Dahulu di Orang Batak Babiat Dipanggil Ompui

suaratapian.com-Menyoal Ompui dengan Ompung menarik untuk diteruskan. Begitu ditampilkan (kemarin) tulisan dan konten video singkat di YouTube, dan ternyata banyak yang simpati, banyak yang berkomentar, baik yang menanggapi miring dan pendapat yang menguatkan koten itu. Bagi saya konten seperti itu penting sering didengungkan agar jangan salah pemahaman, Ompui jadi Ompung yang berubah makna. Saya harus katakan bahwa saya tidak bertendensi untuk membuat konten-konten seperti itu, memang dibuat versi YouTube dan versi tulisan semata-mata untuk pencerahan.

Namun konten itu ternyata cukup membuat orang-orang yang mendengar atau membaca larut, bahkan, mengajak saya diskusi. Tentu, saya berusaha menjawab apa yang bisa saja komentari dengan sebisa mungkin yang bisa dijawab. Bagi saya penjelasan sebelumnya penting diperjelas dan dipertegas ulang tentang kata; Ompui.

Kata Ompui dimaknai dari kata berkuasa, artinya lebih berkuasa, lebih berkharisma. Maka kata Ompui lebih tepat dipanggil pada orang-orang yang secara pengaruh, secara kemampuan memang berbeda dari orang kebanyakan. Sisingamangaraja sebenarnya pemimpin agama.

Di Batak Toba bukan hanya Sisingamangaraja yang digelari Ompui, tetapi juga seorang yang kuat: Ompu Babiat. Siapa Ompu Babiat? Nama lengkapnya Raja Cyrus Situmorang, seorang penguasa di tanah Toba. Dia adalah penasehat perang Sisingamangaraja XII.

Ompu Babiat ayah dari Sitor Situmorang, sastrawan 45. Ompu Babiat bertepatan juga hula-hula dari Sisingamangaraja XII. Kita tahu raja ini memiliki lima istri diantaranya; Boru Simanjuntak, Boru Sagala, Boru Nadeak, Boru Siregar, dan Boru Situmorang. Jadi Situmorang adalah hula-hula dari Sisingamangaraja XII.

Saat perang Batak 32 tahun itu, Ompu Babiat berperan membantu Sisingamangaraja XII. Dalam cerita berbagai literasi menyebutkan, ketika Sisingamangaraja XII dengan seluruh keluarganya harus bergerilya, mereka sempat bermukim di kampung hula-hulanya Situmorang di Huta Lintong, dekat Tele, sekarang masuk wilayah Kecamatan Harian Boho.


Ompui Samadengan Nagogoi; Sebutan Panggilan Kehormatan Bagi Sosok yang Dianggap Berkuasa

Lalu, pertanyaan selanjutnya, mengapa pada dua orang ini saja diberi gelar “Ompui,” disematkan dan disandang pada Sisingamangaraja XII dan Ompu Babiat? Oleh karena hanya mereka berdua secara dampak kuasa, pengaruh di masa itu luarbiasa kharismanya. Keduanya sangat berwibawa, berpengaruh dalam tanda kutip ditakuti, karena kemampuan sipiritual mereka.

Lalu, belum terjawab darimana sebutan Ompui. Seungguhnya kata Ompui awalnya sebutan untuk raja hutan, Harimau yang dalam bahasa Batak Toba adalah Babiat. Karenanya ada ungkapan “Babiat panoro,” Harimau yang ganas. Penguasa hutan rimba itu dikenal suaranya menggelegar, dahsyat menakutkan.

Babiat dipanggil Ompui, sama maksudnya “Nagogoi” yang dalam bahasa Indonesia diartikan berkuasa. Jika ada suara harimau maka disebutlah “nungga ro ompui” cara demikian dianggap untuk menghormati harimau dan niscaya harimau tak akan mengacam nyawa, dan sang harimau tidak mengganggu.

Kata Ompui kemudian disematkan untuk manusia istimewa di tanah Batak Toba. Tentu, tentang ini juga perlu penelusuran, melengkapi apa yang saya sampaikan. Tetapi, kita ingat juga Yesus juga disebut; Singa dari Yehuda. Singa memang lambang keluarga Yehuda, dan Yesus adalah keturunan Yehuda. Yesus juga memahami bahwa Dia jadi seorang raja, dan oleh karena itu simbol tersebut tepat melambangkan Yehuda sendiri sebagai seorang raja. Sebagaimana diibaratkan bahwa Singa yang paling berkuasa di Padang Gurun.

Kemudian setelah itu dipakai dalam kuasa manusia yang berpengaruh, ungkapan itu adalah penghormatan, memang tidak secara seremoni dilakukan atau ada acara besar gelar demi penyebutan penghargaan gelar tersebut, tetapi ucapan itu hanya pemanggilan penghormatan; Ompui.

Bahwa kemudian dalam tradisi HKBP ucapan penghormatan “Ompui” pun muncul, juga dimaksud untuk ucapan penghormatan pada pimpinan tertinggi gereja HKBP. Jelas, gelar Ompui pada Nommensen merupakan suatu tanda penghormatan.

Sebutan Ompui disematkan pada ehporus adalah untuk mengimbangi pengaruh, dengan harapan pemimpin HKBP tersebut jadi benar-benar yang dimuliakan, dan terpenting memiliki wibawa, kharisma yang amat kendara.

Sebagaimana di awal dijelaskan, bahwa panggilan atau gelar Ompui digunakan kepada Sisingamangaraja XII, raja yang memiliki wibawa berkuasa. Sekali lagi istilah Ompui dalam tradisi budaya Toba ditujukan bagi seseorang yang tak tercela, pemberani, benar-benar jadi teladan, jadi panutan dalam segala hal.

Karena itu Nommensen pun disetarakan dengan Sisingamanggaraja XII. Mengapa? Masa itu ada semacam rivalitas, tarik menarik semacam pengaruh di masyarakat Batak Toba, yang tak mendukung zending merekalah yang selalu mengagungkan Sisingamangaraja XII dengan sebutan Ompui. Lalu, masyarakat yang mendukung Nommensen dan tidak juga lagi ingin dipengaruhi oleh kuasa dari Bakkara, memanggil Nommensen Ompui.

Itu sekilas kisahnya, kemudian berjalan waktu sampai sekarang yang terjadi perubahan pemanggilan Ompui yang berubah: Ompui jadi dipanggil Ompung. Tetapi, memang dalam tradisi masyarakat Kristen Katolik di tanah Batak Toba, belakangan datang ke tanah Batak, memanggil para Pastor atau imam mereka dengan kata Ompung. Apalagi pastor yang secara usia sudah ujur, sudah berumur, maka mereka dipanggil Ompung.

Jadi hal latah dan hal biasa dalam tradisi umat Katolik Tanah Toba memanggil pastor; Ompung. Saya kira konten lanjutan untuk penelusuran ini, Ompui di HKBP yang kemudian dipanggil Ompung, sementara di Katolik Batak Toba Ompung untuk imam senior. Apa sama, kalau berbeda, mana perbedaannya? Perlu pencarian lanjut. (Hojot Marluga)

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

18 + 12 =