Dari “Mahlon” Menuju “Boas”: Jehovah Rapha Bawa Pesan Penebusan di Rutan Pondok Bambu

suaratapian.com-Di balik jeruji Rutan Pondok Bambu, 60 warga binaan berkumpul Kamis pagi, 2 Juli 2026. Pukul 10.00 WIB, ruang ibadah dipenuhi pujian. Tema yang dibawakan tidak jauh dari kisah kehilangan, kesetiaan, dan pemulihan: “Rut dan Boas”. Pelayanan rohani itu digelar oleh tim Jehovah Rapha dan disambut langsung oleh Bpk. Nikho Kristyanto Eliazar selaku Kepala Kerohanian Rutan Pondok Bambu. Firman Tuhan disampaikan Bapak Danang Priyadi berdasarkan Rut 4:9-12. Ia mengajak warga binaan melihat Rut bukan sekadar janda setia, tapi juga gambaran manusia yang sedang menanti penebus.“Rut menjaga Naomi di saat semua orang pergi. Suaminya Mahlon meninggal. Nama Mahlon artinya ‘sakit-sakitan, lemah, menuju kematian’. Bersama Mahlon, Rut tidak punya masa depan, tidak punya keturunan,” ujar Danang.

Namun kisah tidak berhenti di situ. Muncul Boas. Nama Boas berarti “Di dalam Dia ada kekuatan”. Dalam hukum Israel, Boas datang sebagai Go’el atau Penebus Kerabat. Ia menikahi Rut, memulihkan nama keluarga, dan memberinya anak: Obed.

“Dari Obed lahir Isai. Dari Isai lahir Daud. Dari garis inilah lahir Sang Juruselamat,” lanjutnya mengutip Rut 4:22.Bagi sang pengkhotbah, dua nama itu merangkum Injil: Hukum Taurat seperti Mahlon, menunjukkan kelemahan dan dosa, tapi tidak bisa menyelamatkan.

Kasih Karunia seperti Boas, datang membawa kehidupan, penebusan, dan masa depan baru di dalam Yesus Kristus.Ibadah, Kesaksian, dan Nasi KotakIbadah dipimpin Ibu Lily Maringka sebagai Worship Leader. Ibu Diah Murti membawakan doa pembuka dan ayat inti Rut 4:22. Bpk. Taufik Hutapea mengiringi dengan piano.

Salah satu warga binaan, Lita, naik ke depan untuk bersaksi. Dengan suara bergetar ia berkata, ibadah ini membuatnya sadar untuk tidak lagi mengandalkan diri sendiri. “Saya belajar taat dan setia pada perintah Tuhan. Ini buah pertobatan saya,” katanya.

Selain berkat rohani, warga binaan juga menerima berkat jasmani: 60 nasi kotak untuk makan siang bersama. Suasana ditutup dengan salam damai dan doa berkat. Tawa, pelukan, dan percakapan ringan mengisi sisa waktu hingga pukul 11.30 WIB.

Tim Jehovah Rapha sebelumnya telah melayani di tempat yang sama pada Kamis, 4 Juni 2026, pukul 10.00 – 11.30 WIB.“Puji Tuhan. Terima kasih. Tuhan memberkati,” tulis tim dalam rilisnya.Di tempat yang sering diasosiasikan dengan hukuman, pagi itu hadir pesan lain: bahwa seperti Rut, setiap orang yang setia akan dipertemukan dengan “Boas”-nya Sang Penebus yang sanggup mengubah kisah duka menjadi kisah pemulihan. (Hotman)

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × 3 =