Jisman M. Lubis, Putra Laguboti, Toba Raih Gelar Doktor dari Brawijaya

suaratapian.com-Pameo mengatakan, meraih pendidikan semaksimal mungkin, tidaklah mengenal batasan usia. Karena pendidikan sifatnya universal, dan wajib dimiliki setiap insan manusia. Dalam menghadapi perkembangan jaman yang semakin modern dan canggih, manusia dituntut untuk mampu menghadapi dan beradaptasi dengan zaman. Salah satu upaya memenuhi tuntutam zaman yang semakin kompleks adalah membekali diri dengan kapasitas memadai lewat jalur pendidikan yang mumpuni. Adalah Jisman Mangitar Lubis, seorang putra desa Haunatas, Laguboti, Kabupaten Toba, menyadari betul akan pentingnya memiliki pendidikan memadai, apalagi dalam lingkup ruang maupun instansi tempat pekerjaan, persaingan yang semakin ketat dan kompetitif, dimana dibutuhkan skill dan kreatifitas menjadi kunci untuk dapat mencapai posisi terhormat.

Meski usia tergolong tidak muda lagi, namun Jisman di tengah kesibukannya bekerja sebagai salah seorang eksekutif di RS Universitas Kristen Indonesia di Jakarta, menjabat sebagai  Direktur Keuangan, Umum dan SDM ia masih menyempatkan diri mendaftar sebagai mahasiswa tingkat doktoral di Universitas Brawijaya Malang. Ia merasa tidak puas hanya menyandang gelar pendidikan tingkat S1 dan S2. Jisman M. Lubis tergolong  murid yang cerdas. Selepas menamatkan pendidikan SMA MTB di Balige, ia diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran, Bandung dan lulus sarjana (S1) tahun 1987. Di sela kesibukannya bekerja sebagai dosen dan  di Bank Mandiri, Jisman mencoba menempuh pendidikan jenjang S2 di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan dengan meraih gelar Magister Managemen (MM) tahun 1997 dan sepuluh tahun kemudian meraih gelar MBA (Master of Business Administration) dari University  of Maryland, Amerika Serikat (2009).

Punya gelar sarjana satu (S1) dan dua titel (S2) ternyata tidak membuat Jisman M. Lubis berpuas diri. Dalam benaknya terpatri tantangan, mengapa orang lain bisa merengkuh gelar doktor, sama sama punya kemampuan, yang penting ada keinginan  untuk meraih yang lebih baik. Sebuah prinsip berkompetisi secara postif.

Setelah beberapa tahun, akhirnya hasil jerih payahnya melakukan penelitian untuk mencapai gelar Doktor (S-3). Akhir Desember 2025 dalam acara promosi gelar Doktor bidang ilmu managemen  di Universita Brawijaya, Malang, salah satu perguruan tinggi favorit, Jawa Timur. Di hadapan para dewan penguji, Jisman berhasil mempertahankan desertasinya yang berjudul “THE EFFECTS OF FUNDAMENTAL DETERMINANTS, MACROPRUDENTIAL OIL PRICE FACTORS, AND GOOD CORPORATE GOVERNANCE ON PROFITABILITY MEDIATED BY LIQUIDITY RISK AND MODERATED BY LOAN LOSS PROVISION (A STUDY OF BANKS LISTED ON THE INDONESIA STOCK EXCHANGE). “Pengaruh Determinan Fundamental, Macroprudensial Harga Minyak, Good Corporate Govermence yang Dimediasi Risiko Likuiditas dan Dimoderasi Loan Loss Provision Dampaknya terhadap Probalitas (Studi Pada Perbankan yang Listing di Bursa Efek Indonesia).

