Ketika Hidup Tak Seperti Biasanya

Suaratapian.com- JAKARTA-Obituari, berita kematian dari Pdt Dr Yakob Nahuway menjadi berita viral, bukan saja di group-group wa komunitas Kristiani, tetapi juga di group-group umum pun dishare berita duka itu. Saya baru saja mengikuti live streaming acara penghiburan alamarhum Pdt Yakob Nahuway, kemudian mengguratkan tulisan ini. Acara oflinenya dihadiri Dirjen Bimas Kristen Prof. Dr. Thomas Pentury, M. Si, juga mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, yang berkali-kali selama menteri hadir di GBI Mawar Saron. Prosesi pemakamannya akan digelar hari Rabu (3/2/21) di pemakaman San Diego Hills di Karawang, Jawa Barat.


Terus terang, saya tak dekat dengan beliau, namun tentu ingin mengingat beliau dalam tulisan ini. Sebagai wartawan Kristiani (pernah redaktur pelaksana tabloid Reformata dan majalah Narwastu) saya berkali-kali mewawancarai almarhum, terutama bersama-sama dengan teman-teman wartawan, terutama saat-saat ada acara Kristiani di GBI Mawar Saron.


Di satu waktu, ketika saya masih di tabloid Reformata, saya hadir meliput dan menggunakan seragam redaksi Reformata, hitam-hitam. Sontak, saat itu saya dihampiri almarhum; “Hei bang. Bagaimana kabar? Salam pak Bigman iya,” katanya. Sudah tentu saya sanggupi. “Baik pak Jacob. Akan saya sampaikan,” begitu jawaban saya. Titip salamnya itu pun saya sampaikan ke almarhum Pdt Bigman. Ketika di kantor Reformata saya menemui pdt Bigman. “Pak, saya kemarin jumpa pak Nahuway. Beliau titip salam untuk bapak.” “Apa katanya? Ada pesannya,” kata Pak Bigman. “Tak ada, hanya itu,” kata saya.


Lalu, pendeta Bigman bilang, “Mungkin dia tahu bang Hotma Sitompul bergereja ke kita,” kata Bigman, tanpa saya teruskan lagi bertanya. Setahu saya memang pendeta Bigman dan almarhum tak terlalu dekat. Tetapi sama-sama tenar. Yang saya tahu Pdt Bigman memang hanya dekat dengan Pdt Erastus Sabdono. Kedekatan keduanya saya tahu saling mendukung. Pdt Erastus yang mendirikan PD Batak Bermazmur kerap mengundang pdt Bigman menjadi pembicara. Lalu gerejanya Erastus ketika itu GBI Rehobot juga membeli setiap edisi ratusan tabloid Reformata.


Namun demikian, Reformata yang dicap “keras” karena sering membuat Laporan Utama perkara-perkara yang menyangkut organisasi gereja dan hamba Tuhan, setahu saya tak pernah memberitakan miring Pendeta Nahuway dan gereja yang dipimpinnya. Barangkali ada kaitannya karena mereka sama-sama berteman dengan pengacara Hotma Sitompul. Yang saya tahu juga, kantor Reformata yang dulu ruko dijadikan satu. Dulunya, satu ruko adalah milik pengacara Dr. Hotma Sitompul, yang juga jemaat GBI Mawar Saron.


Hotma Sitompul salah satu pengacara yang menjadi orang dekat almarhum. Itu juga sebab Hotma Sitompul mendirikan lembaga bantuan hukum berpusat di kawasan Sunter diberi nama LBH Mawar Saron. Hotma Sitompul juga dekat dengan Bigman Sirait, maka satu rukonya diberi untuk dipakai, bahkan belakangan jadi milik gereja yang didirikan Pdt Bigman Sirait, Gereja Reformasi Indonesia. Kedekatan Pdt Bigman dan Hotma tentu saja membuatnya kerap diundang jadi narasumber di seminar-seminar gereja, bahkan sesekali datang beribadah di gereja yang dipimpin Pdt Bigman.


