Resensi: 77 Cerita Tentang Cinta; Surat dari Hati

suaratapian.com-Saat buku ini dikirim, ada senyum yang tak ditutup-tutupi. Sebuah paket datang, bukan sekadar kertas dijilid, tapi kiriman rindu yang lama ditagih waktu. Buku itu berjudul “77 Cerita Tentang Cinta”, dari tangan sahabat bernama Danang Priyadi. Aku termasuk yang menunggu. Menunggu bukan karena penasaran kosong, tapi karena ingin membaca, mengunyah, lalu meresensi. Sebab buku yang ditulis dengan cinta, hanya bisa dibalas dengan kesungguhan membaca. Ada kebetulan yang terasa seperti takdir kecil: percepatan terbitnya buku Pak Danang ini beriringan dengan lahirnya buku kecilku, “Ruang dan Waktu”. Jika bukunya Danang adalah rumah dengan 77 jendela, maka bukuku mungkin hanya serambi. Lebih tipis, lebih ringkas. Tapi keduanya sama-sama berniat jadi tempat singgah bagi jiwa yang letih.

Di halaman depan buku ini, ada namaku. Aku menulis testimoni. Endorsement. Bukan basa-basi. Karena aku tahu siapa Danang Priyadi. Ia bukan penulis yang jatuh dari langit. Ia dibentuk rak-rak buku, dilatih sunyi gudang, ditempa angka penjualan. Bertahun ia jadi manajer Toko Buku Gramedia. Penjual. Yang tahu persis buku mana yang dicari orang patah hati, buku mana yang dibeli mahasiswa kelaparan makna.

Lalu ia pensiun. Dengan baik. Tidak membawa dendam pada etalase. Tidak membawa lelah pada tinta. Ia justru memilih jadi penulis, jadi motivator. Dari penjual cerita orang, kini ia penjual ceritanya sendiri.

Danang adalah bukti bahwa pensiun bukan titik. Ia koma. Ia jeda untuk berganti napas, lalu berlari di lintasan yang baru. Maka “77 Cerita Tentang Cinta” ini bukan kumpulan diksi. Ia biografi yang menyamar. Ia jejak kaki seorang lelaki yang percaya: selama manusia masih bisa jatuh cinta pada hidup, pada kata, pada sesama, maka ia belum selesai.

Buku ini patut dibuka pelan-pelan. Seperti membuka surat dari sahabat lama. Karena setiap ceritanya adalah Danang yang sedang bercakap: bahwa hidup, sesulit apa pun, selalu punya ruang untuk cinta.

Buku yang ia tulis tak pernah lahir dari meja yang dingin. Ia lahir dari hati yang hangat. Setiap halamannya berdenyut, mengajak bangkit, menyalakan obor di lorong-lorong hati yang gelap. “77 Cerita Tentang Cinta” judulnya sederhana, tapi isinya adalah suluh.

Kita akan temukan banyak hal di sana. Kadang menggelitik, seperti cubit sayang dari sahabat. Kadang menghujam, karena ia tak segan membuka luka pribadinya sendiri untuk dijadikan cermin. Justru itu yang ingin kugali. Sebab cerita yang paling jujur adalah yang berani telanjang, dan Danang tak pernah takut menanggalkan jas kebesarannya demi satu hal: agar orang lain terinspirasi.

Danang adalah manusia yang menolak diukur dengan angka. Apa yang ia kerjakan tak bisa ditimbang dengan rupiah. Ia menukar waktu komoditas paling fana untuk sesuatu yang abadi: menghidupkan harapan. Ia mengorbankan letih, di usia yang tak lagi muda, tapi jiwanya justru semakin belia. Tubuh boleh beranjak senja, tapi pelayanannya selalu fajar.

Lihatlah ke mana kakinya melangkah. Ia masuk ke penjara, bukan untuk menghakimi, tapi untuk berkhotbah. Di antara jeruji dan sesal, ia menabur kata tentang pengampunan. Ia setia di gereja, mengajar dengan suara yang tak pernah lelah. Di jalan-jalan, saat aksi sosial digelar, bayangannya selalu ada. Aku mengamatinya diam-diam: ia tak pernah absen ketika kemanusiaan memanggil.

Danang telah selesai dengan dirinya. Pensiun baginya bukan istirahat, tapi wisuda menuju pengabdian yang lebih luas. Dulu ia menjual buku di Gramedia, kini ia menjual harapan di mana-mana. Dulu ia menata rak, kini ia menata hati yang porak-poranda.

Maka “77 Cerita Tentang Cinta” bukan sekadar antologi. Ia wasiat. Ia bukti bahwa tinta yang dicelupkan ke dalam pengorbanan, tak akan pernah kering. Dan lelaki yang menulisnya, telah memilih jalan sunyi: menjadi lilin. Terbakar, asal yang lain melihat jalan.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four × 4 =