Universitas Mpu Tantular Menggelar Diskusi Budaya Dalihan Na Tolu

suaratapian.com JAKARTA Beberapa bulan lalu Universitas Mpu Tantular mendeklarasikan diri sebagai kampus Bhinneka Tunggal Ika, hingga kini terus mengeliat mereaktualisasi kearifan budaya-budaya yang ada di Indonesia untuk mendukung slogannya. Lembaga pendidikan dibawah naungan Yayasan Budi Murni, kemarin, Kamis, (24/4) menyelenggarakan seminar Budaya Batak Dalihan Na Tolu di Aula HIOBAJA, di Kampus Universitas Mpu Tantular, Cipinang, Jakarta Timur.

Tentu, bagi masyarakat Batak Dalihan Na Tolu amat sangat mempunyai nilai tinggi, hal itu tercermin dalam tata kehidupan masyarakat tersebut secara turun temurun, salah satu kekuatannya adalah Dalihan Na Tolu. Seminar ini diawali dari seminar budaya yang sebelumnya diselenggarakan, pada 8 Februari 2018 lalu. Salah satu tujuannya adalah menyusun program untuk melestarikan budaya Dalihan Na Tolu.

Ke depan lembaga ini juga akan menggagas Pusat Budaya Dalihan Natolu dan mengajak pesatuan marga-marga Batak di Jakarta dan kota-kota lain mendirikan pusat budaya Dalihan Na Tolu. Sebenarnya, sejak tahun 1900, masyarakat Dalihan Na Tolu (DNT) di Jakarta semakin merasakan praktik pelaksanaan adat di Jakarta dan sekitarnya semakin berlebihan, dan kurang efektif.

Dalam merespon keluhan tersebut, misalnya, Punguan Lansia Distrik VIII HKBP Jakarta Raya telah melakukan serangkaian pertemuan dan tanggal 2 April 2017 yang melalui seminar menyimpulkan penyederhanaan pelaksanaan adat perkawinan, terutama dalam pemberian ulos perlu dilakukan.

Hadir narasumber Prof Dr Payaman Simanjuntak dan Dr HP Panggabean SH MH. Sementara dalam seminar tersebut, HP Panggabean menyampaikan, makalah dari sisi hukum, sifat materialisme tersebut cenderung akan menimbulkan berbagai sengketa terhadap aset harta peninggalan itu sendiri. “Hukum adat dalam ajaran Dalihan Na Tolu tertolong hukum positif yang bertujuan mengatur pergaulan hidup secara damai,” ujar mantan Hakim Agung yang juga Ketua Umum Kerukanan Masyarakat Batak (KERABAT) ini.

“Fenomena sosial akhir-akhir ini, adanya dualisme pilihan hukum untuk tercapainya tujuan hidup kebahagiaan, yaitu penganutan ajaran adat Dalihan Na Tolu yang lebih bersifat komunilistik atau penundukan diri atas hukum positif yang lebih bersifat individualistik,” ujarnya.

HP Panggabean menambahkan, penganutan ajaran Dalihan Na Tolu sampai saat ini membawa pengaruh positif bahwa dengan penerapan ajaran ada Dalihan Na Tolu, masyarakat Batak masih terikat kaidah hukum adat untuk menghindari perceraian dan sengketa. (Hotman)

Please follow and like us:
0

Leave a Comment