Kebanggaan Asido pada Ayahnya Robert Marbun Pencipta 700-an Lagu
suaratapian.com-Bagi Asido, nama Robert Marbun bukan sekadar nama ayah. Ia adalah warisan. Sebagai anak semata wayang, Asido memandang sosok Robert sebagai pencipta lagu rohani yang hidupnya menyatu dengan panggilan iman. Kebanggaan itu kian menguat seiring waktu, terutama ketika karya-karya sang ayah kembali hidup dan dinyanyikan banyak orang. Nama lengkapnya Asido Romulus A.S. Lumban Gaol, M.Kom. saat ini menjabat sebagai Coordinator of the Minister’s Expert Staff untuk Divisi Teknologi, Industri, dan Lingkungan di Kementerian Pekerjaan Umum (PU) yang berkedudukan di Jakarta Pusat. Dalam struktur staf ahli kementerian, ia menjadi salah satu penghubung kebijakan teknis antara arahan menteri dengan implementasi program di lapangan, khususnya pada isu-isu yang bersinggungan dengan transformasi digital, pengembangan industri konstruksi, serta agenda keberlanjutan lingkungan.

Latar belakang akademiknya ditempa di Universitas Bina Sarana Informatika, yang membentuk pemahamannya tentang pemanfaatan teknologi informasi dalam tata kelola pemerintahan. Selain bertugas di PUPR, catatan profilnya juga mencantumkan keterlibatan pada dua institusi lain, sehingga ruang kerjanya tidak terbatas pada satu klaster kebijakan saja. Dengan kombinasi kompetensi di bidang komputer dan pengalaman koordinatif di level staf ahli, Asido berperan mendorong integrasi data, inovasi industri, dan standar lingkungan ke dalam proyek-proyek infrastruktur nasional yang menjadi mandat Kementerian PUPR.
Aygahnya, Robert Marbun dikenal sebagai sosok pencipta yang memiliki kepekaan rohani luar biasa. Menjelang akhir hayatnya, kepekaan itu tampak semakin dalam. Seolah telah merasakan waktunya akan segera dipanggil Tuhan, ia menuangkan kegelisahan iman itu ke dalam nada dan lirik. Salah satu karyanya yang paling melekat adalah “Ahu Nama”, kidung yang ia ciptakan dan hayati dengan sepenuh hati.
“Feeling dan kepekaan rohaninya sebagai pencipta membuat setiap lagunya terasa seperti doa,” ujar Asido. Baginya, ayahnya bukan hanya menulis lagu, tetapi juga menghidupi pesan yang ia sampaikan. Itulah yang membuat karya Robert bertahan lintas generasi.
Selain menciptakan, Robert juga ikut menyanyikan “Ahu Nama” bersama Nauli Sisters. Kolaborasi itu membuat lagu tersebut semakin dikenal luas di kalangan jemaat. Robert juga pencipta “Jouon Na Ma Ahu”, karya lain yang kini menjadi bagian dari khazanah musik rohani Batak. Lewat dua lagu itu, ia tidak hanya mewariskan nada, tetapi juga kesaksian iman.
Pesan dalam lagu-lagu Robert selalu mengingatkan manusia pada keterbatasan waktu. Dalam “Sian Tano”, misalnya, ia menulis dengan makna mendalam. “Sian Tano” berarti asal dari tanah. Liriknya menegaskan bahwa manusia diciptakan Tuhan dari tanah dan pada akhirnya akan kembali ke tanah ketika ajal tiba. Pesan itu, menurut Asido, adalah warisan rohani agar setiap orang sadar dan siap menghadapi waktu Tuhan.
Di balik sosok seniman besar itu, Asido mengingat Robert sebagai ayah yang sangat peduli keluarga. “Waktu itu saya masih kecil lah. Masih kecil banget. Ayah saya orangnya seniman. Kadang kalau keluar, terus nggak bisa kerja. Dulu waktu saya sekolah, saya yang sering jemput. Pulang sekolah saya jemput,” kenang Asido.
Bagi Asido, kesederhanaan itulah bentuk cinta ayahnya. “Itulah bentuk kepeduliannya sama keluarga. Artinya untuk makan kita bisa. Meskipun sedikit yang saya cari, tetap bisa makan. Nanti makan kan, gitu,” katanya. Di tengah kesibukan berkarya, Robert tetap hadir untuk anaknya.
” Waktu sekolah, waktu kuliah juga Bapak senang. Jadi kepekaannya sama keluarga itu luar biasa. Oke, luar biasa,” lanjut Asido. Kenangan itu menjadi bukti bahwa spiritualitas Robert tidak berhenti di atas panggung atau di studio, tetapi juga di ruang keluarga.
Asido juga mengingat bagaimana lagu-lagu ayahnya menjadi penguat saat ekonomi keluarga sedang sulit. “Sikap dan lagu kami… lagu yang paling kami nyanyikan itu kalau kami tidak punya duit. Ini lagunya…” ucapnya. Lagu menjadi bahasa iman yang menguatkan di saat kekurangan.
Kini, Asido melihat karya ayahnya kembali menemukan tempatnya. “Bapak ternyata… bapakku ini punya banyak karya kok,” ujarnya. Ia menyadari, banyak orang mulai mengerti pesan dalam lagu-lagu Robert setelah mendengarnya berulang kali, bahkan setelah disinkronkan ke dalam video di media sosial.
Rasa bangga itu berubah menjadi komitmen. “Saya akan perjuangkan nilai-nilai Bapak ini,” tegas Asido. Baginya, membawa nama Robert Marbun berarti menjaga pesan yang ditinggalkan. “Dalam hal ini, kita kerjakan begini. Kalau sekarang udah agak susah. Bukan mencari, tapi lebih ke mengingatkan. Waduh, kenapa dulu saya nggak langsung tercerahkan ya sama hal-hal ini.”
Bagi Asido, kebanggaan kepada ayahnya bukan hanya soal warisan nama. Ia merasa punya tanggung jawab untuk meneruskan nilai-nilai iman, kerendahan hati, dan kepekaan yang diajarkan Robert. Dan ketika lagu-lagu itu kembali dinyanyikan orang di video, di gereja, maupun di rumah, Asido tahu: panggilan ayahnya belum selesai. Pesannya masih hidup, dan kini giliran dirinya yang menjaganya. (Hojot Marluga)
