Ir. Togap Simangunsong, M App: “Hidup Mesti Disyukuri dan Dijalani Apa Pun yang Terjadi”

suaratapian.com JAKARTA-Sukses adalah kehidupan yang seimbang. Kehidupan yang tak seimbang akan menghancurkan kesuksesan itu sendiri. Seseorang dikatakan telah sukses bila mampu menyeimbangkan karir dan hal lain, terutama keluarga, relasi, saudara dan lain-lain. “Kesuksesan hidup mesti seimbang, keluarga, rohani, kesehatan, kerja, hiburan, sosial, liburan, uang, karir, olahraga, hasilnya pasti bahagia,” ujar Ir. Togap Simangunsong, M App. Dia menambahkan, untuk bahagia perlu berpikiran positif. “Mari kita uji.  Ukuran sukses setiap item adalah perasaan masing yang diberi nilai angka satu sampai sepuluh.  Selanjutnya menjadi panjang jari-jari yang akan membentuk lingkaran atau roda. Sebagai illustrasi misalnya; pertama ekonomi keluarga, pribadi nilainya. Kedua karir nilai sembilan. Ketiga waktu untuk keluarga nilainya empat. Lalu, kesehatan nilainya lima. Bidang kerohanian nilai enam. Selanjutnya, kebebasan waktu nilainya lima. Sosialisasi nilainya sembilan. Wisata nilai lima. Pendidikan nilainya delapan. Jika dibentuklah lingkaran sudah jelas akan tak bisa terlihat lingkaran yang baik. Jika itu seperti roda, maka akan terjadi kesenjangan ketika dibuat berjalan. Demikian juga dalam hidup ini,” kata jemaat HKBP Rawamangun itu.

Pria kelahiran Asahan, Sumatera Utara, 28 Oktober ini menyebut dalam rumah tangga kehidupan suami istri perlu, saling mengisi, saling menghibur, saling  menghargai, saling mengingatkan. Puji Tuhan penikahannya sudah diperkenankan Tuhan melewati 25 tahun disertaiNya. “Kami telah merasakan pertolonganNya dalam rumah tangga dan pasti Dia selalu menyertai keluarga kami. Kami mengekspresikan perjalanan rumah tangga kami bersama sahabat dan teman-teman,” tulisnya di facebooknya. Dia sadar tak ada rumah tangga yang sempurna. Jalan terbaik adalah “saling mengisi dan memahami kekurangan pasangan niscaya hasilnya akan sempurna.

Saat menata karier dimulainya di Departemen Dalam Negeri (Depdagri). Waktu diterima dia memilih ditempatkan di Manado. Tahun 1991 terang saja dia diminta untuk terlibat dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Sulawesi Utara. Saat itu dirinya diperbantukan dari Depdagri untuk Bappeda Sulut sebagai tenaga perencana muda. Beruntung dia bertemu dengan sosok yang visioner, Sinyo Harry Sarundayang (Jabatan terakhir Duta Besar Republik Indonesia untuk Filipina Sinyo Harry Sarundajang meninggal dunia pada Sabtu, 13 Februari 2021).

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.