Tentulah, Yacob Nahuway sudah sangat terkenal dikalangan Kristiani. Alamrhum bukan saja tersohor, tetapi juga idola hamba Tuhan dan jemaat di Indonesia. Di Jakarta, sebelum Stephen Tong mendirikan gereja di Kemayoran, almarhumlah yang pertama mendirikan gereja terbesar di Jakarta. Tahun 1993, Jacob Nahuway memutuskan untuk membeli tanah di Kelapa Gading dan membangun gereja yang sangat besar, gedungnya bisa menampung 8000 ribu jemaat sekali kebaktian. Almarhum tentu sosok hamba Tuhan yang hebat, banyak kelebihan dan hak istimewa yang diterimanya dari Tuhan.
Namun demikian almarhum tetaplah manusia biasa yang tak sempurna, perlu juga dikritisi. Saya pernah kritik almarhum dalam berita. Tahun 2018, saya diblacklist karena mengkritik dengan tulisan “Keprihatinan Puluhan Pimpinan Sinode Atas Pemilihan Ketua Umum PGPI Mubes VIII 2018” https://suaratapian.com/keprihatinan-puluhan-pimpinan…/ Tentu, saya tak hendak bertendensi menulis tanpa dasar.


Saya tak menulis karena tendensi, bukan atas ketidaksukaan, tetapi murni untuk bersuara. Saya menulis tentang adanya kecurigaan bahwa tim almarhum sudah merancang sejak awal penetapan, ditetapkan sebagai ketua umum PGPI, jauh sebelum sidang pleno pemilihan digelar. Fakta, almarhum waktu itu sebagai petahana kembali menjabat sebagai ketua PGPI. Sebenarnya, saya hanya menjalankan fungsi jurnalis, memberitakan sebuah kekurangan dari sebuah pemilihan, termasuk ketidaksempurnaan seorang hamba Tuhan, manusia biasa.


Sejujurnya, dari almarhum saya banyak belajar. Bagi saya beliau bukan saja tokoh, tetapi guru. Saya banyak belajar dari almarhum, produktif menulis dan berkhotbah. Tahun 1999 sampai tahun 2001, saya hampir tiap minggu beribadah ke Kelapa Gading di GBI Mawar Saron. Waktu itu saya kuliah di STT Doulos Jakarta. Selain mendengar khotbahnya juga motifnya untuk menda

patkan bacaan gratis, tabloid dan majalah yang diterbitkan gereja tersebut bisa diambil jika tak memiliki fulus. Di titik ini, saya kira almarhum sadar sekali bahwa media begitu berperan untuk alat publikasi, terbukti, almarhum memiliki dua media internal, tabloid dan majalah. Kalau nggak salah nama majalahnya “Pukat.”


Bagi saya khotbah almarhum bagus. Saya masih ingat, Paskah Nasional pertama yang diadakan tahun 2005 di Lapangan Tugu Monas Jakarta, ketika itu saya hadir, pembicaranya Pdt. Dr. Stephen Tong dan Pdt. Dr. Jacob Nahuway. Paskah yang dihadiri ribuan jemaat dan hamba-hamba Tuhan dari interdenominasi. Saat itu group pengacara Batak, Vokal Group Nabirong, saat itu lagi naik daun juga menyumbangkan lagu pujian. Di Paskah Nasional itu, kehadiran Stephen Tong dan almarhum sebagai pengkhotbah sudah tentu karena sosok keduanya. Dari kalangan Reformed Stephen Tong, mewakili kalangan Karismatik Dr Yacob Nahuway.


Saya pribadi bukan saja mendengar khotbah-khotbah almarhum, tetapi juga pembaca buku-bukunya. Salah satu yang sangat saya sukai bukunya bertajuk “Ketika Hidup Tak Seperti Biasanya.” Buku itu mengajak bagaimana mengatasi depresi; kesepian; kekecewaan dan penderitaan. Pokok-pokok bahasan dalam buku tersebut bernas. Dalam buku itu almarhum mengajak pembacanya memahami kenyataan hidup, apa yang menyebabkan hidup tak seperti biasanya, dan mengapa Tuhan mengizinkan hidup tak seperti biasanya.


Menurutnya, ketika hidup tak seperti biasanya sudah tentu dialami semua orang di segala waktu dan semua tempat. Kesimpulanya, kita tak dapat menghindar dari saat-saat krisis, namun kita dapat mengatasinya. Pendeta kelahiran Titawai, Ambon, 25 Februari 1947 ini, pendiri dan Gembala Sidang GBI Mawar Saron disebut-sebut tokoh ahli Pertumbuhan Gereja bukan saja di Indonesia tetapi juga di Asia dan dunia. Almarhum meninggal karena sakit, gangguan ginjal. Akhirnya, tak berpanjang-panjang lagi, saya hanya bisa mengucapkan Selamat Jalan Pendeta Dr. Jacob Nahuway, MA. Karyamu tak hanya dicatat sejarah tetapi juga terukir di relung hati banyak orang. (Hojot Marluga)

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.