Untuk meraih gelar doktornya, Jisman M Lubis, didukung promotornya Moeljadi, Co-Promoters: Kusuma Ratnawati and Atim Djazuli. Meski berkali-kali harus bolak balik Jakarta-Malang, Jisman tidak mengeluh demi mencapai ambisinya memiliki gelar doktor (Dr) di depan namanya. Sebagai orang Batak tulen yang lahir dan besar di kampung halamannya Labugoti, Jisman faham betul, filosphi masyarakat Batak sangat mendambakan setiap anaknya memiliki pendidikan yang tinggi. Karena orang Batak selalu terinspirasi dengan pepatah/umpama Batak yang menyebut “Ijuk di parapara, hotang di parlabian, nabisuk nampuna hata, naoto tu panggadisan”, bila diartikan secara harafiah, orang bijak akan selalu memimpin di depan, dan yang bodoh akan menjadi tertinggal dan ditindas. Itu sebabnya para orang tua Batak, selalu berlomba lomba menyekolahkan anaknya setinggi mungkin, meski harus menjual ataupun menggadai harta bendanya seperti awasan dan ladang.

Dalam sidang promosi doktornya, terlihat Jisman Mangitar Lubis dicecar pertanyaan-pertanyaan yang cukup pelik dari para dosen pengujinya. Maklum jenjang ujiannya pun sudah tahap pencapaian gelar tertinggi  dalam pendidikan formal setara universitas. Meski mengaku sedikit nervous, namun Jisman mampu menjawab secara lugas seluruh pernyataan pengujinya menyangkut disertasi yang diajukannya. “Awalnya saya sedikit grogi, tapi saya berusaha tenang, dan pada gilirannya semua pertanyaan dosen penguji bisa saya jawab dan jelaskan dengan baik,” tukasnya. Karena memang dalam membuat desertasinya ia mengusai betul cakupan isinya. Bisa jadi karena pengalamannya di PT Bank Mandiri (persero) TBK selama puluhan tahun, dengan jabatan tertinggi Senior Vice Director  membuanya paham betul akan masalah likuiditas dan loan risk perbankan.

Sebagai putra Laguboti, Toba, Jisman lahir 8 September 1963, ia tergolong sangat aktif dalam perkumpulan sesama perantau asal Laguboti di Jabodetabek yang tergabung dalam wadah IMALA (Ikatan Masyarakat Batak Laguboti). Ia bahkan didapuk menjadi penasehat. Setiap kali IMALA mengadakan hajatan, Jisman selalu aktif berpartisipasi baik mendonasi maupun turut serta sebagai panitia. Pun demikian jika ada anggota IMALA yang mantu, Jisman senantiasa hadir memenuhi undangan yang dilayangkan untuk paguyuban itu, meski terkadang harus pontang panting, karena di hari yang sama sering terjadi dua tiga hajatan pesta nikah yang harus dihadiri. “Itulah tanggung-jawab moril kita sebagai sesama perantau yang berasal dari kampung yang sama, karena ada prinsip tidak tertulis di antara kami, kekompakan sesama anggota IMALA layaknya seperti saudara kandung, senasib sepenanggungan,” jelas Jisman.

Walau mengaku dengan raihan gelar doktor managemen bisnisnya, ia merasa bangga, namun Jisman menyebutkan bagi dirinya tetap akan lebih aktif belajar meningkatkan ilmu yang diperolehnya, karena, semakin maju zaman dan perkembangan global, kita manusia semakin dituntut untuk mempersiapkan diri dengan segala kapasitas dan skill. Dalam histori pengalaman pendidikannya yang termasuk mumpuni, Jisman Lubis juga aktif mengikuti berbagai seminar dan pendidikan uji kompetensi formal, yang mengganjarnya dengan berbagai sertifikat profesi yang memperkuat kompetensinya,  antara lain :

  • CFP (Certified Financial Planner) Perencana keuangan profesional
  • CRGP (Certified Risk Governance Profesional) Ahli dalam tata kelola risiko perusahaan.
  • ANZIFF Certified dari Australia-NewZealand Institute Insurance and Finance.

(Don Julu)

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 × two =