Masa Kepemimpinan Dosmar Tak Ada Perubahan Pembangunan di Papatar

Suaratapian.com-JAKARTASejak awal masyarakat Humbang Hasundutan (Humbahas) tak setuju ada calon tunggal, paling tidak dari hasil Survei Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) menunjukkan sebanyak 79,8 persen masyarakat di kabupaten ini menolak, bahkan, tak setuju Pilkada 2020 ini hanya diikuti satu pasangan calon (paslon). Namun nyatanya, tetap saja yang berkepentingan untuk itu tetap menghadirkan petahana di Humbahas, tak peduli akan kerinduan masyarakat akan pemimpin yang baru. Salah satu yang tegas berteriak adalah Aliansi Masyarakat Papatar. Papatar sendiri singkatan; Pakkat, Parlilitan dan Tarabintang, tiga kecamatan di Humbahas, yang wilayahnya sangat luas namun belum banyak disentuh pembangunan.

Tentulah, bukan hanya aliansi ini yang menyebut demikian, masyarakat yang kemudian mendirikan Forum Peduli Demokrasi Humbang Hasundutan, bahkan Ir Mindo Sianipar salah seorang pengurus pusat di DPP PDI Perjuangan, yang sangat kecewa dengan kinerja pemerintah daerah di Humbahas yang kebetulan ketua dari DPC PDI Perjuangan di Kabupaten Humbahas itu. Salah satu kegagalannya membangun pertanian di Humbahas. Oleh karena itu, masih menurut Mindo, meski kader PDI Perjuangan jika memang tak kompeten memimpin, tak patut didukung. Secara objektif Mindo menyebut, kepemimpinan Dosmar Banjarnahor sekarang di Humbahas tak berhasil. Itu sebab Mindo menyebut sudah benar jika anak rantau Humbahas berjuang untuk memenangkan Kotak Kosong di satu pertemuan dengan redaksi suaratapian.com.

Alih-alih masyarakat Humbahas kecewa oleh karena kinerja Dosmar, Aliansi Masyarakat Papatar menyebut, selama ini Papatar dianaktirikan dalam pembangunan. “Sesungguhnya kita tak mempersoalkan pribadi seorang bupati, tetapi soal kinerjanya yang kita kritisi. Sejak awal janji-janjinya terkhusus membangun Papatar ternyata tak ada selama lima tahun memimpin, sampai sekarang tak ada yang berubah di Papatar,” ujar Ketua Aliansi Masyarakat Papatar, Robby Seven Purba ST, saat diwawancara suaratapian.com, Jumat, (11/9/20).

Putra Papatar kelahiran 1 September 1977 ini yang juga pengusaha, Direktur Utama PT Mutiara Bunga Bangsa menyebut, malah yang terjadi adalah pembangunan di Papatar mundur. “Janjinya dulu akan membangun jalan, infrastruktur fisik di Papatar, tetapi ternyata sampai sekarang realisasinya tak pernah ada. Bahkan, hampir selesai memimpin tak ada yang terlaksana.”

Aktivis di Yayasan Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber Daya Sumatera Utara (LAKPESDA-SUMUT) ini juga menyebut, petahana justru memborong partai dan tak disisakan untuk calon lain untuk bisa ikut berkontestasi di Pilkada Humbahas. Ini hal yang patut dipertanyakan, termasuk maruk sekaligus sadar diri bahwa kinerjanya kurang bagus, sebab dia tahu jikalau ada lawannya pasti kalah. Dia sudah berhitung.  Dia sudah sadar lebih baik membuang uang ke partai daripada menunjukkan kinerjanya ke masyarakat. Maka itu sebabnya dia memborong partai.

Lagi-lagi Ketua Perhimpunan Mahasiswa Batak di ITATS 2001-2003 ini menyebut, jika masyarakat berjuang untuk pemenangan Kotak Kosong tak ada konsitusi yang dilanggar, justru memperjuangkan hak masyarakat. “Saya yakin tujuhpuluh lima persen masyarakat khususnya di Papatar memilih Kotak Kosong, karena sudah banyak suara dari Papatar yang merasakan bahwa dampak kepemimpinannya tak membawa perubahan.

“Tentu, yang harus disoroti lagi adalah peran dari politisi Humbahas. Disinilah dirasakan pragmatisme dari politisi, partai politik yang seharusnya menyiapkan kadernya. Tetapi, kalau ditelisik lebih mendalam, bukan tak ada kader, tetapi karena partai-partai mau diborong suaranya, itulah yang terjadi,” ujar Pendiri Perkumpulan Tenaga Ahli Konstruksi Indonesia (Pertaki) ini.

 Sebenarnya, untuk merangkul masyarakat Papatar, petahana sejak awal telah merangkul Yanto Sihotang sebagai calon wakil bupati, namun akhirnya mengundurkan diri, karena mungkin belum selesai deal-deal politik, atau karena ada setting yang salah dengan ingin menciptakan Kotak Kosong sejak awal. Memborong semua partai hal yang patut dipertanyakan. Tentu, kalau petahana ini punya kinerja bagus tak perlu memborong semua partai, tetapi justru memberi ruang untuk calon lain berkonstestasi di pesta demokrasi,” ujarnya mengakhiri. (HM)

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.