maksud untuk memecah-belah keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menjadi negara boneka dalam wadah negara federal.

ket: tulisan ini salah satu bagian dalam buku Sitor Situmorang: Mitos Dari Lembah Kekal, tahun 2011

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.