Ir. Togap Simangunsong, M App: “Hidup Mesti Disyukuri dan Dijalani Apa Pun yang Terjadi”
Di Manado dirinya menata karier dan kemudian disekolahkan. Lulusan insinyur dari Institut Pertanian Bogor kemudian dikuliahkan mengambil magister di University of New South Wales, Sydney, Australia. Togap menjadi staf dan partner Sarundayang selama duapuluh tiga tahun. Banyak teladan yang dipelajari dari Sarundayang, selain kesetiaanya dengan keluarga adalah setia dengan persahabatan. Sarundayang sebagai seorang sosok banyak menyadang jabatan public, pernah jadi Sekretaris Daerah di Minahasa selama delapan tahun, Walikota Bitung empatbelas tahun. Pelaksana jabatan Gubernur Maluku Utara, dan pelaksana jabatan Gubernur Maluku.

Bahkan, menjadi Gubernur Sulawesi Utara ke-12 yang menjabat selama dua periode. Bahkan pernah menjadi anggota Dewan Pers. Oleh Presiden Joko Widodo, Sarundayang diangkat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Filipina sejak 2018. Togap selalu mengingat pelajaran yang diberikan Sarundayang, selalu mengucap syukur dan jadi saluran berkat di manapun dia berada. Tentu Togap menerima banyak pelajaran yang diingatnya dari Sarundayang. Misalnya ungkapan “Gunakan logika untuk berpikir, dan hati dan perasaan untuk bertindak sebagai kunci sukses,” yang selalu tergiang terus di hatinya.
Hubungannya denga Sarundayang sangat dekat. Kemana Sarundayang ditugaskan Togap selalu diikutkan. Satu waktu, ketika Sarundayang jadi Gubernur di Sulawesi Utara, Togap kembali dipanggilnya untuk membantu. Tetapi karena mengutamakan keluarga undangan itu ditolaknya halus. Waktu itu, istrinya, meminta agar dia dan anak-anak tinggal di Jakarta, sementara dirinya sendiri yang ikut ke Manado. Hal itu pun diberitahunya ke Sarundayang, maka karena anutannya sama, keluarga tak boleh dijauhkan maka dia tak diperbolehkannya untuk menjauh dari keuarga, istri dan anak-anaknya. Atas hal itu kemudian dia kembali berkarier di Depdagri, Jakarta.
Candidat doktor dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri, Jakarta ini berjibun pengalamannya sebagai birokrat. Sebagai Asisten Deputi Jaminan Sosial Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Togap tahu benar misi membangun jiwa dan raga Indonesia. “Membangun jiwa dan raga sebagai pondasi, dan membangun infrastruktur sebagai kebutuhan menuju Indonesia Hebat,” ujarnya.
“Oleh karena itulah pemerintah telah membuat Program Keluarga Harapan (PKH) sejak 2014 sebanyak duajuta tujuh ratus rupiah dengan pada tahun 2018 naik empat kali menjadi sepuluh juta keluarga, tahun 2019. Termasuk PKH untuk ibu hamil, bayi, SD, SMP, SMA, disabilitas (setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik) dan lansia. Kartu Indonesia Sehat (KIS), Penerima Bantuan Iuran (PBI) dari Pemerintah pada 2018.
