Soleman Matippanna: Menjadi Entrepreneur Berkomitmen & Bermotivasi Tinggi

Ir. Soleman Ricard Matippanna, ST
suaratapian.com Kemajuan satu bangsa amat ditentukan oleh berjibun dan aktifnya kaum entrepreneur atau pengusaha. Mengapa? Sebab peran para entrepreneur amat vital membantu pemerintah, bukan saja mendorong kemajuan ekonomi, tetapi juga penyediaan lapangan kerja. Bukti konkretnya negara-negara maju, mereka maju oleh karena berjubel pengusaha, bergerak membantu negaranya. Niscaya Indonesia pun akan maju jika bisa mengembangkan masyarakat yang berjiwa entrepreneur. Namun, memang segelintir orang juga mengaku pengusaha hanya kerena jago lobby dan dekat dengan kekuasaan. Alih-alih entrepreneur sejati pastilah jejaknya jelas, karya atau produk jasa yang dikerjakan jelas. Hanya saja jadi entrepreneur kerap meniti jalan terjal, terutama saat usaha dirintis. Paling tidak itulah awal perbincangan dengan Ir. Soleman R. Matippanna, Direktur PT Rande Buana Teknik. “Life Begins at Forty,” ungkapnya. Dia usianya baru menginjak 40 tahun ini merasa baru memulai hidup. “Saya tentunya belumlah pengusaha besar, tetapi tentunya spirit kemandirian usaha itu sudah saya latih sejak belia,” ujar merendah. Soleman, sejak SD sudah diasah jiwa wirausahanya dengan berdagang plastik, kantongan dan lain-lain.

Lalu, ditanya inspirasi kemampuan berbisnis itu didapat dari siapa? “Ibu saya adalah dulu wiraswasta. Ayah saya sendiri hanya staf pegawai negeri sipil di Korem. Ibu membantu ekonomi keluarga dengan memulai dari jual cengkeh hingga menjadi usaha pembuat furniture,” ceritanya mengikuti bakat bisnis dari sang ibunda yang notabene adalah seorang pekerja keras, tekun, dan penuh semangat. Kedua orangtuanya kini sudah dipanggil Tuhan.

Hanya saja, ungkap anak bungsu dari tujuh bersaudara ini ke tataran pengusaha dari keluarganya belum ada. Pria kelahiran Watampone, Sulawesi Selatan, 26 April 1977 ini, soal hemat dan pintar menata keuangan didapatnya dari sang ayah. “Saya kira perpaduan kedua karakter orangtualah.” Setelah lulus SMA Soleman kuliah di Universitas Hasanuddin Makassar, jurusan teknik elektro. Sesungguhnya ketika itupun jiwa kemandirian ingin jadi pengusaha sudah tergiang. Namun, ketika selesai kuliah, tahun 2000, dia langsung merantau ke Jakarta. Begitu bekerja di Jakarta diterima bekerja di perusahaan yang juga menumbuhkan semangatnya kelak menjadi seorang entrepreneur.

“Saya masih ingat, waktu itu bulan Desember, selesai acara natal di gereja. Saya waktu itu menjadi ketua Pemuda di GBI Mawar Saron Makassar,” kenangnya. Kesempatan bekerja di perusahaan dimanfaatkannya dengan baik sembari belajar dan membangun relasi. “Saya kira kiat membangun usaha juga harus suka belajar. Tekun dan bekerja keras sudah tentu mutlak. Tetapi semangat belajar itu tidak boleh berhenti belajar,” ujarnya.

Itu sebab, setiap ada kesempatan mengikuti pelatihan, baik bidang manajemen, training dan motivasi guna mempertajam naluriah bisnisnya, Solaeman selalu diikuti. Oleh semangat pembelajaran itu pula membuat dia getol belajar, menimba ilmu. Sampai sekarang sedang menyelesaikan magister dalam bidang hukum bisnis di Universitas Gajah Mada (UGM) kampus Manggarai, Jakarta Selatan.

Filsafat hidup

Dia punya filosofi, meniti dengan berakit-rakit ke hulu, berenang renang ketepian. Bersusah susah dahulu baru menikmati hasil di kemudian hari. Jadilah dirinya sembari mengelola usaha sembari menambahkan pengetahuan, dan suka membaca. “Salah satu hal yang mesti dimiliki dalam membangun usaha adalah kemampuan membranding produk, membangun relasi dan mengelola keuangan.
Baginya juga tatkala penting belajar dari jejak langkah dari para tokoh pengusaha. Sementara tokoh pengusaha nasional yang dia pelajari jejak hidupnya seperti; Ciputra, Eka Tjipta Widjaja dan Chairul Tanjung, dan Hary Tanoesoedibjo. Paling tidak dari Ciputra Soleman belajar tiga filosofi yang harus dimiliki para pengusaha yaitu integritas, profesionalisme, dan jiwa entrepreneurshipnya. “Menurut Ciputra misalnya, integritas adalah soal kejujuran dalam berusaha.”

Lalu, terkait dengan profesionalisme, dalam bahasa Ciputra, hal itu adalah seseorang harus ahli dalam apa yang dikerjakan, dikelola. Kemudian hal ketiga adalah entrepreneurship. Barangkali alasan itu Ciputra kelap mengatakan hanya entrepreneurship yang bisa mengubah kondisi suatu negara. Begitu juga spirit Eka Tjipta Widjaja, Soleman belajar soal ketekunan dalam menjalankan bisnis. “Eka menjadi seorang entrepreneur seperti masa mudanya dulu, sejak muda tekun dan gigih. Hidup dari keluarga susah, maka hemat.” Demikian juga pengalaman-pengalaman pengusaha yang lainnya.

