Ketika Aspal Pekanbaru Menjadi Garis Api Perlawanan
Belum ada peluit start dibunyikan. Tapi di halaman Mapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan sudah lebih dulu memerintahkan ribuan langkah untuk bergerak. Bukan mengejar pelari lain. Bukan memecahkan rekor.
Melainkan mengejar waktu. Sebelum siklus 30 tahunan BMKG itu benar-benar datang dan mengubah langit Riau jadi kelabu seperti 1997.“
Setiap derap langkah kalian, itu tembakan peringatan untuk api,” ucap Kapolda pagi itu. Suaranya tidak menggema seperti komando razia. Ia lebih mirip bisikan seorang anak tanah kepada saudaranya: Bang, hutan kita lagi sakit.

Itulah wajah baru Riau Bhayangkara Run 2026. Menjelang Hari Bhayangkara ke-80, ajang lari terbesar se-Sumatera ini dicopot medali kompetisinya. Diganti dengan misi yang lebih berat: menyelamatkan Bumi Lancang Kuning dari karhutla.
1997 Kembali Mengetuk Pintu
Data BMKG tak bisa dibantah. 2026 masuk siklus cuaca ekstrem 30 tahunan. Orang tua di Kampar, Siak, Bengkalis pasti ingat. Dulu, matahari terbit pukul 10 pagi karena asap. Anak sekolah pakai masker seperti perang. Rumah sakit penuh sesak.
Kapolda tidak mau sejarah itu mengulang. Makanya ia mengubah stadion jadi mimbar. Garis finish jadi garis harapan. “Dengan berlari, kita gaungkan satu pesan: menjaga alam bukan tugas Dinas Kehutanan saja. Itu tanggung jawab kita yang masih bisa bernapas hari ini,” katanya.
Sambil menunjuk peta rute, Irjen Herry menitipkan 3 pesan. Tiga titik yang ia harap menetes ke hati peserta:
Titik Kolaborasi: Di kilometer pertama, bayangkan ada petani, polisi, karyawan perusahaan, dan pelajar berlari berdampingan. Karhutla tidak kenal seragam. Jadi melawannya pun harus tanpa sekat. RBR jadi tempat rapatkan barisan itu.
Titik Konservasi: Di tiap water station, selain air putih, panitia akan membisikkan nama: Gajah. Harimau Sumatera. Enggang. Mereka penghuni hutan yang tidak bisa lari jika api datang. Lari kita hari ini, agar mereka tidak punah besok.
Titik Kemanusiaan: Tahun ini ada cerita yang membuat Kapolda menahan napas. Pelari difabel mendaftar berbondong-bondong. Mereka belum bisa dapat jalur khusus. Standarisasi keamanan butuh waktu. Tapi Kapolda tidak mau mereka menunggu di pinggir.
“Bagi rekan-rekan difabel, silakan lari bersama kami di rute umum. Kalian prioritas. Kami jaga. Insya Allah tahun depan, jalurnya kami siapkan khusus untuk kalian,” janjinya. Janji seorang komandan yang juga bapak.
Di belakangnya, Wakapolda Brigjen Hengki Haryadi dan jajaran PJU berdiri diam. Begitu juga Anggota Komisi I DPR RI Cindy Monica Salsabila Setiawan. Mereka bukan hanya tamu undangan. Mereka saksi bahwa kali ini, Polri tidak hanya menjaga Kamtibmas. Polri menjaga paru-paru Sumatra.
Sebelum menutup, Kapolda menatap jauh ke arah asap yang belum ada. “Saya apresiasi semua yang mau berkeringat untuk Riau. Semoga dengan langkah nyata dan doa bersama, 2026 bisa kita lewati tanpa duka kabut asap.”Maka benarlah. Riau Bhayangkara Run tahun ini bukan sekadar lomba.
Ia adalah doa yang diucapkan dengan kaki. Doa agar aspal Pekanbaru tetap basah oleh keringat, bukan oleh air mata karena hutan kembali terbakar. (Jupo Situmeang)
