Adriano Rotua Simarmata, Anak Janda Pedagang Rongsokan; Sukses Masuk Akademi Militer
Suaratapian.com-Mengutif motivasi dari Mantan Perdana Menteri Inggris, sekaligus penulis sejarah, Winston Churchill “Jangan pernah menyerah — jangan pernah, jangan pernah, jangan pernah, jangan pernah, dalam hal apa pun, besar atau kecil, penting atau sepele, jangan pernah menyerah kecuali pada keyakinan kehormatan dan akal sehat”. Agaknya inilah yang menjadi pelecut bagi Adriano Rotua Simarmata, seorang putra Batak, yang berhasil menggapai impiannya diterima menjadi taruna Akademi Militer AD (Akmil-sebelumnya bernama Akabri). Kini Andre panggilan akrabnya sudah memasuki tahun kedua mengikuti pendidikan Akademi mililter Angkatan Darat di Magelang. Ia lolos setelah melewati serangkaian ujian berat, tahun 2024.

Siapa Adriano Rotua Simarmata? Ternyata ia bukanlah anak seorang pejabat, bukan pula anak jenderal, dan bukan anak orang berada. Ia hanyalah anak seorang janda yang kesehariannya berprofesi pedagang rongsokan (barang-barang bekas) yang dikumpulkan dari para pemulung di kawasan Jakarta Timur. Ayahnya yang meninggal dua tahun lalu, juga hanyalah seorang penambal ban di Duren Sawit Jakarta.
Kondisi keluarganya yang hidup dalam lingkungan marjinal, tidak membuat Andre patah arang. Bahkan, semangatnya untuk bisa diterima menjadi tentara semakin menggebu. Meski banyak kenalan atay familinya menganggap impian andre masuk akmil hanyalah ilusinasi atau mimpi yang mustahil. Tapi ibundanya Lidia Klara boru Gurning tetap memberi motivasi dan dorongan moril yang kuat. “ Abang… jangan kau dengarkan apa kata orang tentang keinginanmu masuk akmil, turutilah kata hatimu, jangan lupa berdoa, rajin belajar dan latihan, anggaplah cibiran itu menjadi support untukmu,” begitu sang ibu Lidia Klara Gurning, menguatkan mental anaknya.
Saat ditemui jurnalis Asdon Hutajulu dan Hojot Marluga di kediamannya di daerah Pulo Jahe, sebuah kawasan padat penduduk di Jakarta Timur, ibunda Andre, Lidia Klara Gurning mengisahkan bagaimana perjuangan dan keinginan anaknya Andra untuk bisa diterima di Akmil AD. “Saya selalu berdoa kiranya anak saya diberi Tuhan jalan dan bimbingan, kekekuatan, dan memberi yang terbaik buat anak saya” ujarnya sambil meneteskan air mata. Lidia Klara teringat bagaimana anaknya mencoba ikut mendaftar di Akademi AL dan bintara AU, namun sampai tiga kali gagal. Untuk keempat kalinya mencoba di akademi AD, dan bersyukur diterima setelah mengikuti serangkaian ujian berat. “Saya hanya bisa mengucap syukur atas semua ini, karena kami tidak memiliki uang, tidak punya koneksi, kami bisa mencukupi makan sehari hari saja sudah puji Tuhan,” ujar Lidia haru.
Lidia Klara Gurning, kembali mengusap air matanya, mana kala, teringat dua tahun lalu, saat jenazah suaminya Amat Simarmatam masih disemayamkan di rumah duka, anaknya Andre harus mengikuti ujian/test lanjutan masuk Akmil, sebagaimana sudah terjadwal. Andre pun harus berangkat dari rumah duka, di saat jenazah ayahnya masih terbujur kaku di rumah duka. Dengan hati penuh kepedihan Andre harus pergi mengikuti ujian saringan itu. Ibunya yang masih dalam suasana berduka, hanya bisa memberi dorongan dan doa. “Pergilah abang ikut ujian, biarlah mama dan adikmu disini,” seru mamanya saat itu. Namun hebatnya, kala menjalan test ujian tersebut, Andre Simarmata ini bisa fokus dan melewatinya dengan baik.
Ayah Andre, Amat Simarmata, seorang penambal ban di Duren Sawit, tidak sempat menghantar anaknya ke Magelang untuk mengikuti pendidikan calon taruna AD, karena sudah lebih dulu dipanggil Tuhan Mei 2024, akibat menderita kanker ginjal, saat itu anaknya Andre masih mengikuti ujian saringan masuk. Dua bulan kemudian setelah ayahnya meninggal Andre dinyatakan lolos seleksi daerah dari wilayah pendaftaran Kodam Jaya. Ia pun berhak ikut ke Magelang untuk mengikuti ujian saringan fase akhir. Meski baru ditinggal ayahnya, Andre tetap kuat hati berangkat ke Magelang untuk menjalani ujian akhir (Panthukhir).

Ibunda Andre Lidia Klara Gurning, ikut mengantar anaknya Andre ditemani putrinya Cecilia Simarmata, dengan menumpang taksi online ke Makodam Jaya di Cawang. Saat tiba di depan markas Kodam, mereka terpaksa berjalan kaki masuk ke Kodam, sejauh 500 M karena taksi hanya dibolehkah sampai di depan gerbang dengan menenteng koper dan barang Andre. Sementara banyak rekan-rekan andre yang ikut lolos, dihantar pakai mobil mewah dan perwira berpangkat. “Tapi saya dan andre tidak minder, meski bisa saya ingat, saat hanya ada dua keluarga yang ngantar anaknya naik taksi,” ujar Lidia mengenang. Saat menunggu pemberangkata Lidia beberapa kali melirik anaknya yang lebih banyak menunduk, kali melihat teman-temanya diantar pakai mobil mewah, namun sang ibu tetap memotivasi anaknya agar tetap semangat dan tidak perlu berkecil hati.
Dia akhir perbincangannya, Lidia Klara Gurning, mengatakan rasa syukur dan bangganya atas keberhasilan anaknya, mampu diterima di Akademi Militer AD di Magelang, mengingat dirinya hanyalah seorang pengepul barang rongsokan/bekas dan saban harinya berkubang di tempat kotor. Karena sejak dulu banyak putra putri bangsa yang berminat menjadi taruna di Akmil. Dan sejak lama pula berembus selentingan, bahwa yang bisa masuk menjadi taruna disana hanya mereka anak anak berpangkat tinggi dan memiliki duit berkarung karung, setidaknya memiliki koneksi kuat ke jaringan kekuasaan. Akan tetapi Andriano Rotua Simarmata bisa membuktikan dirinya dari keluarga marjinal, tanpa koneksi, tanpa fulus, bisa lulus. Kisah Andriano Simarmata ini menjadi sebuah testimoni nyata, bagi siapun pun, bahwa jangan pernah menyerah dan rahu dalam berusaha, sepanjang kita memiliki tekat yang kuat. (Asdon Hutajulu)