Soleman menyadari tak mudah menjadi seorang entrepreneur, mesti meninggalkan zona nyaman, masuk pada alam yang kompetitif. Pengalaman kesulitan keuangan juga sempat dialaminya ketika memulai usaha, usahanya tak lantas berjalan bagus. Memang itulah berusaha kerap ada fluktuasi keadaan, tetapi orang yang berkomitmen akan bisa menitinya. Pengalaman merintis usaha, tidak otomatis usaha langsung melejit. Getir juga sempat dialaminya. “Jatuh bangun dalam merintis usaha sebagai bagian dalam proses pembelajaran.” Hanya saja, pilihannya untuk menjadi seorang entrepreneur diakuinya sebagai panggilan jiwa yang telah lama bersemayam di hatinya.

“Mengalami jatuh bangun dalam membangun usaha kerap kali tak terhindari. Maka sikap bertahan berkemauan, tekun, komitmen dan bermotivasi tinggi mesti dimiliki. Tapi, yang lebih penting adalah seturut dengan kehendak Tuhan,” itulah kiatnya melalui setiap rintangan dalam usaha. Walau sebelumnya sudah punya posisi bagus di perusahaan luar tetapi toh oleh panggilan jiwa, ingin lebih bermanfaat. “Semata-mata hanya ingin mengikuti tata hati, terpanggil menjadi pengusaha, ingin mandiri dan berkontribusi mendirikan lapangan kerja untuk yang lain.” Saat ini di perusahaannya tergabung 20-an orang.

Tahun 2003 mulai mendirikan commanditaire vennootschap (CV). “Saya mulai merintis usaha dari CV yang hanya berbadan usaha, tetapi belum berbentuk perseroan terbatas (PT) atau berbadan usaha dan berbadan hukum,” cerita menang. Hanya saja usaha itu tak berjalan mulus, bubar di tengah jalan. Namun Soleman menyadari proses itu harus dilalui, keruwetan harus dialami, kongsi bersama teman-temannya pun bubar.

Tetapi tak lantas berhenti berusaha, dia bersama kakaknya membuka PT Rande Buana Teknik. Maka ditatanya perusahaan yang bergerak dalam bidang penyediaan layanan rekayasa listrik pasokan, intrumentasi dan instalasi lengkap dengan komisioning. Berlahan perusahaan ini makin berkembang. Kini join atau kerjasama dengan perusahaan besar, termasuk anak-anak perusahan pemerintah, seperti PT Pertamina. “Memiliki komitmen yang tinggi pada bidang usaha yang dibangun. Selain itu punya jiwa inovasi dan kreativitas tinggi, fleksibel, serba bisa dan memiliki jaringan yang luas. Dan semakin tinggi komitmen, maka semakin besar pula kesuksesan yang digapai. Dan biasanya semakin sukses akan cenderung menjadi proaktif dan makin efisien jika mengutamakan mutu.”

Karena itu, baginya, menjadi pengusaha tidak hanya perlu memiliki kecerdasan, tetap kepercayaan diri mesti dimiliki. Menurutnya hal yang tatkala penting adalah kerendahan hati. “Karena membangun usaha berarti membangun relasi. Agar usaha maju mau-tidak-mau relasi dengan orang lain, bermitra dengan perusahaan lain adalah hal yang mesti dijaga. Rahasianya adalah rendah hati bukan rendah diri. Kita tak sombong, mau membuka diri dan mendengar orang lain,” kiatnya.

Hidup baginya adalah keseimbangan. Mesti ada ruang berbagai. Itu sebabnya juga di tengah kesibukannya mengurus PT Rande Buana Teknik, Soleman juga masih memberi ruang dan waktu melayani di Yayasan Karmel Ministry Indonesia. Di lembaga yang melayani kaum marginal dan penghuni lembaga permasyarakatan, dia sendiri sebagai penasihat dan mensupervisi. Namun soal pelayanan menurutnya, tidak perlu muluk-muluk yang penting dimulai dari yang ada dan disekeliling terlebih dahulu, termasuk di dalam keluarga.

Sikapnya itu terimplementasi misalnya, membesarkan dan membiaya hidup pendidikan keponakannya Pascal Matippanna, anak kakaknya yang sudah almarhum. Kini Pascal sudah SMA. “Bagi saya hidup adalah kesempatan untuk memberi makna. Selagi diberikan kesempatan kita memberi yang terbaik. Masih banyak yang harus dikerjakan, banyak yang harus dibenahi. Banyak yang harus terus ditingkatkan, baik hal pribadi, keluarga, ibadah, pelayanan dan pekerjaan. Maka tiap hari harus dikerjakan lebih serius, fokus dan sistematis,” ujarnya.

Profil

Nama lengkap: Ir. Soleman Ricard Matippanna, ST.
Tempat/ tanggal lahir: Watampone 26 April 1977
Nama istri: Mariske Prisella
Anak: 3 orang perempuan

Karier:
Direktur PT Rande Buana Teknik
Ketua Pembina Yayasan Karmel Ministry Indonesia

Pendidikan:
(S1) Sarjana Teknik Elektro dari Universitas Hasanuddin, Makassar
(S2) Magister dalam bidang hukum bisnis di Universitas Gajah Mada (UGM)

Please follow and like us:
0

Leave a Comment