Natal Nasional 2025: Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga
Haram Ucapkan Natal
Bicara Natal Nasional jangan lupakan TB Silalahi, dialah sosok di balik Perayaan Natal Nasional, memiliki visi strategis untuk memperkuat kerukunan dan persatuan dalam keberagaman. Sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (1993-1998) era Soeharto, ia menginisiasi Natal Nasional dengan semangat kemajemukan. TB Silalahi percaya bahwa Natal Nasional dapat menginspirasi agama lain, sehingga memperkuat toleransi dan kerukunan antar umat beragama.
Ia menyebutkan bahwa konsep Natal Nasional telah menginspirasi perayaan agama lain, seperti peringatan kelahiran Siddhartha Gautama (Budha) dan acara Tablig Akbar (Islam). Dengan demikian, TB Silalahi telah meninggalkan warisan berharga bagi Indonesia, yaitu semangat kebersamaan dan toleransi antar umat beragama.
Kisah di balik Natal Nasional bermula dari TB Silalahi yang berani menjumpai Presiden Soeharto untuk mengundang menghadiri acara Natal Nasional. Tak disangka, Soeharto tidak hanya hadir, tapi juga setuju menjadikan acara tersebut agenda nasional, yang sebelumnya tidak pernah ada. Sejak itu, Natal Nasional selalu dihadiri oleh Presiden, dan ini menjadi momentum penting bagi keberagaman dan toleransi di Indonesia.
Namun, ada kelompok yang tidak suka dengan keberagaman dan selalu meniupkan isu haram mengucapkan Natal, terutama karena Presiden menghadirinya. Mereka mulai menyebarkan “Haram bagi umat Muslim mengucapkan perayaan Natal”, yang sebenarnya tidak sesuai dengan semangat kebersamaan dan toleransi yang ingin dibangun oleh TB Silalahi dan Presiden Soeharto.
Perayaan Natal Nasional memang memiliki dimensi diplomatis, dan seringkali dipusatkan di Jakarta. Namun, ada satu momen bersejarah ketika Natal Nasional tidak jadi digelar, yaitu pada tahun 2004. Saat itu, Tsunami Aceh melanda, dan pemerintahan SBY memutuskan untuk membatalkan perayaan tersebut (di era Jokowi Natal Nasional dipusatkan di daerah-daerah pusat Kristiani).
TB Silalahi menjelaskan alasan di balik keputusan itu: “Kita sebagai umat Kristen sangat merasakan penderitaan masyarakat Aceh dan Nias ketika itu. Mana mungkin (kita) bisa bersukacita secara nasional, sementara saudara-saudara yang lain terkena musibah.”
Keputusan ini menunjukkan empati dan solidaritas umat Kristen terhadap saudara-saudara yang terkena musibah, dan membuktikan bahwa Natal Nasional bukan hanya tentang perayaan, tapi juga tentang kepedulian dan kasih sayang.
Natal Nasional 2004 akhirnya dibatalkan sebagai bentuk empati dan solidaritas terhadap korban Tsunami Aceh. TB Silalahi menekankan bahwa keputusan ini penting untuk menunjukkan kepedulian dan merasakan penderitaan orang lain.
Menurutnya, Natal Nasional selalu menekankan hakikat kerukunan umat beragama. Menariknya, perayaan ini juga melibatkan orang-orang dari agama lain, termasuk pemeran tokoh utama yang bukan Nasrani. TB Silalahi juga mengapresiasi kontribusi B Tamam Hoesein, seorang musisi Muslim dari Madura, yang menjadi pendukung utama Natal Nasional. B Tamam Hoesein tidak hanya menata musik, tapi juga mengatur tata suara untuk sandiwara dan paduan suara lagu-lagu Natal.
Ini menunjukkan bahwa Natal Nasional bukan hanya tentang perayaan agama, tapi juga tentang kebersamaan dan toleransi antar umat beragama.
Selama ini, Natal Nasional yang digelar pemerintah selalu melibatkan Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) dan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI). Kedua organisasi gereja ini selalu seia menetapkan tema nasional untuk Natal Nasional. Natal Nasional memang dianggap seksi oleh kalangan birokrat dan pejabat gereja, tapi ada yang melihatnya dari sudut pandang lain, meminta semua unsur organisasi sinode gereja.
Di kalangan Protestan, ada tujuh aras gereja yang tergabung dalam Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI) adalah: PGI (Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia), PGLII (Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia), PGPI (Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia), PBI (Persaudaraan Baptis Indonesia), Bala Keselamatan, GMAHK (Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh), dan Gereja Ortodox Indonesia (GOI) ikut. Sebelum belum pernah dilibatkan pemerintah untuk merayakan Natal Nasional, sehingga ada perasaan tidak dilibatkan.
Namun, kita harus kembali ke makna Natal yang sebenarnya, yaitu merayakan kelahiran Yesus dengan menerima kesederhanaan. Natal Nasional tidak boleh menjadi ajang politis, tapi harus menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan dan toleransi.
Kita harus ingat, Yesus lahir di kandang domba, di ruang yang sederhana. Jadi, Natal Nasional harus menjadi perayaan yang sederhana dan tidak berlebihan, bukan untuk menunjukkan kekuasaan atau kepentingan politik. Akhirnya, Natal Nasional 2025 diharapkan dapat memperkuat kebersamaan dan toleransi antar umat beragama di Indonesia. (Hojot Marluga)
